DERAS TERNYATA RINDU MENGALIR

: Adinda

Oleh: HE. Benyamine

Ketika hujan itu, kau menatap tanpa binar, hanya linangan yang merembes sesaat aku mengatakan badai telah menetap dalam dadaku, kau genggam tanganku bukan karena mendengar apa yang telah kuucapkan, tapi rindumu, ya rindumu bagai gemuruh yang terdengar saat kau menutup kedua telingamu dengan kedua tanganmu. Aku menatap rindumu: hujan ini rasanya.

Malam menahan tetes deraimu, teramat singkat gerimis saat ini, kau tak sanggup kusembunyikan, lebih deras ternyata rindu mengalir dari sumber batinku yang lepas menggenang di kelopak keterpejamanku. Continue reading

2015 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 26,000 times in 2015. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 10 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Menari Bersama di Taman Budaya (Hari Tari Dunia 2015)

Oleh: HE. Benyamine

Memasuki kawasan Taman Budaya Kalimantan Selatan pada tanggal 29 April 2015 sore, seakan berada dalam perspektif tiada titik yang tak bergerak, menjadi bagian keindahan dan keceriaan dengan senyum yang penuh energi; semua bergerak saling mendobrak kebuntuan dan melepaskan kungkungan. Suasana peringatan Hari Tari Dunia 2015 (pertama kali di Kalimantan Selatan) yang diorganiser Sanggar Campaka Sadahan (SCS) dengan partisipasi sanggar/kelompok yang menginisiasi tema Kemerdekaan Tari Kalimantan Selatan, bersinergi dengan pesan Israel Galván, koreografer/dancer asal Spanyol, pada peringatan International Dance Day 2015, “Carmen Amaya, Valeska Gert, Suzushi Hanayagi, Michael Jackson…I see them as energy-generating turbines and this makes me think about the importance of choreography on that energy of the dancer. The important thing is probably not the choreography, but specifically that energy, the whirlwind which it triggers.” Tentu lebih dari itu, lebih penting, gravitasi keindahan menguat secara bersama.

Sanggar Nuansa

Sanggar Nuansa

Continue reading

FESTIVAL MURAKATA I: Sastra dan Seni yang Menggembirakan

Oleh: HE. Benyamine

Rimbun dengan pepohonan seakan memberi suasana puitis pada suatu tempat, bagai senandung yang menyatu dengan acara Lomba dan Pagelaran Seni Budaya Festival Murakata I (15 -17/8/2014), begitulah lapangan Dwi Warna Barabai dan sekitarnya. Lomba yang diperuntukan bagi pelajar se-Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini dengan tema Menampi Paung Sastra di Bumi Murakata Melanggat Jejak Juang Pahlawan Kemerdekaan Lewat Ekspresi Kembara Jiwa Mengembalikan Barabai Parisj van Borneo, merupakan festival yang terselenggara karena adanya berbagai kegiatan sastra dan seni sebelumnya; rutinitas, instens, dan partisipatif.

 

Continue reading

NOVEL LAMPAU: LOKSADO YANG INDAH

Oleh: HE. Benyamine

“When knowledgeable old person dies, a whole library disappears”

Loksado merupakan tujuan wisata yang ada di Kalimantan Selatan. Wisata alam yang mempunyai daya tarik dari segi keindahan alam dan tradisi masyarakatnya. Jika menyebut bambu rafting, maka nama Loksado yang terlintas. Pengetahuan lokal sesungguhnya merupakan hal penting dalam kehidupan masyarakat yang berdiam di wilayah Loksado, yang menempatkan tokoh/orang tua pada tempat yang terhormat dan bernilai sebagaimana pepatah Afrika di atas.

Continue reading

Korban Bernama Kalimantan Selatan (Media Kalimantan, 30 Maret 2014: A5)

HE. Benyamine

Membayangkan Kalimantan Selatan sebagaimana puisi Kalimantan Selatan 2030 Kemudian karya Micky Hidayat (MH) dalam Antologi Sungai Kenangan (ASKS IX, Banjarmasin, 2012, hal. 100 – 101) terasa begitu gamblang ada kemarahan “aku” yang lepas kendali dan harapan.  Kalimantan Selatan mengalami gangguan psikologi yang sangat berat, depresi berat, dan ketiadaan lagi harapan yang tersisa; korban perkosaan brutal dengan kegilaan yang frustasi pada kekerasan dan penguasaan libido tak terkendali.

Di satu sisi, MH masih meminta untuk merenungkan semua perbuatan yang berakibat pada “sesuatu yang tak terbayangkan” akan terjadi kemudian dari segala kegilaan dan kebrutalan tindakan sekarang pada alam Kalimantan Selatan. Renungankanlah! Adakah kesempatan untuk merenungkan tindakan yang dilakukan dengan kegilaan dan kebrutalan? Terpikirkah pemerkosa ketika sedang dalam aksinya! Coba bayangkan apa yang digambarkan MH bagaimana alam ini diperlakukan dalam bait pertama berikut:

Teruslah perkosa aku

senafsu-nafsu syahwat rakusmu

tebas dan cabik-cabik tubuhku

sebirahi-birahi erangmu

cakar dan bongkar isi perutku

sepuas-puas raungmu.

Continue reading

NOVEL “GALUH HATI” KONSTRUKSI KEMANUSIAAN BANJAR

Oleh: HE. Benyamine

Novel Galuh Hati (GH) menggambarkan bahwa pendulangan intan Cempaka tak lebih dari lokasinya skandal cinta dan tempat kerja orang-orang yang bernasib buruk belaka. Dalam hal estetika, GH lebih baik dari karya sebelumnya yang bercerita tentang pendulangan Cempaka, baik bentuk cerpen maupun novel. Hal ini dikemukakan Tajuddin Noor Ganie (TNG) yang menjadi pengantar diskusi pada Diskusi Sastra Malam Sabtu (21/3/14) di Auditorium Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan.

Image

Foto: Rini Ganefa (Koleksi pribadi RG), Semarang

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,651 other followers