HARI LINGKUNGAN HIDUP 2009: BERSAMA SELAMATKAN BUMI DARI KESERAKAHAN


Oleh: HE. Benyamine

Tantangan yang paling besar bagi kemanusiaan saat ini dan masa mendatang, satu diantaranya adalah perubahan iklim (climate change).  Tantangan ini berasal dari berkembang dan suburnya keserakahan dalam diri manusia, yang secara masif melakukan eksploitasi terhadap bumi untuk memenuhi berbagai bentuk ketamakan dan nafsu sesaat.

Pada tahun 2009 ini, United Nations Environment Programme (UNEP), memilih tema Hari Lingkungan Hidup Se-dunia (5 Juni) berikut, “Your Planet Needs You – Unite to Combat Climate Change”, yang merefleksikan suatu tantangan bersama dalam upaya menjaga perubahan iklim berada pada lintasan yang tidak menyebabkan berbagai bencana kemanusiaan. Juga, secara langsung mengajak semua orang untuk terlibat dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca dan limbah dengan memikirkan kembali berbagai tindakan dan pilihan hidup yang selama ini lebih banyak menghasilkan limbah dan gas rumah kaca. Setidaknya berusaha mengadopsi a greener lifestyle, misalnya seperti yang dilakukan oleh seorang sahabat dan kedua anaknya yang sedang berada di Belanda dengan berusaha lebih banyak menggunakan sepeda sebagai moda transportasi mereka. Begitu juga dengan warga Jakarta yang lebih memilih sepeda sebagai moda transportasi.

Perubahan iklim global yang mengacam kemanusiaan tidak terjadi dalam waktu singkat, tapi terjadi dalam jangka waktu lama dan baru dapat dirasakan kemudian yang berhubungan dengan perilaku keserakahan manusia sebagai penyebabnya,  yang melakukan kerusakan di muka bumi, sehingga dengan kasat mata mulai terlihat penurunan kualitas lingkungan hidup dan tentunya sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia di muka bumi tanpa kecuali. Bumi ini memang tidak pernah cukup bagi keserakahan, dan bila keserakahan sebagai arus utama diteruskan maka konsekuensinya adalah adanya dorongan terhadap bumi untuk menemukan keseimbangan baru yang tidak mengenal dan peduli dengan kemanusiaan itu sendiri.

Pertambahan penduduk yang terus meningkat, di atas perilaku keserakahan, tentu saja terjadi  ketidakseimbangan antara ketersediaan sumberdaya alam bagi pemenuhan kebutuhan pangan dan energi di berbagai sudut bumi.  Berbagai upaya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi di berbagai belahan bumi, namun karena paham keserakahan yang menjadi arus utama, maka terjadilah eksploitasi sumberdaya alam yang tidak ramah lingkungan dan cenderung melakukan kerusakan; pembabatan hutan dan perubahan total ekosistem alami. Begitu juga dengan pelepasan emisi gas karbon dioksida (CO2), yang secara nyata menyebabkan perubahan iklim global, dari berbagai alat dan peralatan teknologi yang tidak ramah lingkungan, yang saat ini semakin terbagi dalam satuan kecil yang dapat lebih mudah penyebarannya melalui orang per orang; misalnya sepeda motor. Seandainya perilaku keserakahan tidak menjadi arus utama, maka pengembangan dan pembangunan transportasi massal adalah merupakan diantara alternatif yang dapat menyatukan pelepasan emisi, menjadi lebih tidak menyebar, dan menguranginya.

Perubahan iklim harus diletakkan sebagai suatu akibat dari perilaku keserakahan yang menjadi arus utama dalam kehidupan di bumi ini. Oleh karena itu, tema Hari Lingkungan Hidup 2009 di Indonesia yang ditetapkan menjadi “Bersama Selamatkan Bumi dari Perubahan Iklim” lebih merefleksikan suatu pengabaian rasa keadilan dari kebanyakan umat manusia yang menjadi korban dari perilaku keserakahan. Untuk menyelamatkan bumi dari bencana yang tidak terbayangkan sebelumnya, dilakukan secara bersama, padahal saat memenuhi dahaga keserakahan jelas tidak pernah menghiraukan bagaimana kehidupan yang lain. Lebih tepat, temanya adalah “Bersama Selamatkan Bumi dari Keserakahan”.

Harapan untuk keluar dari keserakahan sebagai arus utama kehidupan di bumi, saat ini ada  pada pertemuan the 15th Conference of the Parties yang dilaksanakan United Nations Framework Convention on Climate Change yang dikenal sebagai COP 15 atau Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim ke 15, yang akan diselenggarakan pada bulan Desember 2009 di Copenhagen.  Konferensi ini untuk merespon satu diantara tantangan yang terbesar bagi kemanusiaan, yaitu perubahan iklim akibat keserakahan. COP 15 ini diharapkan dapat membuka jalan dan kesempatan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya untuk mengatasi krisis iklim dengan juga mempercepat keluar dari ketergantungan pada karbon dan pertumbuhan yang ramah lingkungan sebagai fondasi  kemakmuran ekonomi yang berkelanjutan.

Untuk menghasilkan kesepakatan dalam pertemuan COP 15, disamping bergantung pada negosiasi, tapi juga tentu sangat bergantung pada tekanan publik dari seluruh dunia, khususnya mendorong pemerintahan negaranya untuk menyetujui perjanjian perubahan iklim yang akan melindungi umat manusia, bumi, dan mengarusutamakan a global green economy. Ekonomi yang tidak berbasiskan keserakahan. United Nations menggalang keberpihakan semua pihak di seluruh dunia, untuk bergerak kearah “Seal the Deal”, yang diharapkan dapat bersatu untuk menemukan solusi perubahan iklim yang adil, seimbang, efektif, dan berbasis sains.

Berdasarkan kajian ilmiah terbaru, iklim mengalami perubahan yang lebih cepat dari perkiraan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change tahun 2007. Semakin banyak umat manusia yang sudah mengalami penderitaan karena berbagai bencana yang disebabkan perubahan iklim. Oleh karena itu, kita harus mendorong para elit negeri ini untuk terlibat secara aktif dalam gerakan “Seal the Deal” dan menjadi bagian yang penting dalam perjanjian perubahan iklim di Copenhagen. Juga, mendorong elit lokal (daerah) untuk memulai kebijakan dan bertindak yang ramah lingkungan dalam upaya memperbaiki iklim mikro sebagai suatu bagian yang nyata dari tempat berpijak. Lebih personal, mulai dari diri sendiri dan let’s reduce our carbon footprints!

7 Responses

  1. Assalaamu’alaikum….

    Selamat Hari Alam Sekitar Sedunia 2009.
    Semoga alam sekitar akan mendapat haknya untuk berkongsi hidup dengan manusia. Manusia harus memahami bahawa alam sekitar sangat penting untuk hari ini dan untuk akan datang bagi generasi kita yang belum tahu bagaimana untung nasib mereka setelah kita meninggalkan bumi ini buat mereka. Salam hormat selalu.

  2. Woow..amazing Saya lupa kalao 5 Juni itu diperingati sbg hari lingkungan hidup toh. weleh weleh…. Asli saya lupa mas Ben. xixixixi

    Mengingatkan sebuah campaigne agar kita bisa peduli dan aware untuk menjaga kondisi bumi saat ini nampaknya harus digaungkan ke seluruh lapisan masyarakat, idealnya begitu, Saya masih menunggu-nunggu nih kapan ya..akan di keluarkan undang2 untuk menyelamatkan bumi ini dari kerusakan. Repot kali ya…bikin undang2 khusus untuk Lingkungan, masalahnya ketika mau universal alias menyeluruh. toh beberapa komponen yang terkait dalam lingkungan hidup sudah ada undang2nya. tapi sayang ternyata yang aware tetep aware, yang nggak ya nggak. Yang kampanye tetepo berkampanye, yang diempun banyak.

    Bagaimana ya?! @#%@$*()_#&E^W

  3. Tahu nggak. apa hubungannya kerusakan bumi kita dengan otonomi daerah……………….

    Kata dosen saya nih…gara-gara otonomi pasca orde baru itu, daerah-daerah seperti punya semboyan sekali merdeka – merdeka sekali. Jadi dengan seenak-enaknya tiap daerah mengekploitasi hutan, tambang dan sumber daya lainnya sampai pada titik kritis. Sekarang hampir semuanya merasakan akibat ketamakan tersebut. Bencana ………….dimana-mana.

  4. Selamat Hari Alam Sekitar Sedunia 2009. Dan saya sangat setuju kita perlu punya perhatian lebih terhadap lingkungan. Green and Clean place is our hope together.

    Saya sangat prihatin dengan kondisi climate di kota Banjarmasin dan Banjarbaru pak? di Banjarbaru terutama, masa? di depan Balai Bahasa-CFC hujan lebat, sampai di depan rumdin walikota panas, sampai ke depan museum hujan. Jadi kalau orang-orang mau berteduh cukup ke Murjani.

    Sebegitu parahnya sudah cuaca di daerah kita sampai2 hujan dan panas terpotong2 dan tak lagi beraturan. Kayaknya ini patut menjadi signal warning supaya:
    jangan buang sampah sembarangan
    kurangi konsumsi terhadap barang2 kurang ramah lingkungan
    serta: galakkan penghijauan

  5. Ya nampaknya mindset yang perlu dirubah secara mendasar, hidup kita di Bumi … merusak Bumi merusak landasan pijak manusia dan kemanusiaan … Lalu … bagaimana berbuat. Hal itulah yang susah namaknya.

  6. Setuju, Pak. Kita harus menumbuhkan kesadaran untuk ramah kepada lingkungan. Justru dari lingkungan itu sendiri kita bisa bertahan hidup dengan nyaman. Salam kenal.

    HEB : Terima kasih sudah berkunjung. Damai dalam bumi yang satu ini. Salam hangat.

  7. ibu tua (bumi) ini memang sekarat tampaknya, bahkan kepeduilan anak2nya sudah hampir terlambat–sehingga ramalan ttg kehancuran itu semakin dekat. tapi, tentu saja kita harus tetap optimis bukan? terus berharap meski tak tahu bagaimana langkah berikutnya akan diarahkan.
    ya, ini ibu kita. kematiannya adalah kematian kita besrta anak-cucu kita.
    selamat hari alam sekitar seunia 2009!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: