HIKAYAT TANAH BANJAR


Oleh: HE Benyamine

Seribu sungai mengalir di tanah Banjar. Alam menyediakan seribu jalan, menghubungkan seribu penjuru. Hutan belantara telah mendidik dan melatih manusia untuk menyesuaikan diri, menjadi manusia yang selalu bekerja keras dan tekun, menghargai bagian lain dari alam sebagaimana dirinya sendiri.

Hutan belantara membentang dengan hijauan yang menghampar, hijau sepanjang tahun, damai dalam warna teduh yang menyejukkan mata, menyerap sinar matahari memberikan penghidupan, mengalirkan air dengan irama yang beraturan menetes dengan kejernihan, membagikan hembusan angin dalam jalur yang merata membelai dengan lembut dan bersahaja.

Hutan alam menyediakan berbagai keperluan semua penghuninya. Berbagai macam tumbuhan buah pada musimnya memberikan buah beraneka rasa yang terasa asam, kalat, pahit, asam manis, manis hingga manis sekali.

Ada beberapa buah yang menyebarkan aroma semerbak, seakan mendemonstrasikan racikan alam yang menghasut selera. Berbagai bunga bermekaran, yang sebagiannya menyapa penciuman dengan wanginya sebagaimana parfum alami, mengundang berbagai binatang penyerbuk hingga menghasilkan madu alam yang penuh dengan khasiat dan sangat lezat.

Ada juga bunga yang berbau bangkai, yang disebut bunga bangkai, karena baunya yang menusuk hidung dan membangkitkan respon bau busuk. Ada tumbuhan yang menyesuaikan dengan keadaan alam yang tidak subur, kantung semar, karena tumbuhan ini mempunyai kantung-kantung untuk mengundang serangga buat disantapnya, tumbuhan pemangsa.

Pohon-pohon yang kokoh tegak menjangkau langit, merapatkan barisan tak beraturan, bagai bersiap menghadang segala ancaman. Ada yang digelari pohon besi, yang tumbuh secintemeter dalam setahun, yang begitu eksotik dalam alur batangnya tinggi menjulang, berbuah yang juga keras, yang bila dipotong batangnya mengeluarkan cairan warna darah bagaikan darah manusia yang menetes.

Pohon besi ya pohon ulin ya pohon belian yang tumbuh alami di hutan belantara, yang hidup bagaikan penghulu pohon lainnya, yang meskipun sudah dipotong tetap bertahan dalam keadaan utuh seakan melawan waktu pelapukan dengan begitu gigihnya.

Binatang yang masih dianggap saudara dekat manusia, berkembang biak dengan baik di hutan alami, ada yang berhidung mancung kemerahan, ada yang berekor panjang memanjang, ada yang berekor tanggung, ada yang patatnya terbuka mencolok, mereka mempunyai rumah mewah hutan belantara, yang sangat kaya dengan keanekaragaman hayati, yang teratur dan berada dalam keseimbangan optimum.

Manusianya mempunyai jalan setapak yang menyesuaikan dengan topografi alam belantara, tanpa mengganggu bentang alam, yang sanggup memberikan waktu untuk merumuskan nuansa mitos dan magis dalam perjalanan yang berliku dan berperasaan terhadap roh alamiah.

Sebagian wilayah hutan menjadi wilayah keramat, yang terlarang dan terjaga, bagian hutan yang mengandung segala daya khayal dan imajinasi, biarkan bertahta segala pengetahuan yang tersembunyi.

Hutan menyimpan misteri

Menghisap segala materi

Kebaikan berhembus lembut beraroma kasturi

Biarkan yang hidup menjaga hati

Hutan belantara alamiah yang sudah tersedia, masih menuntut kerja keras dan ketekunan dalam menyesuaikan dengan keseimbangan alaminya bagi kepentingan kehidupan manusia sendiri, butuh perjuangan dalam memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam bidang pertanian, dalam perikanan masih mengandalkan kebaikan sungai dan rawa yang ada.

Puluhan tahun dalam mengolah lahan gambut untuk mencetak petak sawah agar dapat dijadikan persawahan untuk menghasilkan padi-padian dengan baik setiap tahunnya. Sungai mengalirkan darah kehidupan alami, jernih dan bening, sewaktu-waktu beriak, dan lain waktu mengalir begitu deras, ada saatnya dangkal hingga memperlihatkan wajah dasarnya. Air mengalir, menyebar pada lahan gambut, sebagiannya menuju laut.

Langit membiru cerah, gumpalan awan putih salju yang berarak bamega, seakan bertumpu pada hamparan hijau permadani, butiran hujan melayang riang menghempaskan diri di atas permadani hijau hutan.

Zaman berubah, manusia terseret terbirit-birit, terbawa arus perubahan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Waktu hanya lewat, manusia di tanah Banjar masih terlelap dalam mimpi tidur siang, yang hanya terbangun saat terasa lapar dan haus.

Perubahan begitu cepat menghapus jejaknya, yang dibelakang bisa tersesat jika tidak mau menggunakan akal dan pikirannya. Alam masih dianggap dapat menyediakan segala kebutuhan kehidupan, tanpa perlu bekerja keras, segalanya masih tersedia jika hanya untuk bisa sekedar hidup.

Pada masanya, pohon-pohon di hutan diambil besar-besaran, segelintir orang menjadi super kaya dan mendadak kaya. Hari-hari selanjutnya terus mengambil pohon-pohon yang sudah tersedia, bagaikan warisan yang dikuasai oleh segelintir anak-anak yang ada di tanah Banjar, tanpa peduli hubungan keluarga dan hubungan dengan alam.

Selagi tersedia, pohon-pohon terus diburu dan dibantai, tanpa perlu kerja keras dan ketekunan dalam bekerja karena hanya mengambil yang tersedia. Inilah masa berburu dan pengumpul terhadap hasil hutan kayu, dengan peralatan modern yang mampu mempercepat bertumbangan pohon-pohon dari yang besar hingga yang terlalu lemah untuk berdiri biarpun tidak diganggu.

Hutan belantara seakan menguap dalam waktu singkat, menyisakan lahan yang penuh luka dan tercabik-cabik, dalam keadaan kritis akut, karena betapa malasnya manusia di tanah Banjar bekerja, sudah hilang pepatah siapa menanam akan memanen.

Kemewahan bergelimang menghambur di atas kemiskinan dan kesengsaraan. Masyarakat di tanah Banjar terkesan menjadi pemalas, karena lahan kritis semakin meluas dan berpotensi membangkitkan wabah yang lebih mengerikan mengikuti beban kemiskinan.

Kearifan berladang yang menunjukkan manusia yang bekerja dan penuh ketekunan serta kesabaran, dianggap penghalang dalam ekspansi HPH, bahkan secara hukum menjadi tersangka penyerobot wilayah hutan yang sudah dimasukkan dalam wilayah HPH, tanpa mengidahkan keberadaan masyarakat yang sudah turun-temurun menempati wilayah tersebut.

Mesin-mesin modern merongrong dan menderu menjegal pohon-pohon, dengan status HPH, yang tidak mengenal hutan keramat, semua hanya terlihat emas hijau yang harus diambil. Cerita rakyat tentang pohon yang ada penunggunya, hingga betapa sulit ditebang dan bisa membuat sakit yang menebangnya, hanya mitos yang lumpuh dan kehilangan akar pendukungnya, manusia di tanah Banjar terkesima oleh kesaktian teknologi.

Sungai-sungai mulai mengalirkan tanah, warnanya kemerahan, sulit ditembus cahaya matahari, dari anak-anak sungai sampai sungai besarnya, seakan kehilangan kejernihan dan kecerahannya.

Air mata darah mengaliri sungai kehidupan

Pekat memburam kental mendangkal

Kehidupan terancam kering jerat kerongkongan

Air mengalir berwajah bandang nan bengal

Hutan tersisa masih terancam. Hidup dalam zaman berburu dan meramu, yang dimanjakan peralatan modern, dan kemewahan hidup dalam dunia konsumerisme yang menghasut, manusia di tanah Banjar terjebak seakan alam masih menyediakan segala kebutuhan hidup dan kehidupannya.

Lahan kritis telah memperlihatkan keserakahan manusia, yang hanya tahu mengambil yang tersedia, tanpa peduli waktu yang diperlukan untuk tumbuh dan berkembangnya sebatang pohon dalam menyatu dalam kesatuan ekosistem hutan. Manusia Banjar betapa malasnya, hingga lupa pohon-pohon di hutan yang ada sudah mulai sangat terbatas dan bahkan langka.

Manusia H, Idak yang bekerja keras dan tekun dalam mengolah lahan gambut menjadi lahan pertanian, yang mengupayakan sistem tata air dalam pemanfaatan lahan gambut, dengan berhasil merupakan karakter manusia Banjar yang mau berpikir dan bekerja, yang semakin langka ada di tanah Banjar. Manusia H. Idak lainnya seperti perkecualian untuk saat ini, terabaikan oleh derap gempita kemewahan yang datang begitu cepat tanpa perlu bekerja keras dan tekun yang merasuki manusia Banjar.

Setelah hutan belantara porak-poranda dan stok pohon sudah tidak sanggup memenuhi kebutuhan suplai permintaan, manusia Banjar masih tetap di zaman berburu dan meramu, meskipun peralatan modern terlibat dalam kehidupan saat ini, mereka mulai mengambil bahan galian, yang tetap tabiatnya hanya mengambil yang sudah tersedia.

Batu bara sudah ada di dalam tanah Banjar, manusia mana yang menyimpan dan mengolahnya, tidak ada yang berani mengakunya, karena memang batu bara sudah tersedia. Kemalasan yang dimanjakan oleh kemurahan alam terus berlanjut, walaupun hanya sebagian manusia Banjar yang dapat dihitung dengan jari yang melimpah kemewahannya dan orang-orang di luar tanah Banjar yang diuntungkan atas eksploitasi batu bara.

Manusia Banjar ada yang menyerahkan kebun dan tanah pertaniannya untuk lahan batu bara, ada juga yang terpaksa menyerahkannya, ada yang tidak berdaya menolak, meskipun ada yang berusaha menolak tanahnya dijadikan lahan tambang batu bara dan dikalahkan, yang membuat manusia Banjar yang biasanya bekerja secara mandiri menjadi kehilangan aset usahanya.

Ada yang menjadi buruh pertambangan, bahkan buruh yang terbawah kebanyakan dengan penghasilan yang terendah, dan tidak sedikit yang menjadi pengangguran. Eksploitasi batu bara menjadi primadona, bahkan pengusaha muda tanah Banjar begitu bangga mempromosikan kandungan batu bara di bumi Lambung Mangkurat ini sebagai produk unggulan ke negara-negara Barat, seakan mereka tidak pernah tahu diposit batu bara di tanah Banjar ini.

Apa yang dibanggakan dari produk batu bara yang hanya tahunya mengambil yang sudah tersedia, tanpa perlu bekerja keras dan tekun, juga bahkan tidak perlu berpikir, hanya tinggal mengambil saja.

Beberapa pemerintah daerah di tanah Banjar menjadikan batu bara sebagai sumber pendapatan asli daerah yang dominan, yang seolah-olah dapat memakmurkan warga masyarakatnya, yang terlihat dari besarnya pendapatan daerah dan besarnya APBD daerah bersangkutan, dengan semakin gemerlapnya sebagian kota pemerintahan, namun tetap saja menempatkan manusianya dalam zaman berburu dan meramu.

Kemalasan manusia Banjar, kemewahan dan keserakahan  segelitirnya, ternyata hanya mampu mendapatkan 80 milyar per tahun dari eksploitasi batu bara, yang sangat jelas tidak proporsional dengan berapa banyak batu bara yang dibawa keluar dari tanah Banjar dan kerusakan lingkungan yang harus ditanggung seluruh manusia di tanah Banjar.

Produk unggulan dari tambang batu bara sebagai pendapatan daerah dominan, memperlihatkan kemalasan manusia Banjar dalam bekerja dan berpikir.

Dengan produk batu bara yang menjadi primadona di tanah Banjar, jalanan penuh dengan kendaraan super mewah, yang hanya beberapa ada di seluruh Indonesia, di tanah Banjar pasti ada. Bercampur aduk dengan armada truk batu bara, yang mengaburkan antara kemewahan dan kemelaratan.

Menyandingkan kemakmuran dengan ketidakberdayaan di antara manusia di tanah Banjar, mensejajarkan yang sedikit dengan yang banyak, yang berlimpah dengan yang kekurangan, kesenjangan sosial semakin terbuka lebar yang dipisahkan oleh berbagai bencana.

Manusia di tanah Banjar masih terbuai oleh diposit batu bara yang tersedia, kemalasan bekerja dan berpikir, seakan melupakan dan mengabaikan akibat yang potensial menjadi bencana lingkungan.

Hamparan lahan yang kritis, diterjang alat berat, dibongkar tanpa perhitungan, karena kemalasan berpikir dan bekerja, tinggalkan saja lobang-lobang raksasa, karena yang bisa dijadikan uang sudah diambil. Kemakmuran di tanah Banjar bagaikan fatamorgana bagi sebagian besar manusianya.

Inilah hikayat tanah Banjar. Keberlimpahan yang disediakan alam telah membuat manusianya semakin berpikir pendek dan hanya tahu mengambilnya.

Manusia di tanah Banjar semakin kehilangan talenta dalam bekerja dan berpikir, segalanya masih ada tersedia tinggal mengambilnya.

Hutan tinggal sedikit biarkan saja, sekarang masih banyak batu bara yang tersedia di tanah Banjar, bahkan sekarang mulai mengambil biji besi yang juga sudah terkandung di tanah Banjar.

Hikayat tanah Banjar merupakan kebanggaan tentang kemalasan berpikir dan bekerja, kemewahan segelitir orang yang membiarkan kebanyakan orang di tanah Banjar tergilas roda kemeskinan dan kemelaratan. Tentang kehancuran budaya secara perlahan, karena kehilangan etos kerja dan karya. Tentang kemalangan di tengah kekayaan sumberdaya alam yang begitu melimpah.

8 Responses

  1. Ass.

    Membangun Tanah Banjar adalah membangun pohon cinta. Ia mesti menggunakan benih pilihan yang unggul, disiram dengan air yang cukup, dipupuk dengan dosis yang tepat dan dirawat oleh tangan yang terampil.

    Benih itu adalah semangat yang tinggi, airnya adalah kerja keras, pupuknya adalah do’a, dan tangan terampil itu adalah profesionalisme.

    Cinta adalah energi yang menghidupkan pendar-pendar patriotisme, menggerakkan sendi-sendi optimisme dan menumbuhkan benih-benih keyakinan untuk berusaha, bekerja keras, beretos kerja, berkomitmen dan semangat pantang menyerah, waja sampai kaputing.

    ***Waalaikum salam Pak Taufik.
    Pohon cinta yang disemangati waja sampai kaputing.

  2. namun sekarang, hutan di tebangi, tanah di gali dan sungai banjir…karena keserakahan manusia

    ***Terima kasih, menyempatkan mampir di sini, maaf suguhannya seadanya.

    ***Keserakahan … ya, karena keserakahan hingga bumi ini hancur tidak akan pernah cukup.

  3. mmm…pertambangan-pertambangan liar dilakukan..tanpa pernah ingat resiko dari perbuatannya.

    salam alam murka…manusia menjerit dan menangispun tak ada guna.

    semoga mendapat tindakan yang semestinya dari negara dan kebaikan semua.

    Sebelum semuanya benar-benar terlambat…alam akan murka…manusia akan binasa…semua ikut menderita.

    ***Hmmm… masih ada wangi melati (kwek?) yang terbawa angin dari dalam hutan, semoga semuanya memang tidak terlambat.

  4. kadang saya terpikir, lebih baik tak usah memiliki kekayaan alam saja di bawah tanah daerah ini, karena hanya akan membuat petaka bagi apa-apa yg ada di atasnya.

    orang tua saya sering bercerita, betapa mudahnya dulu mendapatkan ikan di bawah rumah panggung. dan kini saya bingung, mau cerita apa nanti buat anak cucu karena yg kini banyak adalah cerita tentang kerusakan dan bencana. sungguh bukan sebuah cerita yg indah.😥

    ***Merasakan yang sama dengan Pakacil, semoga masih ada harapan untuk cerita yang indah.

  5. Salam. Membaca Tulisan Sampeyan, saya seperti disedot oleh sesuatu. Tiba-tiba dah ada di hutan, dibelai ritmis dedaunan, angin, melihat binatang-binatang hutan…Anda seorang deskriptor ulung…

    ***Beribu salam kembali, terima kasih apresiasinya … semoga memberi suasana lain dari bilik sunyinya

  6. Ups..lupa..minta ijin tulisannya mau saya print. Terima Kasih.

    ***Silakan … dan kembali kasih.

  7. Keindahan dan ke asrian kini telah sirna..
    Nafaspun tersengal-sengal…

    Tangan – tangan itu telah marampasnya….
    Tangan – tangan itu telah mencabiknya…
    Keangkuhan itu telah menginjaknya…
    Keserakahan itu telah mengambilnya….
    Jiwa.pun akhirnya ternoda…

    Kembalikan alamku…seperti yang dulu….

    ***Senandung perlawanan … keserakahan harus dilawan.

    Senandung yang baik untuk pengantar tidur anak-anak banua sebagai perlawanan terhadap bentuk keserakahan … ayo senandungkan, agar generasi berikutnya mempunyai spirit untuk melawan.

    Boleh ya …

  8. Boleh🙂
    ……
    Selalu saja jika membaca tulisan tetang alam, ibarat menatap lukisan yg tak pernah mati.

    Apa mau dikata, tangan serakah manusia selalu saja menganiaya mereka.
    Tak paham kah manusia, bahwa mereka juga selalu rela berdampingan hidup dg siapa saja.

    Salam kenal teruntuk pd semua penghuni Borneo.

    ***Salam yang terhampar atas perkenalan ini, anggap saja rumah sendiri.

    Ya … kita bagian dari dunia yang satu ini, makhluk yang terkadang lebih cenderung membuat kerusakan. Namun, kita harus tetap berharap dan meyakini bahwa manusia yang diciptakan dalam sebaik-baik bentuk dengan fitrah kebaikan mau belajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: