KEMEWAHAN MOBIL DINAS GUBERNUR KALSEL MEMALUKAN


Oleh: HE. Benyamine

Liputan tentang mobil dinas gubernur dan wakil gubernur Kalsel yang melanggar Keputusan Meteri Dalam Negeri No.152 Tahun 2004 tentang Pedoman Pengelolaan Barang Daerah, Peraturan Pemerintahan No. 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, dan Permendagri No. 7 Tahun 2006 berdasarkan audit BPK (Sinar Kalimantan, 16 Desember 2008: 9), memberikan gambaran tentang sosok pemimpin daerah Kalsel, khususnya gubernur dan wakilnya, yang berperilaku layaknya pepatah tampulu jadi raja, begitu kasihannya rakyat Kalsel harus menanggung beban atas kemewahan para pejabatnya.

Kemewahan kendaraan dan jumlah berlebihan yang ada di garasi gubernur dan wakil gubernur (juga Sekdaprov  Kalsel) sudah cenderung sebagai “keserakahan” dan tiadanya pemahaman tentang kepatutan sebagai seorang pemimpin. Hal ini diperparah oleh penyataan Sekdaprov Kalsel, Muchlis Gafuri, yang menuding BPK terlalu kaku menerapkan dan menafsirkan aturan (Sinar Kalimantan, 17 Desember 2008: 9). Sekdaprov Kalsel berasalan mengapa menggunakan kapasitas silender yang tinggi karena kondisi geografis di Kalsel dan untuk mempercepat perjalanan gubernur/wakil ke daerah.

Bagaimana melihat mobdin gubernur dan wagub ini secara komprehensif, tanpa mengacu pada aturan yang berlaku? Lalu bagaimana meninjau dari kepentingan yang lebih jauh? Padahal aturannya sangat jelas tentang silender dan jumlah, yang sebenarnya memang diarahkan kaku dalam pelaksanaannya. Tanggapan Sekdaprov Kalsel ini menyiratkan suatu kesan bahwa Menteri Dalam Negeri dan pemerintah pusat dalam membuat peraturan tidak memperhatikan kondisi dan situasi daerah dan cenderung tidak komprehensif serta tidak sesuai kepentingannya.

Tanggapan Sekdaprov Kalsel terhadap hasil audit BPK lebih cenderung merupakan tanggapan orang yang lagi stess, sehingga cenderung tidak rasional dan tidak berada dalam kepatutan sebagai pejabat daerah, malah hal ini memberikan pembenaran bahwa pemimpin di daerah ini tidak mempunyai kepekaan sosial dan cenderung abai dengan masalah yang dihadapi rakyatnya. Mereka seolah bersepakat untuk menikmati kemewahan selagi berkuasa, memboroskan uang rakyat, dan membiarkan rakyat hidup dalam berbagai kesulitan karena anggaran yang seharusnya dapat digunakan untuk membiayai pembangunan lebih diarahkan untuk belanja para pejabatnya dalam kemewahan.

Keberadaan mobil dinas untuk menunjang kelancaran tugas dan kerja para pejabat sebenarnya perlu dipertanyakan, karena mobilitas seorang pejabat tidak terlalu banyak berhubungan dengan kendaraan dinas tersebut. Salah satu alasan yang sering dikemukakan adalah bahwa medan Kalsel merupakan medan yang berat yang dalam bahasa Sekdaprov Kalsel melihat kondisi geografis, sehingga membutuhkan mobil dinas yang sesuai dengan alam Kalsel. Alasan ini sangat mudah diperdebatkan, apalagi apakah pejabat selalu berada di wilayah yang medan jelajahnya berat dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya, seperti ke pegunungan dan perdesaan terpencil.

Jadi, alasan bahwa Kalsel merupakan daerah dengan medan jelajah berat merupakan alasan yang terlalu mengada-ngada, karena daerah-daerah Kalsel sudah terhubung oleh jalan darat yang cukup baik. Jika ada jalan umum yang rusak, seperti jalur menuju Tanah Bumbu yang jalannya seperti kubangan kerbau, maka perlu dipikirkan untuk diperbaiki. Bukannya malah dijadikan alasan oleh para pejabat untuk mengganti mobil dinas yang dianggap dapat mengimbangi rusaknya jalan umum tersebut dengan silender yang lebih tinggi, apalagi dengan cara mengabaikan aturan. Apakah bila jalannya semakin rusak, maka mobilnya ganti lagi dengan silender yang lebih tinggi? Logika ini yang salah, bukan kondisi geografis atau BPK terlalu kaku.

Kerusakan jalan umum, yang menjadikan medan berat, seharusnya menjadi pikiran dan perhatian pemerintah untuk segera diperbaiki. Jalan umum yang rusak parah sesungguhnya sangat mengganggu pengguna jalan, apalagi bagi angkutan umum yang setiap hari melintas pulang pergi melayani mobilitas warga masyarakat. Para pejabat bisa saja tidak melalui jalan umum tersebut, karena mereka bisa lewat jalur udara. Dengan alasan kondisi geografis yang berat, sebenarnya pejabat telah memanipulasi kejujuran dan tanggung jawab, karena mereka sudah seharusnya tahu tentang kondisi jalan umum yang rusak akibat pemanfaatan yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.

Kondisi geografis Kalsel sebagai alasan Sekdaprov Kalsel dalam pengadaan mobdin silender yang lebih tinggi, yang berani melanggar aturan, sebenarnya merupakan suatu bentuk pengakuan bahwa jalan-jalan umum banyak mengalami kerusakan dan adanya daerah di Kalsel yang masih sangat kurang dalam sarana dan prasarana jalan. Kondisi geografis inilah yang perlu diperhatikan oleh elit kekuasaan di daerah ini, yang perlu mendapat prioritas dalam pembangunannya, sehingga dapat dinikmati secara bersama oleh seluruh masyarakat. Dengan jalan umum yang baik dan terawat, kendaraan umum yang biasa digunakan masyarakat dalam mobilitas antara daerah tentu lebih nyaman dan lebih aman.

Mungkin, Sekdaprov Kalsel perlu istirahat dan mengambil cuti untuk menenangkan dirinya, sehingga saat bertugas kembali dapat lebih memahami kritik dan hasil audit lembaga negara yang memang mempunyai tugas untuk itu dengan berpedoman pada aturan yang jelas dan berlaku, bukan dengan ukuran kira-kira dan mencari alasan-alasan yang tidak masuk akal.

Pejabat pada level Sekdaprov ini tidak pantas dan layak memberikan tanggapan yang terkesan menantang dan seakan memberikan pesan kepada pejabat yang lainnya bahwa adanya peraturan memang untuk dilanggar.

Kemewahan mobil dinas sangat memalukan, karena bersandingan dengan jalan umum yang rusak berat. Betapa masyarakat seolah dibiarkan saja menempuh perjalanan dengan medan berat. Karena para pejabatnya ditunjang dengan kendaraan mewah, meskipun medan berat tetap dapat dijalani dengan nyaman. Mungkin SMS dalam SK Phone,dengan judul Kada Tahu Jalan Balubang (Sinar Kalimantan, 18 Desember 2008: 13) cukup mewakili gambaran keadaan jalan-jalan umum di daerah, “Pantas aja Bapak Gubernur kada tahu jalan arah ke Marabahan banyak lubangnya. Mun sidin pakai mobil Toyota Landcruiser Cygnus. Harusnya sidin merasakan kayapa masyarakat nang ngalih menjalankan kendaraan di jalan nang banyak lubangnya”. Atau sebenarnya, kerusakan jalan memang dibiarkan tetap menjadi medan yang berat, sehingga dapat dijadikan alasan untuk pembelian mobil dinas mewah tersebut.

6 Responses

  1. Ironis, di tengah rakyat yang belum sejahtera

    ***Memang, bahkan masih ada bayi gizi buruk dan semakin banyaknya anak-anak di pinggir jalan

  2. Ha ha ha

    *** Senang bisa buat Pak Ersis ketawa …

  3. Sense of crisis agaknya memang barang teramat langka yang dimiliki pejabat kita.

    *** Mungkin stock lagi kosong, semoga saja masyarakat dapat bersabar .

  4. komentar dari pejabat tersebut mencerminkan kualitas pejabat di Kal Sel , dari Pimpinan sampai Pejabat bawahan adalah kualitas iwak saluang, sedang mentalnya adalah mental bagong jadi raja

    ***Terima kasih mau mampir.
    Ya, setuju bahwa komentar dari pejabat yang seenaknya sebagai cermin kualitas yang bersangkutan, dan yang kasihan adalah rakyat yang harus menanggung perilaku pejabat tersebut. Hal ini sangat berhubungan dengan bagaimana pembangunan dilaksanakan, yang ternyata lebih banyak untuk kemewahan hidup pejabatnya.

  5. dari penelitian saya berkesimpulan bahwa pejabat yang memakai mobil dinas khususnya mobil mewah seperti mobil gubernur dan pejabat lainnya yang mobil dinas tersebut tidak menyentuh langsung kepada masyarakat disebut korupsi, mari mulai sekarang kita awasi pengadaan mobil dinas didaerah kita

    ***Penelitian yang menarik, memang perlu disuarakan perilaku pejabat yang tidak hirau dengan kondisi rakyatnya.

  6. PESAN; UTK AKAN DATANG KLU BS SEMUA PASILITAN MOBIL PEJABAT PAKAI KIJANG INNOVA AJA. KLU TDK MAU IKUT ATURAN LBH BAGUS JGN MENCALONKAN DIRI. KRN PEJABAT ITU JG RAKYAT, JD HARUS MIKIRIN RAKYAT JG DONG .ATAU HARUS INTROPEKSI DIRI DULU SEBELUM MENCALONKAN DIRI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: