VILLA RUMAH LANTING HIDUPKAN HASIL BUDAYA BANJAR


Oleh: HE. Benyamine

Sungai sesungguhnya merupakan urat nadi dan sekaligus roh kota Banjarmasin. Apapun tata ruang yang direncanakan, tanpa mengacu pada keberadaan sungai yang ada akan menjadikan kota ini seperti hidup tanpa roh. Sungai sudah seharusnya menjadi acuan utama dalam berbagai bentuk perencanaan tata ruang kota, yang merupakan suatu bentuk kebijakan yang menghargai budaya dan sadar tentang sistem ekologi setempat.

Penyelenggaraan Festival Budaya Pasar Terapung 2008 dan Pekan Budaya dengan tema Kemilau Banua Seribu Sungai 2008 secara langsung maupun tidak telah mengarahkan pandangan urang banua untuk melihat keberadaan sungai dan budayanya.

Festival sangat terasa menghidupkan arwah sungai Banjarmasin, begitu hidup dan penuh warna. Namun, bersamaan dengan itu tergambar keadaan sungai yang begitu menyedihkan dan terabaikan dalam waktu yang cukup lama. Airnya terlihat keruh dan penuh dengan sampah. Hasil penelitian tentang air sungainya, seakan menunjukkan bahwa airnya bagai limbah berbahaya karena berdasarkan indikator kimia, biologi, dan fisik telah sangat jauh melebihi ambang batas toleransi. Walaupun hanya untuk sekedar mencuci dan mandi.

Terasa ironis, sungai sebagai roh kota telah ditelantarkan begitu lama, karena orientasi budaya yang silau kemilau modernisasi yang menyimpang. Tragis malah, sungai yang sehat sebenarnya adalah buah dari kemodernan bukan malah menjadikannya sekarat. Modernisasi bukan berarti mengabaikan ekologi, hal tersebut hanya terjadi pada masyarakat yang sudah kehilangan budaya.

Keberadaan sungai yang sehat harus menjadi padangan setiap manusia Banjar, yang mengarahkan sikap dan tindakan dalam memperlakukan sungai. Sehingga, keberadaan hasil budaya Banjar seperti rumah lanting, jukung, dan pasar terapung sudah sepatutnya dipandang dan dibutuhkan dengan pandangan sesuai zamannya.

Hal ini sudah dilakukan oleh warga Australia (Mr. Blacky) yang memesan kapal kayu berbentuk kapal pesiar kepada Salmin dari Pulau Sewangi, sebagai salah satu bentuk pandangan dan kebutuhan terhadap hasil budaya leluhur yang sesungguhnya sangat prestisius. Sebagai wujud menghidupkan atau menghadirkan hasil budaya banjar dalam realitas sekarang.

Keberadaan rumah lanting perlu mendapatkan sentuhan baru. Rumah lanting yang ada perlu mendapat sentuhan kemodernnan, terutama pada lokasi yang strategis, dapat dijadikan tempat peristirahatan berupa villa. Urang banua kelas atas atau orang seberang dapat memilikinya; seperti prinsip HGU atau sistem yang ditentukan pemerintah. Sedangkan pemilik saat ini bisa menjual atau meminta ganti rugi kepada calon pemilik baru. Atau, warga yang tidak mau menjual dapat menjadikan usaha penyewaan villa rumah lanting, dengan mendapatkan kredit yang terjangkau.

Adapun lokasi bantaran sungai yang sudah ada bangunannya, harus mulai ditata dengan sistem membuka sebagian lahan untuk dijadikan jalur hijau, dengan mengarahkan pada bentuk bangunan panggung yang bertingkat. Dalam satu kawasan, minimal bangunannya berkurang setengahnya dalam penggunaan lahan, yang kemudian diperuntukkan untuk ruang terbuka hijau dengan berbagai tanaman yang sesuai dengan ekosistemnya.

Upaya menjadikan rumah lanting sebagai suatu kebutuhan warga kelas atas, dapat memperlihatkan suatu perspektif baru terhadap keberadaan sungai dan rumah lanting, yang ternyata dapat menjadi suatu gaya hidup yang prestisius dan bergengsi. Apalagi, lahan strategis di kota Banjarmasin sudah semakin terbatas dan semakin mahal harganya, sehingga keberadaan villa rumah lanting mampu memberikan pilihan gaya hidup baru bagi kelas atas, khususnya urang banua. Harga tentu tidak menjadi masalah, karena villa rumah lanting merupakan kemewahan yang keberadaannya sangat terbatas.

Keberadaan villa rumah lanting dapat membentuk suatu pandangan baru terhadap sungai, karena ternyata sungai jauh sangat berharga dari hanya sekedar tempat membuang sampah dan limbah atau hanya sekedar dihancurkan.

Villa rumah lanting merupakan suatu bentuk bangunan yang berbasis pada sistem rumah lanting tradisional, mungkin material yang digunakan bisa berbeda sebagian atau seluruhnya dan bentuk arsitiktur lebih gaya dan modern dengan inguh Banjar. Sedangkan fasilitas di dalamnya tentu saja menyesuaikan dengan selera pemiliknya. Dalam hal toilet perlu dipertimbangkan dengan sistem tangki tertutup, yang dapat disedot dalam waktu tertentu.

Pemerintah perlu membuat suatu peraturan tentang villa rumah lanting dan rumah lanting yang ada, sebagai bagian dari pengelolaan sungai secara terintegrasi dan terpadu. Begitu juga kapal kayu ala kapal pesiar perlu mendapat tempat yang semestinya, untuk menambah pentingnya arti sungai dan tetap melestarikan keterampilan membuat jukung dan perahu.

Kebijakan pemerintah kota tentang sungai perlu menyelaraskan dengan berbagai bentuk budaya Banjar, sehingga budaya sungai yang hidup di masyarakat Banjar dapat tetap eksis dan mampu menjaga sungai tetap sehat. Budaya pasar terapung sangat bergantung pada keberadaan sungai yang sehat, tanpa kecuali dengan keberadaan anak-anak sungainya. Karena anak-anak sungai inilah yang menjadi penghubung berbagai kawasan atau daerah yang bermuara pada budaya pasar terapung.

Hilangnya anak sungai sama saja berkurangnya suatu kawasan atau daerah yang terlibat dalam budaya pasar terapung, yang berarti semakin memperlemah keberadaannya.

Oleh karena itu, sudah cukup berita kehilangan sungai. Gagasan villa rumah lanting, bisa berbeda kelas villanya sesuai dengan sungainya, merupakan salah satu bentuk betapa berharganya keberadaan sungai. Begitu juga dengan transpostasi sungai sebagai transportasi publik perlu diwujudkan. Sehingga, budaya Banjar tidak hanya sekedar festival atau event tertentu saja, tapi tetap menjadi detak kehidupan urang Banjar. Setiap urang banua berhak dan berkewajiban mengatakan disitulah sungai tersebut, tidak kemana-mana ataupun hilang.

4 Responses

  1. Saya terkaget melihat penggunaan istilah “arwah sungai Banjarmasin”. Artinya sungai sudah mati dari segi arti historis, ekonomis, ekologis dan demografis.

    Teringat pengalaman 5 tahun kuliah di Kayutangi dan indekost di tepian sungai kuin. Sungguh sungainya kotor, keruh, penuh sampah, dan tidak sehat untuk dikonsumsi.

    Yap, mari hidupkan kembali sungai di Banjarmasin demi menghidupkan lagi budaya sungai yang menyebabkan kota ini diberi gelar “Kota Seribu Sungai”.

    ***Mari jaga sungai di mana saja, terutama di sekitar kita.
    Sungai di Banjarmasin banyak yang mati, banyak yang sekarat, ada yang terjepit dan terhimpit, disampahi tiap hari, dan perlakuan lainnya yang tidak berperisungaian.

  2. Mengharukan. Disamping memahat nilai informasi, tidak salah memang menggugah jiwa agar Banua dengan segala isinya lebih diperhatikan. Saya senang Urang Banua giat menulis apa saja tentang banua. Selamat menulis.

    ***Terima kasih.

  3. Saya tidak bisa bayangkan, kalau “ruh” kota ini sudah tercemar, terhimpit arus modernisasi , akankah kota seribu sungai akan abadi, ?
    Mungkin perlu ada juga “pembangunan mental ” yang lebih dewasa dalam penggunaan dan pengelolaan sungai di kota
    tercinta ini. maksih bang udah mampir ke blog saya..

    ***Terima kasih mau mampir …
    Memang perlu “pembangunan mental”, paling tidak dimulai dari yang mempunyai alat kekuasaan. Tetapi, masalah sungai ini merupakan kepentingan bersama, jadi harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Apalagi bila pemerintahnya kurang sadar arti dan makna sungai bagi kota seperti Banjarmasin. Mungkin perlu dibentuk lembaga pengelola sungai yang melibatkan semua pemangku kepentingan.

  4. satu hal yang mantap dari penjajah belanda adalah, mereka sangat menghargai sungai. termsuk sungai-sungai di Banjarmasin yg dulu sangat mereka perhatikan.

    ***Di luar mental menjajahnya, yang lain dapat ditiru, salah satunya menghargai sungai, ya kan Pakacil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: