EKSPLOITASI BATUBARA KALSEL KAYA WARIK TAJUN KA KACANG


Oleh: HE. Benyamine

Sumberdaya alam Kalimantan yang melimpah seharusnya dapat menjadikan manusia di atasnya, tanpa kecuali, termasuk manusia yang hidup dan berkehidupan dalam kesejahteraan. Kalimantan Selatan dengan bagian terkecil luas wilayahnya dibandingkan tiga provensi lainnya di Kalimantan, tidaklah kekurangan dengan berbagai kekayaan sumberdaya alam. Namun, kenyataannya di Kalimantan Selatan, sumberdaya alam yang melimpah itu lebih cenderung menjadi kutukan bagi sebagian besar masyarakatnya. Sumberdaya hutan sudah tidak dapat diharapkan dalam jangka pendik, dan dalam jangka panjangpun masih bergantung pada kesungguhan kita melakukan penanaman kembali di lahan-lahan yang kehilangan kesuburannya akibat pembabatan yang digerakkan nafsu keserakahan.

Hijau yang hilang ... hitam yang menelan

Hijau yang hilang ... hitam yang menelan

Sumber foto: www.mapalaapache.blogspot.com

Kalimantan Selatan yang telah menggunakan sumberdaya alamnya begitu banyak untuk membiayai pembangunan, masih belum sanggup menunjukkan bukti bahwa daearah ini memang telah melaksanakan pembangunan, malah yang terjadi ketidakadilan dalam pemanfaatan sumberdaya alam tersebut. Pembangunan yang mengarahkan masyarakat untuk menggali kuburannya sendiri, karena eksploitasi sumberdaya alam yang masif tanpa dapat membiayai pembangunan dan kemajuan daerah ini sama saja meninggalkan ancaman bencana bagi masyarakat dan generasi berikutnya.

Sumberdaya hutan Kalsel sudah tidak mampu lagi menopang industri perkayuan. Sumberdaya hutan yang sempat menjadi primadona Kalsel selama puluhan tahun yang dinikmati segelintir orang, ternyata telah meninggalkan beban bagi seluruh masyarakat Kalsel berupa; ancaman banjir yang semakin sering terjadi dan luas genangannya, memunculkan pengangguran korban PHK industri perkayuan dan menghilangkan sumber pendapatan sebagian masyarakat, lahan kritis yang begitu luas, sebagian masyarakat kehilangan sumber hutan selain kayu, dan ketidaksiapan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Beban yang harus ditanggung seluruh masyarakat Kalsel tersebut, sebagian besar masyarakat mengalami penderitaan sejajar dengan rusaknya sumberdaya hutan tersebut, karena kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan akibat hilangnya sumberdaya hutan sangat rendah. Bagaimana tidak, semula mereka begitu dimanjakan oleh sumberdaya hutan yang melimpah dalam kehidupannya, sekarang sumberdaya hutan tersebut sudah rusak dan tidak sanggup lagi menjadi penyangga kehidupan, malah cenderung menjadi ancaman baru, yaitu: musim hujan kebanjiran dan musim kemarau kesulitan air bersih.

Hal ini memberikan gambaran, ternyata sumberdaya alam yang melimpah, bila tidak dimanfaatkan dengan bijaksana dan memperhatikan keberlanjutannya, maka cenderung menjadi petaka atau kutukan bagi seluruh masyarakat yang dekat dengan sumberdaya tersebut. Dan, hasil dari sumberdaya hutan yang begitu besar tersebut, hanya dapat dinikmati tidak lebih satu generasi, itupun sebagai kuli dan pekerja kasar lainnya.

Kenyataannya, hasil sumberdaya hutan yang membuat beberapa orang kaya raya, tidak dapat membuatkan jalan untuk kebutuhan penyesuaian terhadap perubahan dan kemajuan bagi daerah Kalsel. Beberapa kebutuhan dasar untuk membukakan jalan dalam meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap perubahan, tidak pernah tersentuh, diantaranya dalam bidang kesehatan dan pendidikan. Adakah dari hasi sumberdaya hutan tersebut hingga Kalsel mempunyai perguruan tinggi yang lengkap fasilitas dan segala penunjang lainnya. Bagaimana kondisi perpustakaan yang ada di daerah?

Kehancuran sumberdaya hutan Kalsel masih tidak membuat pengambil kebijakan di daerah ini sadar dan belajar dari pengalaman tersebut. Sekarang, para elit kekuasaan seperti bangga dengan sumberdaya tambang, khususnya batubara, dan melupakan sumberdaya hutan dengan berharap alam sendiri memulihkan hutan. Jutaan ton batubara digali dari perut bumi Kalimantan Selatan, dan dipacu terus hingga mencapai 100 juta ton per tahun. Menderu barisan armada batubara melintas di jalan negara, semangatnya adalah yang kuat yang berjaya.

Kegiatan ekploitasi tambang batubara di Kalsel saat ini, begitu sesuai dengan ungkapan kaya warik tajun ka kacang. Di mana sekelompok orang yang diibaratkan sedang lapar dan sangat menyukai jenis makanan yang ada dihadapannya. Mereka tidak sabar untuk segera melahap dengan sangat cepat, jika perlu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, dan tidak perduli makanan tersebut berantakan. Sesama mereka juga saling bersaing dan berebut untuk mendapatkan lebih dulu dan lebih banyak, tidak peduli yang lain mendapat bagian apa tidak. Begitulah pertambangan di Kalsel, sumberdaya “tambang” berantakan dan hancur tidak menjadi persoalan bagi mereka yang penting dapat melahap sepuas dan sekenyangnya. Sungguh pertunjukan keserakahan dan perampasan terhadap milik bersama.

Warik-warik ini setelah sudah melahap habis dan menghancurkan kebun “tambang”, mereka berlalu dengan suara gaduh yang saling bersahutan. Mereka hanya menunggu lokasi “tambang” yang lain untuk dijadikan tempat pesta kerakusan berikutnya. Benar-benar berantakan kebun kacang bila sekawanan warik telah berpesta di atasnya, dan bila pemilik kebun terlambat menyadari kehadiran mereka maka petaka penghidupan yang harus diterima sang pemilik kebun; gagal panen, hilang pendapatan, modal menguap, dan kesulitan lainnya.

Ungkapan kaya warik tajun ka kacang begitu sesuai dengan pertambangan batubara di Kalsel saat ini, saat pesta usai hanya meninggalkan petaka bagi pemilik sesungguhnya; rakyat yang seharusnya merasakan melimpahnya sumberdaya tambang tersebut. Pemerintah daerah menyadari ketidakadilan dalam pembagian keuntungan, dengan produksi hampir mendekati 100 juta ton per tahun tapi hanya mendapatkan lebih sedikit dari Rp. 80 milyar per tahun, selebihnya menunggu lubang kuburan raksasa selesai digali.

Sebagaimana yang dialami sumberdaya hutan, di mana pengerukan tambang batubara tidak mengenal jeda untuk berpikir, dan juga dilakukan oleh orang yang berperangai sebagaimana ungkapan kaya warik tagapit dahan. Pelaku eksploitasi tambang batubara tidak peduli dengan dampak dan bahaya saat menggunakan jalan negara atau umum untuk pengangkutannya, layaknya warik yang ditolong tidak tahu terima kasih bahkan terkesan mengolok-olok yang menolongnya (rakyat). Mereka sudah mengangkut sumberdaya tambang yang seharusnya dapat mensejahterakan masyarakat secara proporsional, tapi malah mengolok-ngolok dengan menebarkan debu di kota-kota yang dilalui armada pengangkutannya. Seakan ingin mengatakan bahwa pemerintah daerah Kalsel saja tidak peduli dengan kepentingan umum atau rakyatnya dengan mengijinkan penggunaan jalan negara tersebut, jadi wajar saja mereka sebagai pengusaha untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Dan juga, yang berstatus wakil rakyat seperti tidak bisa bicara apalagi menyatakan sikap dan tindakan yang sewajarnya.

Dalam beberapa tahun ke depan, dengan pemain di pertambangan seperti kaya warik tajun ka kacang, maka kehancuran sumberdaya hutan akibat keserakahan juga terjadi di sektor pertambangan batubara Kalsel dengan segala petaka yang tidak dapat dielakkan oleh sebagian besar masyarakat. Saat ini saja sudah bopeng wajah banua, seperti orang kena cacar batu, penuh dengan lubang-lubang yang tidak tanggung-tanggung besarnya. Lahan yang semula kritis akibat kerusakan hutan, saat pertambangan berpesta hingga mabuk, lahan tersebut menjadi lebih kritis dan jatuh rusak serusak-rusaknya. Sangat besar biaya untuk memulihkan lahan agar dapat hanya sekedar ditanami rumput liar.

Mengapa hal ini seperti terjadi begitu saja. Atau sebenarnya, pertambangan batubara memang tidak mempunyai andil dalam memberikan kesejahteraan sebagian besar masyarakat. Seandainya, tambang batubara ini dihentikan sekalipun, tingkat kesejahteraan sebagian besar masyarakat Kalsel tidak mengalami gangguan. Bisa saja sebaliknya, penghentian pertambangan batubara sebenarnya dapat meningkatkan kesejahteraan sebagian besar masyarakat, karena mereka setidaknya dapat mengurangi resiko terpapar bencana yang banyak memakan korban baik harta maupun nyawa.

Penghentian pertambangan, hingga benar-benar kita sanggup mengelolanya dengan baik dan benar, memang dapat mengganggu selera keserakahan segelintir orang, namun bagi sebagian besar masyarakat hal tersebut dapat mengurangi resiko dan ancaman berbagai bencana. Dalam hal kesehatan, sebagian masyarakat tidak lagi diarahkan untuk sakit dengan terpapar debu batubara, yang juga mengurangi pengeluaran untuk berobat, sedangkan pemerintah dapat menghemat anggaran kesehatan karena masyarakat cenderung menjadi sehat. Begitu juga, keselamatan dan kenyamanan dalam bidang transfortasi dapat ditingkatkan, setidaknya resiko tergilas armada trak yang supirnya terkadang stress karena banyaknya pungutan dan kejar setoran dapat dikurangi.

Penghentian pertambangan, memang akan menekan selera hedonis dan keserakahan beberapa orang yang diuntungkan dengan beroperasinya pertambangan tersebut, yang dalam beberapa kasus juga akan berdampak pada sebagian “kuli” pertambangan lainnya, dan memberikan kesempatan bagi sebagian besar masyarakat untuk mempersiapkan penyesuaian dalam beradaptasi dengan perubahan yang normal. Eksploitasi batubara model kaya warik tajun ka kacang sebenarnya menciptakan kesenjangan budaya, antara tradisional yang masih mengandalkan mitos dengan modern yang mengandalkan ilmu pengetahuan, yang tiba-tiba menjadikan beberapa orang sangat kaya dengan membawa berbagai teknologi dan budaya yang sebagiannya masih tidak bisa dipahami dan diresapi, sedangkan sebagian besar masyarakat yang tidak terlalu dekat dengan sumber kue pertambangan hanya menjadi penonton dengan segala resiko dan ancaman petakanya.

Akibatnya, kekayaan dari hasil pertambangan tidak dapat meningkatkan mutu pendidikan dan membangun fasilitas penunjang pendidikan yang lebih modern, seakan daerah Kalsel adalah daerah yang miskin dengan banyaknya kondisi sekolah yang rusak. Padahal, melalui pendidikan yang bermutu dengan fasilitas yang modern, diharapkan masyarakat lebih dapat mempersiapkan diri untuk menyesuaikan dengan perubahan karena adanya eksploitasi sumberdaya alam tersebut dan dapat memberikan modal untuk pembangunan. Ternyata hasil eksploitasi tambang batubara tidak dapat menjadi modal pembangunan daerah Kalsel, dapat dikatakan sama dengan daerah miskin sumberdaya alam. Untuk urusan gengsi mereka yang diuntungkan pertambangan ini, tidak ada yang diragukan tingginya, makanya mobil mewah keluaran terbaru yang jumlahnya terbatas di Indonesia setidaknya satu diantaranya melenggang di daerah ini.

Pertambangan dengan model kaya warik tajun ka kacang tidak akan memberikan hasil yang proposional terhadap daerah, karena para warik hanya tahunya berpesta dan menguras habis emas hitam tersebut dengan cepat, dan kemudian meninggalkan lahan dalam keadaan berantakan (tabulangkir). Apapun yang terjadi setelah pesta pora, mereka tidak peduli dan memikirkannya, karena mereka sudah berada di suatu tempat yang tak terjangkau masyarakat di sekitar pertambangan.

Terlalu banyak yang harus dikorbankan, bila tambang batubara diekspoitasi tanpa bisa memberikan dan menyediakan modal untuk membiayai pembangunan di daerah Kalsel. Bila dibiarkan saja model kaya warik tajun ka kacang, maka kehancuran yang dialami sumberdaya hutan Kalsel juga terjadi pada tambang batubara, habis tak memberikan manfaat bagi sebagian besar masyarakat Kalsel.

Sumberdaya hutan masih bisa diperbaharui, tergantung pada kemauan baik dan kesungguhan semua pemangku kepentingan, meskipun lahan sangat kritis sekalipun. Tapi, sumberdaya batubara merupakan sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui jika habis tak berbekas, maka hanya tinggal menunggu petakanya saja.

28 Responses

  1. Kaya warik tajun ka kacang?
    Duh…., menyedihkan sekali…
    Sebagai orang diluar “arena”, adakah yang dapat kita perbuat sekarang?

  2. kenyataannya memang mengerikan………
    Mungkin dunia ini sudah mau kiamat. Tak ada yang peduli dengan lingkungan kita, terutama orang-orang yang pegang uang dan kekuasaan.😦

  3. Inikah tanda-tanda kerusakan sumber daya alam tak akan berujung? Semoga tidak demikian.

  4. Bukan cuma alam yang rusak…
    Jalanan juga rusak parah akibat truk2 pengangkut BatuBara…
    Belum lagi kecelakaan yang terjadi dan menelan korban jiwa…
    Selama ini, kecelakaan yang menelan korban jiwa rata2 diakibatkan oleh truk2 ganas pengankut batubara,,,
    Salam kenal…

  5. wah..keadaan ini, bukan hanya terjadi di kalsel tapi banyak daerah lainnya diindonesia.

    Semoga tulisan ini, mampu membuka mata kita semua untuk lebih memperhatikan penggalian sumberdaya alam yang lebih bijaksana, dan hasilnya tidak masuk kantong2 pribadi…tapi bisa digunakan untuk rakyat.

    Jangan sampai yang menikmati beberapa orang, sedangkan yang mengalami penderitaan dan kehancuran justru semua masyarakat.

  6. Mereka para petinggi yang doyan ngabisin duit seperti kaum hedonis, nampaknya harus melirik kondisi lingkungan atas ulahnya…Coba masuk ke kompas siana mas…..siapatahu banyak yang baca ini.
    Salam

  7. @Hade
    Terima kasih mau mampir. Ya … memang menyedihkan. Setidaknya, elit kekuasaan perlu terus diingatkan, yang sebenarnya mereka jauh lebih tahu tentang hal tersebut, mungkin perlu dorongan dari masyarakat agar mereka lebih berpihak kepada kepentingan yang lebih banyak.

    @Faiq
    Terima kasih menyempatkan untuk singgah. Benar, kenyataan yang mengerikan. Harus ada yang peduli, jangan berharap kepada orang yang pegang uang dan kekuasaan, solidaritas masyarakat jauh lebih menentukan.

    @Taufik
    Kepedulian kita bersama untuk tidak membiarkan berlanjutnya kerusakan sumberdaya alam.

    @Sebuahblog
    Terima kasih atas kunjungannya. Salam kenal juga.
    Benar, dan tentang jalan ini langsung dirasakan masyarakat, seakan kekuasaan ditentukan siapa yang kuat, truk berjalan seakan di jalan khusus tambang.

    @Kweklina
    Ya … jangan sampai terjadi demikian. Mungkin melalui blog, isu tentang kerusakan lingkungan pada suatu tempat dapat lebih terkomunikasikan, dan siapa tahu dapat menyentuh hati pengambil kebijakan untuk lebih sadar lingkungan dan kepentingan yang lebih luas.

    @Pakde
    Ha ha ha … kaum hedonis. Padahal sumberdaya alam kan memang sudah ada, bukan hasil kerja orang atau sekelompok orang, yang seharusnya dapat dinikmati secara lebih berkeadilan. Kondisi lingkungan memang harus menjadi perhatian kita semua, semampunya perlu disuarakan.

  8. Parah ya? Jadi ikutan sedih, mbok ya diprotes gitu!

  9. dan kalsel akan menjadi propinsi yang gersang

  10. waduu… sayang sekali… bagaimana keseimbangan alamnya ya?? kasian kalsel😦

  11. saya ngeri lihat foto2 krponakan saya dari kalimantan masalah eksplotasi SDA di sana

    salamda ri malang😀

  12. Sebenarnya…bukan hanya penebangan liar saja yang terjadi di Kalimantan saja yang membuat sumber daya dan alam di Kalimantan semakin sedikit.Tetapi penambangan batubara juga adalah faktor terbesar yang mengakibatkan kerusakan alam yang sangat parah.

    Cuma saya heran…mengapa hanya perusahaan kayu saja yang dituding menjadi penyebab utama masalah ini.Apakah pemerintah tutup mata melihat ini????!!!.Padahal jika dibandingkan…kayu yang ditebang dapat tumbuh lagi dan menjadi besar membutuhkan waktu sekitar 5-20 tahun saja.Nah….jika batubara???,berapa juta tahun kita harus menunggu agar dapat terbentuk seperti itu lagi???!!!.
    Belum lagi jika kita melihat pertambangannya…,wahhhh…tempat pertambangan dan juga besar/dalam lubangnya melebihi besar danau Toba atau danau-danau yang lain.

    Sebagai seorang skiller kayu..saya protes kepada pemerintah,.Maaf…saya salah alamat ya…,hehehe:).

  13. Ha ha judulnya runyam … sajiannya mencekam

  14. Ya ALLAH, Semoga ALAH tidak menurunkan bala’nya ya, semua karena serakahnya manusia itu

  15. @Juliach

    Memang menyedihkan … ya protes sudah banyak, mungkin sudah tidak mempan lagi jika hanya diprotes.

    @Soul

    Bisa jadi … namun tidak diharapkan dan semoga saja tidak menjadi gersang (penggurunan). Masih ada asa untuk hijau kembali, perlu gerakan bersama.

    @Mahardhika

    Kasian kan Kalsel …. kemiskinan masih besar dan sumberdaya alam yang melimpah hilang seperti embun terkena sinar matahari …. entah kemana. Terima kasih telah berkunjung. Salam.

    @HMCahyo

    Ya … melihat foto2nya, sangat mengerikan, semoga saja kesadaran tidak datang terlambat. Terima kasih mau mampir, salam.

    @Gusti Dana

    Ya … benar. Sudah kritis akibat pembabatan hutan, diobok2 oleh pertambangan, dan kemudian ditinggalkan begitu saja. Pohon masih bisa ditanam, hanya butuh kesungguhan dari semua pemangku kepentingan, nah … batubara …. ini yang dapat dikatagorikan SDA tidak bisa diperbaharui

    @Pak Ersis

    Ha ha ha …. gambaran runyamnya pertambangan Kalsel (ngeles aja).

    @Novianto

    Terimak kasih tali silaturahminya, semoga dikuatkan Allah. Ya … semoga Allah tidak menurunkan bala. Namun, kerena keserakahan manusia petaka itu sudah dirasakan.

  16. ungkapan-ungkapan itu sepertinya pas banget menggambarkan mentalitet manusia yang hanya melihat keuntungan instan tanpa memikirkan dampaknya jauh hari ke depan ya, mas ben? seringkali orang hanya tergerak akan sesuatu yang bisa menguntungkan secara finansial, mengucurkan cash tanpa peduli kelestarian lingkungan yang dieksploitasi.

    kisah kelam eksploitasi ini mengingatkan saya pada cerita “sayap-sayap patah” kahlil gibran. kecantikan dan kekayaan memang membius. alih-alih memberikan keuntungan bagi pemiliknya, kedua pesona ini justru membuat sang pemilik menderita karena jadi incaran orang-orang oportunis.

  17. hmmm, cuma setahu saja, ketika akan dibuka areal pertmbangan maka ada studi kelayaknnya dulu, lingkungan juga diperhatikan. dan menurut teman saya yang juga kerja di pertmbangan di kalimantan.. mereka pun memikirkan dampaknya trhadap lingkungan, terlebih lagi masyarakt kita sekarang yang kritis, jadi merekapun (pelaku pertmbangn) juga tidak gegabah.

    dalam setiap eksploitasi memang tidak semuanya positif, makanya perlu arif dan bijaksana untuk pengelolaannya, kitapun tidak bisa mengatak stop eksploitasi energi (minyak bumi, gas dan batu bara) karena kita memang membutuhkannya.

  18. emang tuh..
    di kalimantan, batu bara bener2 laris manis..
    semoga para pengusaha yang meng-eksploitasi batubara itu, tidak melupakan sisi alam yang akan selalu mencari kesetimbangan…

  19. Ass. hm… kalo udah ngomongin exploitasi besar2an gini,jadi speechless, apa sih akar dari masalah ini?! Huaaaa…complicated

  20. @Marshmallow

    Benar … jangan sampai “kecantikan dan kekayaan” dalam sumberdaya alam menjadi kutukan bagi sebagian besar masyarakat. Renungan Kahlil Gibran mengingatkan kita bagaimana memandang kecantikan dan kekayaan, yang bisa menjadi musibah bagi pemiliknya dan bagi orang lainnya juga.

    @Opa Tyan

    Benar … sebelum eksploitasi setidaknya harus melaksanakan Amdal … nah ini yang sering tidak mempunyai kekuatan hukum sehingga cenderung copy pasta aja sebagai persyaratan yang melengkapi perizinan. Kenyataannya … reklamasi sebagai kewajiban lebih banyak yang tidak dilaksanakan, apalagi batubaranya sudah habis malah ditinggalkan saja, padahal aturannya sangat jelas.

    Benar juga … tidaklah mungkin menghentikan pertambangan, dan bukan itu, tapi bagaimana pertambangan tersebut dapat optimal bermanfaat dalam pembangunan daerah dan bangsa … dan berkeadilan dalam menikmati kue emas hitam tersebut. Coba saja …. sumber batu bara, tapi krisis listrik dan malah sebagian desa ada yang tidak bisa menikmati listrik. Atau, bagaimana daerah penghasil batu bara tapi masih ada bayi gizi buruk …. Terima kasih sudah berkunjung dan sempat bersua.

    @oRiDo

    Ya … penting sekali untuk menjaga keseimbangan alam. Terima kasih telah mampir dan bercakap.

    @quinie

    Complicated …. jadi perlu disederhanakan agar lebih ramah lingkungan dan hasil lebih berkeadilan agar dapat menunjang proses adaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Terima kasih ya menyempatkan mampir.

  21. keren tulisannya,
    bener2 warik mereka !

    HEB : Terima kasih telah mampir.

  22. Aku ucapkan selamat dulu ats kemenangan ya, Batu Bara = Batu Bala, haaaaa

    HEB : Terima kasih … untuk ucapan selamatnya dan juga berkenan mampir.

    Ya … kita tidak mengharapkan batu bara = batu bala, yang kita harapkan dengan segenap hati dan pikiran adalah Batu Bara = Bauntung Batuah … iya kalo ha ha ha

  23. Hahaha, kaya warik??? its lucoe.

    HEB : Terima kasih telah berkunjung. Warik masih tahu rasa kenyang, kalau yang kaya warik sepertinya tidak kenal kenyang.

  24. pejabat sebelum duduk dikursi empuk sudah utang janji manis dulu sama pengusaha, karena yg biayai dia jadi pejabat kan mereka, payah…. enak diri sendiri aja, mikir dong biar semua masyarakat merasa manfaatnya, jgn akibatnya…..

    HEB : Nikmat bagi segelintir, tapi membawa sengsara bagi semua.

  25. makanya pilih pemimpin yang super peduli terhadap lingkungan, baik itu bupati, gubernur, terlebih-lebih lagi presiden’ and kalau ga peduli mending ga usah dipilih……..semoga pemimpin kita menyadari hal ini, Amin !!! tx

  26. saya jadi ragu dari sekian capres and cawapres ga ada yang komentar yang komit soal perbaikan bidang kehutanan dan lingkungan ! apa jangan2 mereka lupa bahwa pecinta lingkungan dan kehutanan jg banyak di nusantara ini !!!! he…2 pemilih maksudnye,,,,,,,

  27. rakyat halus kaya kami neh dpt balanya ja,harau paray lalu kisahny,………
    jaka hbs dkeruk dtamani apakah atau dtutupi lg lubangnya ada jua neh dtinggl kayatu haja,………
    nang kena banjar kami nang dpt banyunya buhannya maka am tatawaan nyaman bnr dah

  28. bodohx negri ini,menambang apapun dinegri ini sebenarx tak perlu campur tangan asing,jgn tiru model orba hmpir pertmbangn diserahin amric,pdhl Ri pux insixur, manfaatkn mereka,rugi terus ri kalau kayax gt carax,bagus kta bng krno,kalau ada bhn tmbng jgn buru2 digali/diserahn negara lain tuk ditambang,nanti generasi bngsa ini bisa nambang sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: