JALAN KHUSUS TAMBANG JUGA MIMPI SOPIR


Oleh: HE. Benyamine

Pernyataan wait and see dari pengusaha batubara  terhadap pelaksanaan Perda No. 3 tahun 2008 yang dimulai pada tanggal 23 Juli 2009 dapat dikatakan sebagai suatu sikap yang  ingin terus menikmati keuntungan dari penggunaan jalan negara untuk usaha pertambangan mereka. Sikap tersebut merupakan suatu ungkapan bahwa sebagian pengusaha batubara lokal tidak mau berpikir tentang kepentingan masyarakat yang lebih luas dan daerah. Lebih tegasnya, hanya untuk kepentingan mereka yang terlibat secara langsung dalam usaha pertambangan, yang lebih kurang 50 ribu orang.

images.kompas.com (Aya Sugianto)

images.kompas.com (Aya Sugianto)

Alasan untuk wait and see tersebut, menunggu dampak pemberlakuan  Perda 3/2008 bagi sopir, masyarakat dan aspek lainnya, sebenarnya tidak berhubungan dengan pengusaha batubara itu sendiri secara langsung. Alasan tersebut lebih ditujukan pada usaha jasa pengangkutan batubara dan masyarakat yang terlibat dalam usaha informal dalam jasa penunjang lainnya. Jadi, pemberlakuan Perda tentang jalan khusus tambang, lebih dipersempit dan dibenturkan dengan kalangan usaha jasa pengangkutan batubara.

Jelas terlihat bagaimana para pengusaha batubara ingin lepas tangan dan tidak mau tahu bagaimana usaha jasa pengangkutan melaksanakan aktivitasnya. Para pengusaha batubara hanya tahu bagaimana produksi batubara mereka dapat terangkut dan sampai kepasaran. Mereka seakan memikirkan dampak pemberlakuan Perda 3/2008 bagi sopir khususnya, dengan istilah wait and see, dengan asumsi bahwa akan ada penolakan dari para sopir yang memang sangat bergantung dari jasa pengangkutan untuk kehidupan mereka. Begitu juga sektor informal yang kecipratan recehan dari penggunaan jalan umum untuk pengangkutan batubara.

Padahal, pengusaha batubara yang memanfaatkan para sopir dan masyarakat yang terlibat di sektor informal sebagai suatu alasan untuk tetap menggunakan jalan negara, sebenarnya tidak pernah memikirkan dan mempedulikan para sopir tersebut. Karena, para pengusaha batubara lebih membiarkan para sopir dalam kondisi lingkungan kerja yang tidak memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja.  Para sopir dibiarkan dalam resiko yang tinggi terjadi kecelakaan kerja. Pada sisi kejiwaan, para sopir dibiarkan berkerja dalam tekanan stress yang tinggi, karena mereka harus berhadapan dengan jalan yang penuh rintangan dan adanya target setoran.

Para pengusaha saat ini lebih banyak memanfaatkan para sopir secara khusus dan usaha jasa pengangkutan secara umum untuk kepentingan keuntungan usaha pertambangan mereka. Hal ini jelas terlihat, bagaimana waktu 1,5 tahun sebagai konpensasi untuk pembangunan jalan khusus tambang, tidak dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh untuk membangun jalan tersebut. Bahkan, tidak tercapainya target penyelesaian jalan khusus tambang sesuai yang diamanatkan Perda 3/2008, menjadi alasan untuk wait and see dan mencari pembenaran baru untuk tetap menggunakan jalan negara. Hal ini dipertegas oleh seorang calon anggota DPRD Provinsi Kalsel terpilih hasil Pemilu 2009 yang membuka peluang untuk meninjau kembali Perda tersebut bila berdampak bagi sopir, masyarakat, dan aspek lainnya.

Bila memperhatikan dampak penggunaan jalan negara dari sisi sopir, sudah jelas terlihat bahwa para sopir dan usaha jasa pengangkutan pertambangan merupakan bagian dari pihak yang dikorbankan. Para sopir yang seharusnya dapat berkerja dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja mereka, saat menggunakan jalan umum/negara, malah mereka cenderung menjadi pihak yang dijerumuskan pada berbagai kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.

Bayangkan saja, para sopir yang jumlahnya ribuan tersebut harus bersama pengguna jalan negara lainnya, sementara jalan umum tersebut hanya satu jalur, tentu dapat terbayang bagaimana penggunaan jalan negara dapat dipandang sebagai pengabaian kesehatan dan keselamatan kerja yang semestinya. Belum lagi berbagai pungli yang dilakukan berbagai kalangan terhadap para sopir selama diperjalanan, yang membuat para sopir terus menjadi korban penghisapan bagi berbagai kalangan. Hal ini baru dampak yang seakan menjadi keharusan para sopir, yang tidak mempunyai pilihan, dan tidak mempunyai perlindungan kesehatan dan keselamatan. Para sopir angkutan batubara dan usaha jasa pengangkutan sebenarnya mempunyai hak dalam mendapatkan rasa aman dan adanya jaminan keselamatan dalam berkerja, dan hal ini yang terus diabaikan para pengusaha batubara pemegang izin usaha pertambangan.

Jadi, para sopir dan usaha jasa pengangkutan sudah saatnya tidak terus menerus dijadikan alasan untuk terus menggunakan jalan negara/umum. Karena, penggunaan jalan negara/umum ini sangat tidak memberikan rasa aman, mengabaikan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) bagi para sopir itu sendiri. Dampak terhadap masyarakat yang lebih luas sudah jelas sangat membuat kesengsaraan dan penderitaan, karena itu seperti bencana.

Para sopir berhak mendapatkan lingkungan kerja yang aman dan lebih sedikit dalam tekanan psikis, serta bebas dari berbagai pungutan liar. Hal ini hanya dapat terwujud bila mereka, para sopir, dapat melintas di jalan khusus pertambangan batubara. Sudah saatnya, para pengusaha tidak lagi menjadikan para sopir sebagai alasan untuk kepentingannya sendiri dalam penggunaan jalan negara. Pemerintah daerah (provinsi/kabupaten/kota) sudah harus mengambil sikap tegas dan menunjukkan keberpihakan kepada kepentingan seluruh masyarakat, karena tanpa Perda No.3/2008 itupun sesungguhnya sudah dapat melarang armada batubara menggunakan jalan negara/umum.

Jalan khusus tambang sesungguhnya untuk melindungan kepentingan seluruh masyarakat dari dampak pertambangan, dan juga untuk menjamin para sopir dan usaha jasa pertambangan (pengangkutan kususnya) berada dalam lingkungan kerja yang mengutamakan kesehatan dan keselamatan kerja. Karena Perda No. 3/2008 sudah ada, pemerintah daerah memang harus didukung dalam pemberlakuannya, dan sudah saatnya seluruh masyarakat merasakan terbebas dari bencana armada truk batubara.

5 Responses

  1. pertamaxxx. yap, saya ikut prihatin dengan nasib sopir-sopir itu. Tak jarang bila terjadi kecelakaan, mereka pihak yang paling disalahkan. terlepas dari kecerobohan mereka, toh, mereka juga hanyalah individu2 yang berjuang mencari sesuap nasi.

    sudah seharusnya para pengusaha ikut melindungi…tapi..sudahlah…

  2. tadi dari banjarbaru lewat jalan trikora, saya jadi membayangkan diri sebagai sopir yang harap2 cemas….

  3. Assalaamu’alaikum..

    Aduuhh…saudara HEB, mohon maaf ya..saya sudah membaca artikel saudara ini sampai selesai…he..he…tapi kurang faham sesetengah perkataan mengakibatkan saya kurang tumpuan terhadap apa yang difokuskan. Maklum ajelah bahasa Melayu kita ini terdapat beberapa perbezaan maknanya.

    Mungkin yang saya faham, tulisan saudara cuba memperlihatkan nasib para pemandu di jalan raya. Semoga selamat semuanya. Salam hormat.

  4. prasarana transportasi kita memang jauh di bawah jumlah yang pantas untuk menampung kesibukan lalu lintas kita, mas ben. sementara pertumbuhan kendaraan merupakan deret ukur, pertumbuhan jalan raya merayap di deret hitung. jadi jangan heran bila jalan khusus bagi truk tambang akan menanti lama sekali untuk dapat direalisasikan.

    pada contoh kasus yang lain, pendapatan supir juga dipengaruhi oleh beban muatan. pendapatan akan lebih banyak dengan semakin berat muatan. jadi tak heran bila supir lebih senang membawa muatan yang super berat walaupun lambat dan beresiko di perjalanan (dan beresiko bagi kondisi jalan juga) ketimbang membawa beban sedikit. di lain pihak, pengusaha juga diuntungkan karena tak harus bolak-balik lebih sering.

    intinya, banyak faktor yang membatasi terwujudnya impian ini, mas ben.

  5. saia kehabisan kata² kalau soal pengusaha batu bara macam ini dan selalu teringat ucapan seorang sopir angkutan batu bara yg lebih memilih untuk menubruk manusia dari pada angkutannya tumpah !👿

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: