MUSEUM LAMBUNG MANGKURAT: Ada Saat Ini Bukan Masa Lalu


Oleh: HE. Benyamine

Pelajaran yang langsung menyentuh imajinasi dari keberadaan museum tentang masa lalu dapat dengan mudah melalui visualisasi tentang masa itu. Museum yang dikelola dengan sungguh-sungguh dan baik akan menjadikan tapak sejarah suatu bangsa terasa hidup, karena keberadaan museum sebenarnya diperuntukkan untuk menyatakan bahwa ada kehidupan di masa lalu yang sesungguhnya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan saat ini.

www.jakartaphotoclub.com/public/bulugsky/2008

Sumber:www.jakartaphotoclub.com/public/bulugsky/2008

Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan di Banjarbaru perlu ditingkatkan dalam pengelolaannya, agar kesan hambar dan menyembunyikan pesan dari keberadaannya dapat dihilangkan.

Kitab Injil beraksara Arab-Melayu yang disebarkan Belanda di Kalimantan Selatan koleksi Museum Lambung Mangkurat.

Kitab Injil beraksara Arab-Melayu yang disebarkan Belanda di Kalimantan Selatan koleksi Museum Lambung Mangkurat.

Sebenarnya, banyak pesan yang seharusnya bisa sampai kepada pengunjung namun tertutupi oleh kurangnya tanda-tanda dan pemanfaatan media-media yang ada, seperti brosur, poster, dan reprint dari benda-benda yang menjadi koleksi museum.

Museum menjadi terasa “mati” karena pengelolanya memperlakukan benda-benda yang ada didalamnya sebagai bagian masa lalu; yang tak tersentuh dan yang berjarak.

Pengelola museum mempunyai kewajiban menjadikan benda-benda bersejarah tersebut terasa “hidup” dan menjadi bagian kehidupan saat ini. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh pengelola museum, seperti menyediakan reprint lukisan tokoh sejarah Kalimantan Selatan, misalnya lukisan pangeran Antasari atau lainnya, dengan harga yang terjangkau dengan berbagai ukuran. Atau menyediakan berbagai bentuk souvenir bagi pengunjung, sehingga ada kenangan yang bisa dibawa pulang.

Keberadaan Museum Lambung Mangkurat sudah seharusnya dapat memberikan inspirasi dan motivasi urang banua dalam memberikan tafsir kreatif terhadap warisan budaya Banjar. Pengelolaan yang kreatif sangat dibutuhkan dalam menjadikan museum sebagai tempat yang hidup dan mampu menumbuhkan apresiasi generasi muda terhadap hasil karya generasi terdahulu tersebut.

Benda-benda yang menjadi koleksi Museum Lambung Mangkurat, beberapa diantaranya masih hidup dalam cerita-cerita lisan di dalam kehidupan masyarakat Banjar, yang menunjukkan bahwa benda-benda tersebut masih menjadi bagian dari kehidupan mereka. Seperti benda keramat dan tokoh keramat yang masih hidup dalam pikiran masyarakat.

Beberapa cara dapat dilakukan oleh pengelola untuk menghidupkan museum, seperti menyelenggarakan lomba desain kreatif terhadap pakaian remaja Banjar. Dengan merujuk pada lukisan galuh Banjar atau pakiaan remaja Banjar zaman dulu yang ada di museum, yang menggambarkan pakaian remaja pada masa itu, agar dapat dijadikan trend pakaian remaja sekarang.

Terlebih saat ini sudah ada TV lokal, yang siap menghadirkan berbagai trend gaya hidup langsung ke ruang privat urang banua, yang tentunya diharapkan dapat mempengaruhi trend gaya pakaian remaja melalui program-program tayangannya. Begitu juga dengan media massa yang semakin banyak beredah di Kalimantan.

Beberapa program museum, seperti acara Baayun, sebenarnya sangat menarik bagi masyarakat. Karena acara tersebut memang masih hidup di dalam alam pikiran urang banua.

Melalui acara ini, pengelola sebenarnya menyadari keberadaan museum yang bukan hanya sekedar benda mati dan masa lalu, tapi sebagian masih hidup dan bisa “dihidupkan” melalui berbagai acara yang kreatif dan inovatif.

Acara seperti ini masih membutuhkan sentuhan bisnis melalui “produk barang ikutan” yang berlebel museum sebagai souvenir bagi pengunjung. Misalnya, produk cetakan atau boneka tentang tradisi Baayun tersebut.

Pengelola mempunyai tanggung jawab dalam menghubungkan benda-benda koleksi tersebut dengan para pengunjung. Salah satunya, penyediaan booklet tentang museum dan benda-benda yang ada didalamnya.

Penjelasan singkat dalam booklet yang dipegang pengunjung dapat menumbuhkan minat untuk mengetahui lebih jauh tentang koleksi benda atau peristiwa yang ada dan terekam dalam museum.

Membiarkan pengunjung dengan sedikit sekali petunjuk sama saja dengan mengatakan bahwa museum tidak lebih dari benda “mati” yang dikelola oleh manajemen sedang sekarat.

Museum Lambung Mangkurat sudah seharusnya memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi dalam pengelolaannya. Keberadaan teknologi tersebut dapat menjadikan keberadaan museum lebih imajinatif dan lebih bersentuhan dengan masyarakat.

Karena, museum dengan segala koleksi benda-benda bersejarah tersebut, bukan berada di masa lalu, tapi keberadaannya pada saat ini.

Sehingga, pengelolaannya sudah selayaknya menyesuaikan dengan kemajuan peradaban manusia saat ini, tidak menyesuaikan dengan masa benda koleksi tersebut diciptakan.

20 Responses

  1. Wah, pian jalan2 ke meseum kok nggak ngajak2 ulun…?he

    Mari kita dukung pelestarian nilai-nilai historis yang ada di bumi Lambung Mangkurat,,,,!!!

    ***Waduh … lupa, sudah ada niat ngajak.

    Ya … mari dukung Museum Lambung Mangkurat, para blogger di Kalsel dapat berkunjung ke sana, lalu menulis di masing-masing blog, paling tidak membantu promosi melalui tulisan dan foto, dan siapa tahu dapat memberikan dorongan bagi pengelola untuk lebih menghidupkan museum.

  2. sayangnya kebanyakan budayawan indah jadi anggota dewan pang (bukannya handak memprovokasi pak hehehehe…). Masalahnya yang pegang kendali anggaran (setuju atawa kadanya anggaran daerah) kan bubuhannya tuh. Coba 10% gin suara para budayawan di dewan tu ada jua “tajinya” gasan menggertak (kebanyakan kada lah….?).

    Amun kita mencoba berandai-andai, jika saja mental para anggota dewan sudah “berbudaya”, insya Allah cita-cita luhur dari tulisan pian di atas kawa diaplikasikan. Dalam artian, minimal bubuhannya mau memperjuangkan mata anggaran gasan pelestarian cagar budaya gin (gasan museum contohnya), ulun rasa cukuplah dulu (sebagai langkah awal).

    Sementa amun baya beharap dengan retribusi daerah dari pendapatan museum toh kita sama-sama tau, kada seberapa (balum termasuk yg “diputiki” oknum lah pak…) amun dilihat dari akumulasi angka kunjungan wisatawan, masih jauh dibawah harapan. Di lain pihak pengelola museum sendiri masih “sakaw” (baca : ketergantungan) suntikan dana anggaran dari APBD. Sejauh ini berapa besar alokasi anggaran gasan pelestarian cagar budaya?

    Menurut hemat ulun, aparat pemerintah masih menganggap sepele potensi PAD dari pelestarian cagar budaya ini, makanya entah jadi prioritas nomor berapa poin tsb. Padahal dengan “kemasan” seperti yang pian paparkan diatas (dan ulun sangat setuju!!!!…ups maaf) pelesarian cagar budaya dapat turut mendorong peningkatan PAD jua loh.

    Tapi yang jadi pertanyaan budayawan mana yang hakun masuk partai? kalaupun ada, begitu jadi anggota legislatif masih ISTIQOMAH lah?

    Anda berminat? atawa maulah paratai hanyar haja?

    salam budaya

    bandung, 18/01/2009

    ***Terima kasih sempatkan mampir.
    Ya … perhatian terhadap budaya (dan keluarganya) sangat seadanya dibandingkan perhatian terhadap olahraga (dan keluarganya).

    Pengelola museum mempunyai peluang dan kesempatan untuk menghidupkan museum dengan berbagai kegiatan, jangan hanya menunggu seakan pengelolanya termasuk benda cagar budaya tersebut, pemerintah dan dewan yang mengabaikan hal ini juga mungkin harus dijadikan salah satu koleksi museum.

    Salam budaya.

  3. “dijadikan salah satu koleksi museum”
    kira-kira diandak dimana lah, nang sekira bagus?
    (bapikir serius……)

    ***Waduh … maaf membuat berpikir serius.
    Jadi ikut berpikir serius juga … di mana lah nang sekiranya layak? Jangan-jangan museum juga nggak punya tempat.

  4. Sewaktu ada kerjaan di Kalselteng saya sering lewat di jalan depan museum itu. Sayang belum sempat mampir. Suatu saat akan saya kunjungi. Salam kenal, silahkan berkunjung ke blog aku.

    ***Terima kasih mampir.
    Ya … semoga nanti punya kesempatan mampir ke museum, banyak hal yang menarik … tidak hanya sekedar koleksi benda bersejarah. Salam.

  5. meski kuliah QU d sejarah seumur 2 kgak pernah tuh masuk kedalam…aneh juga..mungkin karena namanya museum Lambung Mangkurat

    ***Nah … mungkin MLM terlalu “tersembunyi”, padahal keberadaannya penting bagi pemangku kepentingan. Apalagi kuliah di bidang sejarah … sekedar saran coba sempatkan untuk berkunjung.

  6. jangan sampai hilang dan kelak anak cucu kita masih bisa mengetahuinya….kalo diserang banyak yang terbengkalai

    ***Ya … jangan sampai terbengkalai dan jadi mudah hilang. Mungkin, melalui blog kita dapat berbuat dari masing-masing daerah untuk “menghidupkan” museum atau benda-benda bersejarah yang ada, sekaligus ikut mempromosikannya dalam berbagai bentuk. Bila ada waktu kunjungilah museum, mudahan dapat mendorong para pengelola museum untuk lebih serius dan kreatif dalam pengelolaannya.

  7. Kekayaan peninggalan sejarah dan seni budaya Banjar kini semakin tidak dikenal generasi muda karena mereka jarang berkunjung ke museum daerahnya. Kemudian informasi mengenai kekayaan peninggalan sejarah dan seni budaya itu juga semakin langka di masyarakat.

    Idealnya, museum harus dikelola secara profesional dengan cara memilah-milah objek kunjungan berdasarkan usia pengunjung. Misalkan museum untuk anak-anak yang dilengkapi permainan.

    Kedua, museum untuk kalangan remaja yang dilengkapi alat-alat pembelajaran.

    Ketiga, museum untuk kalangan ilmuwan yang dilengkapi dengan kelengkapan bahan penelitian.

    Keempat, museum untuk umum yang menyajikan berbagai objek dan informasi tentang peninggalan sejarah dan budaya Banjar

    Kalau museum sebagai objek wisata sejarah dan budaya di Tanah Banjar mampu dikelola secara profesional dan mampu menarik minat wisatawan lokal saja, warisan sejarah dan budaya Banjar akan bisa dipertahankan di tengah masyarakat.

    ***Ya … pendapat yang perlu didengar oleh pengelola museum atau benda-benada bersejarah. Moga aja, ada dari mereka yang membaca, sehingga tergerak untuk meningkatkan profesionalitas dalam mengelola museum.
    Kunjungilah museum … tulislah melalui blog, agar lebih “hidup” dan menyebar, sehingga lebih dapat diakses dari segala penjuru.

  8. kapan ya bisa berkunjung?

    ***Semoga ada kesempatan.

  9. Melestarikan atau mengembangkan yang lebih bagus Mas …

    ***Melestarikan lebih pada benda mati, yang hidup akan terus berkembang dan mengembangkan.

  10. wah kapan ya bisa kesana? ajak aku dong? he

    ***Udah di ajak … katanya sibuk. Moga ada kesempatan.

  11. Ulun beberapa kali kesana. setiap masuk ruangannya ulun bunyikan langkah sepatu kuat-kuat…
    Pian tahu kan, sekarang di dalam museum, banyak banar muda- mudi saling…
    saling….
    saling…….
    dan….
    makanya ulun malas sudah kesana….

    ***Itulah … karena terlalu “remang-remang” yang bisa jadi berubah fungsi.
    Waduh … malas toh, pantasan penjaga di sana tanya ke mana aja Randu! Sekarang udah jarang datang katanya, mereka pada rindu lho.

    Datanglah lagi … buatlah sesuatu, jangan kalah dengan muda-mudi yang saling-saling salingan itu … atau latihan jurus pamungkas 212 saja halaman museum ha ha ah

  12. Yah…sekarang museum hanyalah tinggal musium sama seperti benda-benda kuno di dalamnya….

    bagi anak muda sekarang museum adalah tempat kuno yang tidak layak lagi di kunjungi….

    Padahal di sana bisa di ketahui asal usul tempat bumi mereka berpijak, dan asal usul dari nenek moyang mereka beranak-pinak.

    Satu hal lagi banyak barang-barang sejarah kita yang di selundupkan ke luar negara….

    Sekarang benda-benda kuno di museum telah hampir punah, seperti punahnya para pengunjung…..

    tetapi ulun balum pernah lagi ke museum, bila-bila kalau pian handak kemuseum ajak-ajak ulun lah!

    Salam damai penuh cinta di dalam Rahmat dan Ridho Allah

    ***Nah … mungkin melalui blog masing-masing kita bisa saling berbagi dan membantu mengangkat sebagai berita yang layak untuk diperhatikan, setidaknya benda-benda kuno mendapatkan media penyebaran foto dan liputan. Kunjungilah museum terdekat, dan buatlah postingan tentang kunjungan tersebut, biar lebih tersosialisasikan dalam ruang yang lebih luas.

  13. Museum yang dikelola dengan baik mencerminkan tingginya peradaban suatu masyarakat.

    (Mampir mas, silaturahmi… )

    ***Monggo, silakan … pintu silaturahmi terbuka lebar, jika mau ngopi buat sendiri ya, tempatnya seperti biasa.

    Ini … tingginya peradaban suatu masyarakat … benar, salah satunya dapat dilihat dari pengelolaan museum.

  14. Lho, ada pendekar dari golongan hitam tho diatas ini..he..he..

    ***Wah … pendekar dari berbagai golongan pada datang … damai dalam jurus pamungkas menulis

  15. Museum diperlukan sebagai media pembelajaran bagi siswa terutama yang berkaitan dengan sejarah, budaya dan sosial, tentunya Museum harus bersifat aktif untuk memenuhi apa yang dibutuhkan masyarakat, apakah itu pelayanannya, dekorasinya sehingga pengunjung merasakan kenyamanan ketika melihat koleksi museum.

    ***Benar … tapi sekarang keadaan museum bagaimana? Ada tulisan-tulisan sebagai keterangan benda koleksi sudah meleleh huruf-hurufnya.

  16. bung museum zaman sekarang kadang kala tidak diperhatikan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah. semestinya museum di jadikan alat pembelajaran bagi masyarakat untuk mengetahui sejarah, karena negara di bagun atas sejarah. bukan begitu bung

    ***Benar bung … setidaknya masyarakatlah mulai peduli. Jika tidak, siapa lagi yang diharapkan. Terima kasih telah mampir, salam.

  17. sapta.kelana@yahoo.com
    ralat email

  18. Assalamualaikum,salam badangsanakan ja sabarataan dari ulun..Mun yg tuha ulun anggap kuitan mun seumur wan ulun ulun anggap dangsanak,lun dak bekomentar sdikit nah.. “KAYUH BAIMBAI”WAJA SAMPAI KAPUTING”.

    HEB : Terima kasih sudah mampir, dangsanak haja sabarataan. Binuang … taingat haja.

  19. […] 13 January 2010 oleh KayuhBaimbai   Pada Kayuh Baimbai Museum menjadi terasa “mati” karena pengelolanya memperlakukan benda-benda yang ada didalamnya sebagai bagian masa lalu; yang tak tersentuh dan yang berjarak. – HE. Benyamine (Januari 2009) […]

  20. Assalamu alaikum’ someday i will visit this museum, because my forefather long ago told us.he lef his wife 7 months pregnant in lambang mangkurat. name puteri jungjung bui.to search his nephew name murabbi. who was abducted long time ago in the philippines. in 1925 haji abdulgani of sambas sarawak . is iddentified himself.he is tthe baby left 7 months pregnant. by his father name nakhoda jailani reside in pulau basilan philippines till he die. and did not return to lambang mangkurat……….this story told by my mother. thats why i just want to visit this place lambang mangkura.

    HEB: Wa’alaikum salam
    yap, I think, it could be good if you visit to that museum someday.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: