KEBAKARAN HUTAN ATAU BENCANA TERENCANA


Oleh: HE. Benyamine

Kebakaran hutan dan lahan sangat mengkhawatirkan dan sangat merugikan dalam berbagai hal, baik secara ekonomi dan sosial maupun secara ekologi. Dampak yang segera terasa adalah asap, sampai negara tetangga juga merasakannya, apalagi yang dekat dengan sumbernya. Belum lagi dampak yang harus diterima setelah kebakaran hutan dan lahan, yaitu rusaknya ekologi, yang dengan sendiri akan ditanggung oleh masyarakat yang ada di sekitar dan di dalam hutan secara langsung, dan seluruh masyarakat secara tidak langsung.

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi setiap tahun seperti sudah dianggap sebagai suatu kejadian “alamiah” dan rutin, sehingga hanya saat kebakaran semua menjadi sibuk dan merasa berkepentingan untuk menghentikannya, seakan kebakaran tersebut sangat merugikan saat kebakaran saja. Padahal, setelah datangnya musim hujan, kebakaran hutan dan lahan seperti tidak pernah ada dan digantikan oleh bencana lain, sehingga hampir tidak ada tindakan preventif yang direncanakan, baik secara nasional maupun di daerah, sebagai kesadaran dan kepedulian yang menandakan bahwa telah terjadi kebakaran hutan dan lahan yang “membumihanguskan kehidupan” secara rutin setiap tahunnya.

Di samping itu, saat kemarau pemerintah sibuk menghimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan, terutama terkesan hanya ditujukan kepada masyarakat yang menggarap lahannya berdasarkan pengetahuan lokal. Himbauan ini adalah sesuatu yang “mengerikan” dan menimpakan kesalahan dari “yang mempunyai kekuasaan” kepada masyarakat yang sebenarnya masih dikendalikan oleh indegeneous knowledge dalam pengelolaan dan pengolahan lahannya, serta pemanfaatan hutan disekitarnya. Kemampuan masyarakat dalam menggarap lahan sebenarnya sangat terbatas, ukurannya masih kemampuan tenaga manusia, namun seakan masyarakat tersebut yang bersalah dan harus rela menanggung akibat dari setiap terjadi kebakaran hutan dan kabut asap.

Seandainya sasaran penyuluhan tentang kebakaran hutan dan lahan ditujukkan kepada masyarakat yang memang mengolah lahannya sendiri, dengan kemampuan yang terbatas dan luasan lahan dengan ukuran tenaga manusia, tentu pengetahuan lokal (local knowledge) sudah cukup sebagai antisipasi dan tindakan preventif untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan.

Tetapi, penyuluhan yang intensif dan tindakan represif sebenarnya perlu dilakukan kepada segelintir “masyarakat yang kuasa” dengan luasan lahan yang sangat luas dengan bantuan teknologi modern, tapi masih menggunakan “teknologi api” dalam pembersihan lahannya. Karena kerusakan hutan yang begitu luas lebih banyak disebabkan oleh manusia dengan kemampuan teknologi modern, yang berbendera investasi untuk kemajuan daerah, namun lebih menyengsarakan masyarakat.

Pembakaran Sempurna

Masyarakat dengan pengetahuan lokal (local knowledge) mempunyai kemampuan dalam menentukan zonasi dalam penggunaan lahan yang sesuai dengan tipe pemanfaatan lahan (land utilization type) dan kesesuaian lahannya (land suitability) dalam proses perencanaan penggunaan lahan. Sehingga, lahan gambut yang terdapat  kubah gambut (peat dome) tidak akan mereka sentuh karena terlalu dalam, lebih baik dijadikan zonasi konservasi yang perlu dilindungi untuk pemanfaatan lain, seperti tempat ikan. Namun, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi saat ini, menunjukkan bahwa telah terjadi kerusakan yang luar biasa di zona yang seharusnya diperuntukkan untuk kehutanan. Berdasarkan luasannya, tentu sangat tidak mungkin jika yang melakukan kerusakan tersebut adalah masyarakat yang masih mengandalkan pengetahuan lokal (indegeneous/local knowledge), tentu ada yang lebih mungkin adalah segelintir “masyarakat yang kuasa” yang melakukan kerusakan tersebut.

Pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan tipe pemanfaatan lahan terjadi di Kalimantan. Entah mengapa, sepertinya hal ini tidak dipedulikan oleh pemerintah daerah, dan saat terjadi kebakaran hutan dan lahan baru mereka menunjukkan reaksi yang gagap dan gelabakan. Padahal, sudah seharusnya pemerintah daerah mengetahui kondisi geografi dan karakteristik lahan yang ada di wilayahnya. Lalu, paling gampang adalah mengatakan bahwa masyarakat dilarang membakar lahan, karena menyebabkan musibah asap. Seperti masyarakat gambut di kabupaten Banjar, yang mempunyai kebiasaan membakar untuk membersihkan lahan sawah mereka, sebenarnya telah berlangsung sangat lama. Mereka membakar pada lahan gambut yang sudah menjadi sawah, sehingga pembakaran yang terjadi lebih cenderung pembakaran sempurna dan mudah dijangkau, paling tidak oleh pemilik atau pengolah sawah tersebut. Berbeda dengan kebakaran yang terjadi di lahan tidur, contohnya (sebagian ada papan nama pemiliknya) di sepanjang jalan A. Yani dari Banjarbaru menuju Banjarmasin, yang merupakan lahan gambut tapi bukan lahan sawah sehingga kedalaman gambutnya bisa lebih dalam dari lahan gambut yang telah dijadikan sawah. Aparat pemadam kebakaran tentu menjadi kesulitan dalam menjangkau titik api karena jauh dari jalan dan mempunyai gambut yang cukup dalam. Di samping itu, lahan gambut tersebut sebagian sudah mulai ada yang melakukan pengurukan, yang dengan sendirinya dapat merusak sistem hidrologi lahan gambut tersebut. Sehingga kebakaran yang terjadi adalah kebakaran tidak sempurna yang menimbulkan banyak asap.

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi setiap tahun belakangan ini, karena pemerintah daerah, seperti Kalimantan khususnya,  sudah tidak mempunyai kesadaran tentang pentingnya hutan. Mereka mengerti dan tahu tentang nilai ekonomi bagian dari hutan, khususnya hanya dalam bentuk kayu, selainnya terabaikan. Atau, mereka juga tahu tentang nilai sumberdaya alam lainnya seperti dalam bidang pertambangan, tetapi mereka tidak peduli dengan kondisi yang rentan terhadap bencana akibat perubahan bentang alam dengan cara yang paling gampang, mudah, dan cepat; sistem tambang terbuka misalnya.  Mungkin, ada pemerintah daerah sudah tahu tentang sistem zonasi pemanfaatan lahan di wilayahnya, tapi mengesampingkannya karena tergiur oleh masuknya investasi dan tahunya hanya mengambil yang sudah tersedia.

Kesadaran pentingnya hutan perlu ditumbuhkan dalam diri pemimpin negara, tak terkecuali pemimpin daerah dan aparatnya, sehingga ada kesadaran bahwa ekologi yang mereka tempati adalah ekologi hutan tropis yang mempunyai siklus hara tertutup, yang mudah mengalami erosi, dan area bergambutnya sangat rentan terhadap gangguan. Kesadaran akan pentingnya hutan dalam diri pemimpin di daerah ini akan mengarahkan mereka lebih memperhatikan dan  mempunyai keberpihakan pada masyarakatnya dalam pemanfaatan sumberdaya alam. Sehingga, kebakaran hutan dan lahan yang sudah memberikan beban yang berat bagi masyarakatnya dalam berbagai aspek kehidupan mereka, tidak lagi ditambah dengan menimpakan kesalahan tersebut kepada masyarakat dengan segala himbauan yang intinya mengalihkan persoalan kepada korban dari kesalahan kebijakan pemerintah dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan dan lahan.

Hutan adalah rumah bersama bagi masyarakat, seperti masyarakat Kalimantan, dan tidak seharusnya para pemimpinnya tidak mempunyai kesadaran pentingnya hutan dalam dirinya, sehingga dengan seenaknya memberikan hak pemanfaatan kepada segelintir “masyarakat yang kuasa” yang hanya tahu keuntungan ekonomi, dan tidak peduli dengan kondisi “rumah” yang sudah semakin tidak layak untuk dihuni lagi (deforestry), dan karenanya bencana alam datang silih berganti. Kebakaran hutan dan lahan hanya dipadamkan musim hujan, tapi bencana berlanjut dengan banjir dan longsor, semuanya begitu banyak menghabiskan sumberdaya dengan percuma dan sia-sia. Seakan, kebakaran hutan dan lahan adalah suatu bencana yang direncanakan dan terencana, yang menghabiskan anggaran negara untuk pengendaliannya saja dan sebenarnya hanya menunggu hingga musim hujan datang.

About these ads

3 Responses

  1. sejauh ini yang saya tahu kalimantan adalah paru-paru dunia. apakah masih demikian dengan kondisi sekarang? tidak terbayangkan apabila kerusakan hutan kalimantan telah sedemikian parah sehingga bila diibaratkan bumi ini sudah mengalami kanker paru stadium IV.

    mas heb, dari tulisan ini barulah saya mengerti soal kebakaran di lahan gambut. terima kasih atas informasinya.

    HEB : Bisa jadi layaknya kanker paru stadium IV (udah parah, ya Marshmallow?), meskipun masih ada harapan untuk satu diantara paru2 dunia ini tetap sehat … dengan cara menanam, terus menanam, dan memeliha. Bagaimana caranya, ini yang perlu menjadi perhatian semua (kalau udah rusak baru minta perhatian semua hahahaa).

  2. Mungkin sebahagian kebakaran itu sisebakan ada hati yang terbakar..lalu mencurahkan apinya ke luar datar tanah yang tidak tahu apa-apa. lantas memberi bahagian yang menyakitkan kepada manusia lain yang tidak berdosa.

    Yang jelas dan saya setuju, tiada kesedaran dari yang melakukannya dan tiada juga kesedaran yang utuh dari yang sepetutnya perihatin tentang kepentingan hutan untuk kehidupan generasi akan datang.

    Terima kasih atas info yang menarik. Saya kagum dengan penulisan saudar HEB yang rajin memenuhi keinginan membantu menyedarkan dunia tentang Go Green ini. Selamat maju jaya dan salam mesra selalu,

    HEB : Benar, kesadaran bahwa hutan adalah kepentingan bersama dan tentunya jangan dipandang hanya dari sisi kayu saja. Hutan sebagai paru2 dunia, menjadi tumpuan bagi semua kehidupan di dunia

  3. artikelnya menarik. kebetulan saya sedang mencari info lebih lanjut ttg kebakaran lahan terkait dengan ekologi dan budaya masyarakat setempat. buat nambah pengetahuan :)

    HEB :Yap, untuk berbagi pengetahuan dan hal ini tidak pernah berkurang biarpun semakin banyak yang terlibat dalam berbaginya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,286 other followers

%d bloggers like this: