LUKISAN HAJRIANSYAH : STHUS TERKURUNG HAWA PANAS


Oleh: HE. Benyamine

Lukisan transisi, apalagi lama tidak melukis — mungkin yang menyebabkan Secangkir Teh Hangat Untuk Suami (STHUS) (cat minyak/kanvas, 60×90 cm, 2006) — terkesan dikerjakan dengan baik tapi ragu-ragu. Terutama dalam permainan warna yang terkesan satu dengan yang lain saling meniadakan. Karya Hajriansyah, ini sebuah lukisan yang dikerjakan dengan tekad harus bisa, sehingga adanya suatu imajinasi yang bergelora tapi masih belum terlatih dalam sentuhan. Sebagai hasil karya yang tinggal di daerah (urang banua), tidaklah berlebihan jika perlu mendapatkan apresiasi sebagai sebuah harapan untuk terus berkarya mengisi ruang seni lukis daerah.

Secangkir Teh Untuk Suami (Lukisan: Hajriansyah

Secangkir Teh Hangat Untuk Suami (Lukisan: Hajriansyah)

Lukisan ini muncul di kepala secara tidak disadari saat berinteraksi dengan keadaan di rumah, dan ini menjadi lukisan transisi dari lukisan absurd yang biasanya menjadi pilihan bentuk karyanya (http://hajriansyah.wordpress.com). Pilihan bentuk yang tidak absurd lagi dalam melukis, sangat dipengaruhi oleh pandangan pelukis sendiri tentang masyarakat Banjar yang dianggap sering bingung dan kesulitan dalam mengapresiasi dengan baik lukisan yang realis sekalipun apalagi yang absurd. Di sini, ada kebutuhan dan penyesuaian dengan selera pasar, sehingga Hajriansyah sebagai urang banua mencoba melakukan suatu transformasi dalam bentuk lukisan untuk mengisi sebagian ruang seni lukis di daerah.

Lukisan STHUS ini sebenarnya sangat menarik, karena adanya suatu ekplorasi warna secara berani dan penuh, meskipun masih tergambar adanya keraguan. Seperti, warna dasar merah bata sebagai pilihan yang ragu-ragu, karena sangat merenggut kehangatan dalam tema lukisan.

Pilihan objek perempuan dengan warna yang agak kusam, dapat dibaca sebagai pandangan penulis terhadap sosok perempuan yang mempunyai peran domistik yang kuat, perempuan pada umumnya dalam masyarakat patriakal, yang dalam keadaan apapun harus dapat berlaku dan bersikap sehangat mungkin terhadap suaminya. Di sini jelas tergambar, betapa seorang perempuan yang harus melayani suaminya, dengan tetap mengurusi pekerjaan rumah, dan mengasuh dan menjaga anak; meskipun terkesan sebagai boneka anak-anak tapi terlihat suatu upaya untuk menunjukkan bahwa anak selalu riang dan bermain, dengan gambaran kaki melangkah dan tangan membentang.

Sedangkan sosok lelaki tertumpuk pada objek teko, dengan gaya sebagai seorang yang berkuasa, kaki terbuka lebar dan berkacak pinggang, layaknya orang yang sedang memerintah. Siapkan teh hangat untuk ku! Kekuasaan lelaki layaknya langit biru yang melingkupi di bawahnya. Di sini ada keraguan terhadap sosok lelaki, karena permainan warna biru, seakan ada keraguan dalam pandangan si pelukis tentang kekuasaan tersebut. Atau, si pelukis ingin menyampaikan bahwa kekuasaan lelaki lebih cenderung pada mengayomi dan menjaga, karena kasih sayang. Tapi, dengan adanya warna merah sebagai bayangan sosok lelaki pada teko, seakan ingin mengatakan sisi lain dari seorang lelaki yang amarah bila tidak dilayani.

Adapun objek yang terlihat seperti mainan kayu dengan sayap sebelah, nampak lebih membebani salah satu sisi, terlalu padat pada satu sisi dan terlalu luang pada sisi lainnya. Lagi pula, objek mainan kayu ini, terkesan sebagai ungkapan rasa sayang terhadap anak dan berusaha memberikannya, meskipun sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Gaya penumpukan, sebagai jukstaposisi, lukisan ini terlihat sangat sesak dan kumuh, karena ada objek gambar yang seakan asal taruh dan tidak memanfaatkan bidang yang ditumpuk suatu keterkaitan sebab akibat. Pelukis seperti sedang mengalami ketidakseimbangan, sehingga begitu berpengaruh terhadap penempatan objek yang tidak seimbang.

Salah satunya, tidak adanya penumpukan pada gambar asap pada cangkir teh hangat. Padahal pada asap teh hangat inilah, si pelukis dapat berimajinasi bentu penumpukan dan mengeksplorasi warna secara penuh. Malah, dalam hal asap ini terlihat suatu keraguan, jadi hanya terkesan samar. Begitu juga dengan penumpukan objek anak, meskipun dapat ditafsirkan bahwa anak-anak terkadang cukup “mengganggu” karena minta perhatian, sebagai penumpukan yang mengganggu.

Dalam beberapa bagian dari lukisan ini, Hajriansyah masih tidak begitu mantap melakukan transisi bentuk lukisan, karena masih ada bagian yang cenderung absurd dan mengeksplorasi warna. Warna biru langit dan biru tua dalam bidang segitiga tak beraturan dan segi lima, yang dipertegas dengan warna kuning dalam kerangka segiempat yang dihiasi dengan kisi-kisi warna merah, merupakan bentuk absurd yang terdampar.

Memang pada segitiga tak beraturan dengan warna biru langit terlihat gambaran binatang sebagai suatu penyamaran wujud realis, yang ternyata si pelukis masih berusaha melawan kecenderungan pada bentuk absurd namun tanpa kebaranian dalam mengeksplorasi warna. Si pelukis masih terlihat semaunya saja dalam komposisi warna yang sesungguhnya masih diperlukan kematangan untuk dapat berlaku semaunya dalam permainan warna; sehingga ada warna hijau yang secara tidak langsung memberi kesan hidup. Hidup dalam absurditas.

Lukisan ini menarik … sehangat teh yang terkurung hawa panas dalam lukisan. Setidaknya, ada sentuhan tangan yang berbakat dan penuh imajinasi pada kanvas ruang seni lukis daerah. Dan, tentu saja, semoga saudara Hajriansyah tidak berhenti bermain dengan lukisan yang absurd.

8 Responses

  1. TAHNIAH DULU BUAT HAJRIANSYAH… atas lukisan yang begitu tradisional menurut pandangan saya.

    TAHNIAH juga buat saudara HEB kerana memberi sentuhan komentar (kritikan) dan ulasan yang begitu menarik dan membina terhadap lukisan seni ini. Kalau menurut saya yang buta seni ini….rasa kagum dengan apa sahaja calitan warna yang dihamburkan pada lukisan tersebut sudah memadai untuk dikatakan hebat.

    Namun kekurangan yang amat nyata bagi orang yang buta seni seperti saya…tidak pernah mendasari makna tersirat disebalik lukisan yang dihasilkan. Saya tidak tahu rupanya setiap sudut yang ada di dada lukisan itu mempunyai makna tersendiri sehinggakan diri pelukis sendiri juga menjadi “mangsa” kritikan.

    Syabas buat HEB dan Hajriansyah. Dua kombinasi insan seni yang hebat. Salam mesra dan hormat selalu.

    HEB : Salam hangat … silakan diminum teh hangatnya ha ha ha

  2. Lukisan yang menampakkan menurut saya itu adalah kerasnya hidup saat ini dengan problemantikanya, tetapi semua berusaha dihadapi dengan penuh keteguhan dan ketegaran diri

    HEB : Yap, masing-masing dapat melihat penampakan berbeda pada satu objek … bisa saja yang nampak keteguhan dan ketegaran.

  3. wah, nisa gak ngerti apa2 soal lukisan,🙂

    pagi ini saya mau tuangkan teh hangat saja ya. . .😀

    HEB : Terima udah mampir …. dan tuangan teh hangatnya. Perhatikan saja lukisannya, biarlah perasaan dan pikiranmu yang mencoba mengerti apa yang terlihat, dan tidak perlu ngerti apa-apa soal lukisan untuk memandangnya.

  4. trims, saya merasa tersanjung atas apresiasi sekaligus kritikannya.

    HEB : Yap, sekedar belajar memandang dan melihat lukisan… silakan diminum teh hangatnya, nanti keburu dingin haha ha

  5. Kalau soal lukisan … menikmati saja … habis ngak ngerti alpha-betanya

    HEB : Kata Hajriansyah …. melukis mudah (mungkin sejajar dengan munulis mudah). Menikmati … itulah alpha-betanya ha ha ha

  6. ehm…. saya bingung harus berkomentar apa. Saya terlalu gelap soal lukisan

    HEB : Yang terlalu gelap dalam soal tertentu tidak berarti harus terbungkam untuk berpendapat, karena pendapat yang dikemukakan (apapun itu) bisa saja membantu kita menjadi tidak terlalu gelap dalam soal tersebut.

  7. Lukisan ini mengingatkan saya pada sebuah buku bacaan, judulnya long prosfect. absurd seperti ini pula.
    Kalau saya sih…melukis bisa… menikmati karya lukis jauh lebih bisa…

    Anehnya setiap karya yang dibuat pelukis belum tentu sesuai dengan pandangan saya terhadap karyanya. dia bilang bagus,,, sementrara pikiran saya berkata sebaliknya… pernah merasakan yang seperti itu?

  8. wah kalo sthus terkurung hawa panas,bahaya juga tuh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: