RUHUI RAHAYU TAPIN (HUT KE-43)


Oleh: HE. Benyamine

Kabupaten Tapin seharusnya mampu menjadi salah satu daerah tingkat II kesejahteraan, khususnya di Propinsi Kalimantan Selatan. Sumberdaya alam begitu banyak tersedia, beberapa diantaranya tinggal diambil tanpa memerlukan teknologi canggih, seperti batubara dengan sistem mengupas lahan. Sedangkan sumberdaya manusia, Tapin sudah mempunyai cukup tenaga yang ahli dalam berbagai bidang, sebagaimana ucapan selamat (iklan di koran) terhadap aparaturnya (termasuk bupatinya) atas keberhasilan dalam meraih gelar S2 di pascasarjana Unlam.

Lebih setengah pejabat di jajaran pimpinan pemeritahan kabupaten Tapin sudah bergelar S2, dari camat sampai bupati, kebanyakan program studi administrasi publik. Begitu juga dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM atau NGO) yang begitu kritis dan penuh semangat dalam perjuangannya. Di samping lembaga kemasyarakat lainnya yang sudah lebih dulu menjadi bagian dalam memberi warna perjalanan kabupaten Tapin dalam memperjuangkan kesejahteraan bersama.

Dengan luas wilayah 2.315 km2 yang dihuni lebih dari 141 ribu jiwa, sangat tidak berlebihan jika membayangkan bahwa masyarakat di kabupaten Tapin ini seharusnya berada dalam tingkat kesejahteraan tinggi, sebagaimana harapan generasi pembentukan agar Tuhan senantiasa memberkati dengan kesejahteraan dan/atau keharmonisan. Namun, harus diakui bahwa masih ada 11 desa dari 5 kecamatan yang belum menikmati terangnya listrik, yang sebenarnya tidak ada alasan yang tepat, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan untuk menjelaskan mengapa masih ada warga masyarakat yang belum menikmati listrik sebagai kebutuhan dan prasyarat perkembangan dan kemajuan.

Kemajuan dan perkembangan yang pesat memang sudah seharusnya, sudah merupakan konsekuensi logis dari melimpahnya sumberdaya alam dan kualitas manusia yang semakin mengenal teknologi dan ilmu pengetahuan yang ada di kabupaten Tapin. Masih semrawut dan terlihat “jorok” pada pasar Rantau, bukan berarti kualitas manusia Tapin rendah, tapi lebih pada kemauan yang belum teralisasikan, yang sepatutnya tidak perlu ditunda lagi untuk dibenahi dan dikelola dengan baik dan benar.

Di pasar yang berada di pinggir sungai Rantau, terlihat para pedagang ayam memotong ayam dalam jumlah banyak dan membuang limbahnya langsung ke sungai, yang sebenarnya sangat tidak sehat dan menyalahi aturan. Perlu dipikirkan tempat pemotongan hewan, sehingga tidak mengesankan bahwa pemerintah daerah Tapin tidak memahami konsekuensi limbah pemotongan hewan yang dibuang sembarangan, apalagi langsung ke sumber air.

Atau, bagaimana kota Rantau kehilangan kerindangan pohon-pohon, bukan berarti pemerintah dan warga tidak menyadari pentingnya penghijauan sebagai bagian dari menjaga kualitas lingkungan dan keindahan kota, namun karena masih belum sempat melaksanakan kesadaran dan pengetahuan yang dimiliki.

Membayangkan sungai Rantau, teringat masa kecil, bahanyut dari Kupang sampai ke Jembatan Gantung/Goyang di samping masjid besar dekat pasar Rantau, begitu menyenangkan dan membahagiakan. Saat ini sungai Rantau penuh dengan sampah yang bahanyut, yang sebenarnya menghendaki gerakan dan tindakan untuk menjaga dan mengelola sungai sebelum semakin parah kerusakannya. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa pemerintah daerah tidak mampu melaksanakan pengelolaan sampah dengan baik dan benar, yang sebenarnya merupakan suatu keharusan bagi kota yang semakin padat dan berkembang.

Keadaan sungai Rantau yang mengalami degradasi tentu sudah disadari oleh pemerintah dan warga masyarakat, hanya tinggal menunggu tindakan rehabilitasi terhadap sungai tersebut, terlebih sungai yang membelah kota Rantau tersebut mempunyai legenda Naga Rintik Berbagai persoalan masih banyak yang perlu ditindaklanjuti, karena kualitas manusia Tapin sudah cukup mumpuni, dengan tidak mengabaikan dan mengesampingkan pengetahuan lokal (indegeneus/local knowledge).

Kemiskinan

Banyaknnya penduduk miskin (39,7 persen) di Kabupaten Tapin merupakan kenyataan yang sangat memalukan, yang hingga saat ini masih belum mampu teratasi. Data kemiskinan ini memberikan gambaran bagaimana sumberdaya alam Tapin dikelola dan dimanfaatkan serta bagaimana penyelenggaraan kepemerintahan dijalankan. Data kemiskinan ini sangat menyedihkan dan memalukan, karena Tapin bukanlah daerah yang kering dan tandus. Terlalu banyak sumberdaya alam dan manusia yang sia-sia yang selama ini ada dan tersedia, jika data kemiskinan tersebut sebagai suatu kenyataan.

Memang jika memperhatikan pendapatan daerah, pendapatan terbesar adalah dari tambang batu bara, yang memberikan gambaran bahwa Tapin tidak bekerja (produktif) dan berproduksi. Batu bara memang memberikan keuntungan yang banyak bagi sebagian kecil orang, sedangkan kebanyakan masyarakat Tapin merasakan hasil yang tidak sebanding dengan hasil yang didapat dari batubara tersebut, seperti jalanan rusak dan debu, bahkan di kemudian hari setelah pasca tambang kemungkinan besar akan menyisakan persoalan bagi kebanyakan orang dari masyarakat Tapin. Sehingga, data kemiskinan begitu tinggi adalah keadaan nyata yang mungkin sebenarnya lebih besar dari angka tersebut.

Pada suatu saat, batu bara akan habis. Sedangkan saat ini, di mana batu bara masih melimpah, kemiskinan sudah merupakan keadaan penghidupan hampir setengah penduduk Tapin. Sudah sepatutnya hal ini menjadi kesadaran masyarakat bersama untuk melihat realitas kecenderungan kemiskinan tersebut dan bagaimana mangatasinya.

Tapin tidak selamanya mengandalkan batu bara, yang sebenarnya sudah disadari oleh pemerintah daerah saat ini dengan membuka lebar investasi dalam bidang perkebunan, sehingga sudah seharusnya daerah mulai berinvestasi dalam pendidikan dan kesehatan.

Dengan masih melimpahnya batu bara, tentu sangat logis dan realistis bila pendidikan sampai tingkat menengah atas gratis, dan memperbanyak generasi muda berprestasi mendapatkan beasiswa (wajib pulang kampung) untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, seperti bidang kedokteran, pertambangan, pertanian, perikanan, dan lainnya. Misalnya, bidang kedokteran (kontrak 3 kali masa studi), yang setelah lulus ditempatkan di berbagai kecamatan dan bahkan desa. Setelah selasai kontrak, dokter yang bersangkutan bisa diharapkan memperkuat RS Datu Sanggul, yang pada masa mendatang sudah seharusnya menjadi rumah sakit rujukan paling tidak dari benua enam.

Berdasarkan data kemiskinan, semoga sudah mulai berkurang, anggaran untuk pendidikan dan kesehatan harus mendapat prioritas utama, karena kedua bidang tersebut akan bersentuhan langsung dengan masyarakat miskin. Pembiayaan untuk birokrasi, seperti proyek pengadaan barang yang hampir setiap saat ada, sudah saatnya mulai diimbangi dan/atau dialihkan sebagian kepada program yang benar-benar diserap masyarakat, sehingga dapat terlihat semangat untuk mensejahterakan masyarakat.

Visi Tapin

Semboyan Kabupaten Tapin, Ruhui Rahayu, merupakan suatu visi pembentukan Kabupaten Tapin. Pilihan pada semboyan tersebut oleh generasi pembentukan kabupaten Tapin dapat dikatakan sebagai cita-cita dan visi yang sebenarnya ditanam di “lahan” yang subur berdasarkan pengalaman dan pengetahuan mereka dalam menyongsong masa depan generasi berikutnya.

Ruhui Rahayu dimaksudkan agar “semoga Tuhan memberkati” dengan kesejahteraan. Sebagaimana dollar Amerika dengan kalimat In God We Trust, generasi pendiri Tapin mempunyai visi masa depan yang cemerlang, yang menggambarkan bagaimana Tapin dikelola dan memberikan arah pembangunan yang saat ini dikenal dengan sustainable development.

“Semoga Tuhan memberkati” menghendaki adanya keseimbangan dalam sikap dan tindakan, yang dalam terminologi pembangunan berkelanjutan, tentu adanya keseimbangan dalam ekologi, ekonomi, dan sosial budaya.
Jelas terlihat bahwa generasi pendiri sudah tahu dan mengerti betapa pentingnya keharmonisan, karena kemajuan ekonomi yang melimpah dengan ancaman bencana yang sewaktu-waktu muncul baik dari alam maupun permasalahan sosial budaya tidak akan mensejahterakan. Malah sebaliknya, kerawanan sosial dan kerentanan bencana yang akan menyambut generasi berikutnya. Semua masyarakat Tapin tidak menghendaki keadaan ini, baik generasi pendiri maupun generasi berikutnya.

Ruhui rahayu Tapin, yang menjadi impian masyarakat Tapin, harus menjadi kesadaran bersama dan disosialisasikan kepada segenap masyarakat untuk menjadi arah dalam pembangunan Tapin. Selamat ulang tahun Tapin yang ke-43, Mudahan tuntung pandang ruhui rahayu.

3 Responses

  1. Saya jadi teringat cerita seseorang dari Pemkab Tapin, bagaimana seorang anak buah pengusaha tambang batu bara di Tapin mampu mengarahkan dan mengubah kebijakan pemerintah.

    Pernah pula saya sampaikan, bahwa Tapin saat ini masih menjadi daerah perlintasan, perlu dipikirkan untuk membuatnya menjadi daerah persinggahan.

    Bagaimanapun, turut mengucapkan selamat hari jadi untuk Tapin. 2 tahun yg lalu kebetulan saya sempat turut memperingati Hari jadi Tapin bersama salah satu institusi di sana, sekalipun bukan orang Tapin…

    Selamat…

    ***Wah … Pakacil sudah lebih dulu (2 tahun lalu) ikut memperingati hari jadi … gabung sama orang penting ya …
    Ide bagus untuk menjadikan Tapin daerah persinggahan. Para elit Tapin perlu memikirkannya.

  2. Selamat juga, semoga tambah sugih kabupatennya

    *** Kabupatennya bisa tambah kaya … penting ngurusnya tambah “kaya” dalam kreasi untuk kesejahteraan bersama.

  3. Ass.

    Tapin yang aku kenal adalah kabupaten yang terkenal “Bertabur Ulama (datu-datu)” karena banyaknya ulama yang lahir, bermukim dan mengajarkan agama Islam di Kabupaten ini .

    Dibandingkan dengan daerah lain di Kalimantan Selatan, Tapin paling banyak melahirkan datu-datu, di antaranya yang terkenal adalah Datu Sanggul dan Datu Nuraya.

    *** Jejak yang memberi inspirasi dan motivasi, datu-datu yang gigih dalam berda’wah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: