KEKASIH (1)
Cinta ini milik sendiri
memberi penuh arti
menerima tak penuhi diri
hanya tak sanggup berdiri sendiri
O kekasih jiwa
janji membangun rumah cinta
yang melindungi rindu terus berwarna
dalam kasih sayang saling mengada
Banjarbaru, 1 April 2009
KEKASIH (2)
Rindu ini berkali-kali terbakar
sudah menjadi abu hingga akar
berapa jarak tak terukur
berapa waktu telah terkubur
O kekasih
kerinduan hanguskan keluh kesah
memuncak saat dekat tak terjamah
tetap saja tiada kisah menyerah
Banjarbaru, 9 April 2009
KEKASIH (3)
Luapan perasaan menuju langit
terbuai khayal sejagat
merindu kekasih menjerit-jerit
dalam luasan hampa tak bersekat
O kekasih
kungkungan rindu butakan langkah
sudah berapa rasa yang terengkuh
masih saja tak utuh
Banjarbaru, 15 April 2009
Filed under: PUISI | Tagged: Cinta, HE. Benyamine, Kekasih, PUISI, Rindu


Asalaamu’alaikum…
Saya sukakan puisi “KEKASIH” ini. Cukup mengesan dijiwa dan inilah puisi yang saya rasa sangat difahami dengan mudah berbanding puisi-puisi yang lain. Boleh saya mengambilnya dengan izin dulu dan simpan untuk kenangan. Terima kasih. Salam hormat selalui
HEB : Waalaikum salam …
Silakan saja mengambilnya, jika itu dapat membuat hati SFA senang, dengan senang hati juga memberikannya.
saya suka baca-baca puisi pak, tapi gak bisa bikin
maknyus………..
HEB : Mungkin belum mencoba saja …. dan mungkin saja bagi orang lain apa yang kita anggap puisi adalah bukan puisi. Dan, biarlah kita mencoba sesuai anggapan kita bahwa apa yang kita tulis adalah puisi
[...] aku ke laman HE Benyamine…..sahabat yang mantap daya fikirnya.. Aku sungguh kagum dengan karyanya juga dengan orangnya [...]
Wah untungnya 3 mas, kalau benar-benar 10 yang diikutkan bisa mantaf tuh.
Saya catat sebagai peserta
Terima kasih atas partisipasinya
Salam hangat dari Surabaya
HEB : Terima kasih sudah menerima, dan terima kasih telah berkunjung.
Salam hangat di musim hujan
wow, puisi berseri nih, mantap Mas
semoga sukses di PPC
HEB : Terima kasih sudah mampir. Terima kasih juga do’anya, berpartisipasi sudah kesuksesan tersendiri.
selamat siang mas HB
juri sedang menikmati puisi indah disini, mohon ijin dicopy untuk keperluan penjurian ya
HEB : Terima kasih telah berkunjung. Silakan dicopy.