GURU BERMARTABAT


Oleh: HE. Benyamine

Guru di Indonesia merupakan profesi yang dikerdilkan hingga dengan mudah dipermainkan. Para guru sudah mendidikasikan hidupnya untuk menjalani profesinya, yang bertahun-tahun melaksanakan proses belajar mengajar, masih saja dipertanyakan profesionalitasnya. Untuk mendapatkan peningkatan kesejahteraan sebagai hak masih diharuskan melalui syarat-syarat yang menjajah; seperti sertifikasi guru.

Mungkin ada orang yang menjalani suatu aktivitas tertentu selama hidupnya, tapi tetap saja tidak mempunyai kompetensi yang memadai dalam bidang tersebut, tentu saja orang tersebut mengalami gangguan mental. Menjadi guru hingga mencapai usia pensiun, masih dikatakan tidak mempunyai kompetensi sebagai guru, sama saja mengatakan bahwa guru tersebut mengalami gangguan mental.
Menjadi guru sebagai pilihan profesi seperti dianggap sebagai pilihan “dari pada tidak ada kerjaan” atau tanpa sengaja, bagaimana tidak, seseorang yang lulus dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK); misalnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), yang tentunya dipersiapkan untuk berprofesi sebagai guru kemudian menjalani bidang profesi guru dalam kariernya masih dipertanyakan kompetensi dan diharuskan mengikuti sertifikasi guru. Begitu juga guru yang mendekati masa pensiun yang dulunya lulusan SPG, dapat dikatakan tidak layak mendapatkan kesejahteraan, kecuali yang bersangkutan mempunyai kualifikasi minimal sarjana (S1) atau diploma empat (D IV), pengabdian mereka hingga menjelang pensiun sudah dihapuskan karena dianggap tidak memenuhi kualifikasi sertifikasi guru.
Guru dituntut undang-undang untuk mempunyai sertifikasi jika ingin mendapatkan kesejahteraan dan pengakuan kompetensi, yang secara tidak langsung mempertanyakan pabrik penghasil profesi guru ini dalam hal ouputnya, dan anehnya yang menjadi asesor dalam penilaian portofolio adalah pabrik (dosen-dosen) yang bersangkutan; seperti FKIP Unlam. Sebagai institusi yang mempunyai akreditasi dalam menghasilkan para pendidik, FKIP Unlam misalnya, sudah selayaknya menggugat hal ini bukan malah menyalurkan kebijakan yang menjajah ini. Bandingkan saja dengan profesi lainnya, yang mendapatkan sertifikasi profesi dalam waktu singkat (ada yang 1 tahun), sedangkan guru harus memiliki masa kerja sebagai guru minimal 5 tahun.
Bagaimana martabat guru dapat mengangkat martabat bangsa, jika mereka yang berprofesi guru masih diperlakukan dengan tidak adil dan dikerdilkan dengan peraturan dan perundangan yang menjajah. Orang yang terjajah terlalu berat bila dituntut untuk bermartabat. Tapi, bagi guru meskipun mereka terjajah dan terjerat dengan ketentuan yang mencekak leher, mereka masih mempunyai harapan bahwa kelak anak didik mereka tidak terjajah dan menjadi penjajah, walaupun kehidupan mereka terkadang harus dicukupi dengan penghasilan di bawah upah menimum regional.
Dalam peringatan Hari Guru 2008 ini, guru harus berani merebut kemerdekaannya. Guru merupakan profesi, bersama PGRI dan organisasi profesi guru lainnya, sudah saatnya memperjuangkan martabatnya yang selama ini dikerdilkan oleh berbagai peraturan dan perundangan yang menjajah. Memperjuangkan kesejahteraan guru harus menjadi kebutuhan dan kepentingan bangsa ini, tidak hanya mereka yang berprofesi sebagai guru, jika bangsa ini ingin lebih sejahtera dan menjadi warga dunia yang sederajat.
Memperjuangkan kesejahteraan guru merupakan kewajiban pemerintah daerah, sebagai implementasi otonomi daerah dalam bidang pendidikan. Pemerintah daerah yang ada di Kalsel, perlu dituntut lebih mengutamakan peningkatan mutu pendidikan daerah yang mengarah pada standar nasional pendidikan. Pemerintah daerah bersama institusi pendidikan di daerah; seperti FKIP Unlam dan IAIN Antasari, organisasi guru; seperti PGRI, dan masyarakat, sudah saatnya mengambil peran sendiri dalam kelangsungan sistem pendidikan di daerah Kalsel ini sesuai dengan potensi daerah. Kalsel tidak perlu lagi terlalu terbelenggu dengan sistem pendidikan nasional yang terlalu menyeragamkan perbedaan yang ada. Apalagi, setiap ganti menteri juga ganti kebijakan.
Kalsel sebagai daerah yang mempunyai institusi pendidikan tinggi; seperti Unlam, IAIN Antasari, dan swasta lainnya, dengan sumberdaya alam yang melimpah sudah sepatutnya menentukan sistem pendidikan sendiri, walaupun secara garis besar tetap mengacu pada standar pendidikan nasional. Dalam kesejahteraan guru, Kalsel tidak perlu menunggu guru-guru yang ada mendapatkan sertifikasi baru mendapatkan kenaikan gaji yang layak dan bermartabat, pemerintah daerah harus berani membuat kebijakan untuk menjadikan guru sebagai profesi yang bermartabat; salah satunya peningkatan gaji. Guru bermartabat merupakan kekuatan daerah ini dalam rangka proses adaptasi terhadap perubahan lingkungan (ekologi), perubahan global dan perubahan zaman.
Seperti dalam hal pengadaan buku teks pelajaran, potensi pendidik di daerah ini perlu diberdayakan dan difasilitasi untuk membuat buku teks sendiri, tidak perlu lagi tergantung dengan percetakan dari luar daerah ini, paling tidak dapat mengurangi ketergantungan tersebut. Hal ini perlu mendapat perhatian semua pihak, sebagai upaya memberikan rasa kepercayaan diri akan potensi yang di miliki pendidik di daerah ini. Dengan mempunyai sistem pendidikan sendiri, yang berbasis pada potensi dan kekuatan daerah, maka daerah ini mengurangi berbagai hal yang sebenarnya sangat mengganggu proses pendidikan, seperti Ujian Nasional (UN) yang hanya mampu mengukur  20 persen kemampuan murid (hasil penelitian) sebagai suatu ketidakadilan, sangat mengerdilkan posisi guru dalam evaluasi dan menjerumuskan anak didik pada pendidikan gaya kursus kilat.
Dengan sistem pendidikan sendiri yang dikembangkan, daerah dapat mengurangi beban berbagai birokrasi pendidikan yang terlalu panjang dan perubahan kebijakan oleh perubahan menteri yang seragam yang tidak memperhatikan perbedaan sarana dan prasarana serta situasi dan kondisi daerah. Kalsel dapat menjadikan Malaysia sebagai rujukan sistem pendidikan, tidak perlu merujuk Jakarta, sehingga untuk sementara pemerintah daerah memperbanyak mengirim dan memberikan beasiswa generasi muda Kalsel ke Malaysia untuk belajar, setidaknya hal ini pernah dilakukan oleh Malaysia pada zaman dahulu.
Keberanian dalam membuat sistem pendidikan Kalsel sendiri merupakan langkah awal untuk menjadikan guru sebagai profesi yang bermartabat. Bagaimanapun besarnya anggaran untuk pendidikan di APBD Kalsel, bila tidak mempunyai sistem pendidikan Kalsel sendiri, maka anggarannya bisa saja sampai entah kemana. Sistem pendidikan daerah Kalsel ini perlu dibuat, melepaskan dari sistem Jakarta (nasional), sehingga anggaran yang ada dapat lebih efesien dan efektif dengan paradigma pendidikan yang disepakati. Pembuatan sistem pendidikan ini bisa saja membuat daerah mengalami setback beberapa tahun ke belakang, tapi hal ini lebih baik dari pada mempunyai anggaran yang besar tapi tidak tahu arah mana yang dituju.
Dengan mempunyai paradigma dan sistem pendidikan sendiri, yang digagas, dirumuskan, direncanakan, diimplementasikan, dan dievaluasi sendiri oleh pemerintah daerah, para ahli, dan para profesional lainnya yang ada di Kalsel beserta rakyat Kalsel, tentu akan mengangkat martabat daerah. Hal ini dapat mengangkat profesi guru menjadi profesi yang bermartabat, karena keberadaan guru menjadi faktor penting dalam berjalan suatu sistem pendidikan tersebut.
Guru bermartabat merupakan kebutuhan dan kepentingan bersama. Selamat Hari Guru 2008, martabat guru martabat bersama atas kebaikan dan kebenaran. Terima kasih guru.

(Anggrek Bulan silang yang baru mekar di sekitar rumah kami yang gambarnya diambil pada bulan November di bawah ini, dipersembahkan sebagai kado ungkapan terima kasih atas pengabdian guru-guru, semoga tetap bisa tersenyum)

bulan-silang-04

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: