BUKU TEKS PELAJARAN


Oleh: HE. Benyamine

Setiap tahun ajaran baru cenderung dibarengi dengan buku pelajaran baru. Buku-buku tersebut berasal dari penerbit-penerbit yang terkenal dan sudah berpengalaman dalam memenuhi kebutuhan akan buku teks pelajaran, terutama dari pulau Jawa.

Buku teks pelajaran, yang sebenarnya sebagai buku pendamping dalam proses belajar, oleh berbagai alasan menjadi buku wajib bagi setiap murid untuk memilikinya.

Penerbit-penerbit yang punya nama sangat siap dalam menyesuaikan dengan kebijakan pemerintah dalam hal sistem dan kurikulum, mereka siap dengan KBK juga siap dengan KTSP, dan entah apa lagi nantinya.

Penyediaan buku pendamping, buku teks pelajaran, merupakan bisnis perbukuan yang sangat potensial dalam meraih keuntungan. Bahkan ada guru yang kebagian rejeki karena pilihannya dalam penggunaan buku dari penerbit tertentu.

Guru tidak patut disalahkan dalam hal ini, karena sistem cenderung mengarahkan dan memberikan jalan untuk melakukan hal itu, apalagi penerbit dengan jaringannya begitu tekun dalam melakukan pendekatan dengan menjanjikan keuntungan yang nyata.

Kebutuhan buku pendamping proses belajar merupakan peluang bisnis yang menjanjikan. Peluang ini sebenarnya memberikan kesempatan kepada guru, dosen dan universitas yang ada di daerah ini untuk meningkatkan kompetensi sekaligus memperoleh keuntungan finansial mereka, yang akan diiringi berkembangnya bisnis penerbitan buku, setidaknya untuk kebutuhan buku pendamping tersebut.

Banua ini, paling tidak, mempunyai FKIP Unlam dan Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari, yang sudah seharusnya merupakan institusi berkompeten dalam hal ini. Mereka mempunyai banyak ahli pendidikan, calon pendidik, dan kelembagaannya. Potensi yang mereka miliki tentu sangat mubazir bila tidak digunakan dan dimanfaatkan secara optimal, apalagi potensi tersebut merupakan kompetensi yang ada dalam diri dan institusi mereka.

Penghinaan namanya, jika membiarkan mereka menjadi penonton saja, sementara mereka sebenarnya mempunyai kompetensi dalam membuat buku teks pendamping dalam proses belajar sama dengan yang datang dari penerbit dan pengarang dari luar daerah ini.

Bayangkan saja, untuk buku teks pendamping pelajaran sekolah dasar, kelas satu saja, buku pendamping yang digunakan berasal terbitan luar daerah. Seandainya, guru-guru SD yang sudah puluhan tahu mengajar tersebut diberikan kesempatan dan dimotivasi untuk membuat buku, tentu mereka mampu.

Hanya saja, kebiasaan meremehkan potensi guru-guru tersebut yang lebih dominan, yang sangat jelas terlihat dari kurangnya kebijakan pemerintah daerah dan dinas terkait dalam memfasilitasi berkembangnya potensi tersebut, sehingga lama kelamaan bukunnya peningkatan kompetensi malah potensinya yang terkubur.

Bila saja guru-guru tersebut didukung dengan kebijakan yang menghargai kompetensi mereka, maka mereka akan semakin dapat meningkatkan kompetensi dan sekaligus memberikan peluang untuk mendapatkan tambahan penghasilan dari kompetensi yang mereka miliki, bukan hanya sekedar sebagai sales tidak resmi penerbit.

Jadi, peluang kebutuhan buku teks pelajaran harus dimanfaatkan oleh potensi daearh; guru, dosen, dan institusi yang ada di banua. Kebijakan pemerintah daerah melalui dinas terkait harus menunjukkan polical will dalam memfasilitasi dan mendorong potensi tersebut sehingga daerah ini tidak perlu lagi menggunakan buku teks pelajaran dari daerah lain.

Kebijakan yang mendukung berkembangnya kompetensi guru, dosen dan institusi pendidikan daerah melalui penerbitan buku teks pelajaran dari hasil karya mereka secara tidak langsung akan meningkatkan mutu pendidikan daerah.

Pemerintah pusat yang menentukan garis besar kurikulum, pemerintah daerah yang menentukan kebijakan berpihak pada penerbitan daerah, dan guru, dosen, institusi pendidikan yang menyediakan materi-materi untuk buku teks pelajaran.

Apalagi, menurut Tim Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, tidak semua buku yang beredar, isinya layak digunakan dalam proses pembelajaran. Peluang ini harus dimanfaatkan, dan dimulai dari sekarang, jika ingin pendidikan daerah dapat lebih berkembang dan maju.

Karena, dengan terlibat dalam pembuatan buku, tentu guru, dosen, dan institusi yang terkait akan menjadi lebih terlibat dalam perkembangan pendidikan yang lebih berkualitas, yang membuat mereka semakin bermartabat.

Penerbitan buku teks pelajaran dapat dilakukan melalui sistem kompetesi yang diselenggarakan dinas pendidikan daerah atau institusi yang ditunjuk, yang mengajak semua guru, dosen, dan lembaga pendidikan untuk mengirimkan naskah buku untuk dipilih menjadi buku teks pelajaran yang akan digunakan seluruh sekolah di Kalsel.

Pada tahap pertama, mungkin dapat dimulai dari tingkat sekolah dasar atua SD, yang harus menggunakan buku teks pelajaran dari hasil seleksi tersebut, paling tidak direkomendasikan oleh pemerintah daerah. Bila hal ini sudah berjalan dengan baik, maka dapat dilanjutkan pada tingkat sekolah menengah pertama atau SMP.

Buku teks pelajaran yang dipilih bisa lebih dari satu per mata pelajaran, sehingga ada pilihan bagi sekolah yang menggunakannya, tapi tetap berdasarkan buku teks pelajaran hasil seleksi tersebut.

Hal ini dapat membuat penerbitan daerah berkembang, pengarang pemilik hak cipta dapat penghasilan, dan pengalaman sebagai produsen buku yang dapat menjadi pijakan dalam melangkah selanjutnya agar lebih percaya diri terhadap potensi warga daerah sendiri.

Potensi universitas di Kalsel sudah sepatutnya dihargai dan dimanfaatkan oleh pemerintah daerah, karena potensi yang tidak dihargai dan dimanfaatkan akan menjadi beban daerah saat sekarang dan yang akan datang.

Seperti Unlam yang ditunjuk pemerintah dalam melaksanakan sertifikasi guru Kalsel, menunjukkan bahwa Unlam sudah selayaknya digandeng oleh pemko, pemkab, dan pemprov dalam memajukan pendidikan di daerah ini, salah satunya harus adanya kebijakan pemerintah dalam pengembangan buku teks pelajaran yang berasal dari potensi daerah sendiri. Begitu juga dengan institusi pendidikan lainnya, khususnya perguruan tinggi yang ada di Kalsel.

7 Responses

  1. Tulisan bagus. Saya lagi memprovokasi guru menulis, Insya Allah tahun ini gerakan tersebut. Pertama dicoba dimana mahasiswa menulis buku ajar sendiri, Pengantar Antropologi, bisa. Terpamp[ang di TB Gramedia Duta Mall. Mudahan guru juga. FKIP, nah itu dia. Patut didiskusikan. Salam.

    ***Betul Pak, mahasiswa aja jika diberi kesempatan dan dibukakan peluangnya bisa menulis buku. Sayangkan guru-guru (dosen) yang setiap hari mengajar belum tersalurkan dan termotivasi untuk membuat buku, biar penerbitan daerah bergairah dan membangun budaya baru.http://www.webersis.com

  2. Betul pak, saatnya untuk bergerak, jangan cuma jadi penikmat buku ajar buatan orang. Saatnya orang banua juga membuat buku ajar yang berkwalitas, agar daerah kita tidak dianggap remeh dalam pendidikan. Buktikan orang banua juga bisa. Semangat.

    ***Terima kasih telah mampir, salam.

    Ya … semangat.

  3. Bukannya lebih baik diberi materi (secara national), sedangkan para guru silahkan mengambil dari mana saja untuk menyajikan materi itu. Mungkin mereka bisa menyusun sendiri dengan beberapa refernsi tentunya.

    ***Benar mBak, materi secara nasional. Mereka sebenarnya bisa menyusun sendiri dengan beberapa referensi, ini yang perlu terus didorong. Sekaligus untuk meningkatkan kompetensi guru dengan menyusun materi sendiri tersebut.

  4. Yup pak…. Buku teks pelajaran perlu ditingkatkan lagi distribusinya, terutama di daerah pelosok kalsel yang terisolir…

    Berdasarkan pengamatan saya ke daerah2 terpencil di Kalsel, sungguh miris saya melihat pola pendidikan yang ada…

    Lebih2 untuk buku teks saja jumlahnya tidak sebanding, bahkan banyak yang “expired”….

    Maaf pak baru bisa kesini, kemaren lagi berada di sebuah desa di Barabai…

    ***Wah … ternyata di desa, tentu banyak pengalaman yang bisa dituliskan. Apa berhubungan dengan tugas kuliah … selamat kembali.

  5. Semoga tulisan ini menggugah teman-teman Guru, dosen FKIP Unlam, atau pun dosen Fak. Tarbiyah IAIN Antasari untuk memanfaatkan peluang membuat buku teks. Saya kira di antara mereka banyak yang memiliki kapasitas untuk itu. Mungkin mereka perlu “dikompori” lagi dari institusi mereka masing-masing, pemda (Dinas Pendidikan), penerbit lokal, misalnya. Selamat merebut peluang. Sukses selalu.😀

    ***Ya … mereka banyak yang memiliki kapasitas untuk itu, dan sayang bila kapasitas yang ada tersebut kehilangan peluang. Semoga mereka berminat dan terdorong untuk mengisi peluang ini.

  6. Salam kenal dari ratu
    from situs novel online bergenre drama romantis berjudul Tanda Mata
    Terakhir beralamat di http://ratucinta.wordpress.com
    komentar ratu
    ini langkah penting untuk memajukan pendidikan di daerah
    dari salah satu mahasiswa di Riau

    HEB : Terima kasih telah mampir. Ya, langkah penting yang harus dilakukan oleh semua pemangku kepentingan yang ada di daerah.

  7. CV. INDORIAU ikut berpartisipasi mensukseskan program Buku Murah dari Pemerintah khususnya DEPDIKNAS dalam rangka pelaksanaan BOS BUKU Tahun 2009 berdasarkan Surat Edaran DirJen DikDasMen No.188/C.C3/TU/2009 Tanggal 12 Januari 2009.
    Untuk pengadaan Buku Murah BSE (Buku Sekolah Elektronik) kepada Sekolah SD/MI & SMP/MTs penerima Dana BOS BUKU Tahun 2009 di seluruh Indonesia.
    CP. By WILLY (0761) 7627788

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: