UDARA DI KALSEL TIDAK SEHAT


Oleh: HE. Benyamine

Hasil pemantauan Bapedalda Kalsel pada akhir Agustus 2008 terhadap kualitas udara berdasarkan sampel yang diamati pada tiga titik; kawasan Gubernur Kalsel, Jalan A. Yani Km. 6, dan Jalan A. Yani Km. 17, sebenarnya tidak tepat dijadikan dasar data untuk mengatakan kualitas udara di Kalsel termasuk dalam kategori tidak sehat (Radar Banjarmasin, 17 Oktober 2008: 14). Berdasarkan titik pengambilan sampel, lebih tepat untuk mengatakan bahwa kualitas udara di Banjarmasin (dan sekitarnya) tidak sehat bagi masyarakat.

Kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat, berdasarkan definisi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) adalah tingkat kualitas udara yang bersifat merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

Pemantauan Bapedalda Kalsel tersebut adalah pemantauan secara acak (grab sampling) yang sifatnya sesaat berdasarkan keperluannya. Hasil pemantauan kualitas udara tersebut menunjukkan bahwa kandungan debu (PM10) terhadap udara sangat jauh berada di atas baku mutu yang hanya 230 ug/m2. Begitu juga dengan kandungan karbon monoksida (CO) dari hasil pemantauan yang rata-rata di atas 500 mg/m2, padahal normalnya hanya 30 mg/m2.

Sedangkan kandungan timah hitam (Pb) masing-masing 3,55 mg/m2, 2,83 mg/m2, dan 2,68 mg/m2 yang melebihi baku mutu yang hanya 2,0 mg/m2. Kadar timbal yang tinggi ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Salmani (2006) pada Pascasarjana Unlam Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSDAL) tentang Hubungan Volume Arus Lalu Lintas Kendaraan Bermotor Dengan Kadar Timbal (Pb) di Udara Kota Banjarmasin, yang menunjukkan bahwa kendaraan berat (heavy vehicle) jenis truk dan bus yang paling dominan memberikan kontribusi terhadap polutan kadar Timbal di udara Kota Banjarmasin.

Pencemaran udara diakibatkan oleh lepasnya zat pencemar ke udara dari berbagai sumber, baik bersifat alami maupun aktivitas manusia (antropogenik). Berdasarkan PP No. 41 tahun 1999 mengenai pengelolaan udara, sumber pencemar didefinisikan sebagai setiap usaha dan/atau kegiatan yang mengeluarkan bahan pencemar ke udara yang menyebabkan udara tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Peraturan Pemerintah ini menggolongkan sumber pencemar dalam 5 kelompok, yaitu: (1) sumber bergerak, misal kendaraan bermotor, (2) sumber bergerak spesifik, misal kereta api, (3) sumber tidak bergerak, sumber emisi yang tetap pada suatu tempat, (4) sumber tidak bergerak spesifik, seperti kebakaran hutan dan pembakaran sampah, dan (5) sumber gangguan, atas penggunaan media udara atau padat dalam penyebarannya, seperti kebisingan, getaran, dan bau.

Di kota-kota besar di Indonesia, pencemaran udara yang terjadi lebih didominasi emisi pencemar udara yang berasal dari sumber bergerak. Hal ini tidak berbeda dengan udara Kota Banjarmasin (dan sekitarnya), sebagaimana hasil pamantauan Bapedalda Kalsel terhadap kualitas udara di beberapa titik yang dijadikan sampel, yang ternyata melebihi ambang batas baku mutu udara. Kendaraan bermotor, sebagai sumber bergerak, dapat menyumbang 70 persen dari pencemar PM10 dan NOX yang ada terjadi di perkotaan. Kota Banjarmasin dan sekitarnya, sebenarnya sudah terserang penyakit perkotaan; kemacetan dan padatnya jumlah kendaraan bermotor, yang menjadikan sumber bergerak pencemar udara semakin mendominasi.

Kondisi udara yang tercemar dengan kategori tidak sehat tersebut, tentu saja sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat di wilayah itu. Kadar debu yang melebihi baku mutu udara sangat potensial menyebabkan masyarakat terserang penyakit seperti ISPA dan penyakit lainnya. Sedangkan akumulasi kadar Timbal (Pb) dalam darah yang tinggi sangat membahayakan tubuh, seperti kanker, tulang sakit, dan gangguan terhadap perkembangan sistem syaraf pusat dan fungsi kognitif.

Dampak yang paling parah dari pencemaran udara lebih banyak mengancam masyarakat hampir secara keseluruhan, kecuali kelompok masyarakat yang menghasilkan pencemar udara. Masyarakat yang terkena dampaknya harus mengeluarkan biaya dalam mengatasi dampak, khususnya yang berkenaan dengan biaya kesehatan, karena masyarakat penghasil emisi jelas tidak akan menanggung biaya tersebut. Kebanyakan masyarakat yang terkana dampak adalah kelompok masyarakat yang memang tidak banyak mempunyai pilihan, baik tempat tinggal maupun aktivitas lainnya. Padahal, setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat (pasal 5 ayat 1 UU No.23 Tahun 1997). Pencemaran udara yang terjadi menyebabkan sebagian besar orang kehilangan hak tersebut, malah harus menanggung akibatnya.

Salah satu korban pencemaran udara adalah anak sekolah, karena sekolahnya terletak di pinggir jalan Kota Banjarmasin, sehingga secara langsung mereka menghirup asap knalpot pada hari-hari sekolah yang potensial terancam terkena gangguan kesehatan. Anak sekolah ini bukanlah pengendara yang lalu lalang di depan sekolahnya, tentunya bukan penghasil pencemar udara, tapi termasuk orang yang tidak mampu menolak dampak pencemaran udara.

Begitu juga dengan masyarakat miskin, khususnya yang bergerak di sektor informal (misal pedagang kaki lima) dan rumah-rumuh kumuh perkotaan, yang juga tidak punya pilihan lain, sehingga harus menghirup asap kendaraan. Hal ini jelas mengungkapkan bahwa udara bersih tidak merupakan hak setiap orang, mungkin lebih tepatnya hanya bagi mereka yang mampu membeli rumah di daerah yang hijau dan bersih.

Sebenarnya, miskin ataupun kaya, semua orang menghirup udara yang sama sebagai barang publik (public goods). Jadi, semua orang harus secara sadar untuk menjaga kualitas udara, jangan sampai fungsi udara dalam menunjang kehidupan mulai menurun dan terasa dampaknya baru menjadi peduli. Karena setiap upaya pemulihan terhadap kualitas udara tidak dapat langsung dirasakan hasilnya, bisa jadi prosesnya sampai puluhan tahun.
Dalam pengendalian pencemaran udara, salah satunya solusinya dengan memperketat uji emisi terhadap kendaraan bermotor, yang dominan menjadi sumber pencemar udara. Tapi, hal tersebut masih bergerak dalam kotak yang sempit dan terbatas. Pengendalian pencemaran udara sudah seharusnya melibatkan semua pihak yang terkait (stakehorders), yaitu pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat sipil.

Pemerintah (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) sebenarnya dipercaya secara sah untuk mengemban tugas mengendalikan dan mengatur tindakan masyarakat agar kesejahteraan kolektif masyarakat dapat diperjuangkan dan hak-hak istimewa individu tetap dilindungi.

Khusus kota Banjarmasin, perlu dipikirkan bagaimana mengurangi kepadatan lalu lintas di dalam pusat kota. Salah satunya, misalnya menentapkan suatu kawasan yang bebas dari kendaraan bermotor kecuali kendaraan umum (taksi kota). Kawasan tersebut diperuntukkan bagi pejalan kaki dan kendaraan umum, seperti kawasan pertokoan. Atau, pemerintah bisa juga membuat kebijakan yang menerapkan sistem parkir yang sangat mahal pada kawasan pertokoan dan/atau di pusat kota, sehigga secara tidak langsung memaksa orang untuk menggunakan kendaraan umum untuk masuk kota. Jadi, kebijakan perparkiran memasukkan biaya lingkungan khususnya pencemaran udara, di mana semakin dekat dengan pusat kota semakin mahal.

Misalnya dari Km. 1, sudah diterapkan sistem parkir mahal, sehingga masyarakat pengguna kendaraan dapat berpikir untuk memparkir kendaraannya di wilayah sebelum Km.1, dan melanjutkan perjalanannya dengan kendaraan umum saat masuk ke pusat kota atau ke tempat tujuan. Penerapan sistem parkir ini harus ditunjang dengan pengadaan kendaraan umum yang baik, bersih, murah, dan tepat waktu. Sementara, penghijauan di sepanjang jalan harus menjadi prioritas untuk menyenangkan pejalan kaki.

Disamping itu, keberadaan Hutan Kota sangat penting dalam upaya pengendalian pencemaran udara. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 63 tahun 2002, hutan kota dapat dibangun dengan luas paling sedikit 0, 25 hektar di wilayah perkotaan. Hutan kota merupakan ekosistem buatan dalam mengatasi masalah lingkungan di dalam kota, seperti pencemaran udara dan kebisingan.

Karena hutan kota dapat meredam kebisingan, menyerap panas, meningkatkan kelembaban, mengurangi debu, dam menyerap polutan. Berdasarkan penelitian Riaharti Zulfahani tentang Peran Hutan Kota dalam Menurunkan Tingkat Kebisingan dalam EnviroScieniteae 1 (1), 29-35, 2005 (www.psdal-unlam.net), jurnal ilmiah Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Pascasarjana Unlam, bahwa hutan kota Sabilal Muhtadin Banjarmasin dapat menurunkan tingkat kebisingan lalu lintas sebesar 12,07 persen.

Pemerintah Kota Banjarmasin, sudah seharusnya terusik dengan hasil pemantauan kualitas udara Bapedalda Kalsel tersebut, untuk bergerak dan mempersiapkan program kerja penanggulangan dan pemulihan mutu udara, karena kualitas udara sudah masuk kategori tidak sehat, dengan kandungan debu, karbon monoksida, dan timah hitam yang melebihi baku mutu udara.

Jangan sampai, untuk membangun pintu gerbang dengan biaya lebih 6 milyar digarap dan diperjuangkan dengan lantang dan heroik, mengapa untuk kepentingan masyarakat secara umum untuk mendapatkan udara bersih dan sehat seperti tidak pernah terdengar.

Begitu juga dengan pemerintah provinsi, karena Bapedalda Kalsel sudah menyimpulkan bahwa kualitas udara di Kalsel sudah masuk kategori tidak sehat bagi masyarakat. Mungkin, kesimpulan tersebut memang benar adanya. Bagaimana tidak, contohnya kota-kota besar di Kalsel sudah menjadi wilayah pertambangan. Kota Martapura, Banjarbaru, dan Banjarmasih merupakan jalur angkutan truk batubara melalui jalan umumnya, yang tentunya sangat berkontribusi terhadap pencemaran udara. Sehingga, pemerintah provinsi sudah saatnya juga mempersiapkan program kerja penanggulangan dan pemulihan mutu udara.

4 Responses

  1. Ass.

    Sudah saatnya Kota Banjarmasin mendesain pengelolaaan kualitas udaranya. Salah satunya dengan memperbanyak ruang hijau serta membatasi jumlah kendaraan bermotor serta mengatur usia kendaraan bermotor.

    Manusia bisa hidup tanpa makanan untuk 7 minggu, tanpa air untuk 7 hari dan tanpa udara hanya untuk 7 menit.

    *** Nah itu yang perlu disadari, 7 menit tanpa udara. Banjarmasin sebenarnya mempunyai keuntungan dengan banyaknya sungai, tapi sayang seribu sayang ditelantarkan bahkan dibinasakan.

  2. Ya, satu soal kita, bagaimana ‘menayadrkan’ pengambil kebijakan bahwa hal tersebut teramt penting. kampanye? Satu cara, tapi lambat kayaknya ya.

    ***Teramat penting untuk diabaikan, barang publik yang tidak seorangpun mampu mengurangi untuk mengkonsumsinya.

  3. Jadi Banjarmasin udaranya sudah tidak sehat sama dengan kami disini dong Ben.Jakarta mulai bayak yang pakao sepeda untuk beraktifitas kerja & sekolah untuk sedikit mengurangi polusi kendaraan bermotor.Jadi sebelum terlanjur seperti jakarta udara di banjarmasin,bagaimana cara semua masyarakat & pemdanya bahu membahu mencari solusi supaya tidak terlanjur parah?

    ***Penyakit kota-kota di Indonesia. Banjarmasin tidak jauh bedanya dengan Ciledug atau Pemulang, hanya saja Banjarmasin diuntungkan banyak sungai, meskipun ditelantarkan.

  4. Bukan mau ngabandingin ya. Pengalamanku sering pergi ke Banjarmasin th. 2001-2005 adalah sangat gersang! Dari bandara sampai tengah kota: hampir kita bisa katakan tidak ada pohon. Dari tengah kota (kantor Pos) sampai ke pabrik rotan juga tidak ada pohon. Di tengah kota, pohonnya kecil-kecil dan tidak banyak.

    Bagaimana bisa ada udara yang bersih dan segar? Mengapa pemerintah membiarkan begitu saja pengusaha yg membabat hutan tanpa menanam lagi pepohonan?

    Di kota tempat aku tinggal, banyak sekali pepohonan. Di tengah kota terdapat taman kota dan hutan kecil dan terdapat beberapa hutan kecil lagi yang berserakan di mana-mana. Begitupun ke luar kota dikit:hutan dan hutan dan hutan…

    *** Terima kasih mau mampir, salam kenal juga.

    Untuk sebuah perbaikan dan kebaikan, perbandingan sangat penting dan mampu menjadi cermin yang jujur.

    Beruntunglah Ms. Julia, karena tinggal di kota yang menjaga iklim mikronya … apa nama kotanya, ngebayangin aja sudah senang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: