ANARKIS AKIBAT BUNTUNYA KEBEBASAN (Tanggapan Telaah Budi Suryadi, S.Sos., MSi.)


Oleh: HE. Benyamine

Pelemparan sepatu oleh Muhtandhar Al-Zaidi ke arah Geoge Bush saat konferensi pers perpisahan di Irak sebagai kebebasan yang anarkis yang dikaitkan dengan nilai-nilai demokrasi, salah satunya penekanan pada proses dialog dalam telaah Budi Suryadi, S.sos., MSi. (Sinar Kalimantan, 22 Desember 2008: 12), terlalu menyederhanakan permasalahan yang dihadapi warga negara Irak dan mengandaikan pada sistem demokrasi yang berjalan normal dan sangat normatif. Kesimpulan telaah ini cenderung anarkis dalam menilai tindakan Al-Zaidi tersebut, karena keluar dari konteks pergulatan warga Irak setelah invasi AS dan sekutunya yang telah membinasakan nilai-nilai demokrasi itu sendiri.

Dalam telaah tersebut, kebebasan anarkis dimaksudkan sebagai kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa batas dan cenderung chaostik dilakukan secara brutal tanpa memandang dan menghormati hak-hak politik individu lainnya. Juga, tidak sesuai dengan nilai-nilai demokrasi yang salah satunya mengutamakan dialog. Berdasarkan definisi ini, sebenarnya apakah ada kebebasan di Irak saat ini, sehingga warga Irak dapat dipandang dan dihormati hak-haknya.

Sebagai negara yang porak-poranda akibat invasi berdasarkan data atau informasi yang salah, yang membuat warga Irak kehilangan kebebasannya, dan berbagai penderitaan karena kehilangan yang menghantui kehidupan; terutama mudahnya nyawa warga Irak melayang, tentu terlalu naif masih menghormati dan memandang hak-hak politik orang yang menjadi penyebabnya; yang bahkan tidak menghargai hidup.

Sedangkan kebebasan itu sendiri dapat dikatakan telah dirampas, bagaimana warga melakukan tindakan anarkis atas nama kebebasan, lemparan sepatu Al-Zaidi tidak lebih dari ekspresi kebencian bukan mempertunjukkan kebebasan anarkis.

Pelemparan sepatu adalah salah satu ekspresi kebencian yang luar biasa, yang juga pernah dilakukan sebagian warga Irak terhadap patung Sadam Hussien yang telah roboh. Hal ini juga harus dilihat dari sudut budaya Irak dalam menunjukkan kebencian terhadap orang yang telah merenggut kebahagiaan dan kebebasan itu sendiri, sehingga kebebasan menjadi buntu.

Pelemparan sepatu Al-Zaidi sebenarnya tidak bisa dikatagorikan sebagai tindakan anarkis sebagaimana definisi di atas, karena hanya sebatas ekspresi budaya, kecuali bila perbuatan tersebut membuat suatu keadaan di suatu tempat menjadi chaos dan terjadi tindakan brutal yang mengikutinya. Apalagi dikatakan sebagai kebebasan yang anarkis, padahal kebebasan itu sendiri tidak ada.

Sedangkan argumen tentang, pilihan dialog sebagai salah satu nilai-nilai demokrasi, harus dipahami dan diletakkan pada dasar bahwa proses dialog dapat terjadi bila kedua belah pihak mempunyai kedudukan yang setara dan mempunyai kepentingan yang sebanding. Apakah bisa terjadi dialog antara penjajah dengan terjajah, kemungkinan terjadi tentu dengan tidak seimbang dan menguntung kedua belah pihak.

Dalam demokrasi, memang tidak memberikan tempat adanya kekerasan, tidak hanya wacana memodifikasi penggunaan alat-alat yang bisa digunakan untuk kekerasan, tapi juga kekerasan dalam wajah psikologi yang terus mendapatkan modifikasi.

Dalam konteks Irak sejak invasi AS hingga sekarang, warganya hidup dalam situasi anarkis dan darurat, yang jelas tidak mungkin mengembangkan wacana demokrasi yang seharusnya terus memodifikasi berbagai bentuk kekerasan untuk tidak lagi digunakan.

Apakah masih relevan berbicara demokrasi, bila situasinya memberi peluang yang sewaktu-waktu dengan mudahnya puluhan orang bahkan lebih melayang nyawanya, lalu orang yang menyebabkannya minta maaf karena kesalahan informasi. Memang, kekerasan tidak harus dilawan dengan kekerasan, yang cenderung menjadi lingkaran setan, namun tindakan yang merupakan ekspresi budaya tidaklah layak disimpulkan sebagai kebebasan yang anarkis.

Bush saja menanggapi dengan sigap dan memahami ekspresi tersebut, bahkan ia masih sempat bercanda saat itu dengan mengatakan nomor sepatu yang dilempar dengan angka 10, dan ia sepertinya memahami kebencian itu. Di sini, ada perbedaan ekspresi kebencian, sehingga bagi Bush dianggap sebagai ancaman, sedangkan bagi Al-Zaidi dan warga Irak sebagai penghinaan bukan ancaman. Pelemparan sepatu itu hanya merupakan ungkapan kebencian dalam kebebasan yang buntu. Seandainya ada kebebasan di Irak, mungkin sebagian besar warga Irak ingin melemparkan sepatunya ke arah Bush.

3 Responses

  1. Ketika tatanan sosial dalam suatu masyarakat mengalami depresi yang mengental, muncullah ketertekanan yang melahirkan perlawanan…

    Kalo memandang dari sudut pandang budaya di Irak, itu merupakan bentuk ekspresi yang mewakili rakyat Irak terhadap Mr. Bush…

    ***Perlawanan yang terpendam dan membara ….

  2. Ass.

    Saya yakin, banyak sekali rakyat Iraq yang ingin melakukan hal yang sama dengannya. Karena Bush, banyak anak Iraq yang menjadi yatim-piatu.

    Salut buat nyali dan keberanian muntazer..
    salut juga buat refleksnya bush yang OK punya…

    ***Waalaikum salam.
    Apalagi Bush saat itu mengatakan bahwa ia membawa berkah bagi rakyat Irak. Berapa rakyat Irak yang terbunuh, tidak terhitung dan memang terlalu banyak.

  3. ini menunjukkan apa yang dilakukan oleh bush selama ini adalah salah…awal invasi ke Irak sebegitu ngototnya bahwa diirak terdapat senjata pemusnah masal tapi tatkala berakhirnya masa jabatan bush mengakui sendiri tidak terbukti senjaan pemusnah tersebut seharusnya bush dikategorikan sebagai penjahat perang dan pembohong peperangan…ini adalah REAL TERORIS…seharusnya yang dihukum pancung adalah BUSH !!!

    ***Bush itu sendiri yang sebenarnya senjata pemusnah masal, senjata yang sangat membunuh dan berbahaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: