BERSAMA RASAKAN PETAKA (Armada Batubara Kembali Masuk Kota)


Oleh: HE. Benyamine

Armada angkutan batubara masuk kota menggunakan Jl. A. Yani, karena adanya perbaikan Jl. Trikora yang tidak tepat waktu sesuai janji pihak terkait (Radar Banjarmasin, 28 Januari 2009: 10 ). Seperti ada keharusan untuk memberikan kemudahan dan berbagai fasilitas kepada usaha pertambangan agar tetap beroperasi, meskipun mengabaikan dan mengorbankan kepentingan masyarakat banyak dengan memanfaatkan modal sosial masyarakat.

Di sini sangat jelas terlihat bagaimana pemerintah daerah sangat tidak peduli dengan kepentingan umum, betapa lemahnya posisi pemerintah daerah dalam memperjuangkan keberpihakan terhadap masyarakat banyak, dan tidak berkompetennya pemerintah daerah dalam membuat kebijakan yang melindungi dan mementingkan kepentingan umum.

Pemerintah daerah terkesan hanya mengerti kepentingan khusus, terbatas, dan sesaat. Sehingga, dalam kebijakannya lebih cenderung hanya bermanfaat dan dirasakan segelintir orang dalam kebaikan dan keuntungan, sedangkan masyarakat banyak lainnya terpaksa ikut bersama merasakan petaka.

Pemerintah provensi merasa sudah melakukan tugasnya dengan menghasilkan Perda Jalan Tambang dan Perkebunan Besar yang akan diterapkan April 2009, sehingga merasa sudah selesai dan meminta menunggu saja perda itu berjalan.

Sedangkan Pemkab/Pemko merasa tidak berwenang terhadap jalan negara yang dianggap menjadi kewajibannya provensi, mereka dengan bangga memasukkan tangan ke dalam saku masing-masing untuk terbebas dari masalah yang sedang dirasakan warganya yang berhubungan dengan jalan negara tersebut.

Pemko/Pemkab benar-benar lepas tangan, padahal mereka bisa saja menunjukkan sikap sebagai adanya pembelaan terhadap warganya yang disuguhi petaka. Pernyataan protes setidaknya dapat disampaikan dan dinyatakan, hal ini sebagai jalan atas masalah kewenangan dalam pengelolaan jalan negara tersebut.

Pernyataan bahwa jalan negara provinsi sebagai urusan provinsi, sama saja mengatakan kepada warganya silakan datang ke pemprov, sebagai wujud ketidakpedulian pemko/pemkab.

Armada batubara melalui jalur kota, secara sadar atau tidak, pemerintah daerah telah menunjukkan pandangannya terhadap manusia yang menjadi warganya, pandangan yang lebih menghargai komoditas (batubara) perdagangan dari pada manusia, sehingga membiarkan berbaurnya manusia dengan batubara di jalan negara.

Padahal pemerintah daerah sadar tentang ancaman kesehatan terhadap manusia, karena mereka mempunyai dinas kesehatan yang memang mengerti tentang hal itu. Pemerintah daerah sangat sadar bahwa daerah hanya mendapatkan keuntungan yang sangat sedikit dari eksploitasi batubara, tapi dengan sadar juga melibatkan masyarakat banyak ke dalam ketidak beruntungan kecuali secara bersama merasakan petaka.

Bersama Rasakan Petaka, mungkin inilah slogan daerah Kalsel yang paling tepat, bukannya Kalsel Tersenyum. Karena, masyarakat Kalsel lebih banyak yang merasakan petaka yang disebabkan oleh perbuatan yang tidak mereka lakukan. Bagaimana tidak hanya petaka, masyarakat dihadapkan dengan pencemaran lingkungan, kerusakan ekologis, terganggunya mata pencaharian yang memang mereka mempunyai keahlian dalam hal itu, hilangnya sumberdaya alternatif yang disediakan alam, dan bencana banjir yang semakin sering dan semakin luas.

Apalah artinya program kesehatan gratis bagi masyarakat miskin, jika mereka memang diarahkan untuk menjadi sakit. Pencemaran lingkungan, dinas kesehatan sangat tahu hal ini, sangat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Armada batubara masuk kota sama saja mengarahkan masyarakat banyak kearah potensi sakit, karena terpapar pencemaran udara yang melebihi ambang batas.

Pemerintah daerah dengan mengijinkan armada batubara menggunakan jalan negara, masuk kota lagi, sebagai bukti betapa mereka tidak memahami dan melaksanakan pembangunan, yang ada lebih mengarahkan masyarakat banyak merasakan petaka.

Apa elit kekuasaan di daerah ini sudah lupa cara berhitung? Atau, cara berhitungnya yang memang diarahkan untuk kepentingan segelintir orang saja. Untuk apa pembangunan dilaksanakan, jika hanya diperuntukkan bagi kepentingan segelintir pihak.

Bagaimana perhitungannya, perbaikan jalan negara dengan uang rakyat, tapi lebih dikuasai armada batubara dalam pemanfaatannya. Perlu diwaspadai penguasa yang lupa cara berhitung, karena sulit mendapatkan pertimbangan yang baik dari orang yang tidak tahu cara berhitung.

Pemerintah daerah yang belum mampu melaksanakan pembangunan, harusnya sadar, jangan malah cenderung mengarahkan masyarakat banyak secara bersama hanya merasakan petaka. Kota-kota yang dijadikan wilayah pertambangan adalah petaka bersama. Pembangunan yang dilaksanakan pemerintah daerah menjadi tidak bermanfaat bagi kepentingan masyarakat banyak, namun yang terasa dan dirasakan masyarakat lebih banyak petaka yang dihadirkan secara sadar.

Apakah dengan menghentikan armada batubara untuk sementara waktu menggunakan jalan negara/umum hingga jalan khusus tambang tersedia, akan menjadikan masyarakat Kalsel jatuh miskin dan pendapatan daerah jauh berkurang.

Hal ini sangat dibutuhkan kepekaan elit kekusaan di daerah ini, kecuali mereka memang sudah lupa cara berhitung hingga tidak mampu membuat pertimbangan yang baik dan benar. Mungkin, para elit kekuasaan sangat menyadari, meskipun mereka tidak melaksanakan pembangunan sama sekali, kehidupan masyarakat akan tetap berjalan sebagaimana adanya. Bersama rasakan petaka, bila elit kekusaan lupa untuk apa mereka ada.

12 Responses

  1. Saya pikir, bukan berarti tidak peduli, tapi pemerintah belum sempat untuk peduli, Tok tok tok…mereka harus di ketok dulu mungkin….sabar ajaaaaa

    *** Terima kasih … ya sabar ajaaaaaaaa

  2. Assalaamu’alaikum…

    Walaupun saya kurang mengerti apa yang saudara tuliskan, namun saya memahami titip rasa seorang rakyat yang mengharapkan adanya kemajuan dan pembangunan bagi meningkatkan kebaikan masyarakat setempat. semoga perjuangan saudara dalam memperkatakan hal sedemikian, lambat laun atau akhirnya akan beroleh kejayaan dan kesenangan buat masyarakat Kalsel.

    Yang penting perjuangan saudara belum selesai dan mesti diperjuangkan sehingga semua rakyat dapat merasai nikmat seperti yang diharap dan diimpikan selama ini.

    Salam mesra selalu.

    ***Terima kasih … itu perjuangan bersama karena kepentingan bersama. Salam selalu mesra.

  3. wah kan kita juga mesti liat disisi lain jangan hanya satu sisi doang…..
    walaupun kamu blang merugikan tapi yang sisi lain jugakan ada banyak pekerja yang akan terlantar kalau dibiarkan nganggur…
    iyakan

    ***Benar juga … sebenarnya kasihan para sopir truk dan tanggungannya jika ngganggur. Para sopir memang membutuhkan pekerjaan itu tetap berjalan, tapi juga mereka sebenarnya butuh kenyamanan dan ketenangan dalam bekerja, karena bukan di jalan khusus tambang maka mereka tidak dapat leluasa dalam bekerja sebagaimana seharusnya, malah terlalu banyak pungutan dari berbagai kalangan. Oleh karena itu, pemerintah dan pengusaha tambang harus mempunyai jalan khusus tambang, kasihan para sopir harus berkejaran dengan waktu dan setoran.

  4. Sungai Danau pindah ke Banjarmasin, dong.
    *debunya…*

    ***Bukan hanya ke Banjarmasin, tapi beberapa kota-kota yang dilalui armada tersebut, jalan negara yang kiri-kanannya padat rumah penduduk.

  5. Kerusakan lingkungan berjalan beriringan dengan kemajuan industri yang diotaki keserakahan mengeruk keutungan ekonomi.

    ***Ya, keserakahan yang menakutkan … yang terkadang juga mengatasnamakan para sopir dan tanggungannya.

  6. Mereka tidak lupa, malah itu salah satu bukti mereka “ada” bang… untuk membuktikan janji-janji kepada penyokong dana kampanyenya tempo hari…

    ***Mungkin juga … kalau lupa sih memang nggak. Benar … bukti mereka “ada” yang terselubung dengan slogan.

  7. Apa elit kekuasaan di daerah ini sudah lupa cara berhitung? Atau, cara berhitungnya yang memang diarahkan untuk kepentingan segelintir orang saja. Untuk apa pembangunan dilaksanakan, jika hanya diperuntukkan bagi kepentingan segelintir pihak.

    : Bukannya lupa cara berhitung, pak. Mereka malah canggih dalam soal hitung-hitungan. Makanya Batu bara masuk kota lagi…
    Salah satu jawabannya, tentu ada invest di perusahaan batubara…

    ***Ya … ya ya ya ya ya ……. hitung-hitungan invest yang ada.

  8. Sulit memang mencari pemerintah yang memperhatikan rakyatnya.
    Salam kenal buat rekan-rekan semua.

    ***Benar … mudahan masih ada yang memperhatikan rakyatnya. Salam, dan terima kasih mau mampir.

  9. Wah … ngak bisa komen deh … ngeri deh

    ***Lah ini kan … malah komennya tersurat …

  10. Solusi untuk segelintir orang menjadi problem untuk banyak orang.
    Quo vadis kebijakan publik Kalsel?

    ***Ya …

  11. Oya, mas Ben, Matt Mullenweg yang punya nama baru sudah diberikan maknanya atas usul mas Ben. Jadi postingannya diupdate. Terima kasih ya. Juga ada salam dari Maria Ozawa waktu datang menerima award… ha… ha… :mrgreen:

    ***Sudah meluncur ke tempatnya pak Hejis, makna yang baik dan penuh harapan.

    Salam mesra kembali buat Maria Ozawa …

  12. Hmmmm… perduli…
    bila tidak jadi apatis.
    Yang pasti mereka perduli pada diri sendiri.

    ***Ya … masyarakat harus mulai peduli dengan dirinya, jangan sampai apatis. Terima kasih telah mampir, salam kepeduliaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: