INVESTMENT AWARD 2008: HARAPAN YANG MENYEDIHKAN


Oleh: HE. Benyamine

Koran lokal dipenuhi dengan ucapan selamat atas berbagai penghargaan yang diterima kepala daerah kabupaten/kota dan provinsi. Terutama ucapan dari instansi/lembaga yang merupakan bagian dari pemerintahan itu sendiri, seakan mereka tidak termasuk bagian dari keberhasilan tersebut yang sebenarnya merupakan bagian dari penerima ucapan selamat itu.

Berapa anggaran yang dikeluarkan untuk mengucapkan selamat kepada diri sendiri, yang selayaknya tidak perlu dibudayakan, lebih baik anggaran tersebut digunakan untuk membantu masyarakat yang masih kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokok, paling tidak keluarga yang mengalami gizi buruk di daerah masing-masing.

Penghargaan merupakan pengakuan atas suatu prestasi dalam bidang tertentu, setidaknya berdasarkan sudut pandang pemberi penghargaan tersebut. Sedangkan, apakah penghargaan tersebut mempunyai korelasi positif dengan kenyataan di lapangan, atau berkesesuaian dengan realitas dari bidang yang dimaksud, memang tidak ada jaminan.

Bisa saja keadaannya hanya sesuai pada bagian kecil bidang tersebut dan pada lingkaran sempit dalam realisasinya, selebihnya tidak bersinggungan dengan peningkatan kesejahteraan bersama.

Setelah sudah mulai reda promosi oleh penerima atas penghargaan dan mulai berhadapan dengan kenyataan, maka merupakan saat yang baik untuk mulai melihat dan memperhatikan kembali kebanggaan yang dipromosikan tersebut. Karena, cukup aneh penerima penghargaan begitu bersemangat dalam mempublikasikan penghargaan yang diterimanya, seolah penghargaan tersebut tidak cukup menjelaskan atas prestasi yang diraihnya.

Penghargaan “Investment Award 2008” yang diterima gubernur Kalsel Rudy Ariffin sebagai daerah dengan investasi terbaik sepanjang tahun 2008 pada posisi ke-3 setelah Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Jawa Tengah, patut dijadikan pendorong untuk terus meningkatkan iklim investasi yang kondusif dan lebih beroreintasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang lebih luas dan proposional.

Penghargaan dari BKPM yang mendasarkan pada harapan bahwa setiap realisasi investasi baru harus meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat hingga mencapai kemandirian yang lebih mantap, harus mampu mencegah kerusakan lingkungan dan juga mendorong pemeliharaan dan pengembalian fungsi lingkungan, dan menyediakan lapangan kerja dan lingkungan kerja yang baik serta berjenjang karir.

Penghargaan dalam bidang investasi, selain memberikan kebanggaan dan harapan juga mengungkapkan data tentang bidang investasi yang memunculkan kekhawatiran dalam realisasinya. Sebagian besar investasi yang masuk ke Kalsel, sebanyak 41 perusahaan PMA dan PMDN yang berminat menanamkan investasinya di wilayah Kalsel, didominasi sektor pertambangan dengan penunjangnya dan sektor perkebunan skala besar khusunya kelapa sawit, yang tentunya sangat berhubungan dengan pemanfaatan sumberdaya alam yang memang tersedia yang akan  terjadi perubahan bentang alam yang sangat luas.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) dan Kawasan Perekonomian Terpadu (KAPET) Provinsi Kalsel (www.kalselprov.go.id) menunjukkan peningkatan jumlah perusahaan PMA dan PMDN yang masuk ke Kalsel dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2008, total investasi PMA mencapai US$164 juta dan menyerap tenaga kerja mencapai 4077 orang, dan PMDN berinvestasi Rp.723,7 miliar yang menyerap tenaga kerja mencapai 708 orang.

Di sini terlihat bagaimana investasi yang besar, tenyata hanya menyerap tenaga kerja sangat sedikit, tentu tidak memberikan harapan terhadap peningkatan kesejahteraan bagi sebagian besar masyarakat.

Padahal tahun 2007, investasi yang masuk, baik PMDN maupun PMA baru bisa menyerap tenaga kerja sebesar 5,60% atau sekitar 85 ribu orang dari jumlah tenaga kerja Kalsel sekitar 1.598.981 orang. Berdasarkan penyerapan tenaga kerja pada tahun 2007 yang masih menyisakan 94,40% tenaga kerja, ditambah penyerapan tenaga kerja tahun 2008 yang lebih kecil lagi, ternyata investasi yang banyak dan besar tidak mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak seiring dengan peningkatan investasi dari tahun ke tahun.

Investasi yang padat modal dengan usaha utama eksploitasi sumberdaya alam, khususnya pertambangan yang hanya menjual, sangat berpotensi untuk ditinggalkan begitu saja oleh pemodal dengan menyisakan berbagai masalah; contohnya PT. Galuh Cempaka yang menghentikan operasinya.

Kebanggaan gubernur Kalsel atas Investment Award 2008, perlu diimbangi dengan kesadaran bahwa investasi yang masuk didominasi usaha eksploitasi sumberdaya alam dengan penyerapan tenaga kerja yang sangat rendah dan resiko kerusakan alam yang besar.

Jadi meningkatnya investasi berarti meningkatnya jumlah usaha baru dan menyerap tenaga kerja atau mengurangi tingkat pengangguran, seperti iklan Pemprov Kalsel, memang benar. Namun dalam konteks Kalsel, dengan dominasi investasi pertambangan, iklan tersebut benar dalam proporsi yang sangat kecil.

Mungkin, seandainya gubernur tidak melakukan apapun atau gubernurnya bukan Rudy Ariffin sekalipun, investasi jenis ini tetap akan masuk ke Kalsel sebagaimana pepatah ada gulu ada semut.

Di samping itu, investasi dalam pertambangan dan perkebunan kelapa sawit, selama ini, masih banyak menyisakan permasalahan di daerah, baik dari segi lingkungan hidup dan kerusakan bentang alam maupun sosial budaya.

Apalagi, keberadaannya tidak mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat di mana perusahaan tersebut beroperasi, malah yang terjadi ada sebagian masyarakat yang mengalami gangguan terhadap mata pencaharian mereka dan sebagian besar masyarakat mendapat berbagai bencana yang terus menghantui kehidupan.

Bagaimana peningkatan investasi tersebut berkaitan dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat? Sebagaimana iklan Pemprov Kalsel, yang meyakini sangat erat kaitannya, karena apabila orang memiliki pekerjaan sama dengan membuat orang sebagai anggota masyarakat atau suatu keluarga memiliki pendapatan, sebenarnya merupakan pandangan yang sangat menyederhanakan suatu persamaan logika dengan pembulatan dan pengabaian berbagai variabel. Iklan tersebut tidak menunjukkan seberapa besar penyerapan tenaga kerja, yang kaitannya dengan seberapa besar orang atau keluarga yang akan memiliki pendapatan.

Sehingga hanya logika saja yang benar, tapi realisasinya sangat terbatas dan masih menyisakan lebih banyak orang atau keluarga yang kesulitan dalam pendapatan. Masih banyak yang kehilangan kesempatan memiliki pendapatan, karena investasi yang dominan hanya membutuhkan tenaga kerja yang sangat sedikit.

Memperhatikan investasi yang masuk, didominasi usaha pertambangan, kebanggaan tersebut juga diikuti kecemasan dan kekhawatiran terhadap semakin meningkatnya kerusakan alam, pencemaran lingkungan hidup, tersingkir dan tergusurnya masyarakat di sekitar lokasi dan terkurasnya sumberdaya tambang, yang nantinya hanya menyisakan dan membebankan berbagai bencana kepada sebagian besar masyarakat Kalsel.

Hasil usaha pertambangan saat ini saja hanya dinikmati oleh segelintir orang, yang sangat mendorong lebarnya jurang pendapatan masyarakat. Segelintir orang menikmati pendapatan yang melimpah, sementara sebagian besar masyarakat memiliki pendapatan rendah dan diharuskan berhadapan dengan bencana yang setiap saat terus mengancam.

Pertumbuhan ekonomi tentu terlihat terus meningkat, dengan desparitas pendapatan yang begitu lebar, yang berarti kesejahteraan hanya dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat saja.

Memang benar, sebagaimana iklan Pemprov Kalsel, bahwa meningkatnya investor berarti meningkatnya aktivitas perekonomian dan bergeraknya faktor-faktor produksi, yang terus mendorong pertumbuhan ekonomi lebih baik. Untuk konteks Kalsel, hal ini berarti segelintir orang menikmati sebagian besar pertumbuhan ekonomi tersebut, dan membiarkan sebagian besar masyarakat tetap seperti sebelum masuknya investasi tersebut, dengan pengecualiaan ada yang kecipratan serpehan kue pertumbuhan. Bahkan mungkin, sebagian besar  bisa mengalami penurunan kesejahteraan karena selalu berhadapan dengan berbagai bencana.

Dibandingkan dengan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang menyabet juara pertama kategori provinsi terbaik bagi penanam modal, sangat berbeda dalam hal investasi yang masuk dengan Kalsel, yang tentunya memberikan harapan kepada masyarakat dan tidak meninggalkan beban bencana. Karena Sulawesi Utara, lebih didominasi dengan potensi investasi dari sektor pariwisata dan agro industri.

Oleh karena itu, penghargaan Investment Award 2008 bagi Kalsel, belum bisa dijadikan ukuran bahwa Pemprov Kalsel telah berupaya dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Tapi lebih mengarah pada harapan yang menyedihkan dan mengkhawatirkan bagi generasi berikutnya.

Sebaliknya penghargaan ini lebih menyadarkan masyarakat Kalsel, untuk terus mendorong pemerintah daerah untuk lebih bekerja keras dalam upaya meningkatkan investasi yang padat karya.

Hal ini juga tidak memperlihatkan kepiawaian gubernur Rudy Ariffin dalam menciptakan kondisi yang kondusif, karena investasi yang masuk lebih berhubungan dengan kekayaan sumber daya alam (SDA) yang masih banyak dan memang diminati para investor.

Investasi yang padat modal dengan incaran sumberdaya alam, harus mendapatkan pengawasan yang ekstra ketat, karena berpotensi melakukan kerusakan alam dan meninggalkan bencana dan nantinya mengarahkan daerah Kalsel menjadi “daerah hantu”, dengan kota-kotanya menjadi “kota mayat” (necropolis).

Harapan yang menyedihkan dan mengkhawatirkan, karena investasi masuk ke Kalsel yang didominasi pertambangan, lebih mengarah kepada eksploitasi dan pengerukan sumberdaya alam yang ada, yang selama ini berlangsung ternyata tidak memberikan hasil yang sebanding dengan terus berkurangnya sumberdaya alam tersebut.

Berapa banyak kekayaan alam Kalsel yang diangkut keluar, tapi hingga saat ini tidak mampu menjadikan masyarakat Kalsel lebih sejahtera. Jadi, sebenarnya apa yang dikerjakan pemerintah daerah saat ini.

One Response

  1. ….mendingan kitamulai perbaikan dari diri sensdiri mas jangan berharap sama orang lain……..eh…ada jurus “ANTI STRESSS”…..di sebelah…

    ***Terima kasih mau mampir, anggap rumah sendiri, maaf suguhannya seadanya.

    Benar sekali, mulai perbaikan dari diri sendiri. Berharap sama orang lain juga tidak salah karena semua orang pada dasarnya cenderung pada kebaikan.

    Boleh juga jurus “anti stresss”, paling tidak nambah koleksi jurus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: