MEWARISI WARISAN AL-BANJARI


Oleh: HE. Benyamine

Menulis sangat mudah! Ersis Warmansyah Abbas membuktikan ucapannya tersebut dengan meluncurkan beberapa buku dengan difasilitasi TB. Gramedia Duta Mall dari hasil tulisannya yang menunjukkan kemudahan tersebut. Peluncuran beberapa buku dari seorang pengarang daerah (banua) merupakan suatu yang langka dan dapat dikatakan sebagai suatu terobosan yang memecah kebekuan intelektual dan profesional daerah yang sebenarnya mempunyai potensi setara secara nasional.

Beberapa karya tulis Al-Banjari merupakan warisan yang sangat berharga bagi pembentukan dan perkembangan peradaban yang menyebar dalam wilayah Asia Tenggara, yang mendasarkan pada budaya membaca. Beliau belajar di negeri Arab lebih 30 tahun, di mana budaya membaca dan menulis sudah berkembang di sana, sehingga telah menjadikan beliau terbentuk dan terdidik dengan budaya membaca. Berdasarkan karya tulis beliau, jelas tergambar sosok yang gemar membaca dari bebagai sumber dan mengkajinya hingga menemukan suatu pemahaman yang dapat masuk ke dalam budaya Melayu.
Peluncuran buku-buku Ersis Warmansyah Abbas, 6 buku terbaru tentang motivasi betapa mudah menulis, sesungguhnya mengingatkan berbagai kalangan untuk saling mendukung dalam membangun budaya membaca. Sebagaimana Al-Banjari yang telah menghasilkan 18 karya tulis, yang merupakan hasil dari kegemaran membaca, menunjukkan suatu kemampuan yang tidak terikat dengan kecanggihan teknologi; seperti komputer yang memudahkan untuk menulis. Namun lebih karena budaya membaca.
Budaya membaca, atau istilah yang dipakai Prof. Wahyu dengan masyarakat pembaca (reading society), merupakan syarat yang tidak bisa ditinggalkan untuk dapat mudah menulis. Sehingga, buku-buku motivasi tentang mengarang atau menulis mudah, lebih meningkatkan angan-angan dan hanya menyenangkan hati orang yang membacanya, bila tidak diikuti dengan budaya membaca oleh mereka yang ingin dimudahkan menulis. Karena, saat mau menulis selalu saja ada alasan yang mempersulit, yang disebabkan kurangnya membaca.
Berdasarkan buku-buku Ersis Warmansyah Abbas, secara tidak langsung ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian semua pihak, yang begitu jelas betapa rendahnya tingkat membaca kalangan profesional pendidik dan masyarakat secara umum di Banua ini. Hal ini sangat mengkhawatirkan dan berkaitan dengan jalan kemajuan bagi daerah ini yang kemungkinannya sangat sulit untuk berkembang. Pertama, dosen dan guru di banua ini sangat banyak mengalami hambatan membaca, mereka belum termasuk kalangan masyarakat pembaca, kedua, masyarakat belum menyadari betapa pentingnya budaya membaca, dan ketiga, penting dilaksanakan kampanye betapa pentingnya membaca sebagai suatu gerakan bersama dan menjadi kepentingan bersama.
Sebagaimana yang diyakini oleh Barack Obama (2005) sebagai Senator saat memberikan sambutan pada acara the American Library Association yang menyatakan “I believe that if we want to give our children the best possible chance in life; if we want to open doors of opportunity while they’re young and teach them the skills they’ll need to succeed later on, then one of our greatest responsibilities as citizens, as educators, and as parents is to ensure that every American child can read and read well”. Memastikan bahwa setiap anak dapat membaca dan membaca dengan baik merupakan tanggung jawab terbesar secara bersama-sama. Karena, menurut Obama, “That’s because literacy is the most basic currency of the knowledge economy we’re living in today”.
Kalangan pendidik yang kurang membaca atau kurang kesempatan untuk membaca tentu sangat berpengaruh kepada anak didik dalam tingkat membaca dan mendapatkan the best possible chance in life. Anak didik lebih diarahkan membaca untuk kepentingan menjawab soal ujian, bukan sebagai bagian dari kepentingan untuk kehidupan di masa depan. Anak didik cenderung mencari jalan pintas dalam belajar, membaca buku yang terbatas dan ringkas, yang menghilangkan pengalaman dan kenikmatan membaca itu sendiri, sehingga sangat membatasi kemampuan peserta didik dalam memahami.
Bagaimana mengharapkan kalangan pendidik mampu menulis, meskipun beberapa buku tentang menulis mudah telah diluncurkan Ersis Warmansyah Abbas sebagai motivator, jika kemampuan bacanya rendah. Seharusnya, kebutuhan buku teks pelajaran, minamal dimulai dari tingkat Sekolah Dasar, sudah merupakan hasil karya pendidik di daerah ini; minimal memotong rantai distribusi yang terlalu panjang agar bisa lebih murah. Apalagi, daerah ini mempunyai FKIP Unlam dan IAIN Antasari, yang setiap tahunnya melepaskan tenaga potensial dalam bidang pendidikan dan memang disiapkan untuk terjun dalam bidang tersebut. Kemampuan menulis ini, sebenarnya sudah dibuktikan oleh mahasiswa semestar IV FKIP, yang menerbitkan buku tentang pengantar antropologi.
Kebutuhan buku mata pelajaran muatan lokal untuk SD/MI, direspon oleh Mukhtar Sarman (dosen FISIP Unlam) dengan menulis dan menerbitkan buku Mengenal Lingkungan dan Budaya Banjar, Bahan Penunjang Mata Pelajaran Muatan Lokal untuk SD/MI (April 2008) sebagai bentuk kegundahannya atas sulitnya menemukan buku mata pelajaran tersebut ketika anak-anaknya mau mengerjakan tugas sekolah, meskipun dalam pengantarnya dinyatakan sebagai buku yang kadar ilmiahnya sangat terbatas, namun tetap saja mampu mengisi kekosongan buku muatan lokal dengan kualitas dan isi yang baik. Sedangkan tentang kadar ilmiah, selama belum ada buku sejenis yang diterbitkan, maka buku tersebut yang mempunyai kadar ilmiah yang tertinggi pada tingkatannya untuk sementara.
Oleh karena itu, kampanye betapa pentingnya membaca untuk mengarah pada masyarakat pembaca, harus menjadi gerakan bersama dan menjadi kepentingan bersama. Kalangan pendidik perlu diperhatikan bagaimana mereka meningkatkan kemampuan belajar, salah satunya dengan “memaksa” mereka untuk menulis paling tidak yang berkenaan dengan pelajaran yang menjadi bidangnya. Pemerintah dan institusi pendidikan tinggi dapat memberikan asistensi dalam penulisan naskah buku pelajaran tersebut, yang bila sudah memenuhi syarat sebagai suatu buku pelajaran pada tingkat tertentu, difasilitasi untuk diterbitkan dan diedarkan sebagai buku wajib sekolah.
Karya tulis dari pendidik yang bersangkutan, yang dipakai sebagai rujukan belajar di kelas, secara langsung memberikan suatu kebanggaan pada anak didik. Mereka lebih bersentuhan dengan pengarang langsung, yang mampu memberikan suatu kesadaran tentang betapa pentingnya membaca. Disamping itu, pendidik mempunyai kesempatan untuk terus memperkaya dan membaiki karyanya berdasarkan pengalamannya dalam berinteraksi dengan anak didiknya.
Gerakan bersama dalam menuju masyarakat pembaca (reading society) dan membangun budaya membaca di banua, merupakan suatu gerakan mewarisi warisan Al-Banjari dan tidak membiarkan beliau sendirian dalam berkarya. Membaca, membaca, dan membaca yang dapat memudahkan dalam menulis dan menatap masa depan yang lebih baik dan bermakna.

One Response

  1. membaca,membaca dan membaca………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: