APARATUR YANG BERMENTAL MISKIN


Oleh: HE. Benyamine

Peringatan Gubernur Kalsel kepada seluruh lapisan masyarakat dan juga kalangan aparatur di Kalsel hendaknya jangan bermental miskin (Mata Banua, 4 November 2008) pada acara ceramah umum Diklatpim III dan Diklat Prajabatan Golongan I, II, III se-Kalsel di Gedung Serbaguna Unlam Banjarbaru, kurang tepat sasaran dan kurangnya rasa kepedulian sosial para pengambil kebijakan di daerah ini.

Peserta Diklatpim dan Diklat Prajabatan yang hadir jelas bukan sasaran penerima bantuan langsung tunai (BLT), dan disamping itu terlalu meremehkan nilai bantuan yang Rp.100 ribu per bulan tersebut yang memang tidak seberapa bagi seorang gubernur. Seharusnya gubernur lebih memberikan peringatan tentang pelayanan sebagai abdi masyarakat, yang diberi makan dari uang rakyat, jangan mempersulit yang sebenarnya tidak sulit dalam berurusan mendapatkan pelayanan.

Mungkin, sebenarnya gubernur ingin mengatakan bahwa aparatur negara yang menggunakan tugasnya sebagai abdi masyarakat untuk meminta berbagai fasilitas, uang pelicin, biaya administrasi ini dan itu, uang rokok, dan lainnya sebagai aparatur yang bermental miskin. Peringatan tentang aparatur bermental miskin memang sudah seharusnya dilakukan gubernur, karena aparatur yang bermental miskin inilah yang menyuburkan berbagai bentuk penyimpangan. Mereka lebih lapar dari orang miskin yang sebenarnya. Mereka dengan mudah menyembunyikan mental miskinnya dengan membuat berbagai alasan untuk menyisihkan anggaran untuk kepentingan sendiri atau kelompoknya.

Penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) pada pelaksanaanya memang masih perlu dibenahi, karena masih ada penerima yang sebenarnya tidak berhak. Hal ini sebenarnya sangat berkaitan dengan aparatur yang bermental miskin, yang malas bekerja dan melakukan palayanan sebagai abdi masyarakat. Jadi, mengingatkan seluruh masyarakat Kalsel hendaknya jangan bermental miskin, lebih tepat sebagai peringatan yang berasal dari orang tidak begitu memahami tentang apa yang diingatkan tersebut. Karena, jelas sekali orang miskin di Kalsel itu beberapa persen, bukan seluruh lapisan masyarakat Kalsel.

Bagi penerima BLT atau mereka yang berada di atas sedikit dari garis kemiskinan yang tidak berhak mendapatkan BLT, uang Rp.100 ribu per bulan sangat berarti dan berharga untuk menambah menutupi berbagai kebutuhan harian. Mereka yang datang dengan sepeda motor atau memakai gelang emas, masih perlu diteliti lagi memang, tapi hal ini tidak bisa dijadikan ukuran bahwa yang bersangkutan tidak miskin, karena bisa saja motor yang dipakai adalah motor pinjaman.

Permintaan kepada Badan Pusat Statistik (BPS) untuk melakukan verifikasi terhadap keluarga penerima BLT tersebut, menandakan bahwa kerja aparatur saat ini dilakukan dengan asal-asalan, sehingga tidak tahu mana yang berhak atau tidak, setelah berjalan baru minta verifikasi, apa tidak terlambat dalam bertindak. Mengapa hal ini terjadi, karena aparaturnya bermental miskin. Sedangkan masyarakat, seandainya ada yang bermental miskin mungkin karena tidak berdaya dalam menghadapi berbagai kebijakan dan pengalokasian anggaran dalam APBD yang tidak memihak mereka.

Dalam kesempatan tersebut, gubernur terkesan bangga pada posisi Kalsel yang berada di urutan ke-3 terkecil dalam angka kemiskinan di Indonesia. Sementara beliau menyangsikan bahwa penerima BLT saat ini adalah mereka yang memang berhak, jadi yang mana benar masih perlu dipertanyakan. Karena angka kemiskinan Kalsel yang kecil menjadi tidak sesuai dengan banyaknya yang menerima BLT. Oleh karena itu, gubernur meminta BPS untuk memverifikasi data penerima BLT, dan menuduh ada masyarakat yang bermental miskin.

Sebagai gubernur, lebih layak seandainya memberikan imbauan kepada aparatur atau kepada masyarakat kelas atas, untuk menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu masyarakat miskin. Agar mereka tidak bermental serakah dan tamak. Atau mengingatkan kepada aparatur negara untuk tidak menjerumuskan masyarakat dalam lingkaran kemiskinan dengan berbagai bentuk korupsi. Pelayanan harus ditingkatkan tanpa menambah beban biaya kepada masyarakat dengan alasan apapun.

Pada kesempatan tersebut, memang gubernur mengingatkan aparatur atau jajaran birokrat untuk mampu menjadi motivator dalam rangka bersikap dan berprilaku hidup sehat di lingkungan masing-masing, yang sudah seharusnya diperhatikan dan dilaksanakan oleh aparatur negara tersebut. Namun, juga penting bagi jajaran birokrat sebagai pimpinan untuk bersikap dan berprilaku hidup sehat, yang sebenarnya dapat menjadi contoh bagi bawahan sebagai motivator langsung dalam hubungan kerja dan bekerja. Jangan sampai, semakin tinggi jabatan semakin banyak minta pelayanan istimewanya.

Peringatan terhadap pejabat, sebagai suatu bentuk tidak mentoleransi masih biasanya dilayani, merupakan suatu bentuk adanya kepedulian sosial dari pimpinan. Bila hal ini masih dianggap biasa, pemerintahan di daerah ini memang kurang rasa kepedulian sosial, sehingga menganggap kecil berbagai bantuan dan melaksanakannya seadanya saja, sedangkan pemimpinnya masa bodoh.

Sudah saatnya, aparatur negara dibimbing untuk tidak bermental miskin; malas bekerja, suka uang pelicin, melayani dengan pamrih, dan suka membuat proyek untuk menghabiskan anggaran tanpa memikirkan kepentingannya. Gubernur harus benar-benar memperhatikan sikap dan tindakan aparaturnya, jangan sampai terkesan tahu sama tahu saja, berbicara menyentil yang hanya terbawa oleh berita dan menghilang. Diklat seharusnya benar-benar mampu meningkatkan kecerdasan mental pesertanya, sehingga tidak terjangkit dan terserang virus bermental miskin. Selamat belajar.

2 Responses

  1. kalau sudah bicara persoalan mentalitas, maka tidak ada kata lain bagi saia. perlu perubahan dan pendekatan secara radikal.🙄
    bermacam himbauan sudah kerap kali dilakukan dan hasilnya?😥

    ****Perubahan dan pendekatan radikal itulah yang dibutuhkan, namun tidak ada pada para pemimpin saat ini, bahkan lebih cenderung TST aja. Terima kasih sudah mampir … belum sempat nawarin minum, Pakacil udah ngeluyur aja.

  2. Agak susah kalo bicara mental seseorang…yach mudah2an pemimpin yg akan datang lebih bisa “bijak” dalam menyu\ikapi nasib rakyat🙂

    **** Mental seseorang memang susah untuk dibicarakan, tapi sebagai pemimpin yang lebih sering diperhatikan media harus dapat menjaga mentalitasnya kearah kebaikan.

    Diajeng … udah keburu klik pamet, jadi kagak sempat gue ucapkan salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: