GAMBUT, PENYANGGA BANJIR BANJARMASIN


Oleh: HE. Benyamine

Perkembangan Kecamatan Gambut begitu pesat. Bangunan baru mulai memadati sepanjang jalan A. Yani di kecamatan tersebut. Sebagian lahan persawahan sudah berubah peruntukannya. Perubahan peruntukan tersebut, yang semula lahan basah menjadi lahan kering karena diurug, tentu mengurangi tempat singgah air dari daerah yang lebih tinggi. Sebagai wilayah dengan topografi lahan basah, kecamatan Gambut, tentu menjadi wilayah tempat berkumpulnya air, yang menampung air dari daerah yang lebih tinggi dan menjadi tempat resapannya. Perubahan peruntukan yang begitu cepat, terutama dengan cara urug, perlu mendapat perhatian semua pihak khususnya Pemko Banjarmasin. Karena, Banjarmasin juga dihadapkan dengan air pasang dan curah hutan sekaligus air limpasan dari daerah di hulunya.

Secara sederhana, bila kecamatan Gambut yang bertopografi lahan basah yang selama ini secara tidak langsung berfungsi sebagai tempat resapan air hujan dan limpasan dari daerah hulu, yang mana luasan wilayah lahan gambutnya mulai berkurang, maka volume air yang besarnya sebanding lahan basah yang berubah menjadi lahan kering karena diurug akan mencari tempat penampungan baru, atau berubah menjadi air limpasan (run off) yang mengalir cepat sesuai tabiat air yang mencari tempat yang lebih rendah.

Hal ini perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh, karena fungsi lahan gambut sebagai resapan air telah mengalami perubahan yang sebaliknya, yang membuat wilayah Banjarmasin menjadi semakin rawan terjadi banjir yang lebih luas dan frekuensi yang semakin tinggi.

Apabila hujan turun, sebagian wilayah Banjarmasin sudah terjadi genangan di mana-mana, salah satunya karena perubahan peruntukan lahan di Kecamatan Gambut.

Kecamatan Gambut mempunyai luas wilayah 12.930 hektar, yang merupakan 2,77 persen dari luas Kabupaten Banjar. Berdasarkan Tata Ruang Kecamatan Gambut, persediaan tanah yang dapat diusahakan sebagai lahan pemukiman dan pertanian (sawah) seluas 8.632 hektar, sedangkan sisanya kurang lebih 4.267 hektar merupakan sebaran hutan kerangas dan yang mempunyai ketebalan gambut dalam yang menjadi faktor pembatas dalam pemanfaatannya.

Dengan topografi lahan gambut, kecamatan Gambut merupakan wilayah resapan air yang sangat luas, namun hal itu akan mengalami perubahan yang sangat serius dan tidak akan bertahan lama lagi sebagai resapan air dengan semakin pesatnya pembangunan pemukiman beserta sarana dan prasarananya dengan cara melakukan pengurukun.

Sebagai suatu wilayah, dengan 33 persen wilayahnya mempunyai faktor pembatas dalam pemanfaatannya sehingga lebih dibiarkan sebagaimana adanya, memang masih dalam batas yang dianggap aman dalam pemanfaatan lahan di suatu wilayah.

Tetapi, sebagai wilayah yang selama ini merupakan wilayah lahan basah yang dengan sendirinya juga merupakan tempat resapan air bagi wilayah lainnya, maka perubahan yang begitu cepat tentu akan mempengaruhi wilayah di sekitarnya, seperti Banjarmasin. Sehingga, apapun yang dilakukan dalam hal pemanfaatan lahan di wilayah Kecamatan Gambut akan mempengaruhi wilayah Banjarmasin.

Oleh karena itu, Pemko Banjarmasin harus mulai memperhatikan perubahan pemanfaatan lahan di Kecamatan Gambut dan sekitarnya, jika perlu diadakan penelitian tentang pemanfaatan lahan tersebut sejauh mana akan mempengaruhi wilayah Banjarmasin. Saat ini memang masih luas wilayah lahan basah, tetapi untuk jangka waktu 5 sampai 10 tahun ke depan, kondisi ini akan jauh berbeda jika tidak ada antisipasi dan perencanaan dalam pemanfaatan lahan di wilayah Kecamatan Gambut, apalagi cara yang digunakan cenderung dengan sistem urug.

Pemanfaatan lahan yang berubah begitu luas dalam hal peruntukannya di Kecamatan Gambut adalah areal sawah menjadi areal non sawah, salah satunya menjadi areal perumahan beserta sarana dan prasarana penunjangnya.

Tanah sawah lebih diminati karena kepadatan tanah bawahnya lebih dari lahan gambut bukan sawah, yang bisa saja ketebalan gambutnya sangat dalam sehingga memerlukan tanah urukan yang lebih banyak, yang dengan sendirinya lebih menambah biaya pengurukannya.

Bila hal ini dibiarkan saja, maka luasan persediaan tanah untuk pertanian sawah akan semakin menyusut, sedangkan untuk memperluas tanah sawah memerlukan biaya yang cukup besar dibandingkan harga jual tanah sawahnya. Begitu juga dengan waktu yang diperlukan untuk menjadikan lahan gambut menjadi tanah yang cocok untuk pertanian sawah yang cukup lama, karena berhubungan dengan keasaman tanah dan tata air.

Dengan demikian, Pemko Banjarmasin dan Pemda Banjar perlu duduk satu meja dalam membicarakan perubahan dalam pemanfaatan lahan di Kecamatan Gambut. Bagaimana arah kebijakan tata ruang Kecamatan Gambut dalam pemanfaatan lahannya? Dalam penelitian lahan gambut, Unlam tentu mempunyai sumberdaya manusia yang berkompeten dalam hal lahan gambut, yang dapat menjadi partner pemerintah dalam memberikan pertimbangan akademis sekaligus sebagai tenaga ahli. Karena, perubahan pemanfaatan lahan di Kecamatan Gambut, yang merupakan lahan basah, dapat menyebabkan dampak yang penting dan besar terhadap lingkungan dan wilayah Banjarmasin. Salah satunya, Banjarmasin dapat kehilangan wilayah yang berfungsi sebagai penyangga banjir dan Banjar kehilangan salah satu penyangga ketahanan pangannya.

Pemko Banjarmasin perlu memikirkan bagaimana sebagian wilayah di Kecamatan Gambut dijadikan danau buatan di beberapa lokasi dari persediaan tanah yang dapat diusahakan sebagai lahan pemukiman dan pertanian (sawah) yang seluas 8.632 hektar, yang perlu dirundingkan dengan Pemda Banjar sebagai pemilik wilayah. Danau buatan tersebut selain sebagai resarapan air juga dapat dijadikan sebagai sumber bahan baku air bagi PDAM Bandarmasih yang sekaligus dapat menjadi ruang terbuka hijau.

Sedangkan Pemda Banjar dapat melakukan pembatasan dan pengaturan yang ketat dalam perubahan peruntukan tanah sawah menjadi non sawah, jika perlu pemerintah dapat membeli dari masyarakat tanah sawah yang mau dijual sehingga tetap sebagai tanah sawah.

Dalam pemanfaatan tanah sawah milik pemerintah tersebut dapat dibuatkan peraturannya, agar bisa dimanfaatkan petani atau buruh tani yang tidak mempunyai sawah hanya sebagai penggarap, sehingga tanah sawah tersebut tetap diperuntukkan untuk pertanian (sawah).

7 Responses

  1. Persoalan sejenis sebenarnya juga melanda wilayah Landasan Ulin di Banjarbaru. Juga harus ada ketegasan konsep pembangunan pada lokasi sejenis ini.

    kalau untuk gambut, bagi saya yg cukup mendesak agar Banjar dan Banjarmasin dapat bekerja sama adalah normalisasi sungai dari gambut ke banjarmasin yang selama ini kian menjadi tidak jelas alur airnya. Ini dalam jangka pendek, untuk kemudian bertahap pada pengelolaan lahan pada jangka panjang, yg sebetulnya bisa diantisipasi sejak dini, jika saja mengeluarkan aturan tegas tentang pembangunan di kondisi lahan macam ini.

    *** Normalisasi sungai dari Gambut ke Banjarmasin harusnya menjadi salah satu prioritas pemko, bukannya Pintu Gerbang yang malah sebagian kaki-kakinya dapat menghambat aliran. Apalagi, kaki-kaki pintu Gerbang itu di atas sungai yang jelas melanggar peraturan dan undang-undang. Peraturan dan UU sudah ada, mungkin pemerintah berpikirnya bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar.

  2. Tepat. Hanya saj yang terjadi sebaliknya, lahan gambut di gambut ‘ditanami’ bagunan Mas. Menyedihan memang, dan akibatnya akan kita ‘nikmati’.

    ***Benar Pak, menyedihkan, bagaimana tidak saat ini yang “ditanam” bangunan tanpa menghiraukan aturan yang ada, malah mereka berlomba untuk meninggikan pondasi dan tanah urugnya. Sebagian wilayah kota yang lama siap-siap saja menjadi wilayah resapan air setiap saat, jika tidak ikut meninggikan pondasi.

  3. Belum lagi, buruknya drainase menjadi penyebab banjir di pusat kota dan perumahan. Kurang berhasilnya Pemerintah Kota dan Pemerintah Daerah mencegah dan memberantas illegal logging, pembalakan hutan, dan penggundulan hutan yang merupakan sumber utama datangnya banjir di berbagai wilayah.

    Pemerintah perlu juga memberikan kesadaran kepada masyarakat agar mencintai lingkungan, tidak sembarangan membuang sampah ke sungai-sungai.

    *** Benar Pak Taufik, perlu ada gerakan yang sistematis dan terencana dalam membangun kesadaran terhadap lingkungan milik bersama. Orang tua dulu lebih arif dan bijak dengan membangun kanal-kanal sebagai suatu bentuk adaptasi dengan lahan rawa, yang sekarang malah diabaikan dan dihilangkan sungai-sungai tersebut.

  4. Jangan hanya diperhatikan di daerah hilir saja, Bang. Coba kita lihat dan perhatikan daerah hulu.

    Walaupun usaha memperbaiki tata ruang dan fungsi resapan air di daerah Gambut, tapi kalau kawasan Meratus tambah rusak tentu percuma.

    Bagaimana bisa kawasan Gambut menerima kiriman air dari hulu yang hutanya sudah rusak. Kan secara teknis kemampuannya jika kiriman air itu masih dalam batas alamiah normal.

    Sepertinya perlu dan mendesak untuk dikampanyekan “Selamatkan Meratus untuk Mencegah Banjir”. Stop penambangan batubara yang tanpa aturan yang jelas. Stop penebangan hutan. Stop penambangan serampangan.

    Bagaimana?

    ***Benar Pak Syam, masalah banjir merupakan masalah kawasan. Begitu juga konsep pengelolaan sungai, ada istilah one river, one system, and one management yang tidak disekat oleh batas administrasi daerah. Seperti HST yang melakukan sudetan, yang limpasan ke Danau Panggang, merupakan contoh kasus, yang perlu ditangani secara bersama. Bagaimana dengan kondisi Bajayau, melihat gambar dari Pak Syam terkesan sangat indah.

  5. kenyataan sekarang gambut tiap tahun banjir karena semakin banyak dilakukan pengurukan terutama pada lokasi perumahan baik komplek perumahan maupun perkampungan

    HEB : Terima kasih telah mampir. Ya … kenyataan itu yang mengkhawatirkan, yang seharusnya dapat menjadi pertimbangan dalam melakukan perubahan bentang alam gambut.

  6. Tadi ulun baca berita di Antara, Banjar dilanda banjir jar
    http://www.antara.co.id/arc/2007/12/24/kota-banjarmasin-dilanda-banjir/
    kira2 tu salah satu penyebabnya, perubahan di Gambut. Iya Lah?

  7. ada yg tahu jumlah penduduk lwn luas wilyah gambut lahh yooo???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: