PUISI (7): TERANG DALAM DIRI, LUBANG TAMBANG, DAN WAJAH SEMUSIM


TERANG DALAM DIRI

Manakala langit menarik malam
Yang jauh nampak melambai
Tak dipisahkan pekatnya hitam
Menyapa tak sendiri meski gelap tak bertepi

Betapapun kelam dunia ada terang dalam diri
Lentera hati redup bila lalai tersentuh
Tak guna menghujat diri bila buram menyelimuti hati
Kelamlah dada hasut hidup menyerah resah

Banjarbaru, 1 Februari 2009

LUBANG TAMBANG


Lubang-lubang raksasa menantang langit
Sembunyikan duka samarkan rasa takut
Hilang sudah keragaman dan kerabat dekat
Dibabat gelombang gemerlap khianat

Lubang hitam terbengkalai
Bergelimpangan dengan perut terburai
Sadis tergambar pembunuhan berantai
Meradang ditusuk bertubi-tubi

Berkubang air mata saat hujan menyapa
Menganga kaku, “Mengapa tidak kau ratakan saja!”
Hanya gemuruh mesin hisap jeritan luka
Kenikmatan laknat melahap bangkai sesama saudara

Banjarbaru, 26 Februari 2009

WAJAH SEMUSIM


Wajah-wajah itu gentayangan
Siang malam tebar senyum menggoda
Panas tanpa setetes keringat tersentuh angin
Hujan membayang basah tempat berada

Wajah-wajah semusim itu memohon suara
Suara-suara itu terjerat ratapan hidup
Tiada waktu menatap wajah angkara
Terlalu buram wajah bersaksi dalam cahaya redup

Wajah-wajah itu mendadak peduli suara
Dan berkata, “Akulah wajah suara mu nan semu!”
Nampak kemelaratan menggantung asa
Menggiring janji setinggi angkasa hingga layu

Banjarbaru, 28 Februari 2009

18 Responses

  1. Sobat, wajah-wajah semusim-mu itu calegkah? Hehehe… Just gues🙄

    HEB : Mudahkan … dapat nilai 100+ ha ha ha …

  2. tok tok tok… mampir, makasih ya udah berkunjung ke tempat sayah. waduh kalo postingannya puisi, saya rada bingung komennya, karena saya ga bisa bikin puisi balik..xixixi…

    btw, itu beneran puisi abab; aaaa bbbb; abab?
    salute!

  3. duh mas saya sempet ga enak lihat judulnya eh pas dibaca lagi ternyata mata saya salah kirain WAJAH MESUM ga tahunya WAJAH SEMUSIM heheheheh maklum nih mata mengikuti usia yang makin tua

    tapi asyik buanget emang bikin puisi, kalau saya udah ga bisa kali ya padahal saya juga ada bakat sih (katanya) hohoho tapis ekarang lebih enak menikmati bikinan orang

  4. Terang dalam diri

    Tak ada yang lebih setia menerangi gelapnya jiwa yang kelimpungan selain terang dalam diri-cahaya nurani (begitu kira2 ya mas?) makasih telah berkunjung. Baca puisiku demo nurani mas klop kayaknya.

  5. Secercah penerang hidup adalah Lentera hati
    Yang pudarnya adalah sebuah bencana diri
    Semua jauh dari Ridlo Illa Hi Robbi
    Hiduppun kelam dirasa setiap hari

    Tidak ada perikemanusiaan disana
    Semua sudah terbuai oleh nikmatnya harta dunia
    Kehidupan yang abadi di alam akherat sudah dilupa
    Berasa hidup tanpa salah dan benar semua

    Jeritan hari sudah jadi cermin diri yang padam
    Semua sudah menjadi hitam yang kelam
    Sunyi senyap seperti gelapnya malam
    Pertanda sang surya sudah terbenam

  6. siang mas🙂 diajeng datang🙂 duuh puisinya menyentuh jiwa…:)

  7. jangan sampai lentera hati-nya redup ya….teruslah berjuang untuk hidup yg lebih baik……:) diajeng tunggu di taman keputren🙂

  8. Mmmmh….saya kalau menelaah puisi termasuk membuat bait puisi…ampyun…nyerah deh Pak.

    Sepertinya bapak sedang menyuarakan sesuatu di tempat bapak. Dan ini berhubungan dengan lingkungan disekitar bapak juga. bukan begitu pak?

    Wajah semusim apakah itu untuk para Caleg?
    Lubang tambang itu untuk lokasi batubara kah?
    Yang paling atas……mmmmh…apa ya….HOE TO FIGHT dalam hidup kah?

    Ini aja komen saya pak…

  9. Wajah-wajah semusim…

    Semusim datang

    Semusim pergi….

    Saat ramai menjelang teriknya siang

  10. Ass, ww

    @lubang tambang
    aku bayangkan nganga keserakahan bergigikan kezaliman

    @wajah semusim
    ternyata wajah itu pernah menjadi durhaka
    dalam warna penuh kebohongan belaka

    @terang dalam diri
    dalam terang
    dirimu

    Wassalam. ww

  11. Assalaamu’alaikum…

    Indahnya hidup ini,
    apabila nurani mampu memainkan lagu jiwa
    membongkar rahsia yang sarat dalam minda
    buat difikir dan diusaha untuk memikir
    walau ada ketikanya
    saya tidak bisa memahami apa yang ada
    dalam jiwa dan minda
    si pencetus cerita dunia ini.

    Maaf saudara…. asyik membaca cerita dalam sajak yang diusahakan. penuh pengertian walau sukar difahami maknanya. sebenarnya saya lebih memberi tumpuan kepada bahasa bukan kepada makna. kerana saya suka kepada bahasa-bahasa puitis. Indah. Mungkin saya perlu mendalami makna bahasa puisi yang seperti ini.

    salam mesra selalu.

  12. wah..rupanya ahli puisi…salut!

    Percayalah…diri kita adalah cahaya itu sendiri

    Yang kadang hampir redup oleh masalah duniawi..yang sulit kita mengerti

    tapi kadang terang berderang…penuh percaya diri

    sehingga mampu untuk berbagi cahaya dalam kelamnya kehidupan ini

  13. biarlah waktu berbicara
    pada wajah semusim itu
    sebab tak lama lagi pancaroba
    wajah aslinya segera kita tahu

  14. Yap cahaya dalam diri, Asmaul Husna

  15. Yap … cahaya dalam diri … Asmaul Husna

  16. nurani memang harus diasah ya, mas? konon kata paulo coelho, hati nurani selalu menceritakan yang baik-baik dan perasaan kuat akan sesuatu. tapi karena kerap diabaikan, mereka tak mau lagi bersuara sebab mereka takut bersedih atas pengabaian tersebut.

    soal wajah-wajah semusim, sepertinya semakin musim semakin bertaburan wajah-wajah yang siap panen, mas ben. kalau musimnya sudah lewat, entah siapa yang berhasil masuk keranjang dan entah siapa yang bakal membusuk di tangkai.

  17. @quinie
    Terima kasih telah mampir. Kalau tidak salah …. banyak puisinya quinie ….

    @Wah … Omiyan udah merasa tua ha ha ha … ya setiap hari memang bertambah tua … bertambah dan bertambah terus yang terkadang kita tidak menyadari pertambahan itu … dan terkadang pada satu titi tertentu kita menjadi terkejut melihat jumlahnya … Omiyan berbakat buat puisi, benar saja kata orang dan kata Omiyan sendiri …. hanya pilihannya mau menikmati dulu khan.

    @Udah lihat Demo Nurani … ya klop

    @Nah … ini puisi keren (apa buatnya saat mau komen saja … cepat sekali).

    @Diajeng
    Sudah mampir di taman keputren …. ichh ternyata ada larangan untuk inisial L … ha ha ha

    @Pakde
    Ya … hanya mencoba menyuarakan …. untuk menelaah puisi tergantung orang yang membacanya, tidak perlu mempunyai keahlian khusus ha ha ha

    @Taufik
    Terkadang hanya berbunga dan tidak jadi buah ….

    @Madagumilang
    Waalaikum salam …. terima kasih telah mampir. Penafsiran yang jitu …

    @Siti Fatimah Ahmad
    Waalaikum salam. Ya … pemaknaan bisa berbeda terhadap satu kata bahasa atau penggabungan denga kata lainnya, dan keindahan bahasa bisa memberikan makna tersendiri, yang terkadang tidak sesuai dengan makna yang dimaksudkan oleh penulisnya.

    @Kweklina
    Ya … berbagi dapat menambah terang kehidupan.

    @Edi gunt
    Terima kasih sudah mampir. Ya … musim terus berganti … ha ha ha

    @Orang guanteing
    Terima kasih mau berkunjung. Komennya … sama dengan Pak Ersis, hanya beda titik2 ….

    @Pak Ersis
    Benar Pak …. sama dengan komen Orang guanteing, nggak janjian khan ha ha ha

    @Marshmallow
    Ya … nurani harus terus diasah dan dibersihkan. Jika terus diasah, maka seluruh alam akan selalu membantu dan berada dibelakang kita

  18. lentera hati redup bila tersentuh
    lubang-lubang raksasa menantang langit
    lubang hitam terbengkalai
    wajah-wajah itu gentayangan
    wajah-wajah semusim memohon suara
    “akulah wajah suaramu nan semu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: