AKADEMISI UNLAM JANGAN ASAL KRITIK ATAS KRITIK (Tanggapan Tulisan Zakhyadi Ariffin)


Oleh: HE. Benyamine

Sesama akademisi memang sepatut dan seharusnya saling ingat mengingatkan, dalam rangka menemukan kebenaran ilmiah dan pertanggungjawabannya dalam upaya melakukan kerja ilmiah. Para akademisi, dalam melakukan kritik, tentu mempunyai paradigma dan metode, yang memang harus berdasarkan data, sebagai kerja ilmiah dan adanya keberpihakan, yang memberi kesempatan kepada akademisi lainnya atau pihak yang dikritik untuk dapat melakukan sanggahan ataupun menyetujui dengan menambahkan hal-hal yang terlewatkan.

Harapan Zakhyadi Ariffin agar akademisi Unlam tidak asal kritik dalam tulisan Akademisi Unlam Jangan Asal Kritik (Sinar Kalimantan, 26 Desember 2008: 12), dapat dikatakan sebagai harapan terhadap diri sendiri, namun tetap layak didengar oleh para akademisi lainnya.

Dalam tulisannya, Zakhyadi Arifiin, mengemukakan beberapa pendapatnya tentang kritik yang dilontarkan dosen Unlam, Taufik Arbain dan Mukhtar Sarman, dalam beberapa kesempatan yang mengkritisi pemerintah daerah masa periode Rudy Ariffin tentang prestasi dan keberpihakan anggaran kepada masyarakat kecil/miskin, sebagai suatu asal kritik. Juga untuk mengingatkan para akademisi lainnya. Kritik atas kritik memang perilakunya akademisi, yang memperbesar peluang pada kebenaran ilmiah.

Tapi, menyatakan kritik seseorang sebagai asal kritik kemudian didekati dengan asal kritik, diharapkan tidak dilakukan lagi oleh sesama akademisi. Apalagi kritik tersebut berdasarkan data yang ada, yang memberi kesempatan bagi semua untuk membaca dan menyimpulkannya.

Sebenarnya asal kritik atas kritik dapat dilihat dari kesimpulan Zakhyadi bahwa IPM Kalsel yang ada sekarang merupakan hasil survei 2007, sehingga berpendapat tidak logis jika mengatakan IPM Kalsel yang ada sekarang hasil karya gubernur yang ada sekarang.

Memangnya gubernur dari tahun 2006 – 2007 (masuk dalam periode 2005 – 2010) tersebut siapa, apa ada yang lain, atau sama saja mengatakan gubernur pada tahun tersebut tidak melaksanakan pembangunan yang semestinya. Lalu mengatakan rendahnya IPM merupakan hasil karya periode sebelumnya, padahal gebernur sekarang mempunyai kesempatan untuk melakukan perubahan dan perbaikan terhadap pelaksanaan pembangunan hingga survei 2007 dilaksanakan.

Jika hingga survei 2007 dilaksanakan, hasil IPM Kalsel bukan karya gubernur (2005 – 2010), lalu kemana anggaran dalam APBD (tahun 2008 sebesar 1,3 triliun) yang setiap tahunnya terus mengalami peningkatan digunakan selama beberapa tahun tersebut. Padahal, melalui anggaran pembangunan dalam program pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan yang dapat memperbaiki IPM.

Hal ini bisa juga mengatakan bahwa dinas-dinas bawahan gubernur tidak mampu melaksanakan pembangunan sesuai target yang diharapkan, yang menunjukkan gubernur tidak dapat memilih aparatur pelaksana dengan tepat, lebih karena kedekatan saja. Atau, memang anggarannya benar tidak pro si miskin.

Kemudian tentang angka kematian bayi dan angka kematian neonatal, yang oleh Taufik Arbian masa gubernur 2R sekarang jauh lebih buruk dari masa gubernur Sjachriel Darham, sebagai salah satu penyebab terjerembabnya IPM Kalsel memang tidak mudah diperbaiki dan apa yang dikemukakan saudara Taufik berdasarkan data.

Untuk mencari pembenar dengan mengatakan bahwa hal tersebut berkaitan dengan budaya dan kesadaran masyarakat yang rendah, jelas cenderung asal dan mengabaikan perencanaan dan kerja, karena provinsi Kalteng sebagai tetangga dekat yang mempunyai kemiripan dalam berbagai hal ternyata dapat mengatasinya dan terus memperbaikinya sehingga dapat meninggkatkan IPMnya. Apakah benar kendala budaya dan lemahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kandungan dari awal kehamilan yang menyebabkan tingginya kematian pra kelahiran, atau sebenarnya pemerintah tidak mempunyai program dan perencanaan yang menjangkau masyarakat miskin.

Beberapa daerah memang memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat miskin, namun hal tersebut tidak diikuti dengan ketersedian fasilitas dan tenaga yang mendukung. Sehingga, masyarakat terkadang dilayani seadanya, dan membiarkan pasien harus antri yang cukup panjang untuk mendapatkan pelayanan.

Memberikan pelayanan kesehatan gratis harus diimbangi dengan kemampuan daya dukung fasilitas dan ketersediaan tenaga medis. Bahkan ada pasien yang pulang karena tidak mendapatkan tempat.

Begitu juga dengan pernyataan bahwa anggaran untuk upaya mengentaskan kemiskinan sebenarnya relatif sangat melimpah dibanding jumlah penduduk miskin. Sebagai bantahan atas kritik Mukhtar Sarman dalam mengkritisi APBD Kalsel 2008 yang berdasarkan telaahannya menemukan bahwa program untuk kepentingan rakyat miskin hanya berkisar 10 persen dari anggaran. Mukhtar Sarman juga mempertanyakan data kemiskinan, yang dapat menjadi rujukan dalam program pengentasannya, jelas terlihat bahwa kritik ini tidak asal, karena data kemiskinan tidak begitu jelas; namun BLT cukup tinggi.

Untuk mengkritisi telaahan Mukhtar Sarman, dengan tidak asal kritik, tentu harus menyodorkan data di mana saja anggaran yang melimpah tersebut, juga perbandingan dengan banyaknya jumlah penduduk miskin. Mungkin saja pembacaan Mukhtar Sarman salah, tapi jelas dia tidak hanya melihat anggaran yang langsung dinikmati masyarakat miskin pada Dinas Sosial dalam mambaca APBD. Nah, di sini diperlukan suatu pemahaman tentang anggaran itu sendiri, karena sebagian besar anggaran sangat sedikit untuk belanja pembangunan.

Pada program apa saja terdapat anggaran yang relatif sangat melimpah dibanding jumlah penduduk miskin, jika hanya mengatakan tersebar pada beberapa program, hal ini lebih cenderung dikatakan penyataan asal sebut.

Memangnya Kalsel mempunyai data jumlah penduduk miskin, sehingga dapat menjadi ukuran melimpahnya anggaran pro miskin. Ada beberapa data kemiskinan, tapi satu dengan yang lain berbeda, seakan tergantung kepentingannya.

Dengan asumsi bahwa anggaran pro miskin benar sangat melimpah, lalu mengapa tidak dapat meningkatkan IPM Kalsel, memangnya anggarannya mengalir kemana. Salah sasaran, yang ini harusnya menjadi pertanyaan gubernur terhadap dinas terkait, yang menunjukkan lemahnya tata kelola pemerintahan atau cenderung buruk.

Bahkan beberapa daerah ada yang mengalami gizi buruk, dan beberapa diantaranya meninggal dunia karena penanganannya sangat terlambat. Oleh karena itu, gubernur sudah sepatutnya mendengarkan suara akademis, bagaimanapun kerasnya kritik, hal tersebut tidak dapat menjatuhkan gubernur.

Kritik para akademis merupakan lentera bagi gubernur di tengah orang-orang sekelilingnya yang bisa saja asal bapak senang, apalagi gubernur memiliki APBD untuk menjawab semua kritik tersebut.

Jadi, adanya kritik dari sebagian akademis Unlam, yang dikemukakan dengan data dan penalaran, tidak dapat dikatakan sebagai asal kritik. Kritik tersebut dapat dibantah dengan mengemukakan data yang sama dengan bisa dilihat dari  penalaran yang berbeda, atau menampilkan data yang lebih valid dan terbaru.

Sehingga, kritik atas kritik benar-benar dapat menjadikan para akademis semakin bijak dan mempunyai penalaran yang lebih tepat. Kritik merupakan anak sah demokrasi yang bisa dilakukan siapa saja, yang perlu dikembangkan adalah bagaimana kita menjadi bijak dalam menerima kritik dan mengembangkan penerimaan yang lapang terhadap berbagai penalaran yang mungkin. Sehingga, kita tidak terjebak dalam asal kritik atas kritik.

Tulisan ini sudah dikirim ke redaksi@sinarkalimantan.com tanggal 26 Desember 2008.

4 Responses

  1. Ass.

    Bagi mayoritas kita, kritik (dalam hal apapun) masih sering dianggap sebagai sebuah penghinaan. Mereka yang tidak terbiasa dengan kritik akan menganggap para pengritik adalah kaum sinis yang hendak menjatuhkan nama baik orang lain.

    Kiranya tidak perlu adanya sikap saling benci, serta sikap-sikap negatif lainnya. Karena memang kewajiban kita untuk saling mengingatkan agar masing-masing dari kita sesuai dengan jalur yang ada.

    ***Waalaikum salam.
    Menerima kritik perlu kelapangan dan memperbesar pemahaman, yang seharusnya menjadi kecenderungan para akademisi, sebagai bagian yang menyatu untuk mengambil bagian yang benar dan baiknya.

    Benar Pak Taufik, kiranya tidak perlu adanya sikap saling benci dan sikap-sikap negatif lainnya, yang diharapkan menuju kebaikan bersama apalagi yang menyangkut kepentingan bersama.

    Tidaklah perlu sikap saling membenci atau sikap-sikap negatif lainnya, yang ada adalah sikap untuk selalu menjadi lebih baik.

  2. Akademikus memang di mana-mana melihat masalah sebagai sesuatu yang patut mendapatkan perhatian untuk kemudian dicarikan solusinya. Pemikiran ini yang kemudian menimbulkan kritik. Tentu akademikus berkewajiban untuk hal-hal demikian. Kritik akademikus biasanya juga dilandasi fakta dan data serta argumentasi. Jadi pihak-pihak yang menjadi sasaran kritik akademikus tidak perlu melihat kritik sebagai ancaman terhadap martabatnya. Barangkali perlu duduk bersama untuk mencari alternatif2 solusi terhadap masalah tersebut, bukan malah saling menyalahkan. Pada akhirnya akan ketahuan siapa yang bertanggung jawab terhadap munculnya masalah dan itu harus diakui secara ksatria (akuntabilitas pelayanan publik merupakan kewajiban para pejabat publik). Salam hangat buat mas Ben yang mengangkat topik ini.😀

    ***Setuju … agar suatu masalah dapat dicarikan pemecahannya, yang dibutuhkan kemauan mendengar dan jika ada benarnya dapat menjadi dasar untuk memperbaiki pelayanan publik tersebut, untuk kepentingan bersama.

  3. Satu kata; begitulah

    ***Begitulah!?? … memahami berarti memaafkan …..

  4. Terima kasih atas dukungannya.
    Begitulah seharusnya bahwa kritik akan membuka pemikiran kita untuk terus mencari kebenaran.
    Seyogyanya kawan-kawan di Sinar Kalimantan menerbitkan tulisan Kanda Benyamen HE.
    Salut saya terkesan dengan setiap tulisan kanda
    salam

    HEB : Terima kasih telah berkunjung. Tulisan di atas, karena Sinar Kalimantan tidak menerbitkan dalam waktu yang cukup lama, maka tulisan tersebut dikirim ke Koran Mata Banua dan diterbitkan pada tanggal 9 Januari 2009 halaman 10 dengan judul AKADEMISI UNLAM DAN BUDAYA KRITIK. Semoga sehat selalu, salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: