SAATNYA PEMPROV KALSEL MEMBUAT MITIGASI BENCANA


Oleh: HE. Benyamine

Pemprov Kalsel melakukan siaga bencana dan mengintesifkan koordinasi antar penyelenggara penanggulangan bencana, karena beberapa daerah sedang terancam bencana banjir (Radar Banjarmasin, 13 Desember 2008). Pemerintah daerah terlihat sangat menyadari bahwa seluruh kabupaten dan kota di Kalsel merupakan daerah rawan bencana alam, baik yang natural maupun karena “keserakahan sebagian orang” dalam memporak-porandakan bentang alam demi keuntungan ekonomi semata.

Pada musim hujan seperti saat ini, bencana banjir dan tanah longsor merupakan ancaman yang rutin terjadi. Apalagi perubahan bentang alam Kalsel begitu masif dan menyebar sebagai konsekuensi banyaknya pertambangan, masuknya perkebunan skala besar di wilayah yang dekat dengan sumber air dan hutan yang tersisa masih dijarah. Hal ini tentunya, memberikan gambaran bahwa Kalsel memang daerah rawan banjir. Meskipun curah hujan masih dianggap normal, namun karena daya dukung alam di daerah ini sudah begitu rusak, maka banjir sudah menjadi keniscayaan.

Bagaimana Pemprov Kalsel menanggulangi bencana alam tersebut? Patut dipertanyakan, karena kesadaran terhadap rawan terjadi bencana, ternyata tidak diimbangi dengan kesadaran untuk menanggulanginya secara terencana dan terukur dari upaya preventif sampai bila bencana itu memang tidak dapat dihindari lagi.

Hal ini sangat jelas terlihat dari pertemuan Satkorlak PB Kalsel dengan PWI Kalsel di ruang Haram Manyarah perkantoran Pemprov Kalsel, Kamis (11/12) yang dihadiri oleh Asisten I Bidang Pemerintahan Pemprov Kaslel Fitri Rifani, yang dilakukan saat beberapa daerah sudah mengalami bencana banjir. Jelas penanggulangan hanya dilaksanakan saat terjadi bencana sebagai tindakan darurat.

Berdasarkan data kejadian bencana yang dikemukakan oleh Fitri Rifani, Banjir Kalsel tahun 2006 terjadi 14 kejadian, tahun 2007 ada 23 kejadian, dan tahun 2008 (belum selesai)  ada 21 kejadian,  jelas terlihat kejadian banjir menunjukkan peningkatan, yang sebenarnya mengingatkan kepada semua pemangku kepentingan, khususnya pemerintah daerah untuk membuat dan melaksanakan mitigasi bencana.

Harus ada kesadaran terhadap kejadian berbagai bencana tersebut, dan mulai memperhatikan sumber bencana tersebut. Padahal, curah hujan tidak mengalami perubahan dan cenderung tetap pada batas normal dari tahun ke tahun.

Bencana alam (natural disaster) secara umum dianggap sebagai kejadian yang saling melengkapi antara bahaya-bahaya alam (natural hazards) seperti banjir, kekeringan, dan gempa bumi dan kondisi yang bersifat mudah kena bahaya (vulnerability). Karena, meskipun bahaya alam (natural hazard) sangat kuat seperti gempa bumi yang dasyat terjadi, tapi di daerah padang pasir tanpa berpenghuni tidak dapat dianggap sebagai bencana.

Mitigasi bencana merupakan upaya sungguh-sungguh dalam bentuk semua tindakan untuk mengurangi dampak dari satu bencana yang dapat dilakukan sebelum bencana itu terjadi, termasuk kesiapan dan tindakan-tindakan pengurangan resiko jangka panjang. Bukan seperti kecenderungan Pemprov Kalsel saat ini baru mengadakan koordinasi setelah terjadi bencana dan saat rawan bencana.

Mitigasi bencana meliputi perencanaan dan pelaksanaan tindakan-tindakan terencana untuk mengurangi resiko-resiko yang terkait dengan bahaya-bahaya karena ulah manusia dan bahaya alam yang sudah diketahui seperti banjir tahunan di Kalimantan Selatan, dan proses perencanaan untuk merespon secara efektif terhadap bencana-bencana yang benar-benar terjadi. Karenanya, adanya banjir dan kerentanan (vulnerability) yang dapat menimbulkan bencana, maka perlu adanya suatu mitigasi bencana.

Salah satu pendekatan dalam kerentanan (vulnerability) adalah pendekatan ekonomi-politik yang menganalisis pada proses sosial, organisasi, dan perubahan. Mayoritas dari masyarakat pada sosial yang terpinggirkan dari kegiatan ekonomi dan sistem politik menjadi sangat rentan dan tidak berdaya dalam menghadapi bencana, karena jelas terjadi hubungan ekonomi yang timpang sehingga tidak memberikan jalan kepada mereka untuk mengakses sumberdaya dasar, seperti lahan, makanan, dan tempat persinggahan yang aman. Kelompok ini, dari beberapa kasus studi, yang paling sering mengalami penderitan dalam bencana.

Apalagi Kalimantan Selatan sebagian masyarakatnya termasuk miskin, yang dengan sendirinya sangat kecil kebebasan untuk memilih bagaimana dan di mana mereka bertempat tinggal. Beberapa studi kasus menunjukkan, mereka yang pendapatan rendah sering tidak mempunyai pilihan kecuali lokasi-lokasi yang rentan (vulnerable locations), seperti dataran-dataran banjir untuk perumahan. Hal ini bukan karena kurangnya pengetahuan atau tidak efisiennya sistem perencanaan penggunaan lahan tetapi karena kontrol terhadap lahan oleh dorongan pasar, yang tidak memberikan jalan bagi mereka berpendapatan rendah untuk mengakses tempat yang aman.
Mitigasi bencana dapat memberikan pemahaman bahaya-bahaya yang meliputi tentang: (1) bagaimana bahaya-bahaya itu muncul, (2) kemungkinan terjadi dan besarannya, (3) mekanisme fisik kerusakan, (4) elemen-elemen dan aktivitas-aktivitas yang paling rentan terhadap pengaruh-pengaruhnya, dan (5) konsekuensi-konsekuensi kerusakan.

Melalui pemahaman di atas, akan memudahkan dalam tindakan-tindakan mitigasi yang memfokuskan pada perlindungan aktivitas-aktivitas dan semua elemen yang paling rentan (kelompok yang paling lemah) dalam sektor-sektor ekonomi, dan sekaligus dapat melindungi prestasi-prestasi pembangunan ekonomi itu sendiri.

Pemahaman terhadap bagaimana terjadinya satu bahaya yang bisa berubah menjadi bencana, dapat meramalkan kemungkinan situasi di mana bencana akan terjadi. Karena kombinasi tempat hunian (elemen) dan banjir (bahaya) dapat menyebabkan terjadinya bencana, dan di antara elemen mempunyai kerentanan yang berbeda atau ada yang lebih besar terhadap pengaruh-pengaruh banjir di banding dengan elemen lainnya, sehingga mengidentifikasi elemen mana saja yang paling tinggi resikonya dapat menunjukkan prioritas mitigasi. Di sini, dapat dilihat bagaimana jumlah elemen yang mungkin terpengaruh oleh bahaya (banjir) dan kerentanannya terhadap bahaya tersebut akan memberikan identifikasi di mana mitigasi yang paling efektif dapat dilakukan.

Dalam penanganan bencana, kebanyakan program yang direncanakan dan dilaksanakan lebih menekankan pendekatan dari atas (top down) dengan lembaga yang sentralistik. Partisipasi masyarakat yang berada di daerah rawan bencana tidak diberikan kesempatan, sehingga mereka tidak terlibat dalam pengambilan keputusan padahal sebenarnya mereka yang terkena dampak bencana tersebut.

Titik berat penanggulangan bencana lebih pada ukuran fisik sebagai jawaban terhadap ancaman bahaya, sehingga lebih cenderung mengabaikan potensi terjadinya perubahan sosial dalam mengatasi berbagai masalah dan tidak dapat membangkitkan sumberdaya dari kelompok-kelompok di dalam masyarakat yang paling buruk posisinya dalam berhadapan dengan bahaya bencana.

Pendekatan dari atas seperti yang selama ini dilakukan oleh pemerintah ataupun lembaga lainnya lebih cenderung pada, (1) hanya menangani dengan mengurangi resiko bahaya spesifik tapi tidak mengurangi kerentanan (vulnerability), (2) tidak menggambarkan kebutuhan-kebutuhan nyata dan permintaan-permintaan dari mereka yang terkena bencana. Karena, pendekatan ini tidak mau repot sehingga sering tidak relevan dan bahkan kontrapoduktif dengan beberapa situasi lokal, dan (3) secara politik, lebih menghindari kekacauan politik dan kehilangan ekonomi tetapi tidak untuk mengurangi kerentanan dari yang miskin.

Oleh karena itu, perlu pendekatan alternatif yang juga menekankan pada sebab dari kerentanan bagi sebagian masyarakat dalam berhadapan dengan bencana. Di samping itu, mitigasi harus menjadi kegiatan pembangunan yang memfokuskan pada faktor-faktor seperti pemilikan lahan, distribusi kesehatan, dan melihat penyebab dari kemiskinan dan keterbelakngan. Pendekatan alternatif tersebut yang melibatkan semua pemangku kepentingan dalam berhadapan dengan kerawanan bencana.

Menurut Andrew Makrey dalam Disaster Mitigation, A Community Based Approach (1989) menyatakan bahwa hanya ketika mitigasi sebagai suatu kegiatan yang dikontrol oleh masyarakat dan organisasi yang otonom milik mereka sendiri, maka mitigasi dari bahaya-bahaya spesifik menjadi sebuah kendaraan untuk mempengaruhi penyebab-penyebab kerentanan. Pendekatan alternatif ini disebut community based mitigation, yang bisa dijadikan model dan metodologi untuk mitigasi bencana yang menjembatani jurang pemisah antara teori dan praktis.

Pendekatan alternatif ini dapat mengatasi sulitnya membujuk pemerintah untuk merubah kebijakan pembangunan mereka, khususnya apabila dukungan mereka berasal dari orang kaya, penuh kuasa dan sekolompok kecil konservatif. Juga, pada lemahnya daya tawar relawan-relawan organisasi non-pemerintah (ornop) dalam mempengaruhi penyebab-penyebab struktural dari bencana.

Untuk mendukung masyarakat mengurangi resiko bencana dimaksudkan melakukan perubahan dalam kebijakan top down mitigation kepada community based mitigation. Ornop dapat dikatakan dalam posisi yang terbaik untuk melaksanakan perubahan kebijakan ini, karena relatif mandiri tidak tergantung pada pemerintah atau kehendak pasar, sehingga mereka dapat bertindak sebagai kekuatan ketiga selain masyarakat dan pemerintah. Kerentanan (vulnerability) penting untuk diperhatikan, karena merupakan bagian dari mayoritas masyarakat dengan kemiskinan dan keterbelakangan.

2 Responses

  1. Saya tertarik dan sepakat tentang keterlibatan pulik. bahkan khusus dalam kaitannya dengan kesehatan, Menkes RI sudah mengeluarkan SK Nomor: 406/Menkes/SK/IV/2008, tentang Pembentukan Pemuda Siaga Peduli Bencana (DASI PENA). Masih banyak dimensi yang harus dipesiapkan sebagai sebuah antisipasi.

    Namun seringkali, sumber utama bencana adalah policy yang tidak memperhatikan potensi bencana. Baik policy yang terkait secara langsung dengan bencana atau pun policy yang secara tidak langsung memiliki potensi laten bencana. Kalau sudah pada tataran ini, akan sangat sulit memposisikan publik, kecuali sebagai obyek penderita.

    Ornop?
    nah.. kalau soal ini, kok ya saya agak mengalami krisis kepercayaan terhadap ornop di Kalsel.🙄

    *** Benar Pakacil, sumber bencana yang sebagian besar berasal dari kebijakan, maka perlu adanya mitigasi bencana tersebut. Memang sangat sulit posisi keterlibatan publik, bila salurannya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, seperti wakil rakyat yang kebanyakan D (duduk, duit, dengar, diam, darmawisata, dengkur, dan teruskan saja).

    Ornop atau LSM atau apalah namanya makhluk ini yang ada di Kalsel, memang belum banyak dapat diharapkan, tapi ornop dalam pengertian yang lebih luas masih memberikan harapan, seperti komunitas blogger yang terus memberikan respon positif terhadap berbagai permasalah dan berbagai kebijakan, setidaknya dapat memberikan penyadaran atau paling tidak terjadinya dialog yang saling menerima dan memberi. Masih banyak modal sosial masyarakat terabaikan, yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bersama.

  2. Sudah waktunya pemerintah meninggalkan pola penanganan bencana yang hanya dalam bentuk bagi-bagi supermi, sembako, dan baju bekas. Pola seperti ini adalah pola tahun 70-an.

    Upaya baku yang harus dilakukan pemerintah yaitu tanggap darurat, rehabilitasi, rekonstruksi, pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan.

    Mitigasi bencana merupakan suatu usaha baku yang harus dilakukan oleh semua komponen, baik masyarakat, pemerintah, maupun pengusaha.

    ***Pengalaman merupakan pelajaran yang sangat berharga. Setuju Pak Taufik, semoga terbuka suatu usaha baku yang dilakukan semua pemangku kepentingan.

    Mitigasi bencana tidak hanya dibangun untuk menyelamatkan manusia saja, tetapi juga untuk seluruh mahluk hidup.

    Marilah kita konservasi alam, manfaatkan secara bijaksana dan berkelanjutan, sehingga dapat dinikmati oleh anak cucu kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: