BANJARBARU, KOTA SERIBU TAMAN


Oleh: HE. Benyamine

Banjarbaru merupakan kota yang dibangun berdasarkan perencanaan. Bukan kota yang tumbuh dengan sendirinya, seperti kota Banjarmasin dengan julukan kota seribu sungai. Di Indonesia ada beberapa kota yang memang direncanakan pembangunannya, diantaranya adalah Kota Banjarbaru dan Kota Palangkaraya. Kota Palangkaraya mempunyai jalan-jalan yang sangat lebar dan jaringan jalan yang saling terhubung, sehingga terlihat begitu lapang di mana jalan tersebut adalah sebagian dari ruang terbuka hijau. Kota Banjarbaru juga mempunyai jaringan jalan yang terhubung secara merata dan membentuk suatu jaringan laba-laba, dengan pusat kota Balai Kota dan lapangan Murdjani.

Dalam perjalanannya, kota Banjarbaru mengalami pertumbuhan yang begitu pesat, terutama dalam bidang properti karena memang mempunyai struktur tanah yang padat dan cenderung datar. Berbeda dengan kota Banjarmasin yang didominasi lahan rawa, sehingga lebih tinggi biaya pembangunan dengan kecenderungan sistem urug. Banyak pengembang yang membangun perumahan di wilayah administrasi Banjarbaru. Setiap perumahan yang dibangun pengembang, tentu ada peruntukan lahannya untuk kepentingan fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos), sebagai kewajiban pengembang dalam berkontribusi untuk mengarah kepada lingkungan yang sehat dan bersih.

Pemko Banjarbaru pernah mewacanakan untuk mensyaratkan pengembang untuk membuat jalan lingkungan yang lebar, tapi dalam pelaksanaannya masih terlihat baru sekedar wacana. Karena banyak pengembang yang sangat tidak berminat mengalokasikan sebagian lahannya untuk memenuhi keinginan Pemko Banjarbaru tersebut dalam penyediaan jalan lingkungan yang lebar. Padahal, keberadaan jalan lingkungan yang lebar akan memberikan suasana yang asri dan berkesan mewah, meskipun tipe rumah yang dibangun adalah tipe sederhana dan sangat sederhana sekalipun. Karena, jalan lingkungan yang lebar akan menyediakan ruang terbuka hijau yang merata dalam wilayah suatu perumahan, tinggal menanami pohon saja.

Di daerah Guntung Manggis, perumahan Kota Santri yang menyediakan fasum dan fasos lebih dari 50 persen lahannya, sebenarnya memberikan kesan eksklusif dan bergengsi bagi pembeli yang menempati perumahan tersebut. Karena, perumahan yang mempunyai ruang terbuka hijau yang proporsional akan menjadi tempat hunian yang cenderung sehat. Meskipun perumahan mewah, jika ruang terbuka hijaunya terlalu sedikit, maka kesannya adalah kemewahan yang padat dan tidak asri. Jadi, keberadaan fasum dan fasos yang proporsional dan merata dalam suatu kawasan perumahan sebenarnya merupakan pilihan masa depan dalam menentukan perumahan mana yang dipilih untuk dibeli. Beberapa perumahan yang sudah padat dan mengalami perubahan dalam bentuk rumah aslinya, sangat merasakan bagaimana penting dan dibutuhkannya ruang terbuka hijau tersebut.

Kota Banjarbaru mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi kota seribut taman. Beberapa lokasi di Banjarbaru sudah merupakan daerah ruang terbuka hijau, memang beberapa lokasi tersebut sekarang banyak tumbuhannya yang “terkapar dan tumbang” sehingga tidak begitu hijau lagi, tapi masih sangat potensial untuk dihijaukan kembali. Hutan Pinus secara de facto merupakan bagian dari kota Banjarbaru, yang sangat dekat dengan pusat kota, dan merupakan salah satu hutan kota yang sudah ada, dan tentu saja sangat berpengaruh dalam iklim mikro di sekitarnya.

Di samping itu, ada beberapa lokasi yang dapat dikatakan sebagai hutan kota (secara de facto) karena luasan hutan kota paling sedikit 0,25 hektar (Peraturan Pemerintah RI Nomor 63 Tahun 2002), seperti kawasan kampus Unlam Banjarbaru, kawasan Minggu Raya dan Lapangan Murdjani, dan kawasan kolam renang Idaman. Wilayah-wilayah tersebut mempunyai jalan-jalan yang sangat lebar dan memang menyediakan lahan di kiri kanan jalan untuk lokasi menanam pohon yang besar. Lokasi sudah tersedia, hanya diperlukan kemauan baik pemerintah kota untuk bersama-sama dengan pemangku kepentingan lainnya secara bersama melakukan penghijauan kembali. Rasanya tidak ada yang sulit, karena lokasi sudah tersedia dan memang direncanakan untuk tumbuhnya pohon-pohon besar.

Kota Banjarbaru mempunyai banyak perkantoran dan sekolah, ada beberapa tempat yang berdekatan bila digabung dengan bersama-sama melakukan penghijauan, maka de facto sudah menjadi hutan kota. Seperti SDN Banjarbaru Utara 2, SDN Banjarbaru Utara 4, dan SDN Banjarbaru Utara 8 serta kantor BPS dijadikan suatu kawasan hutan kota dengan melaksanakan penanaman pohon yang beragam secara bersama, ditambah dengan keterlibatan warga sekitar. Menjadikan kota Banjarbaru sebagai kota seribu taman, salah satunya dengan melakukan pendataan fasum dan fasos di setiap perumahan yang ada oleh dinas terkait. Karena, sebagian dari fasilitas tersebut sudah berubah fungsi dan peruntukannya, bahkan ada yang dijual oleh pengembang. Keberadaan fasilitas tersebut sangat penting untuk menunjang syarat luasan ruang terbuka hijau pada suatu wilayah, oleh karena itu dinas terkait harus melakukan pendataan dan mengambil tindakan untuk mengembalikan kepada fungsi dan peruntukan yang sebenar dan seharusnya.

Kota Banjarbaru sebenarnya hanya tinggal melaksanakan kegiatan penghijauan secara bersama dan terkoordinasi, dengan melibatkan semua pemangku kepentingan, seperti LSM, Forum RT, mahasiswa, dan warga masyarakat secara keseluruhan. Hal ini dapat terlaksana, bila pemerintah kota melalui dinas terkait dapat menginventarisasi semua fasum dan fasos sesuai dengan peraturan perizinan perumahan. Inventarisasi fasilitas ini dapat dinformasikan kepada setiap RT yang bersangkutan untuk dikelola dan digunakan sesuai dengan fungsi dan peruntukannnya. Peraturan harus ditegakkan, fasilitas (umum dan sosial) yang ada bangunan milik pribadi harus dibongkar, dan yang sudah berpindah tangan harus dikembalikan.

Fasilitas (umum dan sosial) yang terinventarisasi dengan baik sangat membantu mengarahkan masyarakat terlibat untuk berpartisipasi dalam menjadikan fasilitas tersebut menjadi taman yang indah. Lomba Taman dapat dilaksanakan dalam periode tertentu, sebagai bentuk penghargaan terhadap warga yang mengelola taman tersebut. Warga masyarakat cenderung berpartisipasi dalam kegiatan yang menyangkut kepentingan bersama, yang dalam pelaksanaannya mereka bisa saja tidak bergantung dengan pendanaan pemerintah, asal legalitas status lahan jelas untuk kepentingan fasilitas publik.

Begitu juga dengan tanah kaplingan, pemilik diwajibkan melakukan penanaman pohon di sepanjang jalan lingkungan dan di fasilitas (umum dan sosial) yang direncanakan. Pohon yang ditanam terserah pemilik kaplingan, bisa saja pohon ketapang yang mudah tumbuh dan cepat besar, dan dinas terkait dapat menyediakan bibit lainnya. Tanah kaplingan dapat menjadi hijau lebih dulu, meskipun belum ada bangunannya. Kota Banjarbaru sesungguhnya dapat menjadi kota seribu taman, karena pembangunan perumahan begitu pesat, banyak dan tersebar.

Para pengembang sebenarnya mempunyai kepentingan yang besar terhadap keberadaan taman-taman tersebut, karena lingkungan yang sehat memberikan nilai tambah tersendiri dan bisa meningkatkan performa perumahan dengan nilai tambah, hal ini sebenarnya sangat memudahkan pemangku kepentingan lainnya untuk berpartisipasi. Terpenting adalah pemerintah kota mempunyai kemauan baik secara politik dan menegakkan peraturan secara konsekuen dan tegas.

Sebenarnya tidak terlalu lama untuk menyandang gelar kota seribu taman. Warga masyarakat Banjarbaru sudah sangat paham bagaimana lingkungan yang baik, bersih, sehat, dan teduh sangat penting dalam kehidupan mereka.

Sekarang, bagaimana pemerintah kota untuk membangkitkan potensi ini menjadi lebih berpeluang untuk dilaksanakan, salah satunya dengan menginventarisasi fasum dan fasos perumahan dan mengembalikannya kepada fungsi dan peruntukannya.

6 Responses

  1. Rendra, sekali waktu ketika berkunjung ke Palangka Raya, mengaku kota itu mengingatkannya pada kota-kota di Eropa.
    Banjarbaru juga bisa lebih sangat menarik bila jalan, taman-taman dan hutannya dipelihara dengan baik.

    *** Benar Pak Sandi, Palangkaraya juga mengingatkan saya dengan kota negara Barat (tapi cuma melihat foto-foto).

    Begitu juga Banjarbaru, bentuk sudah jadi, jadi mau apa tidak menghiasinya dengan tumbuhan sehingga membuat teduh bila berjalan kaki atau bersepeda.

    Wah, saya juga nggak sempat nawarin minum …

  2. Waduh … kira-kira lima tahun lalu saya pernah menulis tema ini … dicari ngak ketemu, di Radar Banjarmasin. Makasih mengingatka, dan … semoga menjadi penyadaran bagi semua.

    *** Nah … anggap saja “rainkarnasi” tulisan yang lima tahun lalu jika boleh. Kesadaran bersama perlu dikuatkan dan labuhkan terus-menerus untuk kepentingan dan kebaikan bersama.

  3. Kalau soal ini, saya yang paling tertarik mengubah Lapangan Sepak Bola Murdjani itu menjadi sebuah taman kota, taman Labirin. Tapi, itu kan cuma keinginan saya, bukan inginnya mereka-mereka itu…😀

    dari pada stadion mini mubazir, tak dipakai, sementara terus memaksa main bola di lapangan yg sudah tidak kondusif.

    ***Nggak mengapa sebuah keinginan … siapa tahu bukan Pakacil aja yang mempunyai keinginan tersebut.

    Lapangan bola sudah tidak pada tempatnya, bolanya bisa saja membuat lalu lintas jadi berbahaya (benar sudah tidak kondusif), jadi setuju bila dijadikan taman kota, taman labirin. Saat ini banyak pohon yang dipotong malah, emang bisanya itu kali …

  4. jadi teringat pagi tadi jalan2 ke taman idaman banjarbaru….
    tempatnya memang indah…. tapi sayang sekali… banyaak sekali sampah….😦

    *** Wah … padahal udah disebar petugas kebersihan … atau warga yang lupa tempat sampah … atau memang tempat sampah tidak pada tempatnya … anggap saja keindahan ditengah sampah …
    Terima kasih udah mampir …

  5. Menurut saya, sekarang Banjarbaru adalah Kota Seribu Ruko, mudahan dama waktu dekat bisa jadi Kota Seribu Bundaran, Kota Seribu Komplek Perumahan, Kota Seribu Warnet, Kota Seribu Hotspot, dan Kota Tanpa Kemiskinan

    *** Semuanya boleh dijadikan teduh dan sejuk

  6. Ass.

    Sekian lama kota Banjarbaru menyandang predikat sebagai kota pendidikan. Adanya predikat itu tentu memberikan kebanggaan bagi masyarakatnya.

    Pertanyaan saya pun akhirnya mencuat, atas dasar apa kota Banjarbaru disebut sebagai kota pendidikan? Karakter seperti apakah yang diperlihatkan kota Yogyakarta sehingga menyandang predikat tersebut? Saya terus mencari jawab atas pertanyaan itu.

    Apakah tolok ukur dari julukan tersebut? Anak-anak usia sekolah sudah berani “berciuman” dan berpelukan di muka umum. Tubuh tidak lagi disakralkan, tetapi diumbar begitu saja. Jika dahulu bagian tubuh perempuan disentuh laki-laki terasa jijik, namun sekarang diremas-remas menjadi biasa. Ini kenyataan yang tak bisa dimungkiri.

    Anak-anak usia sekolah berbeda jenis kelamin saling berdekapan erat layaknya suami-istri. Bukan maksud menggeneralisir, tetapi kenyataan seperti itu terjadi di kota pendidikan ini.

    Wss.

    *** Waduh … realitas gamang modernisasi kali ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: