BANJARMASIN, PELAJAR, DAN TAKSI DALAM KOTA


Oleh: HE. Benyamine

Perubahan perilaku merupakan salah satu faktor utama dalam mencegah pencemaran lingkungan hidup, paling tidak dimulai dari diri sendiri. Pencegahan pencemaran lingkungan dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya menggunakan transportasi publik dalam kota. Hal ini dapat dilakukan oleh kalangan pelajar dan mahasiswa, masyarakat, dan aparatur pemerintah.

Pelajar sangat potensial dalam mencegah pencemaran lingkungan, karena dapat bertindak lebih modis dan unik dalam perilakunya, sehingga memungkinkan untuk melakukan berbagai ide kreatif yang lebih bergaya dan gaul.

Mereka memerlukan media yang kreatif untuk menyalurkan kreativitasnya, yang sudah seharusnya dapat difasilitasi oleh Pemko Banjarmasin, seperti menyediakan jalur sepeda.

Pengguna jalur sepeda dapat diberikan reward dalam waktu tertentu, hanya karena mereka menggunakan sepeda dalam aktivitasnya, anggap saja sebagai kompensasi karena tidak menambah polusi udara dan kebisingan kota.

Hadiahnya bisa berupa uang maupun barang lainnya, yang ditentukan oleh team yang dibentuk oleh pemerintah melalui dinas tata kota atau dinas terkait lainnya. Khusus untuk pelajar, disamping sebagai pengguna sepeda perlu ada penilaian kreativitasnya dalam bersepeda, sebagai suatu motivasi membangkitkan jiwa mudanya untuk layak dapat bintang (mendapatkan hadiah), mungkin dari  hiasan sepedanya.

Banjarmasin yang semakin padat dengan berbagai jenis kendaraan yang seakan begitu lahap memakan jalan-jalan, lahan terbuka hijau yang semakin terbatas dan menyempit, dan tentu pencemaran lingkunan yang semakin tinggi, membuat kota Bungas ini semakin semrawut, kumuh, begitu bising, kotor, dan menjadikan penghuninya cepat lelah dan letih.

Apalagi, Pemko Banjarmasin seakan tidak peduli dengan tata ruang dan peraturan yang mengikatnya bahkan yang dibuatnya sendiri, seperti mendirikan bangunan di bantaran sungai dan bahkan di tengah sungai, yang tentunya bukan panutan yang patut untuk ditiru. Ditambah dengan keadaan sungai-sungai yang sakit dan sekarat seakan sedang menanggung beban teramat berat, akibat perilaku yang tidak ramah lingkungan.

Di Banjarmasin, pelajar (juga mahasiswa) sudah sangat jarang sekali terlihat naik taksi kuning, mereka lebih banyak menggunakan moda transportasi kendaraan roda dua atau empat, yang tentunya merupakan kendaraan pribadi. Memang ada berbagai alasan mengapa mereka lebih cenderung menggunakan kendaraan pribadi, yang secara tidak sadar sebenarnya semakin membuat kota Banjarmasin semakin padat dan pencemaran oleh kendaraan semakin tinggi, seperti polusi udara dan kebisingan yang melewati ambang batas.

Di samping itu, tingkat kecelakaan juga semakin meningkat, yang terkadang meminta korban jiwa hanya karena kesenggol kendaraan lainnya dan digilas kendaraan besar di sebelahnya.

Sebagai pelajar yang masih di bawah umur untuk mendapatkan Sim A, bila mereka menggunakan kendaraan tentu merupakan pelanggaran lalu lintas. Petugas sudah seharusnya melakukan penertiban dan penyuluhan kepada mereka, sehingga pelajar tersebut sudah mulai belajar bagaimana mentaati suatu peraturan. Hal ini merupakan pelajaran tentang kesadaran hukum yang sudah sepatutnya ditanamkan sejak dini, jangan dibiarkan mereka belajar bagaimana melanggar peraturan.

Pelajar Banjarmasin sudah saatnya kembali diarahkan untuk menggunakan transportasi publik, sebagai suatu langkah awal dalam perubahan perilaku yang dimulai sejak masa pelajar dan memang mereka belum saatnya menggunakan kendaraan pribadi sendiri.

Penggunaan transportasi publik ini setidaknya dapat mengurangi kerawanan kecelakaan khususnya dikalangan pelajar, mengurangi pelanggaran peraturan lalu lintas oleh pelajar, mengurangi polusi udara dan kebisingan, menghemat BBM, dan mengurangi kepadatan lalu lintas.

Dengan menggunakan transportasi publik, pelajar sudah melakukan tindakan cegah pencemaran lingkungan, yang tentunya harus mendapatkan reward yang sepatutnya.

Jadi, Pemko Banjarmasin harus menyediakan sistem dan moda tranportasi yang mudah, murah, aman, nyaman, bersih, tepat waktu, dan tanpa “ngetem” terlalu lama. Juga, menyediakan jalur sepeda untuk mendorong penggunaan sepeda sebagai kendaraan sehat dan bersih. Penghijauan sepanjang jalur sepeda menjadi keharusan, karena pengguna sepeda akan merasa lebih nyaman dalam suasan teduh.

Untuk mengarahkan pelajar menggunakan transportasi publik, maka diperlukan dukungan dari berbagai kalangan. Pemerintah, kepolisian, sekolah, orang tua, dan pihak penyedia jasa transportasi harus mendukung gerakan ini, untuk kepentingan umum yang lebih ramah lingkungan.

Perlu dipikirkan biaya taksi kota yang murah untuk kalangan pelajar, mungkin hanya Rp. 500,- untuk sekali naik, meskipun BBM sudah naik. Namun, setiap pelajar harus diwajibkan menggunakan transportasi publik tersebut saat menuju sekolah. Sedangkan pihak penyedia jasa transportasi harus dapat menjamin bahwa semua jurusan tersedia kendaraan yang mencukupi dan jadwal yang kontinue dengan paling lama per 10 menit berangkat.

Dengan pelajar menggunakan taksi kota, secara tidak langsung dapat membantu lebih kurang 1000 taksi kota di Banjarmasin terus beroperasi secara kontinue dan tidak parkir terlalu lama karena sepi penumpang atau ngetem di sembarang tempat.

Gerakan penggunaan transportasi publik dan bersepeda, khususnya oleh kalangan pelajar, merupakan suatu tindakan yang dapat merubah perilaku mengarah pada perilaku yang sadar lingkungan, sehingga untuk menggapai green and clean city dapat lebih mudah dan itu merupakan salah satu langkah penting dalam mewujudkannya.

Apalagi bila aparatur pemerintah dapat menjadi panutan dalam penggunaan transportasi publik atau sepeda, yang dapat disaksikan secara langsung oleh masyarakat, paling tidak akan lebih mudah mengajak masyarakat dalam rangka cegah pencemaran lingkungan.

11 Responses

  1. Hhmm…Konsep yang menarik Pak…

    Saya setuju sekali dengan pemerintah yang memberikan contoh yang baik..

    Saya rasa kebijakan pemerintah itu memang harus berpihak dengan lingkungan mulai dari sekarang..

    ***Terima kasih mampir. Setuju, kebijakan pemerintah itu harus berpihak pada lingkungan dan manusianya dari sekarang.

  2. wah, wah, wah.. kayanya penerapan kebijaksanaan utk itu cukup ruwet, mas, karena menyangkut budaya dan kepentingan banyak pihak.
    pertama, budaya. ada budaya gengsi yg cukup kuat di kalangan masyarakat banjar yg tidak hanya milik org tuanya saja, tapi juga menular ke yg muda. di jgja hal ini sangat mungkin dilakukan, karena org di sana sdh terbiasa dgn hal yg demikian dan mereka tdk memiliki kecendrungan gengsi sekuat di orang banjar. bagi org banjar kebanyakan lebih mudah utk menjuali mereka motor, mobil dan brg2 tersier semacam itu, meskipun harus ngutang atau kredit, dan ini pangsa pasar yg ‘baik’ bagi para pedagang–seperti halnya org banjar.
    kedua, kepentingan. tentu kepentingan para pedagang dalam hal ini akan terpinggirkan, sementara mereka punya akses dan kontribusi yg cukup kuat ke para pemegang wewenang di bjm dan sekitarnya, dan ini tentu saja tak dapat dianggap remeh dalam hal penentuan kebijakan.
    tapi tentu saja setiap niat baik–apalagi utuk kepentingan bersama dalam perhitungan jangka panjang–dapat diusulkan dan seharusnya direalisasikan. dan tentu harus ada pemahaman yg benar dan keinginan yg kuat utk itu. artinya setiap elemen memahami kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan dari suatu kebijakan, dan dpt menimbang mana yg lebih harus dikedepankan utk jangka panjang. seperti halnya pencemaran sungai yg terus berkelanjutan yg dampaknya suatuhari nanti akan menenggelamkan banua anak-anak kita di kemudian hari, dst.
    ruwet, tapi perlu diperjuangkan!
    salam.

    ***Ya … karena menyangkut budaya, mungkin lebih tepat didekati dengan pendekatan budaya juga. Benar, meskipun ruwet, masih patut diperjuangkan.

  3. Nyaris mustahil sebenarnya untuk mengisi jalan-jalan Kota Banjarmasin dengan sepeda seperti era 1980-an silam…. Polusi begitu dahsyat dan mentari amat menyengat pada zaman ini.

    Gerakan bersepeda butuh dukungan penyediaan infrastruktur keselamatan dan kenyamanan, misalnya lajur khusus sepeda.

    ***Masih ada harapan … paling tidak penggunaan angkutan publik yang diperjuangkan, dan ada potensi angkutan sungai untuk diberdayakan. Gerakan bersepeda perlu dicoba …

  4. pola pikir sekarang nyari yang simple dan yang jelas, banyak kepentingan didalamnya….satu sisi kita ingin mengurangi polusi udara tapi jumlah kendaraan makin membludak…dan seharusnya yang menjadi contoh adalah para pemimpin di tiap daerah….ada ga sih pemimpin yang mau naik sepeda..rasanya mustahil karena gaya seorang pemimpim sekarang adalah bukan tipe pelayan masyarakat tapi penguasa alias rakyat adalah budak dalam kekuasaan

    ***Setidaknya ada yang mencoba mengurangi polusi, dan yakin saja bahwa lebih banyak yang berharap pada lingkungan yang sehat.

  5. pikirkan sebelum terjadi paling tidak bisa mengurangi pencemaran, wah sulit benar bang jika tidak dintisipasi sejak dini, bagaimana yoo.. paling tidak pemerintah harus mengawasi standar kelayakan pakai.. maaf numpang lewat.. salam kenal bang.. saya sering baca opininya..thanks..

    ***Terima kasih masih sempat tegur sapa, meskipun numpang lewat. Memang perlu dipikirkan sebelum terjadi lebih buruk lagi, benar setidaknya mengurangi pencemaran.

  6. Di mantan kantor dulu ada kebijakan setiap hari rabu diwajibkan untuk bersepeda ke kantor, karyawan, staff sampai pimpinan dan komisaris. Padahal mereka bertempat tinggal di Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang dan kantor di Jakarta. Kalau seukuran Banjarmasin bersepeda ke tempat cari kerja atau sekolah jarak yang tidak terlalu jauh. Ayo, galakkan go green.

    *** Ya, potensial untuk digalakkan go green. Mari …

  7. contoh lah seperti Jepang yang warganya kalau pergi cuma dengan kereta api dan angkutan umum lainnya. supaya ga macet gitu,

    ***Ya … sesuatu yang baik patut dicontoh, apalagi sebenarnya kita sanggup melakukannya. Terima kasih telah mampir.

  8. Transportasi publik di Banjarmasin kelihatannya belum banyak disentuh kebijakan publik yang substansial. Paling-paling, jika pun ada, sifatnya masih tambal sulam, sporadis, dan parsial. Kini saatnya pemerintah daerah menata ulang melalui kebijakan publik transportasi seluruh unsur mulai dari sarana dan prasarana, manajemen jaringan, dll. Jika tidak, beberapa tahun ke depan akan menambah kesemrawutan, kemacetan, dan pencemaran akibat lalu lintas yang tidak ditata dengan baik. Kapan ya?

    ***Benar Pak, pantas aja yang di bawah setuju.

  9. Setuju dengan pendekar Hitam diatas ini. Sudah saatnya diseriusi masalah transportasi dan tata ruang kota di Banjarmasin. Jangan segan-segan nggelontor APBD. Walaupun juga nanti jangan ada yang Mark-Up…

    ***Bisa juga toh setuju sama yang di atas …ya yang baik perlu didukung.

  10. Hi friend.. Nice cool post.. gud work.. Do visit my blog and post your comments.. take care mate.. Cheers!!!

    ***yap … wait a minute, please. Thanks … Cheers

  11. Salam kenal pak, dari guru madrasah di kotabaru. Blog bp jd salah satu referensi saya soal budaya banjar. Wacana yg bp utarakan sungguh sangat menggugah dan sudah sepantasnya diperhatikan serius oleh pemerintah kota dan instansi terkait. Saya setuju dgn pendapat bp bahwa perubahan budaya hanya dapat dilakukan dengan budaya itu sendiri, yakni dengan merubah perilaku. Meski tidak mudah, namun tentu bukan sesuatu yg mustahil. Tinggal kemauan, kesediaan & politicall will dari masing2 pihak yg terlibat.

    ***Terima kasih mampir. Ya … katanya setiap ada kesulitan di situ ada kemudahan, dan setiap ada kesempitan masih ada kemudahan. Salam kenal … Kotabaru gunungnya bamega.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: