BUDAYA BANJAR: PERLU TAFSIRAN KREATIF DAN ADAPTIF


Oleh: HE. Benyamine

Eksploitasi sumberdaya alam Kalimantan lebih cepat dari perubahan kebudayaan adaptif. Kebudayaan material mengalami perubahan sangat cepat. Perubahan tersebut menyebabkan ketidakharmonisan di antara unsur-unsur kebudayaan.

Perubahan salah satu unsur kebudayaan memerlukan penyesuaian unsur yang lain. Sumberdaya hutan sudah mulai langka, sementara kebudayaan adaptif belum terlihat. Pertambangan batu bara lebih mempercepat terjadinya perubahan kebudayaan material tersebut, di mana-mana perubahan bentang alam terlihat dengan kasat mata dalam skala yang sangat luas.

Perubahan kebudayaan material yang dipicu oleh eksploitasi sumberdaya alam perlu mendapat perhatian semua pihak. Kongres Budaya Banjar I memberikan angin segar dan kesempatan dalam menentukan kebudayaan adaptif, karena perubahan kebudayaan sedang dan terus berlangsung di tanah urang Banjar ini.

Mengikuti pemberitaan Kongres Budaya Banjar I di koran-koran daerah saat kongres berlangsung  terasa begitu sangat terbatas, beritanyapun berkisar antara kangen-kangenan dan kenangan para peserta tentang banua.

Apa yang menjadi pembahasan kongres tidak menjadi liputan yang khusus, pemberitaannya lebih sebagai selayang pandang saja. Koran-koran daerah lebih banyak menempatkan berita kongres dari sudut peserta tentang kenangan dan perasaannya, apalagi dari mereka yang madam ke daerah lain, seperti Malaysia.

Kongres Budaya Banjar I lebih bernuansa pra kongres, yang lebih menempatkan silaturahmi dan pulang kampung sebagai sajian utama. Kongres Budaya Banjar I semestinya mendapatkan porsi yang besar dari koran-koran daerah dalam liputannya.

Sangat pantas sebagai headline berita koran daerah dan liputan khusus tentang berbagai materi bahasan dalam kongres tersebut. Liputan tentang seni musik dan tari lebih menampilkan sudut pertunjukkannya, yang semarak dengan keunikan dan kekhasannya, sehingga kongres lebih berkesan gelaran pertunjukan kesenian Banjar.

Mereka yang terlibat dalam kongres sudah paham bahwa seni musik dan tari hanya bagian dari budaya, yang tidak semestinya menutupi sisi-sisi lain dari budaya yang sedang dibahas dan ditinjau kembali dari berbagai sudut, terutama tantangannya.

Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat menghendaki penyesuaian sikap dan perilaku. Budaya Banjar, sebagaimana budaya lainnya, tentu mempunyai sisi keterbukaannya dalam menerima perkembangan zaman, yang memungkinkannya melakukan penyesuaian tanpa terlalu banyak menggangu kemapanannya.

Budaya Banjar harus dipandang sebagai sesuatu yang dinamis, yang mengenal proses tanggapan terhadap perubahan yang terjadi, jadi bukan sesuatu yang stagnan dan statis. Tangapan terhadap perubahan inilah yang perlu dipikirkan strateginya.

Hal ini sangat sulit ditemukan dalam (pemberitaan) Kongres Budaya Banjar I, sehingga kongres lebih melihat budaya Banjar sebagai suatu budaya yang perlu dipertahankan keberadaannya, yang selanjutnya dimuseumkan. Tentu tidak demikian tujuan dari kongres tersebut.

Budaya Banjar berupa warisan budaya tersebut perlu mendapatkan tafsiran-tafsiran yang kreatif dan adaptif, sehingga tetap mempunyai makna bagi kehidupan masyarakat saat ini. Penafsiran warisan budaya tersebut haruslah mampu memberikan harapan, rasa kebanggaan dan keyakinan dalam mencapai kesejahteraan bersama.

Permasalahan yang dihadapi banua ini, juga dihadapi oleh budaya-budaya lainnya, perubahan terhadap manusianya, lingkungannya, peralatan atau teknologinya, dan masyarakatnya sendiri. Manusia Banjar telah berkenalan dengan berbagai sikap dan perilaku di luar budaya Banjar, yang tentu mempengaruhi pilihan budaya dalam kehidupannya.

Perubahan lingkungan hidup yang begitu cepat; dari hutan menjadi lahan kritis, dari hamparan lahan hijau menjadi danau raksasa, dan dari udara bersih menjadi udara penuh debu batu bara. Peralatan dan teknologi yang berasal dari budaya Banjar seperti ketinggalan jaman, terlalu bernilai “barang antek” untuk digunakan pada zaman sekarang.

Rekomendasi Kongres Budaya Banjar I tentang Perda Rumah Adat Banjar seakan mengamini anggapan teknik/arsitektur rumah adat Banjar sudah tidak layak dalam lingkungan Banjar yang baru. Kesannya hanya melestarikan warisan budaya, dengan “memaksa” pembangunan fasilitas publik dan pemerintahan menggunakan arsitektur adat Banjar, minimal menimpilkan ornamen-ornamen khas hasil karya warisan budaya Banjar tersebut.

Pembahasan arsitektur rumah adat Banjar sebagai suatu teknologi yang tepat dan sehat, yang merupakan tanggapan terhadap faktor-faktor lingkungan dan iklim di banua, seperti tidak mendapatkan tempat analisis yang memadai dalam kongres. Arsitektur rumah adat Banjar (bisa dimodifikasi) sangat tepat dalam mengatasi faktor kelembaban udara dan curah hujan yang tinggi, mempunyai sistem sirkulasi udara yang baik, dan sistem pencahayaan yang baik, sehingga lebih tepat dikatakan sebagai rumah sehat.

Rekomendasi Kongres Budaya Banjar I terkesan menempatkan budaya Banjar sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan karena bernilai “antek dan khas etnik”, dengan “menguburkannya” dalam museum, dan menjadikan pelajaran sejarah bagi generasi berikutnya.

Budaya Banjar seharusnya ditempatkan sebagai budaya yang masih hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat banua ini. Perubahan-perubahan dalam budaya urang banua karena mobilitas yang semakin tinggi dan perubahan lingkungan hidup, menghendaki tafsiran-tafsiran kreatif dan adaptif terhadap warisan budaya Banjar.

Kesempatan tersebut semakin terbuka dengan kemajuan teknologi komunikasi dan meningkatnya tingkat pendidikan urang banua. Hadirnya TV Banjar dan TV lokal lainnya, disamping koran daerah, diharapkan mampu menghadirkan tafsiran-tafsiran kreatif terhadap warisan budaya Banjar dalam program-programnya.

10 Responses

  1. Saya jadi tambah ilmu dan pengetahuan, tentang budaya Banjar. Yang harapannya saya bisa kreatif dalam memahaminya. Makasih Pak Benyamin.

    ***Makasih mau mampir, seadanya saja.

    Benar, harapan untuk lebih bisa kreatif dalam memahami yang perlu untuk dikembangkan, karena dapat membuka kemungkinan lain yang mungkin lebih baik, setidaknya ada harapan.

  2. “…Budaya Banjar seharusnya ditempatkan sebagai budaya yang masih hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat banua ini.”

    Yup, setujuh!

    ***Bersetuju … untuk berbuat

  3. Tugas kita melestarikan dalam artian pengembangan. Mari pada posisi masing-masing berbuat.

    ***Masing-masing berbuat … dan saling mendukung.

  4. Sebenarnya banyak budaya-budaya yang menarik dan fantastik di Indonesia seperti budaya banjar…hanya kurang promosi …tapi kedepan semoga lebih dipromosikan dan kalau bisa lengkapi dengan foto mas…biar nampak keindahnya dan keunikannya…ini saran aja…

    Diblogku juga pernah saya tulis…tentang keindahan Taiwan,….semoga bisa dinikmati dan jadi contoh buat negara kita…tentang bagaimana negara dan rakyat Taiwan bangga akan taman-taman mereka yang bersih dan indah…tentang tempat wisata yang selalu mampu menarik wisatawan…tentang keamanan..dll

    Jadi kangen berbahasa dayak nih…saya bisa bahasa dayak kalimatan Barat…😆

    Selamat menikmati akhir pekan yang menyenangkan bersama keluarga!😀

    ***Ya … setiap budaya mempunyai sisi menariknya, begitulah indahnya perbedaan untuk saling kenal mengenal. Terima kasih sarannya … Kwek, foto mempunyai sisi penggambaran yang berbeda yang terkadang luput dari penglihatan sebagian orang lain, tapi sangat jelas bagi sebagiannya.

    Semoga akhir pekannya menyenangkan

  5. Hi papa Benyamine,

    Terima kasih support papa buat Denaya.

    Meski kita berbeda suku tapi tetap harus bersatu. Nah ini ada titipan artikel dari papa Rohedi. Judulnya kayaknya memotivasi anak bangsa untuk memajukan Indonesia. Ini alamatnya

    http://rohedi.com/content/view/29/26/

    Ya barangkali visitor borneojarjua2008 mo di link ke rohedi.com

    Salam kenal ya papa H.Benyamine.

    ***Hi Denaya, terima kasih mau mampir.
    Perbedaan yang memungkinkan untuk saling kenal, jadi salam kenal juga. Sukses selalu dalam dunia yang satu.

  6. Tafsiran yang kreatif dan adaptif perlu memperhatikan konsep “local genius” yang mencitrakan jati diri budaya yang dibangun oleh masyarakat itu sendiri,,,,

    Agar eksistensinya tidak tergerus zaman…

    ***Benar … konsep “local genius” merupakan dasar untuk menafsirkan tersebut.

  7. Hidup Budaya Indonesia…!

    ***Hidup yang hidup … hidup Indonesia.

  8. Jika menyangkut tafsiran kreatif dan adaptif terhadap budaya apa pun juga, termasuk Banjar perlu dilakukan secara SUPERcermat dan SUPERhati-hati. Mengapa? Betapa pun tidak diakuinya oleh pendukung sebuah budaya, tetap masih ada orang atau kelompok yang masih memiliki pandangan egosentris dan etnosentris. Ini jika budaya yang dimaksudkan adalah pola pikir dan pola tindak individu atau kelompok, bukan hanya kesenian.

    Pihak pertama yang paling tepat ketika menafsir dan mereformulasi budaya itu adalah orang-orang dari pendukung budaya tersebut, dalam hal ini orang Banjar. Ini bukan berarti orang-orang pendatang yang juga mencintai budaya Banjar, seperti saya misalnya (halah..!). Bahkan kaum pendatang yang akhirnya menjadi bagian dari komunitas budaya Banjar itu sebetulnya dapat melihat lebih jernih dan kritis kelebihan dan kekurangan budaya kita (Banjar). Hanya saja ini menyangkut strategi. Tentu saja ada strategi lain, misalnya kolaboratif antar masyarakat asli dan pendatang.

    Ah, maaf jadi berpanjang2 walau sebetulnya masih mau ngomong lebih banyak lagi… he.. he..

    Hidup budaya Banjar! Hidup mas Benyamin!…😀

    ***Berpanjang-panjang masih belum dilarang dan tidak terlarang.

    Pendapatnya lebih memperkaya … perlu lebih dilihat dan dikembangkan tentang strategi yang dimaksud, karena hal ini memang dapat memudahkan dalam proses kreatif dan adaptif dalam menafsirkan budaya untuk terus hidup dalam perubahan zaman … apalagi semakin terbukanya wilayah persilangan dengan berbagai budaya lainnya.

    Waduh … jadi kepanjangan … ya salam hangat aja di musim hujan ini

  9. … maaf ada kalimat yang tertinggal di alinea ke-2 kalimat ke-2 yang seharusnya: Ini bukan berarti …. harus lepas tangan. Ha… ha.. kayak karya ilmiah yang ada ralatnya…

    Tetep saya memberikan salam anget doong…:mrgreen:

    ***Yaa … anggap saja karya ilmiah sesuai kadarnya masing-masing, iya nggak?

  10. umpat lalu ja nah…

    jaka handak bagus tu pa ai bangunan adat banjar kita ni pakai samin jua tapi harus ada tiang tingginya supaya banyu kawa lalu di bawahnya[ panggung]
    jgn kaya wayah ini hibak wan ruko,,,pa ngalih banar sudah…ma aturnya ya kalo pa ?

    ***Terima kasih, talalui haja udah untung.

    Penggunaan samin jua kada masalah, benar konsep tiang tingginya itu yang sebenarnya merupakan adaptasi dengan kondisi lahan. Ngalih banar maaturnya, bujur haja, tapi masih ada bagian yang diupayakan untuk tidak mengikuti nang ngalih maaturnya itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: