TADARUS PUISI 2009: BERHARAP PEMBANGUNAN TAMAN BUDAYA


Oleh: HE. Benyamine

Pada tanggal 11 September 2009, Taman Air Mancur Kota Banjarbaru kembali penuh dengan bintang kata yang bertebaran dan memancarkan kemilaunya, yang menghiasi malam seakan bersanding dengan bintang-bintang yang nampak karena cerahnya langit. Begitu terasa adanya kebersamaan dalam tadarus puisi, yang jelas memberikan suatu suasana yang berbeda dengan hiruk pikuknya malam yang biasa berdetak di jantung Kota Banjarbaru.

Begitulah acara Tadarus Puisi dan Silaturahmi Sastra VI tahun 2009, sebuah acara tahunan Dewan Kesenian Kota Banjarbaru yang sungguh memberikan suatu makna tersendiri bagi tumbuh dan berkembangnya dunia sastra, sebagai satu di antara media apresiasi terhadap karya sastra, dan silaturahmi yang terbuka secara cair bagi mereka yang berkesempatan hadir; sastrawan ataupun bukan sastrawan.

Dalam acara tadarus puisi ini, memang ada terasa suatu kesahduan, karena mengosong tema “Titip Do’a untuk (Alm.) M. Rifani Djamhari”, yang mana MRD merupakan sosok sederhana dan santun dalam dunia sastra Kalimantan yang telah mewariskan begitu banyak karya kepada kehidupan sastra selanjutnya. Sosok MRD memang patut mendapatkan kehormatan, seperti dalam acara tadarus puisi ini, karena hingga akhir hayatnya tetap konsisten dan produktif dalam bersastra dan memberikan motivasi kepada siapa saja dalam bersentuhan dengan dunia sastra.

Seandainya, panitia acara dan DKKB memberikan award atau penghargaan untuk MRD, maka sungguh layak MRD menerimanya dengan kebanggaan yang membagakan dunia sastra. Selanjutnya, setiap tadarus puisi dilaksanakan akan memberikan suatu penghargaan atau award kepada para sastrawan yang ada di daerah atas kerja dan karyanya dalam bidang sastra.

Sebagai seorang yang sederhana dan santun dalam bersastra, MRD telah meretas jalan sendiri untuk bekal kehidupan akhiratnya, yang berasal dari karya-karya (sastra) yang diwariskannya akan menjadi amal jariayah yang tidak putus-putusnya, karena berupa ilmu yang bermanfaat. Maka, tema tadarus puisi tahun ini, mungkin sudah menjadi suatu kesadaran panitia pelaksana dan DKKB bahwa pergulatan dan pergumulan MRD dalam bersastra telah menghasilkan karya-karya (sastra) yang menjadi ilmu bermanfaat bagi kehidupan sastra selanjutnya, sehingga menitipkan do’a adalah sebagai rasa terima kasih atas hasil karya-karya tersebut, dan mengalirnya amal itu kepada MRD tidak hanya berhenti setelah selesainya acara tadarus puisi.

Dengan terlaksananya acara tadarus puisi hingga ke-6, ada harapan yang memancar dalam kehidupan sastra, khususnya di Banjarbaru. Acara yang dilaksanakan dengan sederhana, namun menunjukkan eksistensi sastra yang sesungguhnya menjadi bagian dari kebutuhan manusia dalam melihat dan memandang dunia, yang terkadang menjadi terlihat dunia yang lain dengan segala impiannya.

Dengan  melihat betapa bangganya pemerintah Kota Banjarbaru menunjukkan desain Tugu Bundaran Simpang Empat Banjarbaru yang sedang dikerjakan dengan menghabiskan anggaran negara lebih dari 5 Milyar, yang diklaim sebagai sesuatu yang megah, tentu sangat bermakna dan investasi masa depan bagi masyarakat banyak (tidak hanya sastrawan) seandainya kebanggaan itu adalah menunjukkan suatu proyek Taman Budaya (bisa seperti TIM Jakarta) dengan anggaran tersebut.

Seandainya itulah pilihan pemegang kekuasaan bukannya membongkar tugu sejarah Kota Banjarbaru, maka tidaklah berlebihan mengatakan tadarus puisi tahun ini sudah dilaksanakan di Taman Budaya tersebut.

Begitulah adanya, tadarus puisi dan silaturahmi sastra, telah menjadi suatu bukti nyata betapa sangat diperlukan adanya suatu keberpihakan terhadap tumbuh dan berkembangnya dunia sastra dan segala penunjangnya, karena sastra merupakan bagian penting dalam memandang dunia yang lebih beradab dan berkemajuan.

Jadi, sangat mengherankan bila elit kekuasaan di Banjarbaru tidak ada yang mempunyai pemikiran untuk memperjuangkan pembangunan Taman Budaya, padahal hal ini merupakan suatu jejak sejarah dan bahkan bisa menjadi landmark baru Kota Banjarbaru, yang memberi jalan untuk suatu percikan cahaya peradaban dari kota ini. Untuk mendapatkan lahan, tidaklah sulit bagi pemerintah Kota Banjarbaru, sekaligus untuk lebih memeratakan pembangunan ke wilayah yang lebih luas.

Daripada bongkar-bongkar yang sudah ada, lebih baik membangun yang baru pada wilayah baru. Taman Budaya Kota Banjarbaru harapan yang dapat terwujud, seandainya elit kekuasaan di Kota Banjarbaru punya kepekaan dalam menggunakan anggaran negara, dan untuk kepekaan itulah diperlukan sastra, yang telah dipertujukkan dalam tadarus puisi dan silaturahmi sastra yang telah berlangsung. Sampai jumpa pada tadarus puisi tahun depan.

(Tulisan ini dimuat dalam Opini Koran Radar Banjarmasin, 25 September 2009: 3)

About these ads

10 Responses

  1. saya tak mengerti dunia sastra Pak, termasuk para pelaku di dalamnya. namun demikian, jika memang ada penghargaan atau apresiasi kepada para pelaku sastra kalsel yang berjasa besar, tentu merupakan sebuah hal yang positif bagi perkembangan sastra kalsel sendiri.

    soal hubungan pemerintah daerah dan sastra? mmm… mungkin bagi saya bacaannya adalah hubungan penguasa dan sastra. apakah psikologi kekuasaan sudah atau pernah mengarah ke sana? sepertinya sejumlah tulisan Pak Ben juga sudah menjawab ini … ;)

    HEB : Ya … kebudayaan sering dikesampingkan, apalagi pemerintah daerah yang punya alasan keterbatasan dana bila membicarakan tentang hal ini. Bila sudah ada yang mengklaim baru ribut.

  2. Assalaamu’alaikum

    Apa khabar saudara HEB ? Artikel ini amat menarik sekali. Saya mengkagumi banyak penulisan saudara yang sudah tentunya memberi gambaran sebenar tentang kehidupan warga di sana. Tahniah dan syabas atas setiap keperihatinan terhadap apa yang diingini oleh hati-hati yang mahukan pembaharuan dan kemajuan hidup. Mudahan usaha saudara mendatangkan hasil yang barakah.

    Acara apresiasi seni seperti tadarus puisi dan silaturahmi sastra merupakan acara yang menarik untuk dilaksanakan sebagai satu budaya menghimpun masyarakat dalam dunia ilmu kesusasteraan. Di sana kita dapat mengenali para seniman dan daya fikir yang dibawa oleh mereka melalui mesej yang disampaikan kepada dunia. mesej itulah yang perlu kita fahami dan mengertikan kerana ia adalah luahan hati yang dalam untuk dipanjangkan kepada sesiapa yang sudi mendengar dan mengambil berat tentangnya. Salam mesra dari UKM, Bangi.

    HEB : Wa’alaikum salam Wr. Wb.
    Ya … acara seperti itu memberikan warna tersendiri, sebenarnya banyak sentuhan dalam dunia kesusasteraan/kesenian, yang mampu membangkitkan kepedulian dan kepekaan untuk lebih melihat dunia dengan damai karena pemahaman.

  3. Assalamu’alaikum wr.wb.

    Pak Ben YTH

    Selamat ‘Idul Fitri 1430 Hijriyah
    Semoga esok lebih baik bagi kita semua

    Salam dan hormat

    HEB : Wa’alaikum salam wr. wb.
    Sama2, selamat idul fitri, dan semoga yang sudah lewat manjadi pelajaran untuk esok yang lebih baik bagi kita semua. Salam dengan rasa hormat

  4. Wah..padehal malam itu itu saya ingin sekali ke temapt acara itu, namun karena ada sesuatu dan lain hal..gak, jadi… cuma saya sempat lihat2 foto dokumnetasi teman pada acara itu, ya mestinya Banjarbaru sudah ada tempat untuk acara2 sejenis dan itu sudah merupakan apresiasi untuk para pelaku dan tumbuh kembangnya dunia sastra di Banjarbaru… sukses ya pak untuk acaranya….

    HEB : Sukses buat panitia pelaksana. Semoga saja Banjarbaru suatu saat punya tempat yang bernama Taman Budaya, dan juga kota2 lainnya.

  5. Mungkin para dewan dan peguasa perlu berkunjung ke kota2 besar di Jawa Seperti Jogja, Solo, Semarang, Bandung yang sudah memiliki taman budaya dan memiliki kegiatan rutin yang bisa dinikmati masyarakat. Btw sukses acaranya, dan selamat idul fitri mohon maaf lahir dan batin.

    HEB : Sama2, Selamat Idul fitri, mohon maaf lahir dan batin. Sukses buat panitia pelaksana.
    Para elit Banjarbaru …. sepertinya sudah mengetahui tentang Taman Budaya yang ada di kota2 besar di Jawa, mungkin malah tidak asing dengan tempat itu. Di Banjarmasin, kota provinsi Kalsel, juga ada Taman Budaya seperti itu (lihat komentar Hajriansyah dan Marshmallow; Medan)

  6. sebenarnya kalimantan selatan juga punya taman budaya, di banjarmasin, yang punya agenda-agenda budaya rutin. hanya saja memang sosialisasi atau publikasi kegiatannya kurang begitu bergaung, kecuali kepada seniman2 yang berada di seputaran taman budaya itu sendiri. mestinya, agenda atau kegiatan2 kesenian itu dipublikasikan secara luas di media massa–bukannya hanya mengundang kalangan yang terbatas–atau bagaimanalah caranya, meski kemudian orang-orang yang datang hanyalah orang-orang yang benar punya kepedulian, yang orang itu2 saja. setidaknya, publikasi yang meluas itu akan punya dampak perhatian yang berangsur2 pula dari khalayak, termasuk orang-orang yang punya tanggungjawab pengembangannya.
    saya kira, tempat sudah cukup, tinggal agenda dan publikasi kegiatannya yang didukung dgn dana yang lebih lagi dan pengalokasinnya yang efisien. jgn sampai seperti gedung2 pemerintah kebanyakan yang memakan banyak biaya pembangunannya, tapi tak ada isinya (kegiatannya).

    HEB : Ya, ada benarnya gedung2 pemerintah yang memakan banyak biaya pembangunannya tapi tak ada isinya (kegiatannya). Malah sebagian gedung itu seperti tidak mempunyai ruang (karena aksesnya terbatas dan tertentu), sehingga lebih terlihat hanya sekedar bangunana saja. Namun, pembangunan Taman Budaya sebagai tempat aktivitas kebudayaan di masing2 kota tetap diperlukan dan dibutuhkan. Mungkin, bagaimana pengelolaannya yang perlu dipikirkan sehingga tidak menjadikan tempat yang tersedia tak ada isinya (kegiatannya) sebagaimana pengalaman Taman Budaya yang ada di Banjarmasin.

  7. saya sependapat dengan mas hajri soal bangunan keren yang miskin isi. mestinya kita sudah mulai memikirkan pembangunan mental dan spiritual ketimbang fisik semata. selama ini fokus pembangunan masih berkutat di bangunan fisik saja tanpa memedulikan isi.

    di medan juga ada taman budaya, tapi sama dengan komentar mas hajri, pengunjungnya hanya kalangan terbatas, yakni peminat yang benar-benar serius saja. belum menjadi komoditas untuk dinikmati khalayak umum, terlebih yang relatif awam sastra.

    HEB : Setuju juga …. tapi pembangunan Taman Budaya tetap dibutuhkan untuk pusat aktivitas kebudayaan. Dalam hal pengelolaannya memang perlu dibenahi sebagaimana yang dikatakan Hajriansayah, jadi bukan salah tempatnya jika tidak ada isinya atau miskin isi.

  8. tadi sempat berdiskusi dgn beberapa kawan yg pernah tahu sejarah taman budaya di indonesia. katanya, kebijakan adanya taman budaya itu lebih untuk tingkat provinsi saja, jadi masing2 provinsi hanya punya satu taman budaya–meski beberapa provinsi ada yang tidak memiliki taman budaya. tapi, entahlah, saya juga awam mengenai kebijakan ini. untuk banjarbaru mungkin bukan taman budaya namanya, tapi gedung kesenian atau apalah. demikian…

    HEB : Benar, Taman Budaya adanya di tingkat provinsi, akan tetapi bila daerah tingkat II mempunyai kemampuan dan punya perspektif masa depan rasanya tidak berlebihan jika bisa membangun Taman Budaya sendiri. Seperti kota2 di Kalsel, yang masih mempunyai lahan cukup luas, tentu sangat berharga bila disediakan lahan untuk pembangunan Taman Budaya tersebut, yang mana konsep pembangunannya tidak harus sama dengan Taman Budaya seperti yang ada di provinsi.
    Gedung kesenian hanya bagian dari Taman Budaya tersebut, juga tempat untuk pamer seni lukis (layaknya pasar seni), dan mungkin bisa bermacam aktivitas lainnya …. jika bisa sekaligus terdapat perpustakaan dan beberapa toko buku … jadi tidak seperti Taman Budaya yang ada; jika tidak ada kegiatan menjadi gelap dan tertutup pintunya.

  9. mungkin namanya pas seperti ini pak hajri…taman foya-foya yang nampak tapi tersembunyi? betulkah

  10. Posting yang menarik. Memang harus ada yang mau membela kehidupan bersastra di setiap daerah. Sampeyan sudah memberi contoh yang bagus. Pasti karena sampeyan seorang blogger, sebutan yang mengharuskan seseorang bisa menghasilkan tulisan. Mudah-mudahan selalu ada orang-orang seperti sampeyan, agar dunia sastra khususnya dan kesenian budaya pada umumnya bisa terus berkembang.
    Salam kenal.

    HEB : Terima kasih telah berkunjung, salam kenal juga. Semoga saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,286 other followers

%d bloggers like this: