Kau memamah bulan lalu menyeretnya ke arah kegelapan
Kegelapan berlari menuju cahaya yang berjalan dari arah berlawanan
Berlawanan segala yang nampak saling silang menyulam cakrawala
Cakrawala mengembang mengkerut merasuki pikiran dan hati
Hati meletakkan cermin terbolak balik menahan kehendak
Kehendak membujuk lahap segala materi
Materi tersisa tubuh sendiri
Sendiri menyantap diri melumatnya tak habis-habis
Habis kesabaran tiada kenyang nafsu selera
Selera menuntut dan mengancam menguras isi otak
Otak menghitung lapar dahaga berputar-putar terus
Terus mengejar seolah-olah lapar dahaga adalah kau
Kau kembali memamah bulan lalu kegelapan menyeret kau.
Banjarbaru, 14 Agustus 2011
Filed under: PUISI Tagged: | HE. Benyamine, PUISI

