NGALIH BANAR ATAU TIADANYA BUDAYA ILMIAH (Tanggapan Tulisan Fatchul Mu’in)


Oleh: HE. Benyamine

Jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh suatu lembaga ilmiah atau institusi akademis merupakan suatu gambaran terjadinya kerja intelektual insan akademis di lembaga atau institusi yang bersangkutan. Sehingga, apabila ada lembaga ilmiah atau institusi akademis yang tidak mampu menerbitkan jurnal ilmiah secara berkala dan kontinue, sama saja memberikan gambaran bahwa lembaga atau institusi tersebut telah kehilangan simbol akademisnya. Tentu, lembaga atau institusi demikian tidak layak menyandang predikat kalangan akademis.

Jurnal ilmiah yang dimaksud tidak perlu harus terakreditasi secara nasional, belum terakreditasi pun setidaknya harus dimiliki oleh lembaga atau institusi yang menyatakan dirinya sebagai lembaga akademis.

Tulisan Fatchul Mu’in, Menerbitkan Jurnal Ilmiah Nasional, Ngalih Banar? (Radar Banjarmasin, 28 November 2008: 3), memberikan gambaran tentang pengelolaan jurnal ilmiah di FKIP Unlam masih seadanya yang penting terbit dan masih bergantung dengan kebijakan pimpinan fakultas yang belum tentu mendukung. Cukup aneh, ada pimpinan lembaga akademis yang tidak serius kebijakannya dalam mendukung kelancaran penerbitan jurnal ilmiah, yang seharusnya tidak tergantung siapanya karena menyangkut prestise sebagai  lembaga ilmiah. Jadi, bagaimana bisa menjadi jurnal ilmiah yang terakreditasi, sementara keadaannya seperti hidup segan mati tak mau.

Dalam tulisan tersebut, Fatchul Mu’in, seakan ingin menyatakan bahwa menerbitkan jurnal ilmiah di lingkungan FKIP Unlam belum mendapatkan keberpihakan pihak penaung. Padahal penting, pihak penaung menunjukkan kebijakan yang “menyejukkan” bagi pihak-pihak terkait, bila tidak maka wajar saja taucap ngalih banar menerbitkan jurnal ilmiah, apalagi skala nasional.

Disamping itu ada hal yang sebenarnya mengarah pada memunculkan pertanyaan tentang lembaga akademis di Unlam, khususnya FKIP Unlam (apa masih dosen-dosennya tidak mempunyai ruangan dan meja sendiri?), bagaimana pelaksanaan tri darma perguruan tinggi terutama dalam bidang penelitian.

Bila Unlam sudah melaksanakan berbagai penelitian, tentu tidaklah ngalih banar dalam menerbitkan jurnal ilmiah. Karena, materi tulisan seharusnya tidak menjadi masalah, paling tidak sudah tersedia dari hasil penelitian tersebut. Atau, insan-insan akademis Unlam sebenarnya tidak melakukan penelitian (dana cekak), terlalu sibuk hal-hal lainnya. Seandainya ada dosen yang melakukan penelitian, mungkin hasilnya dikirimkan ke jurnal luar kampus, karena di Unlam sendiri jurnalnya tidak dikelola dengan baik dan belum terakreditasi.

Lalu bagaimana dengan skripsi mahasiswa (i)? Skripsi mahasiswa (i) dibuat tentu memenuhi standar penulisan ilmiah, tentunya layak dijadikan artikel yang disesuaikan dengan format untuk jurnal ilmiah. Skripsi ini sebenarnya banyak sekali sesuai dengan jumlah mahasiswa(i) yang lulus (setahun 2 kali wisuda). Sungguh sayang, skripsi-skripsi (atau tesis) mahasiswa unlam tersebut hanya sebagai tumpukan kertas. Padahal dibuatnya harus memenuhi standar ilmiah dengan dosen pembimbing yang berkompeten.

Atau, sebenarnya Unlam sebagai lembaga ilmiah masih meragukan skripsi mahasiswa (i) mereka sendiri sebagai suatu hasil karya ilmiah, sehingga tidak layak dimuat di jurnal ilmiah. Masa, diantara 100 mahasiswa lebih yang diwisuda setiap tahun tidak ada yang layak untuk dijadikan tulisan dan dimuat dalam jurnal ilmiah, apanya yang salah. Padahal mahasiswa (i) yang bersangkutan dapat diminta untuk “memadatkan hasil penelitian”nya dalam format artikel untuk jurnal ilmiah, lalu dipilih untuk diterbitkan dalam jurnal ilmiah kampus.

Skripsi (dan tesis S2) dari mahasiswa (i) Unlam sudah seharusnya dapat dihargai dan dimanfaatkan, paling tidak diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang dikelola lembaga Unlam. Hasil penelitan tersebut merupakan hasil kerja keras mahasiswa (i) dan pembimbing yang dilaksanakan dengan dana dan waktu yang tidak sedikit, yang memang layak untuk dihargai sebagai suatu karya ilmiah, sehingga sebenarnya tidak ada alasan kekurangan penulis artikel. Hasil penelitian yang begitu banyak ini tinggal masuk pada tahap penyuntingan, dan proses penyuntingan dengan catatan tim penyunting ini dapat didokumentasikan untuk keperluan pengajuan akreditasi nasional.

Jadi, penerbitan jurnal ilmiah bagi perguruan tinggi sebagai lembaga ilmiah harus mendapat prioritas utama. Jurnal ilmiah merupakan kepentingan bersama, baik secara kelembagaan maupun insan akademisnya, untuk lebih memantapkan kualitas akademis kelembagaan dan sivitasnya.

Jurnal Ilmiah yang dikelola perguruan tinggi dapat menjadi ukuran perkembangan lembaga bersangkutan. Keberadaannya dapat membatasi perilaku plagiat dalam karya ilmiah, sehingga skripsi atau tesis mahasiswa (i) atau hasil penelitan dosen akan sangat berhati-hati melakukan plagiat karena sangat mudah terlihat bila diterbitkan dalam jurnal ilmiah tersebut. Sehingga, sivitas akademis menjadi lebih serius dan bersungguh-sungguh dalam melakukan penelitian, tidak asal atau hanya sekedar memenuhi syarat akademis belaka, yang cenderung cari gampangnya.

Pendanaan penerbitan jurnal ilmiah memang tidak harus terlalu bergantung terhadap lembaga penaung, tapi paling tidak ada skala prioritas seorang pimpinan lembaga ilmiah untuk mengusahakannya. Usaha lainnya memang harus dilakukan, tapi pada tahap awal memang dibutuhkan kepedulian yang tinggi dari lembaga penaung. Dengan menunjukkan kualitas kerja, selanjutnya pendanaan dari luar lembaga akan lebih mudah didapatkan.

Oleh karena itu, sangat penting penerbitan jurnal ilmiah bagi perguruan tinggi, karena merupakan wajah bersama. Pemimpim yang tidak begitu peduli dengan penerbitan jurnal ilmiah, merupakan pemimpin yang tidak layak dalam lembaga ilmiah, karena penerbitan jurnal ilmiah dapat menjadi ukuran berkembangnya budaya ilmiah dan terjadinya konsolidasi kebutuhan bersama terhadap sikap dan tindakan ilmiah.

Mahasiswa (i) harus mulai menunjukkan keberpihakannya terhadap penerbitan jurnal ilmiah di kampusnya, karena keberadaan jurnal ilmiah sangat berdampak terhadap kelangsungan budaya ilmiah di lingkungan kampus, yang berhubungan dengan kualitas lulusannya.

9 Responses

  1. Betul sekali, Pak.
    Kok sampai segitunya ya….
    Ternyata, sejak saya lulus di akhir tahun 1999 dari FKIP Unlam, kampus tercinta masih seperti yang dulu… Lebih dari delapan tahun kan.

    *** Bagi lembaga ilmiah, bermasalah dengan jurnal ilmiah sangat memprihatinkan.

  2. Uraian yang berharga untuk memperbaiki kinerja pengelolaan jurnal di FKIP Unlam. Sekadar tambahan, pengelolaan jurnal akan bagus jika diberikan otonomi kepada pengelola jurnal itu termasuk kebijakannya, kepakaran pengelolanya, anggarannya, de el el deh. Jurnal ilmiah merupakan salah satu faktor kunci kualitas kehidupan akademik, muara karya-karya ilmiah para civitas kampus. Perguruan tinggi berkualitas mana yang tidak memiliki jurnal bermutu? Tidak ada! Semua perguruan tinggi berkualitas memiliki jurnal yang berkualitas. Salam kenal, salam hangat.😀

    ***Benar, salah satu faktor kunci kualitas kehidupan akademi. Kunci inilah yang perlu didukung oleh seluruh civitas akademik dan pemangku kepentingan lainnya (perusahaan, pemerintah daerah, ormas, dan masyarakat) sesuai dengan perannya masing-masing.

    Salam dengan penuh kehangatan.

  3. Setelah membaca tulisan ini, saya mengharapkan, terutama kepada orang-orang yang menganggap dirinya saintis dan ilmuwan, untuk kembali bertanya “Apakah kita memiliki budaya ilmiah?”

    *** Pertanyaan yang juga layak ditanyakan kepada diri kita sendiri. Untuk mengingatkan kita untuk selalu memperbaiki diri.
    Menarik (ulun copas), comment Pak Taufik di Menulis, Jangan Sok di web Pak Ersis yang mengangkat perspektif surat al-’Alaq patut menjadi cermin bagi kita, jangan sampai kita termasuk golongan yang mempunyai ciri-ciri yang dikemukakan Pak Taufik, yakni:

    1. Enggan Membaca
    2. Enggan Menulis
    3. Membanggakan Keluasan Pengetahuan
    4. Merendahkan Orang Lain Yang Tidak Sepaham
    5. Menutup Telinga dan Membuang Muka Bila Mendengar Pendapat Lain
    6. Suka Menyatakan Pendapat Tanpa Dasar Yang Kuat
    7. Suka Berdebat Kusir

  4. Sebagai guru, untuk menumbuhkan budaya ilmiah, memang membutuhkan langkah konkret, baik dari internal guru sendiri maupun dari pihak pemerintah.

    Bagi pemerintah, intinya berikan kesempatan lebih banyak kepada para guru untuk mengembangkan keintelektualannya, selama kewajiban mengajarnya tetap menjadi prioritas utama.

    Merupakan tugas perguruan tinggi untuk mengantisipasi lunturnya budaya ilmiah dengan menyiapkan sumber daya yang baik.

    Wassalam

    *** Setuju. Investasi yang sangat penting, yang sering dilupakan dan diabaikan pengambil kebijakan di negeri dan daerah ini.

  5. Tajam dan ‘menyadarkan”. Kira-kira begitukah?

  6. Ya, mau gimana lagi mas. cari naskah ngalih, gimana mau bagus jurnal itu, bila naskah yang masuk ala kadarnya. sumbangsih pikiran anda, perlu diapresiasi. nanti –kalau mau– disampaikan kepada pimpinan.

    ***Terima kasih Pak Fatchul Mu’in menyempatkan mampir di sini.
    Tulisan ini sebenarnya sudah saya kirim ke redaksi radar banjarmasin sebagai tanggapan tulisan bapak, saya hanya mencoba mengapresiasi tulisan bapak aga lebih diperhatikan Unlam sebagai institusi yang ada di banua, yang tentunya sangat diharapkan mampu mempengaruhi kebijakan pemerintah daerah untuk lebih maju.

  7. membuat sadar, juga ngalih banar!

    ***Ngalih banar? Namun tidak berarti tidak mungkin, dan Unlam sebagai institusi ilmiah tentu tidak akan kekurangan dalam hal tulisan. Saya yakin bahwa Unlam akan mampu memiliki jurnal ilmiah, mungkin waktunya ya Pak kapan.

  8. Lalu bagaimana dengan skripsi mahasiswa (i)? Skripsi mahasiswa (i) dibuat tentu memenuhi standar penulisan ilmiah, tentunya layak dijadikan artikel yang disesuaikan dengan format untuk jurnal ilmiah. Skripsi ini sebenarnya banyak sekali sesuai dengan jumlah mahasiswa(i) yang lulus (setahun 2 kali wisuda). Sungguh sayang, skripsi-skripsi (atau tesis) mahasiswa unlam tersebut hanya sebagai tumpukan kertas. Padahal dibuatnya harus memenuhi standar ilmiah dengan dosen pembimbing yang berkompeten.

    Iya. Memang betul, tapi saya yakin skripsi yang menumpuk di FKIP unlam semuanya adalah skripsi yang sudah disetir dosen. Atau malah yang tidak dibimbing sama sekali, lantas dibiarkan menjadi sarjana tanpa makna.

    Secara saya sendiri pernah di tentang habis habisan ketika saya ingin membuat skripsi yang kesimpulan akhirnya bisa menjadi paramater kegagalan pengajaran para dosen di FKIP UNLAM.

    ***Terima kasih mau mampir rumah ini, anggap saja seperti rumah sendiri.
    Apapun hasil dari skripsi yang dibuat mahasiswa, setidaknya mengikuti pedoman yang resmi, yang akan menjadi jejak dan sejarah perkembangan FKIP Unlam, yang tentunya ada sebagian dari sivitasnya yang mempunyai kepedulian untuk terus memperbaiki. Harapan terhadap FKIP Unlam sangat besar, karena bidang pendidikan di daerah ini sangat membutuhkan lulusannya.

  9. jgn gitu donk !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    HEB : Terima kasih telah menyempatkan untuk mampir. Ya … jangan sampai tidak mempunyai Jurnal Ilmiah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: