FAKULTAS KEHUTANAN UNLAM BAGAI LAHAN KRITIS (Tanggapan Tulisan Udiansyah, PhD.)


Oleh: HE. Benyamine

Beberapa tahun terakhir, Fakultas Kehutanan Unlam semakin tidak diminati sehingga menjadi fakultas yang kekurangan mahasiswa. Adapun mahasiswa yang diterima, terkesan seadanya atau dari pada tidak ada, sebagaimana terungkap dalam tulisan Kebangkitan Pendidikan Kehutanan di Kalsel oleh Udiansyah, PhD. (Banjarmasin Post, 29 Juli 2008: 4), yang sekaligus ingin membantah bahwa sarjana kehutanan Unlam sebenarnya mampu bersaing dengan yang lain dalam meraih peluang pekerjaan yang beragam, contohnya beberapa ada yang menjadi bupati yang merupakan lulusan Fakultas Kehutanan Unlam.

Ungkapan ini sebenarnya menunjukkan suatu gambaran bagaimana Fakultas Kehutanan Unlam, yang terkesan hanya mengarahkan mahasiswanya menjadi penebang pohon alam, seakan lulusannya tidak dipersiapkan sebagai sarjana kehutanan yang memandang hutan tidak hanya kayu belaka.

Seolah ada hubungan antara menciutnya hutan dengan sedikitnya yang berminat masuk Fakultas Kehutanan Unlam. Hal ini memberikan image yang kurang baik, yang tidak menggambarkan betapa pentingnya Fakultas Kehutanan Unlam (Tertua di Kalimantan), sehingga hanya tergambar betapa sempitnya ruang gerak lulusannya.

Keberadaan Fakultas Kehutanan Unlam sebenarnya menjadi sangat penting, karena keberadaan hutan Kalimantan semakin mengalami degradasi, bahkan ada yang mengarah pada penggurunan.

Di samping itu, isu internasional tentang climate change yang sebagian besar berhubungan dengan masalah hutan dan kehutanan, sesungguhnya memberikan peluang yang besar bagi lulusan fakultas kehutanan untuk dapat berperan aktif. Keberadaan sarjana kehutanan, yang berkompeten dalam bidang hutan dan kehutanan, semakin dibutuhkan baik dalam skala lokal maupun internasional dalam berbagai bentuk kegiatan dan mengisi peluang kerja yang berhubungan dengan bidang tersebut.

Fakultas Kehutanan Unlam perlu melakukan suatu perubahan yang mendasar tentang paradigma dalam memandang hutan, karena lulusannya sangat diharapkan dapat lebih luas dalam memandang hutan, yang berarti juga berubahnya bagaimana sistem kurikulum dan pengajaran di fakultas tersebut.

Paradigma dalam memandang hutan yang cenderung hanya menampakkan kayu dan industrinya, berakibat terlalu sempitnya paradigma lulusannya, sebagaimana nilai kayu dalam hutan tidak lebih dari 5 persen daripada nilai hutan sebenarnya.

Jika lulusannya lebih diarahkan pada cara pandang kayu saja terhadap hutan, maka peluang yang mereka dapatkan dalam meraih lapangan kerja memang tidak lebih dari yang 5 persen tersebut.

Padahal, Non Timber Forest Products (NTFPs) mempunyai peluang dan nilai tambah yang sangat menjanjikan dan lebih sedikit gangguannya terhadap keberadaan hutan sebagai penyangga kehidupan.

Oleh karena itu, sangat ditunggu penyusunan ulang kurikulum Fakultas Kehutanan Unlam sebagaimana yang diungkapkan Udiansyah, yang tentunya dengan paradigma yang lebih menempatkan hutan secara utuh.

Bagaimanapun sosialisasi yang dilakukan oleh Fakultas Kehutanan kepada sekolah menengah, jika masih saja berada dalam paradigma yang sempit dan seakan tidak mempunyai harapan lebar dalam lapangan kerja, maka input calon mahasiswa yang lebih besar tidak akan tercapai.

Di samping itu, keberadaan alumni Fakultas Kehutanan Unlam diharapkan dapat berperan dalam melakukan sosialisasi tentang hutan dan kehutanan dengan pandangan utuh terhadap keberadaan hutan. Pemberian beasiswa sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan peningkatan minat calon mahasiswa untuk mengambil Fakultas Kehutanan, tapi lebih karena alasan yang lain. Saat ini, Fakultas Kehutanan Unlam bagai lahan kritis yang terlantar dan belum ditanami.
Sebenarnya, Fakultas Kehutanan Unlam mempunyai kesempatan yang sangat besar dalam memperoleh input calon mahasiswa, bila berani melakukan terobosan terhadap keberadaan fakultas dan mahasiswanya, selain perubahan paradigma dalam memandang hutan.

Dengan melakukan kerja sama dengan pemerintah daerah/kota di Kalsel dalam pembangunan hutan kota di masing-masing daerah. Kebutuhan hutan kota bagi kabupaten/kota sudah merupakan suatu keharusan, yang berarti peluang bagi lulusan untuk langsung mendapatkan pekerjaan.

Begitu juga, Fakultas Kehutanan (atau IKA Fakultas Kehutanan Unlam) dapat bekerja sama dengan perusahaan pertambangan dalam kegiatan pasca tambang, bisa sebagai subkontrak dalam reklamasi dan penghijauan, atau pengelolaan lahan pasca tambang. Bayangkan saja, jika ada 10 perusahaan pertambangan saja yang bersedia, berapa tenaga ahli kehutanan yang dibutuhkan, apalagi bila bisa lebih banyak.

Selain itu, Fakultas Kehutanan Unlam dapat menjadi pioner dalam perkebunan ulin atau pengembangan sistem agroferestry di Kalsel. Pertumbuhan diameter pohon ulin yang kurang lebih hanya 1 cm per tahun, diperlukan sistem estafet dalam pengelolaannya, yang dapat dilakukan oleh fakultas sebagai suatu institusi dengan menggandeng lembaga donor.

Dalam pengelolaannya tentu saja melibatkan mahasiswa sebagai pekerja magang dan tempat praktek sekaligus sebagai bagian pemilik perkebunan tersebut. Setiap pemilik mempunyai sertifikat, yang memberikannya hak untuk menjual sertifikat tersebut atas persetujuan fakultas.

Mahasiswa yang telah lulus, lebih kurang 5 tahun terlibat mengelolanya, dapat menjual sertifikat tersebut dengan nilai perhitungan pertumbuhan pohon ulin, atau dapat pula meneruskan sebagai investasi jangka panjang.

Sehingga, Fakultas Kehutanan Unlam dapat menjadikan lahan kritis yang berubah menjadi hijau, dengan tumbuhnya harapan calon-calon mahasiswa yang ingin menjadi bagian fakultas ini.

3 Responses

  1. Ide bagus, perlu pemenejejan yahud, kali Mas. Dan, hasil nyata keilmuan ‘membangun’ hutan secara ril. Insya Allah akan diburu dan bermanfaat langsung. Saya yakin teman-teman di FHut mampu. Kita nanti aja. Apalagi, khususnya Kalsel hutannya rusak begini. ‘Ramalan’ Tusnami Banjar mogaan hanya mimpi menakutkan.

    ***Terima kasih apresiasinya. Ya, semoga ramalan “tsunami lembut” hanya fiksi yang memberikan peringatan dini.

  2. Postingan yang kritis-konstruktif! Memang perlu terobosan yang radikal untuk menyelamatkan hutan kita yang dinina-bobokkan sebagai paru-paru dunia. Dalam pandangan saya yang awam intelektual kehutanan kita masih kalah (atau mengalah?) dengan penjahat lingkungan. Sehingga, banyak orang, ibaratnya, menangis darah jika berbicara tentang kerusakan hutan. Seakan-akan itu merupakan cerminan bahwa kita bodoh, jahat, dan rakus sebab tidak menyelamatkan hutan kita yang amat berharga untuk kelangsungan hidup manusia yang mulia. Kinilah saat bangkitnya para rimbawan untuk mengelola hutan dengan cantik, yakni mengomodifikasi hutan tanpa merusak kelestariannya. Semoga!

    ***Kerusakan hutan … menjadi kepedulian kita semua karena merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri. Benar, jangan sampai kerusakan hutan sebagai cerminan kehidupan kita yang seakan hanya bisa melakukan kerusakan di muka bumi ini. Ya … telah nampak kerusakan …

  3. Persoalan menurunnya minat calon mahasiswa terhadap bidang kehutanan ini tidak bisa diatasi oleh institusi terkait seperti perguruan tinggi, tapi juga harus dapat diatasi oleh stakeholder – stakeholder terkait.

    Yakinkan calon mahasiswa bidang kehutanan tetap prospektif.

    Alumni Fahutan harus dapat perperan signifikan terhadap pembangunan kehutanan di banua.

    Ada kecenderungan trend degradasi hutan harus dapat di dijawab oleh Fakultas Kehutanan dengan pendekatan-pendekatan yang komprehensif. Jangan sampai kita digugat oleh anak cucu kita nanti.

    ***Ada harapan yang besar terhadap keberadaan Fak. Kehutanan Unlam (tertua di Kalimantan) untuk berperan aktif dalam menyelamatkan hutan dan memanfaatkan berdasarkan paradigma lestari dan ramah lingkungan. Fak. Kehutanan harus dianggap sebagai aset masyarakat yang perlu mendapat dukungan dari berbagai pemangku kepentingan terhadap kelestarian hutan dan pemanfaatan yang optimal untuk kesejahteraan bersama dan berkeadilan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: