CERITA-CERITAAN (2)


Bukan Wakil Rakyat

Warga desa yang selalu bermandikan keringat dalam mengusahakan lahan pertanian, saat ini sedang gundah dan kehilangan ketenteraman. Lahan garapan yang semakin sempit, ternyata sewaktu-waktu bisa kena gusur atas nama pembangunan.  “Kita harus mengadu kepada wakil kita di gedung rakyat”, saran aktivis LSM yang setia mendampingi warga. Padahal warga desa belum pernah bertemu dengan yang namanya wakil rakyat, selain saat kampanye.

Pada hari yang ditentukan, warga desa menuju gedung dewan dengan wajah berpengharapan. Setelah lama menunggu wakil rakyat yang sedang dalam ruangan sejuk, warga desa yang tersengat matahari mendapat kepastian akan ditemui wakil rakyat. Dengan stelan jas lengkap dan sepatu mengkilat, beberapa wakil rakyat menemui warga desa di halaman gedung yang mulai basah keringat. Belum sempat wakil rakyat berbicara, aktivis LSM pendamping juga belum menyampaikan petisi, ditengah-tengah kerumunan warga terdengar suara yang cukup lantang, “Kita salah tempat, mereka bukan wakil rakyat! Lihat pakaian mereka! Bandingkan dengan apa yang biasa kita pakai!”. Warga desa saling menatap satu sama lain, kemudian menatap wakil rakyat, dan dengan rasa malu hati warga desa lalu membubarkan diri sebelum terjadi dialog. (BJB, 20/5/09)

Tunggu Saatnya Bersuara

Para pedagang kaki lima pulang sehabis berdemo di gedung wakil rakyat. Mereka diminta bersabar, karena segala urusan ada waktunya. Beberapa kelompok kepentingan warga juga terpaksa pulang setelah bertamu ke gedung dewan yang terhormat sebelum sempat bersuara mengutarakan tujuan dihadapan wakil rakyat. Para anggota dewan dalam menghadapi kunjungan rakyat dalam bentuk apapun bertindak dan bersikap dengan tenang dan santai saja, namun rakyat merasa memang harus bersabar dan menunggu; alias pulang dengan tangan kosong tak berdaya.

“Kalian calon intelektual harusnya bisa lebih sadar! Wong cilik saja mengerti kapan saatnya bersuara, mengapa yang terpelajar sebaliknya”, sergap anggota dewan bersemangat menghadapi mahasiswa yang juga bersemangat. Para mahasiswa terus saja menyuarakan pandangan mereka dan tidak menghiraukan apa yang dikatakan anggota dewan, seakan tidak ingin seperti kelompok kepentingan warga lain, yang pulang begitu saja karena penjelasan bahwa ada saatnya menggunakan suara. Tiba-tiba seorang mahasiswa berteriak dengan lantang, “Kami datang ke sini hanya ingin memastikan para anggota dewan tidak bisu dan tuli!”. Betuuuuullllllll!  Teriak mahasiswa serentak sambil meninggalkan gedung dewan setelah menyerahkan obat kumur  dan kurik kuping. (BJB, 23/5/09)

Ranting Berduri dan Orang Buta

“Mengapa aku harus terbaring di tengah jalan?”, sesal Ranting Berduri yang entah bagaimana bisa berada di jalan. Dengan menyadari keberadaanya bisa berbahaya bagi para pejalan kaki, iapun berdoa, “Ya Allah tolonglah hamba yang tak bisa bergerak ini, arahkan kebaikan seseorang untuk menyingkirkan hamba ke tempat yang tidak membahayakan golongan mereka sendiri”. Sudah ada beberapa orang yang melewati jalan di mana ranting itu tergeletak, mereka hanya menghindari Ranting Berduri, dan itu membuat lega Ranting Berduri tapi belum bisa menghilangkan kekhawatirannya.

Ranting Berduri menutup matanya karena tidak ingin melihat orang celaka karenanya. Tidak berapa lama, seorang buta menyodok-nyodokkan tongkatnya, karena merasa ada benda dihadapannya yang menghalangi jalannya. Lalu, ia menyikirkan benda tersebut dengan tongkatnya ke pinggir jalan. Ranting Berduri bersyukur dan merasa lega, “Alhamdulillah. Engkau mengabulkan doa hamba. Biarpun orang itu tidak mau menyentuh dan hanya melempar hamba dengan tongkatnya, juga tanpa mau melihat hamba yang tak berdaya ini, hamba merasa orang itu tidak sama dengan orang yang punya mata tapi buta”. (BJB, 27/5/09)

3 Responses

  1. Dan … cerita-ceritaan itu kini menjadi cerita. Salam

    HEB : Dan sudah tertulis di sini ha ha ha. Salam

  2. wow! kumpulan cerita-cerita pendek yang menyentil, mas ben.
    dalam banget maknanya. ringkas namun filosofis.

  3. Berarti lain kali kalo para wakil rakyat mau ketemu petani, mereka mendingan pake celana sotong dan topi caping aja..

    HEB: Ha ha ha … kali aja bisa lebih akrab, sehabis itu langsung ke sawah bersama-sama hi hi hiiiii. Terima kasih telah mampir, salam hangat selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: