CERITA-CERITAAN (1)


Pasukan Kuning

Beberapa mahasiswa (i) mengkampanyekan sadar sampah di pinggir jalan. Satu spanduk bertuliskan “Sudahkah Anda Membuang Sampah Di Tempatnya” yang terbentang di depan barisan mahasiswa (i). Mereka meneriakkan dengan lantang jargon-jargon tentang betapa pentingnya budaya sadar sampah; 3 R misalnya. Tidak jauh dari barisan mahasiswa (i) itu, ada barisan pasukan kuning yang terus menyapu jalan raya seakan sedang membersihkan rumah sendiri.

Ternyata ada  satu mahasiswa tak sengaja memandang barisan pasukan kuning tersebut, lalu menyelinap  pertanyaan di kepalanya, “Apa mereka akan menganggur jika semua orang membuang sampah di tempatnya?”

Buang Sampah Di Jalan Raya Saja

Seorang ibu rumah tangga, setiap pergi ke pasar ia selalu melihat ada pasukan kuning yang menyapu jalan umum; khususnya jalan di pusat kota. Dari tempat tinggalnya hingga menuju pasar, banyak tumpukan sampah. Sebagian dari tumpukan sampah itu bukan pada tempat yang diperuntukan; alias tempat tidak resmi atau asal ada tanah kosong. Padahal pikirnya, uang kebersihan sudah ditarik langsung saat bayar listrik setiap bulan.

Pulang dari pasar masih terlihat pasukan kuning menyapu jalanan, pikirnya, “Oh! Uang kebersihan yang ditarik bersamaan rekening listrik, ternyata lebih digunakan untuk menyapu jalan raya”. Kalau begitu, “Mengapa susah-susah cari tempat sampah dan menjadikan lingkungan sekitar banyak tumpukan sampah yang berserakan dan tak terangkut, mungkin sebenarnya diarahkan untuk buang sampah keluarga ke jalan raya karena di sini banyak petugas dan peralatan yang siap bergerak”.

Berteriak Sebelum Mencuri

Segerombolan anak-anak tanpa sengaja sampai di kebun jeruk yang tidak terlalu luas. Sebagian buah jeruk sudah siap santap alias matang di pohon. Tiba-tiba ada yang berteriak, “Oi! Apa ada orang! Permisi!”. Anak-anak yang lain kaget. Mereka serentak mengatakan shiiiiitttttttt dengan tekanan mendesah yang berat dan kuat. Tapi anak itu tetap saja berteriak memanggil-manggil, yang ternyata tidak ada sahutan dari pondok di tengah kebun jeruk.

Anak yang paling besar terpaksa membekap mulut anak yang berteriak, “Diam! Nanti orang pada datang. Bisa tidak jadi makan jeruk segar”, bentaknya dengan menggeram. Anak yang berteriak itu malah berkata, “Silakan ambil jeruknya! Aman! Karena tidak ada yang menyahut  dipanggil-panggil, berarti tidak ada orang yang tunggu”.  Serentak yang lain mengatakan, “Bilang dari tadi maksudnya. Ayo!”

Banjarbaru, 13 Mei 2009

18 Responses

  1. no pertamanya. hehe…

  2. nah, ada pulang “cerita-ceritaan”. ini apanya cermin?
    idenya cukup menarik, tapi kurang padat–sehingga yg terasa kemudian, cerita yg tak tuntas. menurut saya, kekuatan cerita super pendek semacam ini, adalah kepadatan isi dan gaya bahasanya–sehingga cerita yg seperti kilatan peristiwa itu mengejutkan, dan tuntas tentunya.
    salam.

  3. Saya suka cerita ketiga…teringat masa kecil bersama teman-teman suka mengambil (rasanya masa itu tidak merasakan ia seperti mencuri tetapi tidak mahu membazirkan rezeki yang ditemui) buah-buahan yang diletakkan oleh para pencari nombor ekor di kuburan lama.

    Sambil itu kamipun berkata kepada ahli kuburan (dalam kubur).. Tok…tok…, kami minta maaf, mahu tumpang makanan yang diberikan orang. kalau tak makan , nanti Allah marah sebab membazir.” Selepas itu, kamipun makan di sebelah kuburan itu….Masa kecil suka benar main di kuburan kerana di situ banyak pohon buah buahan yang sesiapa sahaja orang kampung dibenarkan makan tanpa sebarang halangan.

    Semua cerita di atas mempunyai hikmah yang perlu difikirkan dengan akal budi dan mata hati.. Salam mesra selalu.

  4. hahahahahaha…
    cerita kocak tapi ada permainan logika.

    btw, kalau soal macam jeruk itu rasanya kok ya mengingatkan saya pada kelakuan waktu kecil dulu ya. hehehe…

  5. Ha..ha..ha..
    Cerdas…!

  6. cerita yang masuk akal….
    dan ada lucunya juga..hehe

  7. jadi kepingin ke kebun jeruuk! enak kali ya. . .😀

    wah, , ayo dah kita jaga kebersihan😀

  8. Hehehe….rami kisahnya..

  9. Ngebayangin saat dibekap… mulutnya pasti komat kamit.. “mmngknsakchsacbgskndcs” ha ha ha ha…. sempat ngalamin gitu ya? dimaklumi…yang tinggal didaerah pasti begitu… saya sendiri ngalamin tuh…

  10. Mahasiswa dari kampus terbesar di Kalsel juga pasukan kuning saat turun di jalan, misalnya. Mereka seharusnya juga memungut sampah, ha ha ha…. Ah, mungkin jika orang buang sampah ti tempatnya, Mahasiswa juga di pecat semua, ha ha ha. Ah yang benar?

    Ya…intinya semuanya harus kita perhatikan. Jangan di jalan raya saja, ya ‘kan?

    Kalau mencuri, ya tak usah banyak bicara lah! Contohnya koruptor, mereka saat mencuri tidak banyak bicara di hadapan khalayak ramai…. HI hi hi hi….

  11. Petugas kebersihan diberi seragam kuning2, napa ya…? Hehehe… Btw, kirim jeruk donk ke akuh… wkwwkwk…. Pisa ahh… *Ngelantur*

  12. Ngomong2 pasukan kuning, di Balikpapan dan Samarinda sudah banyak yang naik haji lho……. gara2 nyapu jalan aja (waktu aku masih disana 2001-2006).

    Kalo kebun jeruk….wuih kampungku banget Mas….
    Waktu kecil rasanya “tiada hari tanpa jeruk” padahal keluargaku nggak punya pohon jeruk. Jadi dapat dari mana dong……..🙂

  13. mampir lagih pak. Hehe… sayah kira 3 cerita itu ada korelasi.. ternyata 3 cerita lepas ya?

    nice.

    hiks. sayah kok ga bisa bikin cerita seperti dikau ya pak?!

  14. ya…ya.. cerita pasukan kuning menjelang anugerah adipura, yang kabarnya banjarbaru menjadi unggulan sebagai penerima.

    —-
    … Sahibul hikayat, ada seorang nenek yang kerjanya setiap menjelang magrib memunguti daun-daun sawo yang gugur di halaman musala dekat rumahnya. Bertahun-tahun ia melakukannya. Sampai kemudian, seorang pemuda alim menjadi tetangganya. Demi melihat seorang nenek memungut daun-daun menjelang magrib, pemuda alim merasa tak tega dan membersihkan daun-daun itu sebelum sang nenek tiba. Dan alangkah sedihnya sang nenek ketika mendapati halaman musala telah bersih. Ia pun bertanya kepada jamaah musala, “Siapa yang membersihkan daun-daun ini? Tidak tahukah kalian, bahwa setiap helai daun yang saya pungut adalah amal pahala untuk bekal saya kelak? Biarkanlah, biarkanlah saya mendapatkan pahala dari daun gugur itu di ujung usia ini…” Air matanya meleleh.


    salam

  15. hehe… menjaga kebersihan itu saya pikir adalah kewajiban setiap umat, toh perilaku bersih itu adalah sebagian dari iman, kan? perkara pekerjaan para penyapu jalan bukan alasan kenapa kita tidak harus membuang sampah pada tempatnya, karena rezeki setiap manusia itu sudah ada yang mengatur.

    dan bahkan di negara-negara yang bersih sekalipun tetap diperlukan petugas-petugas yang menjaga kebersihan jalanannya. karena sampah tak hanya datang secara disengaja, juga dari bahan-bahan organik semacam luruhan daun atau pasir yang tertumpuk karena terbawa angin. *komentar sok tau*:mrgreen:

  16. @Hajriansyah
    Inginnya saudaraan dengan CERMIN ha ha ha
    Yap, kepadatan isi dan gaya bahasa … dan juga kelonggaran dan terbuka yang memungkinkan yang lain hadir.

    @ SFA
    Ha ha ha …. ada juga budaya yang meletakkan makanan di kuburan, yang biasa digunakan anak-anak untuk pesta. Banyak hal yang dialami pada masa yang lampau, memunculkan tafsiran baru pada saat sekarang.

    @ Pakacil
    Ha ha ha … pengalaman masa kecil yang hampir sama, terkadang mengingatnya tertawa sendiri (masih sadar koq ha haha)

    @ Randualamsyah
    Cerdas (CERita DAdakan Saja) ha ha ha

    @ Italina89
    Ha ha ha … senang juga kalau bisa membuat ketawa Ita

    @ Nisa
    Ayo ke kebun jeruk … dan jangan buang sembarangan kulit jeruknya ha ha ha

    @ Allay
    Hi hi hi …

    @ Pakde
    Ha ha ha … Pakde yang teriaknya ya ha ha ha atau ada cara lain ha ha ha

    @ Batang Garing
    Yap, kebersihan menjadi tanggung jawab bersama dan tidak hanya di jalan raya, apalagi hanya untuk mengejar Adipura.

    @ Hejis
    Ayo! Kenapa seragamnya kuning? Lho, di sana nggak ada kebun jeruk toh ha ha ha

    @ Mas8nur
    Yap, banyak jalan untuk naik haji.
    Wah kampungnya jeruk …. Hejis minta dikirimi jeruk ha ha ha

    @ quinie
    Ya … bisanya lebih baik lagi ha ha ha

    @ Sandi
    Banjarbaru memang sangat berpeluang meraih Adipura, dan semoga menerimanya.

    @ marshmallow
    Yap! komentar sok tau yang disetujui ha ha ha … kebersihan jalan memang diperlukan petugas, tapi tidak hanya pada titik-titik untuk tujuan penilaian Adipura saja.

  17. Hmmmm … satire … bagus Mas Ben …

  18. suka cerita yang nomer tiga
    kesannya tengil😀

    HEB : Terima kasih telah mampir. Mungkin, Kelly punya cerita masa kecil yang juga berkesan tengil ha ha ha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: