BBM NAIK BERTUMPU DI PUNDAK RAKYAT


Pemerintah memutuskan mengurangi subsidi BBM, karena kurang lebih 40 persen dinikmati oleh 20 persen orang kaya, sedangkan orang miskin kurang lebih 10 persen saja, nah yang 50 persen nya lagi entah siapa yang menikmati. Namun, subsidi dikurangi selalu menambah beban orang miskin dan hampir miskin sebagai sesuatu yang pasti terjadi, karena barang dan jasa juga mengikuti kenaikan BBM, yang jelas semakin tak terjangkau kelompok miskin dan hampir miskin.

Orang kaya yang dikatakan menikmati subsidi BBM kurang lebih 40 persen itu, ternyata tidak membuat harga barang dan jasa menjadi bertambah naik, lagi pula kendaraan mewah sudah membayar pajak sesuai dengan kemewahannya, bahkan yang kendaraan mewah mungkin tidak memakai BBM subsidi.

Pemerintah hanya menjadikan rakyat sebagai tumpuan, yang bila harus terkubur tidak masalah, yang penting kesalahan pengelolaan negara dapat diselamatkan, sehingga kekuasaan tetap bisa dipertahankan.

Pemberian BLT untuk meningkatkan daya beli masyarakat adalah suatu tindakan manipulasi angka-angka ekonomi, yang bersifat sementara dan semu, yang bagus dalam perhitungan ilmu ekonomi, sehingga seakan terlihat mempunyai argumen yang kuat dan terukur. Setelah program BLT berakhir, masyarakat miskin dibiarkan kembali pada kenyataan hidup yang semakin sulit, yang memang sudah memiliki daya tahan sendiri sebagai suatu respon adaptif yang menjadi pengalaman hidup, tanpa perlu dapat dijelaskan dengan teori ekonomi. Masyarakat mempunyai mekanisme sendiri dalam menyiasati dinamika kehidupan mereka, pemerintah hanya mengerti dan faham bagaimana mereka dapat tetap berada di pusat kekuasaan.

Pemerintah pusat dengan ringan menetapkan harga minyak tanah Rp.2500,- per liter, tapi setiap daerah harus menambah kenaikan dua kali lipatnya. Daerah-daerah menjadi bagian tumpukan yang terbawah, yang mana manusianya semakin menderita setiap ada kenaikan  yang diukur dan diputuskan dari pusat.

Rakyat perlu menggeser posisi, agar tidak selalu dijadika tumpuan yang diabaikan bahkan dikorbankan untuk menutupi keselahan dan kemalasan dalam berpikir dan bekerja. Pemerintah dalam kebijakannya, secara nyata telah mengabaikan rakyat, dan bahkan hanya memikirkan kepentingan orang kaya yang 20 persen tersebut, karena semakin banyak modal sosial dan kapital masyarakat menjadi tergadai kepada mereka dengan pengurangan subsidi BBM ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: