CERITA ANAK (5): KETURUNAN NABI ADAM … KETURUNAN KABIL?


Pada suatu waktu, saat makan siang, Ara mengatakan bahwa kita semua ini keturunan Nabi Adam as. Tentu saja hal itu tidaklah aneh, sebagaimana apa yang dikatakan Ayuv bahwa nenek moyang manusia itu berasal dari tikus. Aku menjadi terbiasa dengan cetusan anak-anak, yang terkadang meluncur begitu saja, tentang berbagai hal yang tentu saja juga terkadang aneh dan baru terdengar oleh diriku.

Saat Ara mengatakan bahwa kita semua adalah keturunan Nabi Adam as, aku hanya tersenyum, dan mengatakan itu benar. Aku pikir sudah sampai di situ. Ternyata Ara melanjutkan cerita tentang Nabi Adam as tersebut.

“Begini kan ceritanya”, cetus Ara dengan santai sambil makan, “Kita ini semua keturunan Nabi Adam as. Ara baca di buku cerita-cerita dalam Al-Qur’an. Allah kan menciptakan Nabi Adam as dan istrinya”.

“Benar!”, aku mencoba merespon Ara sambil membantu Amar makan. Sementara Ayuv hanya menganggukkan kepala saja sebagai tanda juga pernah membaca cerita itu. Belum Ara melanjutkan ceritanya, Ayuv melanjutkan cerita itu dengan penceritaan yang lebih cepat, sedangkan Ara begitu santai saja. Ara meminta Ayuv untuk berhenti, dan minta agar didengar dulu dia yang cerita. Aku meminta Ayuv untuk diam, menunggu giliran bicara.

“Nabi Adam dan Hawa mempunyai dua anak lelaki Kabil dan Habil. Anak perempuan bernama Iklima dan Labuda. Nah, begini, Kabil dijodohkan dengan Labuda. Habil dijodohkan dengan Iklima yang lebih cantik dari Labuda”, cerita Ara dengan tetap santai.

Cerita itu memang tidak ada yang aneh, karena begitulah yang aku tahu. Ayuv juga membenarkan cerita itu. Bingung juga kalau anak sudah mau bicara, saat makan, yang membuat waktu makan begitu lama. Dasar orang dewasa menggerutu dalam hati, segalanya ingin cepat. Aku sesekali menyeletuk untuk hanya mengatakan makannya cepat dan meminta untuk menghentikan ceritanya untuk dilanjutkan setelah makan selesai.

“Ayah! Tolong dengarin dulu. Ara lagi cerita, nanti lupa lagi”, sambar Ara dengan mulut masih mengunyah makanan kemudian menelannya dan melanjutkan, “… dan lagi pula, kalau sudah selesai makan siapa yang mau dengarin, pasti sibuk masing-masing”, lanjut Ara dengan muka agak mengkerut.

“Ayo cepat lanjutkan ceritanya, sambil makannya disuap”, menahan kesabaranku karena aku ingin mengerjakan sesuatu, “dan tentunya tidak ada yang nyeletuk”.

“Ayah … Ara juga sudah hampir selesai makannya, sedikit lagi. Ara tidak cerita panjang, Ara hanya ingin bertanya sebenarnya. Begini, Ara masih bingung, Habil dibunuh Kabil, berarti Kabil yang hidup padahalkan dia jahat, apakah berarti kita ini keturunan Kabil?”, cetus Ara dengan muka agak muram.

“Katanya kita semua keturuan Nabi Adam”, jawabku dengan sedikit terkesima dan bingung harus jawab apa.

“Iya, maksud Ara, Habil kan terbunuh jadi tidak punya keturunan, nah berarti Kabil yang punya keturunan”, potong Ara dengan pandangan penasaran.

“Apa kamu sudah baca semuanya, ya, cerita Nabi Adam?”, celetok Ayuv yang dari tadi menahan diri untuk mendengarkan.

“Iya, betul pertanyaan Ayuv, nanti kamu baca lagi ceritanya”, sambung ku dengan langsung meminta Ara minum karena makanannya sudah habis sebagai waktu yang tepat untuk mengakhiri pembicaraan.

Sambil mengambil minumnya Ara melanjutkan, “Ya, aku sudah baca, masih ada anak Nabi Adam yang lain. Tapi, Kabil juga punya anak dan keturunan, betul tidak! Jadi, kita ini bisa saja keturunan Kabil yang membunuh saudaranya”.

Sebenarnya Ara terlihat masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan yang ada dalam kepalanya. Aku yakin dia masih penasaran tentang apa yang telah dibaca mengenai Nabi Adam tersebut. Aku hanya menyarankan kepada Ara untuk membaca lagi cerita tentang Nabi Adam. Aku beranggapan bahwa pikirannya masih sangat sederhana. Padahal kesederhanaan pikiran itulah yang terkadang mencetuskan sesuatu yang tidak terpikirkan oleh orang dewasa. Kesederhanaan pikiran itu pula yang mengarahkan dan mendorong seseorang untuk terus belajar dengan sungguh-sungguh. Kesederhanaan pikiran anak-anak lebih sering dianggap sebagai  pikiran yang belum matang, masih dangkal, yang seakan memberi kewenangan kepada orang dewasa untuk mengabaikannya.

Benar juga kata Ara, setelah selesai makan, masing-masing sibuk yang secara tidak langsung menghentikan pembicaraan atau lebih tepat dikatakan penasaran Ara tentang cerita Nabi Adam as. Mungkin pada waktu lain, hal ini akan ditanyakannya kembali, yang mungkin dengan pandangan berbeda.

One Response

  1. itu mah nyeritain kelurga loe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,284 other followers

%d bloggers like this: