PEMERINTAH ADA SETELAH BENCANA


Oleh: HE. Benyamine

Kedukaan dari musibah Situ Gintung masih begitu jelas –dan semakin nampak jelas – dalam ingatan rakyat Indonesia, karena gambaran kedukaan tersebut masuk ke ruang keluarga dari seluruh rakyat Indonesia diantaranya melalui TV. Seakan sudah menjadi suatu kelajiman dan kelumrahan, bahwa kebanyakan rakyat harus hidup dan berkehidupan dalam lingkungan yang penuh resiko dan harus bersabar bila sewaktu-waktu bencana datang akibat dari kelalaian para pemimpinnya.

Keindahan itu ... Situ Gintung  (Sumber Foto: Google Earth)

Keindahan itu ... Situ Gintung (Sumber Foto: Google Earth)

Dalam beberapa hal, terutama sudut pandang orang bijak, bahwa segala musibah dan nestapa dapat menjadikan orang menuju pada tingkat yang lebih mulia dalam kehidupan dunia dan di sisi Tuhannya kelak, bila diterima dengan kesabaran dan ketabahan serta keikhlasan dalam ungkapan segalanya akan kembali pada sang Pencipta.  Di sisi lainnya, musibah Situ Gintung telah memberikan peringatan dini (early warning) kepada semua pemangku kepentingan untuk lebih memperhatikan segala hal yang berhubungan dengan keberadaan situ-situ yang ada dan lingkungan hidup. Tentu lebih bijak untuk belajar dari musibah ini, dan menyadari bahwa faktor kerentanan sangat menentukan tingginya resiko bahaya dan banyaknya korban dari suatu bencana.


Kesadaran terhadap faktor kerentanan penting dibangun dan disosialisasikan kepada semua pemangku kepentingan. Karena, suatu bencana yang terjadi di suatu tempat yang tidak dihuni manusia tentu tidak menimbulkan bahaya dan dapat dianggap sebagai bencana alam biasa. Hal itu sangat berbeda bila bencana tersebut terjadi pada suatu lokasi yang padat dengan penduduk, tentu sangat tinggi resiko bahayanya.

Semakin padatnya jumlah penduduk yang menempati lokasi kawasan yang rentan terhadap bahaya dari bencana, maka resiko menjadi korban juga tinggi, sebagai suatu konsekuensi logis. Kawasan Situ Gintung yang semula luasnya 31 hektar, telah mengalami perubahan peruntukan, hingga saat ini menjadi kurang lebih 21 hektar luasnya.  Di sini jelas terlihat, bahwa lokasi yang digunakan peruntukannya untuk kepentingan bukan situ (kira-kira 10 hertar) merupakan lokasi yang rentan terhadap bahaya bencana. Juga dapat menjadikan situ mengalami kerusakan.  Beberapa perundangan sudah ada yang berhubungan dengan hal tersebut, penerapannya yang harus konsekuen dan tegas. Diantaranya, tentang sempadan sungai yang ditetapkan 100 m untuk sungai besar dan 50 meter untuk sungai kecil, yang khusus diperuntukan untuk penyangga.

Musibah Situ Gintung ini menunjukkan keberadaan pemerintah tidak berarti (untuk mengganti tidak ada) dan kalaupun ada malah dapat dikatakan memberikan jalan semakin tingginya kerentanan. Karena pemerintah hanya terlihat keberadaannya dan lebih peduli setelah peristiwa bencana tersebut terjadi, mereka seperti tidak peduli dengan perubahan peruntukkan lahan yang sangat beresiko terhadap rusaknya situ dan bahaya bagi masyarakat disekitarnya.

Protes mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (www.detiknews.com) dengan menyatakan bahwa upaya pemerintah kurang dan tentu saja tidak maksimal adalah ungkapan yang  mengatakan pemerintah tidak ada sebelum bencana itu terjadi. Protes ini kebetulan diterima Jusuf Kalla saat melakukan kenjungan keduanya pada tanggal 31 Maret 2009 ke Posko Korban Situ Gintung, yang tentu saja bisa dihubungkan dengan masa kampanye saja, karena mahasiswa meneriakkan jangan cuma kampanye.  Apapun protes yang dilontarkan kepada pemerintah untuk kasus Situ Gintung, sebenarnya lebih pada pertanyaan kemana saja selama ini pemerintah.

Meskipun Jusuf Kalla masih bisa tersenyum dengan protes tersebut, namun ungkapan beliau tidak terlihat adanya sikap berlapang dada dan merasa bersalah atas suatu kelalaian dan ketiadaan pemerintah sebelum terjadinya bencana Situ Gintung.  Jusuf Kalla pada kesempatan itu menanggapi protes mahasiswa UMJ dengan mengatakan (http://www.detiknews.com), “Apa yang sudah kamu lakukan? Jangan Cuma orasi saja. Sudah berapa banyak mayat yang kamu angkat?”.  Pertanyaan yang tidak berempati pada suatu musibah yang lebih banyak karena kelalaian pemerintah.  Bisa jadi kedatangan Jusuf Kalla ke lokasi posko untuk kedua kalinya memang tidak ada hubungannya dengan masa kampanye pemilu 2009, namun pertanyaan berapa banyak mayat yang sudah kamu angkat menunjukkan tidak adanya kepekaan terhadap korban dan mereka yang berada di posko bencana tersebut. Apakah pemerintah hanya peduli dengan jumlah mayat, karena khawatir terhadap jumlah korban yang tinggi.

Dengan mendengarkan saja protes dari mahasiswa, tidaklah lebih berat dari musibah yang dialami oleh korban bencana, paling tidak ada suatu kepekaan terhadap musibah tersebut sebagai akibat dari kelalaian. Apakah mahasiswa mau orasi terus sampai berbusa mulutnya, tidaklah mengurangi peran dan keberadaannya untuk menyuarakan kelalaian pemerintah, karena mahasiswa hanya mempunyai jalan yang mungkin melalui orasi keberpihakan pada korban. Tugasnya pemerintahlah untuk mendengarkan dan melakukan berbagai tindakan yang penting dan segera.

Jadi, pemerintah harus mulai menunjukkan keberadaannya dengan mulai melakukan berbagai upaya yang berpihak kepada kepentingan rakyatnya. Jangan hanya setelah terjadi bencana, baru pemerintah kelihatan batang hidungnya.  Pemerintah jangan hanya mencari gampangnya dalam melaksanakan tugasnya, seperti membagikan uang tunai kepada rakyat, karena terlalu banyak kerentanan terhadap bencana yang menjadi resiko kebanyakan rakyat bila pemerintah tidak mau bekerja keras dan lebih mementingkan kekuasaannya. Apalagi bila keberadaan pemerintah cenderung ada setelah bencana terjadi, maka rakyat bersiaplah sendiri untuk berhadapan dengan segala resiko bahaya bencana alam dan sosial.

6 Responses

  1. Setidaknya menurut JK ukuran membantu korban bencana adalah berapa jumlah mayat yang telah diangkat….

    Artikel terbaru dari Murid Baru: Cerdas Bermedia dan Cerdas dari Media

  2. musibah ini adalah sebuah teguran sekaligus anugerah, bahwasanya hal yang sepele tak selamanya sepele. Tanggul yang jebo karena kelebihan debit air merupakan kasus memalukan yang mencontreng nama baik pemerintah sekaligus menunjukkan bahwa para pemimpin hanya perduli pada hal besar saja.

    HEB : Ya, para pemimpin sudah seharusnya peduli dengan kepentingan bersama, meskipun hal itu terlihat kecil.

  3. Yang sering jadi pertanyaan dalam diri, kenapa sih orang itu kalo sudah terjadi bencana baru jadi masalah, sehingga bingung semua akhirnya, tapi kaloo belum terjadi padahal semua sudah diperingati tapi tidak ada respon, sebenarnya ini budaya apa toh?

  4. Assalaamu’alaikum..

    Saya berasa begitu kagum membaca penulisan saudara tentang hal-hal yang melibatkan kebajikan dan kesejahteraan rakyat. Cara fikir dan gaya penulisan tersebut begitu membuka minda dan sifat ingin tahu untuk terus dan terus membaca sehingga ke akhirnya. Suatu sifat keperihatinan yang dicurahkan melalui rasa hati akan menghasilkan keinginan pembaca untuk membacanya.

    Selain sikap ambil berat yang septutnya ada kepada para pemimpin yang menjadi wakil pada kawasan tersebut, rakyat juga harus didik untuk berhati-hati sebelum bencana itu berlaku. Sikap saling bekerjasama antara pemimpin dan rakyat hendaklah dipupuk agar kesejahteraan akan terbentuk.

    Syabas atas sikap ambil berat saudara ke atas tempat-tempat yang menjadi bencana dan pencemaran alam sekitar yang mengakibatkan sesuatu bencana itu muncul. Sudah tentu pihak berkuasa mengambil perhatian.

    HEB : Terima kasih.

  5. Assalaamu’alaikum Saudara HM.Benyamine.

    TAHNIAH diucapkan kepada saudarakerana telah dipilih sebagai penerima award bagi kategori musim pertama AWARD 1 LAMAN MENULIS GAYA SENDIRI.

    Dengan hormatnya, saya mempersilakan saudara menerima kelima-lima AWARD tersebut.

    Makanya, didahului dengan ucapan terima kasih kerana sudi menerima undangan ini. Ke hadrat Allah swt didoakan kesejahteraan dan kebaikan jasa atas segala pencerahan ilmu yang dikongskan bersama dalam laman sayai.

    Saya menanti kehadiran saudara di sana. Salam penuh takzim dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Malaysia.

    HEB : Alhamdulillah, semoga penghargaan AWARD 1 LAMAN MENULIS GAYA SENDIRI, dapat lebih memberikan motivasi untuk terus berbagi dalam pencerahan ilmu dan dikongsikan bersama dalam laman-laman lainnya. Terima kasih, dan salam hangat selalu

  6. nah, seringnya kita mengabaikan early warning. keluhan masyarakat dianggap remeh dan sepi. giliran telah terjadi musibah, barulah kasak-kusuk mencari kambing hitam. padahal kalau sudah terlanjur seperti ini, salah siapa sudah tidak esensial lagi, tapi mencari solusi.

    HEB : Ya, mudahan saja kita dapat lebih cepat belajar dari kejadian tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: