LARANGAN PEMBAKARAN LAHAN, TRAGEDI PENGETAHUAN


Oleh: HE. Benyamine

Pengolahan lahan dilarang menggunakan cara pembakaran. Larangan ini berlaku bagi semua kalangan, tanpa kecuali. Larangan ini muncul bagai halilintar di siang bolong bagi masyarakat adat, yang mengguncang kebiasaan nenek moyang mereka, yang merupakan pengetahuan lokal (indigenous knowledge) yang mereka miliki dalam pengolahan lahan.  Padahal musim kemarau, biasanya merupakan waktu untuk melakukan pembakaran serasah bagi para petani. Cara pembakaran ini sudah dilakukan secara turun-temurun, sejak beberapa generasi sebelumnya, yang merupakan bagian dari budaya mereka.

Pemerintah daerah khususnya, perlu memperhatikan keragaman budaya daerahnya dalam membuat suatu kebijakan, seperti larangan pembakaran lahan bagi petani/peladang. Karena, pengolahan lahan yang dilakukan oleh petani/peladang dengan menggunakan api (indigenous use of fire) berdasarkan pengetahuan lokal (indigenous knewledge). Masyarakat ini menggunakan api sangat jauh berbeda dengan perkebunan modern yang melakukan pembakaran untuk membuat keseragaman yang sangat luas pada suatu ekosistem.

Tahapan pembakaran dalam pengolahan lahan oleh masyarakat lokal dianggap sangat penting, karena berdasarkan pengalaman mereka dalam mengolah lahan pembakaran dapat membantu kesuburan tanaman.  Berdasarkan Mertz dan Magid (2000; http://www.geogr.ku.dk) bahwa pembakaran meningkatkan ketersediaan P karena pH meningkat, dan kemudian pH tends to drop relatively fast with subsequent P-immobilisation. Sementara kehilangan N selama pembakaran menjadi tidak begitu penting karena masih terdapat di dalam bahan organik tanah melalui mineralisasi setelah pembakaran. Di samping itu, pembakaran dapat membantu dalam pengedalian hama, sebagaimana digambarkan oleh Nurse et al. (1994) bahwa masyarakat area Kilum di Kamerun Afrika menggunakan api untuk promote new grass growth and for parasite control. Di Sumbawa, penggunaan api untuk membuat padang rumput dan menjaga populasi wild herbivores pada level yang tidak mengganggu padang rumput tersebut, sehingga bermanfaat  bagi pemburu dan keanekaragaman hayati (biodiversity).

Analisis terhadap sebaran hotspots, menggunakan satelit, Stolle et al (1998) menemukan bahwa kejadian  paling rendah (lowest incidence) dari kebakaran yang terjadi umumnya di area  yang digunakan masyarakat tradisional atau perladangan berpindah (shifting cultivation). Hal ini menunjukkan penggunaan api oleh masyarakat tradisional adalah memang efektif, dan menunjukkan bahwa mereka mempunyai managemen pembakaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Oleh karena itu, pembakaran lahan yang dilakukan masyarakat lokal  dalam mengolah lahan perlu dipandang berdasarkan pengetahuan lokal (indigenous knowledge) yang mereka miliki. Di mana, penggunaan api oleh masyarakat tradisional bukan hanya ada di Indonesia, seperti Kalimantan, tapi juga dilakukan oleh masyarakat di belahan bumi lainnya. Masyarakat Aborijin  di central dan northern Australia memodifikasi habitat lokal yang merupakan ekosistem subtropikal dengan menggunakan pembakaran. Jadi, tahapan pembakaran dalam pengolahan lahan oleh masyarakat tradisional seperti di areal persawahan, perladangan dan kebun masyarakat harus dipandang sebagai suatu tahapan yang penting untuk kelangsungan keragaman budaya. Tahapan pembakaran tersebut tidak kuat dan valid untuk dijadikan sebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang disertai dengan kabut asap.

Sebagaimana Neil Byron (pers comm. April 1998) melaporkan bahwa meskipun kebakaran menghancurkan kurang lebih 30,000 ha lahan perkebunan di Indonesia tahun 1997, tetapi hanya 30 ha terjadi kebakaran hutan yang dikelola oleh masyarakat tradisional. Byron menyimpulkan bahwa masyarakat tradisional sangat kecil menjadi sebab kebakaran hutan dan  handal dalam mengontrol pembakaran di area mereka. Hal yang sama ditemukan Alberto Chincilla (pers comm. Agustus 1998) di Amerika Tengah, di mana 1,480,000 ha area hutan yang terbakar antara Desember 1997 dan Mei 1998, sangat kecil yang terjadi pada hutan yang dikelola masyarakat lokal. Begitu juga di Nepal pada tahun 1993, kebakaran besar yang terjadi kebanyakan berada di national forest land dan  kurang dari 0.1 persen berada pada pengelolaan masyarakat lokal. Semua ini mengatakan bahwa masyarakat lokal/tradisional lebih sedikit yang menyebabkan kebakaran hutan, dan bila terjadi kebakaran, maka masyarakat lokal mampu melakukan quick response (Fisher dan Jackson, 1998).

Sehingga yang perlu mendapat perhatian semua pihak adalah 1) pembakaran di areal perusahaan perkebunan modern dengan skala yang sangat luas, 2) pembakaran dan/atau kebakaran di areal lahan tidur yang bisa berupa semak belukar dan areal gambut, dan 3) hutan yang mengalami degradasi baik wilayah dataran tinggi maupun wilayah gambut. Karena, ketiga areal ini mempunyai potensi yang besar terjadinya  kebakaran. Terutama wilayah hutan gambut yang mengalami gangguan manusia, yang sangat sulit dalam pengendalian kebakarannya dan lebih banyak menghasilkan asap, karena kebakaran bisa menjalar melalui ronggo-ronggo di bawah permukaan yang terbentuk dari serasah dan pelapukan bahan organik.

Jadi, larangan pembakaran lahan pada musim kemarau untuk mengantisipasi terjadi kebakaran hutan dan lahan perlu dibuat ketentuan yang sesuai dengan tujuannya. Larangan tersebut perlu ditujukan pada sasaran yang tepat, sehingga perlu adanya pemilahan lahan dalam aturan tersebut, yang dapat diterima oleh semua kalangan dengan tidak mengorbankan sebagian masyarakat lokal.  Kebakaran hutan dan lahan sangat merugikan semua pihak, hal ini sangat disadari oleh masyarakat yang bergelut dalam bidang pertanian dan perkebunan, baik skala kecil maupun menengah dan besar.

Di samping itu, larangan perlu disertai penyediaan cara alternatif yang setara dengan cara yang dilarang tersebut, sehingga masyarakat yang masih subsistence dalam kehidupannya dapat melaksanakan cara alternatif tersebut tanpa bertambah beban hidupnya.  Larangan saja cenderung menimbulkan antipati dan perlawanan, karena bisa saja sesuatu yang dilarang adalah bagian dari budaya yang mempunyai nilai dan normanya sendiri yang memerlukan waktu dan syarat-syarat tertentu dalam perubahannya. Apalagi bila kebiasaan tersebut telah teruji  dalam beberapa generasi dan menjadi pengetahuan yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai indigenous knowledge, yang perlu dihargai oleh semua stakehorders. Larangan pembakaran lahan bagi semua kalangan adalah tragedi pengetahuan, yang perlu disesalkan dan menyesatkan.

11 Responses

  1. dari dulu sampai sekarang, kesalahan masyarakat adat yg membakar lahan itu cuma satu, yakni karena mereka bukan pemodal besar, sehingga mereka terus disalahkan.

    padahal literatur ilmiah (sebagaimana sumber² di atas) sudah jelas mengatakan, bahwa mereka tidak memiliki peran yang signifikan dalam pengrusakan dan kebakaran hutan.

  2. menarik, pengetahuan baru bagi saya.
    ya, pemerintah selalu pukul rata tanpa mau menyelidik lebih dalam ke persoalan2 masyarakat yang lebih nyata (dalam hal ini budaya yg tidak salah itu), padahal banyak sekali orang di pemerintahan….

  3. Memangnya stkeholder selama ini apa tidak tahu atau pura2 tidak tahu mengenai budaya pembakaran oleh masyarakat lokal Mas?

  4. Penyampaian informasinya bisa lebih di giatkan melalui seminar, penerangan lokal, atau brosur contact information, untuk mencegah miskomunikasi dan informasi yang setengah2, tentu saja.

    Hal2 yang terdengar ekstrim seperti itu (pembakaran hutan) memang terdengar horrific. Tapi bila dilakukan dengan ketentuan dan hitung2n tepat, ternyata bisa membawa kegunaan yang tak bisa dilihat, kecuali ditelisik benar-benar.

    Bukti juga agar kita tidak terjebak prasangka terlebih dahulu🙂

  5. Assalaamu’alaikum..

    Info yang sangat berguna. Saya bersetuju dengan pendapat SQ, pernyataan dan dapatan tentang informasi kebakaran hutan, ladang hasil dari kerja pembakaran harus disebarkan dengan baik dan secara ilmiah melalui seminar, sebaran am, poster dan sebagainya. kesedaran masyarakat terhadap mereka yang melakukan pembakaran secara besar-besaran ini harus diketengahkan agar jangan ‘ikan bilis’ yang asyik menjadi mangsa ‘jerung’. Sedangkan purata penglibatan mereka amat sedikit, malah membantu proses “memasakkan’ tanah untuk menjadi lebih subur.

    Saya juga berpengalaman dalam pertanian tradisional (membantu datuk saya menanam padi huma)- zaman kanak-kanak yang sungguh menyeronokkan dapat membantu datuk membakar tunggul-tunggul kayu dan rumput kering dalam situasi yang masih boleh di kawal. Indah sekali melihat asap berkepul-kepul naik ke udara dan api menerawang bersama abunya ke dada langit dalam suasana hangat dihembus bayu jejak sawah yang luas. salam mesra dan hormat selalu.

  6. Bahsan serius dan bermanfaat … sayang artikel ini setelah novel saya jadi he he

  7. menarik sekali tulisan ini, mas ben.
    terus terang saya tidak pernah mengetahui bahwa pembakaran lahan telah dilakukan secara efektif dan memiliki manfaat besar sejak dulu zaman nenek moyang kita.

    tak hanya dalam bidang pertanian. pengetahuan modern kerap mendiskreditkan kebiasaan masyarakat yang turun-temurun yang, walaupun tidak dilaksanakan berdasarkan data empiris pada awalnya namun setelah dikaji ternyata, tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan.

  8. Aku suka dengan tulisan ini. Mungkin bisa ditambahkan informasi tentang regulasi yang melarang pembakaran lahan (sebutkan aja nama peraturannya), jadi kita lebih jelas akan peraturannya.
    Local knowledge atau indigenous knowledge memang sering diabaikan oleh para pengambil kebijakan, tidak peduli apakah sebenarnya dibutuhkan dalam setiap pembangunan lokasi tersebut atau tidak. Pemerintah daerah ataupun nasional kerap mengeluarkan kebijakan yang bersifat generik, umum diberlakukan di setiap tempat. Atas nama efisiensi kebijakan memang, tapi sebenarnya ini wujud dari kemalasan Pemerintah untuk mengidentifikasi karakteristik lokal dari masing2 wilayah.
    Terus menulis soal indigenous knowledge dan ilustrasi kebijakan yang menentangnya ya, makin banyak tulisan seperti ini akan makin menebalkan keyakinan kita bahwa percaya dan meyakini kekuatan lokal adalah jawaban dari segala permasalahan pembangunan daerah, yang kalau terakumulasi, menjd pembangunan Indonesia.
    Lanjutkan! (heheheh)

    HEB : Makasiiiiih mau berkunjung ….

  9. Saat nya mendesakkan Keadilan atas Ruang dan informasi. Generalisasi dan stigma adalah cara paling ampuh dalam bekerja dan bersikap.. tulisan kasus diatas sangat jelas bahwa Indegious Loci dengan Subjek Masyarakat adat tidak pernah ada dalam regulasi untuk sebuah Apresiasi apalagi perlindungan…

  10. saya setuju dengan tidak menyalahkan kebiasaan masyarakat yang sudah turun temurun dan menjadi kearifan lokal bagi mereka

    HEB : Terima kasih sudah bersedia mampir. Tuduhan terhadap masyarakat lokal dalam kebakaran hutan cenderung mengalihkan masalah yang sebenarnya; ketidakmampuan dalam pengelolaan hutan.

  11. Ada kesalah pahaman tentang pembakaran lahan yang dipahami oleh pengambil kebijakan ditingkat atas. Sejak jaman dulu sebelum Indonesia merdeka belum ada masalah kabut asap atau pembakaran lahan. Masalah kabut asap muncul sejak berubahnya alih fungsi lahan hutan. Harus dibedakan antara pembakaran lahan dan pembakaran hutan. Pembakaran lahan hanya sebatas membakar semak belukar, alang-alang yg sudah disiapkan untuk lahan yg digunakan utk berladang. Sedangkan pembakaran hutan dilakukan untuk membuka hutan dg cara dibakar yg arealnya lebih luas, tujuannya alih fungsi lahan .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: