BUDAYA BANJAR: LANTING TAIKAT, BUDAYA HANYUT


Oleh: HE. Benyamine

Sungai merupakan pusat kebudayaan masyarakat Banjar, terutama saat terbentuknya sebagian besar kota di Kalimantan Selatan khususnya, dan Kalimantan pada umumnya. Beberapa sungai di Kalimantan Selatan memang tetap eksis, tapi ibarat pakaian sudah terlihat kusam dan ketinggalan zaman serta terlihat tidak pernah dibersihkan.

Pusat kebudayaan masyarakat Banjar sudah berpindah ke daratan, dengan semakin tersedianya transportasi jalan. Pengetahuan masyarakat Banjar juga sudah mengalami perubahan, yang jelas perubahan tersebut sudah menjauh dari pola pikir sungai. Perubahan itu ditunjang oleh perkembangan teknologi informasi, yang membawa berbagai budaya baru dan instan, yang bahkan sampai ke ruang tempat tidur, seperti TV.

Perubahan dalam pola pikir akan mempengaruhi dalam sikap dan perilaku. Perubahan tersebut sudah mengantarkan masyarakat Banjar masuk menjadi bagian dari gemerlapnya globalisasi, namun yang nampak lebih banyak sebagai bagian yang rentan terhadap dampak negatif, karena masih berada dalam gerbong konsumen. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam upaya memperhatikan sungai, dapat dikatakan merupakan suatu usaha yang mengingatkan dan memberikan penyadaran bahwa sebagian budaya Banjar sudah mulai menghilang dari kehidupan masyarakat Banjar, bahkan sudah sebagian besar dari kita sudah melupakan makna dan arti keberadaan sungai sebagai suatu wahana tempat terjadinya proses budaya berlangsung, yang melahirkan budaya sesuai dengan sistem ekologi setempat.

Perubahan yang terjadi juga dipercepat oleh semakin cepatnya inovasi teknologi dan terus bertambahnya jumlah penduduk, yang mempercepat terjadinya perubahan budaya.

Inovasi teknologi diterima dengan gegap gempita. Kecepatan inovasi teknologi yang luar biasa, yang secara tidak disadari telah memaksa untuk menerimanya tanpa perlu bertanya dan merenunginya, sehingga bagian yang negatif dan potensial menyebabkan kerusakan pada lingkungan (enviroment) dan kehilangan budaya (culture loss) tidak dapat disaring, malah dijadikan suatu gengsi baru.

Perubahan budaya dapat menyebabkan perubahan yang sangat berarti pada lingkungan, begitu juga sebaliknya. Inovasi teknologi yang diterima tanpa catatan, ditaguk bulat-bulat, telah menyebabkan kerakusan dan kemubaziran dalam menggunakan sumberdaya alam (natural resources), hal ini dapat dilihat dari bagaimana sekarang cara pengelolaan sungai dari berbagai pihak, yang terlihat lupa budaya dan mengesampingkan kearifan budaya (culture wisdom) masyarakat Banjar dalam memanfaatkan sungai untuk kehidupan.

Kampanye Pentingnya Sungai

Kampanye tentang pentingnya sungai, khususnya di Kota Banjarmasin, sudah selayaknya dilakukan oleh semua kalangan. Keberadaan sungai sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Banjar, perlu mendapatkan perhatian yang serius dan sungguh-sungguh, karena saat ini pandangan masyarakat terhadap sungai sudah mengalami perubahan yang arahnya menghilangkan keberadaan sungai. Hal ini ditandai oleh sikap masyarakat terhadap sungai sebagai tempat pembuangan sampah, sehingga perilaku membuang sampah ke sungai adalah sesuatu yang wajar dan lumrah.

Begitu juga teknologi yang digunakan dalam memanfaatkan sungai dan rawa, dengan cara menguruk dan mendirikan bangunan yang menghilangkan fungsi sungai. Sungai dipandang sebagai ruang yang tidak berguna, sehingga kalangan tertentu tidak merasa bersalah dalam memanfaatkannya sesuai pandangan mereka. Untuk kepentingan khusus dan terbatas, sebagian ada saja yang menjadikan bantaran sungai tersebut menjadi tempat yang berguna dan bermanfaat lebih pada nilai ekonomi dan cenderung mematikan sungai tersebut.

Sungai sebagai ruang terbuka hijau, yang sesungguhnya merupakan common property, milik bersama, telah menjadi private property. Di samping itu, fungsi ekologi dan nilai budaya sudah kehilangan tempat. Terlalu lambat untuk mengikuti keserakahan dalam ekonomi.

Hal ini ditunjang dengan pandangan bahwa sungai adalah ruang yang tidak berguna, mendapat dukungan dari teknologi urug dan perilaku tidak sehat masyarakat dengan membuang sampah ke sungai.

Budaya Banjar telah digantikan oleh budaya baru, sebagai bentuk kehilangan budaya yang tidak dapat dihindarkan (inevitable), sehingga sikap mencintai sungai sudah luntur, karena sudah mendapatkan budaya baru, yang mencampakkan sungai.

Sebagai contoh, karena saat ini sungai tidak lagi menjadi bagian depan dari rumah, sudah menjadi bagian belakang, yang berarti sudah tidak terlalu penting lagi, karena sudah digantikan oleh jalan di depan rumah.

Jukung sebagai moda transportasi utama di sungai dan pengetahuan tentang jukung (pembuatan, pemeliharaan, dan fungsi) telah mulai menjadi tidak penting dan bahkan sudah dilupakan, kecuali sebagian kecil dari masyarakat.

Anak-anak sudah jarang sekali diajarkan bagaimana memanfaatkan jukung sebagai moda transportasi, apalagi ketrampilan membuat jukung tersebut. Mereka lebih mengenal teknologi baru; kendaraan bermotor, dan merasa bangga kalau sudah berada di dalamnya, bahkan sebagian besar menjadikannya bagian dari gengsi. Mungkin, sulit menemukan orang yang mempunyai jukung atau sejenisnya sebagai gaya hidup dan merasa terangkat gengsinya.

Karena siapa yang mau mempunyai jukung, kalau sungai sudah tidak bernilai, selain sebagai ruang yang telah tercemar. Oleh karena itu, kampanye pentingnya sungai, dapat terus mengingatkan dan memulihkan citra sungai sebagai bagian depan Kota Banjarmasin bukan bagian belakangnya dan menampakkan segi kulturalnya, perlu dilakukan oleh semua kalangan dalam berbagai bentuk, agar dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap sungai, sehingga pandangan terhadap sungai sebagai salah satu ruang terbuka hijau lebih holistik dan berharga untuk semua, termasuk plasma nutfah dari ekosistem sungai tersebut dapat terjaga dan bisa saja dikemudian hari sangat bernilai harganya.

Budaya yang Hanyut

Di dalam masyarakat, perubahan budaya melalui proses yang penting antara lain adalah penemuan-penemuan (inventions) dan kehilangan budaya. Penemuan-penemuan bisa berupa secara teknologi ataupun secara ideologi. Penemuan teknologi, bisa berupa penemuan alat baru, metode transportasi, dan sumber energi.

Sedangkan, dalam ideologi bisa berupa tata cara berpakaian, yang dalam masyarakat Banjar pada acara-acara resmi baik swasta maupun pemerintah tidak menggunakan pakaian adat, tapi lebih mengikuti budaya Barat. Pakaian adat hanya terlihat saat upacara perkawinan.

Begitu juga dengan sistem sosial kemasyarakan, yang sudah mengesampingkan lembaga adat, tapi lebih berorientasi pada sistem Barat. Adapun kehilangan budaya, sudah terjadi dalam budaya material, seperti bentuk bangunan yang sangat berorientasi pada penemuan-penemuan baru tersebut. Walaupun ada bentuk arsitektur Banjar, tak lebih sebagai suatu simbol belaka, tapi sudah kehilangan fungsi dan nilai budayanya, karena lingkungan di mana budaya tersebut exist sudah mengalami perubahan yang sangat berarti, seperti hilangnya sungai tertentu.

Perhatikan saja, lanting-lanting sebagai hasil budaya masyarakat Banjar masih merapat di pinggir-pinggir sungai. Lanting sebagai suatu benda hasil budaya atau budaya material tetap eksis dan dimanfaatkan oleh kebanyakan orang dari kalangan rentan terhadap dampak pembangunan.

Keberadaan lanting sudah kehilangan roh hidup budaya (non-material). Ada dan masih digunakan oleh sebagian anggota masyarakat, tapi keberadaannya bukan merupakan suatu adaptasi dengan keadaan alam dan lingkungan sebagaimana mestinya, tapi saat ini sudah merupakan suatu bentuk maladaptasi.

Dengan keadaan sungai yang sudah tercemar, memang sebagian anggota masyarakat mempunyai kekebalan terhadap beberapa penyakit tertentu karena beradaptasi dengan lingkungan yang tercemar tersebut. Sebagian anggota masyarakat yang masih memanfaatkan sungai yang tercemar untuk keperluan kehidupan adalah mereka yang memang tidak mempunyai pilihan lain, sehingga walaupun hal tersebut merupakan maladaptasi tetap menjadi pilihan yang paling memungkinkan untuk tetap bertahan hidup. Lanting dan bentuk lainnya dalam berinteraksi dengan sungai yang merupakan peninggalan budaya nenek moyang, yang masih hidup dalam bentuk kebudayaan materialnya, namun sudah kehilangan budaya nonmaterialnya.

Keadaan sungai-sungai  di Kota Banjarmasin menunjukkan bagaimana budaya Banjar telah hanyut, dan hampir semua kalangan hanya melihat dan berdiam diri tanpa daya dan upaya untuk menyelamatkannya, walaupun mereka sebenarnya berdiri di pinggir sungai tersebut.  Atau, masyarakat Banjar memang sudah kehilangan kemampuan bakunyung (berenang) sehingga tidak berani terjun ke sungai untuk membantu budaya yang hanyut tersebut.

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang holistik dalam memahami perubahan budaya termasuk kesadaran pada perubahan lingkungan di mana masyarakat tersebut hidup dan berkehidupan.

Sejarah telah menceritakan dan mencatat bahwa degradasi lingkungan hidup seperti tercemarnya suplai air bersih, degradasi tanah yang subur dan menyusutnya sumber energi yang ada memang dapat menghasilkan berbagai penemuan baru, di samping terjadi migrasi, dan bahkan terjadinya perang dan konflik berdarah yang berkepanjangan untuk memperebutkan sumberdaya yang tidak mencukupi tersebut.

Jadi, sudah seharusnya disadari berbagai kalangan, dalam melakukan perubahan lingkungan (environmental) tidak terlalu melupakan dan bahkan meninggalkan budaya setempat, yang memang mempunyai kearifan dalam berinteraksi dengan alam dan lingkungannya, yang sebenarnya memahami sistem ekologi setempat karena merupakan hasil dari pengetahuan dari generasi-generasi sebelumnya.

6 Responses

  1. ayuja.

    ***Ayuha … ayuai mun kaitu, ayuja.

  2. Hhheeemmmm….. *manggut2*

    ***Apa sambil pegang janggut?

  3. Nampaknya harus campaigne door to door nih. Sebab masih banyak dari kita yang tak peduli dengan kebersihan sungai.

    ***Yap … harus campaigne … ya perlu belajar dengan Pakde bagaimana memanfaatkan radio untuk kepedulian terhadap sungai.

  4. kira-kira apa yang akan terjadi 5 tahun (saja) lagi dengan sungai?

    ***Kita berharap saja semoga dari sekarang makin banyak yang peduli dengan sungai.

  5. budaya lokal yang kaya akan local genius harusnya menjadi pilar peradaban disebuah wilayah. perubahan sosial memang tidak bisa dibendung karena sebuah keniscayaan namun pemuliaan local genius harusnya menjadi concern bersama

    maju terus bos

    HEB : Ya … pemuliaan local genius memang harus menjadi concern bersama.

  6. Betul itu budaya boleh berubah tetapi sungainya jangan ditinggalkan alias tidak terawat dan kotor. itu malahan akan menjadi masalah besar, sumber penyakit akan muncul apabila sungai tidak terawat.

    HEB : Terima kasih telah mampir. Ya … sungai juga perlu kasih sayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: