Bulan bulan lalai berlalu terbengkalai
manakala lapar dahaga membayar tunai
tuntas terjang bukit ngarai
sibuk bergumul debu mimpi
Berkilauan bulan seribu bulan
bahagia menggebu menapaki berkah kehadiran
nampak terpisah menanam benih kemuliaan
sedih berpisah manakala berganti bulan
Selalu terbuka pengampunan Yang Ilahi
bulan seribu bulan tumbuh dalam hati
tiada terpisah tujuan hanya karena pahala seribu kali
bulan demi bulan hanya kepada Nya terangkai hidup hakiki
Banjarbaru, 13 Agustus 2010
Filed under: PUISI Tagged: | HE. Benyamine, PUISI


Aha_ Baru sja saya koment tdi di facebook,hehe..
Kunjung balik kapan2 ya Pak!
Assalaamu’alaikum sahabatku, Mas Ben.
maaf baru hadir lagi untuk menyapa dengan bicara ini:
Andai langkah berbekas lara . Andai kata merangkai dusta. Andai tingkah menoreh luka . Andai bahasa membedah jiwa. Maaf dipohon seribu ampun. Dari jauh ku kirim salam. Kuhulur tangan memohon kalam . Buatmu sahabat, di hari mulia kita bermaafan. MAAF ZAHIR DAN BATHIN.
Taqabbalallohu minna wa minkkum. Kullu am wa antum bikhairiin.
Semoga mas Ben bahagia selalu dan senang dapat bersilaturahmi kembali di bulan mulia ini.
Salam Ramadhan Yang Barakah dan Salam Aidil Fitri Yang Bahagia.
Mas Ben… puisi yang dilakar hati dan minda tentang malam yang rahmatnya menyamai seribu bulan cukup puitis dan mengesankan hati. Semoga kita akan dipertemukan dengan malam ini dalam keikhlasa hati seorang hamba yang menyintai Tuhannya.
Oh ya… blog mas sudah saya link ke blog baharu saya di ruang Dunia Sahabat. harap disemak untuk masukan namanya.
Mohon url blog lama saya ditukar ke url blog baharu mas kerana blog lama sudah terhapus. Terima kasih.
Salam dingin di seluruhan hari di Sarikei, Sarawak.