BATU BARA MENUTUPI MATA HATI


Oleh: HE. Benyamine

Angkutan batu bara menggunakan jalan negara sudah saatnya untuk dihentikan.   Pemerintah tidak perlu lagi membahas bagaimana angkutan batu bara menggunakan jalan negara, seperti uji coba pembatasan tonase dan pengaturan waktu. Karena, selama angkutan batu bara masih menggunakan jalan negara, berbagai masalah tidak dapat dihindari. Jadi, masalah yang dihadapi oleh masyarakat Kalimantan Selatan adalah digunakannya jalan negara untuk angkutan batu bara. Setiap kebijakan yang diputuskan pemerintah memang mempunyai konsekuensi, dan kewajiban pemerintah adalah memilih kebijakan yang paling sedikit konsekuensi negatifnya bagi masyarakat umum. Pilihan kebijakan untuk menghentikan angkutan batu bara menggunakan jalan negara adalah kebijakan publik yang memihak untuk kepentingan umum, terutama masyarakat yang rentan terhadap segala bentuk negatif dari pembangunan.

Penggunaan jalan negara oleh perusahaan pertambangan untuk mengangkut batu bara merupakan kebijakan yang merugikan kepentingan umum, yang mendorong masyarakat ke dalam suasana dan kondisi “hamil tua”, yang sewaktu-waktu dapat menyebabkan terjadinya  kerusuhan sosial. Hal ini tidak bisa dibiarkan dengan tetap membiarkan angkutan batu bara menggunakan jalan negara. Apalagi, pemerintah sudah mengetahui bahwa royalti dari batu bara yang diterima daerah tidak sebanding dengan kerusakan jalan negara tersebut, bahkan lebih tidak sebanding dengan dampak dan resiko yang harus ditanggung dan diderita oleh masyarakat. Di samping itu, penggunaan jalan negara tersebut memberikan kemudahan bagi tambang ilegal (illegal mining) melakukan aktivitasnya.

Surat Keputusan Gubernur Nomor: 119/2000 tentang angkutan batu bara dapat diibaratkan “mambawa bala ka rumah”. Jika tidak ingin adanya malapetaka dan bencana   yang terjadi di daerah ini, gubernur dalam waktu yang sesingkat-singkatnya untuk menyegerakan mencabut surat keputusan tersebut, dan menyatakan bahwa perusahaan tambang batu bara mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku tentang pertambangan, lingkungan hidup, kehutanan, konsumen, tata ruang, dll. Karena, angkutan batu bara menggunakan jalan negara nyata-nyata membahayakan kepentingan publik. Pencemaran udara merupakan malapetaka bagi semua,  karena  penyakit saluran pernafasan semakin menjadi ancaman, jantung dan urat syaraf.

Dalam hal pencemaran udara, penelitian Salmani (2006) pada Pascasarjana Unlam Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan tentang Hubungan Volume Arus Lalulintas Kendaraan Bermotor Dengan Kadar Timbal (Pb) Di Udara Kota Banjarmasin menunjukkan bahwa kendaraan berat (Heavy Vehicle) jenis truk dan bus yang paling dominan memberikan kontribusi terhadap polutan kadar Timbal di udara Kota Banjarmasin, di mana setiap penambahan satu unit kendaraan truk atau bus akan meningkatkan volume Timbal di udara sebesar 0,0054 µg/m-3. Padahal kadar Timbal (Pb) dalam darah sekitar 10 µg/dL dapat membahayakan kesehatan manusia, seperti gangguan terhadap perkembangan sistem syaraf pusat dan fungsi kognitif.

Tersenyum

Bagaimana bisa tersenyum bila sedang menghadapi malapetaka.  Begitu juga dengan supir truk batu bara, tentu semakin sulit untuk tersenyum, karena berhadapan dengan pemerintah daerah yang kebingungan dalam bertindak, yang ditunjukkan dengan uji-coba terus menerus. Pemerintah daerah sebenarnya sudah mengerti tentang ketentuan yang berlaku, perusahaan pertambangan harus mempunyai jalan khusus milik sendiri.  Wakil rakyat daerah juga sudah paham sekali bahwa angkutan batu bara tidak boleh menggunakan jalan negara, jadi tidak perlu studi banding tentang angkutan batu bara ke daerah lain. Oleh karena desakan mahasiswa,  anggota DPRD Tk.I baru bersuara, jika tidak mungkin hanya senyum-senyum saja.

Partai politik tidak terdengar suaranya dalam menyikapi angkutan batu bara yang menggunakan jalan negara. Mungkin semua partai politik sependapat dengan pemerintah, sehingga tidak perlu disikapi, dan membiarkan malapetaka mengancam daerah ini. Apakah partai politik yang mulai mengkampanyekan diri sebagai partai hijau (green party), di mana spanduknya terpasang di kantor-kantor partai tersebut, juga mengamini jalan negara digunakan angkutan batu bara.  Atau, masalah angkutan batu bara di jalan negara dianggap oleh semua partai politik sebagai bukan masalah. Hal ini menunjukkan bahwa partai politik begitu kesulitan dalam mengartikulasikan aspirasi rakyat.

Anggota DPRD, baik Tingkat I maupun Tingkat II, entah sedang kemana, sehingga tidak terlihat aktikulasi mereka terhadap keresahan masyarakat tentang angkutan batu bara di jalan negara. Mungkin, mereka sedang menunggu tunjangan komunikasi untuk menjaring aspirasi. Atau, karena mereka perpanjangan tangan partai politik, jadi mereka mengikuti apa yang digariskan partai yang bersangkutan.

Malah pernyataan sikap dari kalangan mahasiswa sudah mulai terdengar, mereka datang ke DPRD, kemudian ke kantor gubernur, untuk meminta dihentikan jalan negara digunakan angkutan batu bara, yang memberikan harapan kepada masyarakat bahwa masih ada yang peduli sehingga mereka bisa tersenyum meski sekejap. Dari LSM, sikap Walhi Kalsel juga menyatakan hal yang sama. Namun, organisasi kemasyarakatan, seperti NU dan Muhamaddiyah misalnya, masih belum menunjukkan sikap. Masalah angkutan batu bara di jalan negara merupakan masalah bersama, yang menghendaki adanya kepedulian semua pihak, karena menyangkut kepentingan umum.

Mata Hati Berdebu

Angkutan batu bara di jalan umum merupakan perbuatan yang melecehkan kepentingan bersama. Sebagian besar masyarakat menanggung dampak negatif dan malapetaka dari perbuatan orang lain. Batu bara seakan lebih berharga dari manusia karena mampu mengisi pundi pendapatan daerah, sedangkan manusia seperti dianggap sebagai beban daerah. Debu berterbangan, tidak hanya membuat mata iritasi dan saluran pernafasan terganggu, namun mata hati juga berdebu. Sehingga, banyak orang yang mengerti dan memahami masalah yang sebenarnya seperti tidak bisa berbuat apa-apa. Termasuk orang-orang yang mempunyai otoritas dalam bersuara, seperti ulama dan tokoh masyarakat, terkesan hanya diam seribu bahasa.

Masyarakat menantikan kebijakan yang memihak kepada kepentingan umum, yang memberikan rasa aman dan damai, yang mampu menjadikan masyarakat tersenyum. Kebijakan yang demikian hanya lahir dari orang-orang yang mempunyai mata hati yang bersih. Apabila suatu kebijakan menyebabkan keresahan sosial, sudah saatnya pengambil keputusan untuk mencabutnya. Bila dibiarkan, sama saja menjadikan situasi dan kondisi daerah seperti kalaras karing, sewaktu-waktu bisa terbakar hanya karena alasan yang sangat sederhana. Keresahan sosial karena angkutan batu bara perlu mendapatkan perhatian semua pihak, bahkan gubernur sendiri memerlukan dukungan dari masyarakat untuk menghentikan angkutan batu bara menggunakan jalan negara.

Dengan melarang jalan negara digunakan angkutan batu bara memang membuat keresahan dikalangan supir truk batu bara beserta tanggungannya, namun lebih bersifat sementara dan jangka pendek. Dalam jangka panjang, keputusan tersebut memberikan suasana kondusif bagi supir truk dalam menjalankan aktivitasnya dan sekaligus memenangkan kepentingan publik. Sehingga perusahaan pertambangan mulai berpikir untuk jangka panjang, tidak seperti sekarang seolah-olah besok sudah hengkang dari lokasi tambang.

One Response

  1. kerap kali, saya sampai sebuah kesimpulan, bahwa masyarakat sendiri yang harus berusaha, jika pemerintah sudah tak mampu menghentikannya.

    yaaa… hitung-hitung masyarakat menyelematkan diri sendiri dan membantu pemerintah lah…

    HEB : Moga saja bulan Juli 2009 dapat dilaksanakan Perda No.3/2008 … dan masyarakat harus tetap berusaha secara bersama membebaskan jalan umum digunakan sekaligus sebagai jalan khusus. Benar, Pemerintah memang perlu dibantu dan didorong untuk berpihak kepada kepentingan umum dan kebajikan umum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: