BALAI ADAT MERATUS


Oleh: HE. Benyamine


Masyarakat adat Pegunungan Meratus minta sumbangan seng untuk atap Balai Adat atau untuk keperluan renovasi Balai Adat. Ada apa dengan masyarakat adat tersebut, sehingga untuk merenovasi balai adat mereka harus meminta sumbangan dengan pihak lain. Bagaimana jika mereka harus membangun balai adat baru, mungkin lebih tidak sanggup lagi. Masyarakat minta sumbangan, apalagi kepada pemerintah, bukanlah perbuatan yang dilarang ataupun merendahkan masyarakat tersebut. Tapi, minta sumbangan untuk sesuatu yang menjadi bagian dari budaya masyarakat itu sendiri terasa menyedihkan dan memunculkan tanda tanya besar; apa yang sedang terjadi dengan masyarakat adat tersebut. Apalagi keberadaan balai adat tersebut termasuk bagian budaya yang sangat vital dan penting.

Di Balai Adat ini, upacara Aruh Ganal di selenggarakan

Di Balai Adat ini, upacara Aruh Ganal di selenggarakan (Foto: http://www.melayuonline.com)

Berita yang menggambarkan bagaimana memprihatinkannya 25 balai adat suku Dayak Meratus, di Kecamatan Paramasan Bawah yang tersebar di kaki Pegunungan Meratus (B.Post, 17 September 2007:3), begitu juga  7 balai adat milik suku Dayak Meratus di Kabupaten Tapin dengan kondisinya sungguh memprihatinkan (Radar Banjarmasin, 18 Maret 2004), dan karenanya membutuhkan bantuan untuk merenovasi balai adat tersebut khususnya dari pemerintah. Permohonan bantuan untuk renovasi balai adat sebenarnya menggambarkan bagaimana sebagian masyarakat adat sedang mengalami keterasingan dengan  budaya dan alam di mana mereka berada. Sudah ada kesenjangan yang besar antara budaya yang mereka miliki dengan kondisi alam yang merupakan rumah besar mereka.

Masyarakat adat Maratus, dengan asumsi masih dalam budaya mereka, tetapi sudah tidak mampu lagi menopang balai adat mereka, meski hanya untuk renovasi balai adat, yang sebenarnya memberikan pesan bahwa keberadaan mereka sendiri yang sedang terancam dan terpinggirkan. Balai adat merupakan bagian dari simbol keberadaan masyarakat adat Meratus, sebagian ritual mereka dilakukan di tempat ini yang berarti sangat vital.

Permintaan bantuan dana untuk renovasi balai adat kepada pemerintah oleh masyarakat adat Meratus, tidak selayaknya hanya direspon dengan menyatakan mengusulkan segera dianggarkan dana rehab balai tersebut dalam APBD, yang terkesan kunjungan anggota dewan tersebut hanya dapat melihat ketidaklayakan balai adat saja; dan itupun karena ada permintaan dari masyarakat secara langsung.

Hal ini memberikan gambaran bagaimana kalangan elit dalam berpikir dan bertindak, yang mengesampingkan pertanyaan mengapa masyarakat adat Meratus tidak mampu memperbaiki balai adat yang sangat penting dan vital tersebut. Apa yang sedang terjadi dalam kehidupan mereka? Apakah sumberdaya alam, khususnya hutan, di mana mereka tinggal sudah tidak cukup lagi memenuhi keperluan  kehidupan mereka.

Penyebab mengapa masyarakat adat Meratus perlu bantuan dalam memperbaiki balai adat mereka yang seharusnya menjadi perhatian dan pemikiran anggota dewan yang berkunjung tersebut. Permohonan bantuan ini secara tidak langsung menyatakan ada yang salah dalam pengelolaan kawasan hutan, khususnya Pegunungan Meratus, yang merupakan rumah besar mereka. Pengelolaan kawasan hutan yang tidak memperhatikan keberadaan manusia  di dalam dan sekitar hutan yang sebenarnya memprihatinkan. Mereka membutuhkan hutan dalam melanjutkan kehidupan dan tradisi, namun nyatanya hutan tersebut yang dirampas dan dirusak untuk mendapatkan kayunya saja.

Masyarakat adat Meratus sebenarnya tidak mempunyai mental “pengemis”, tetapi mereka memang tergantung dengan keberadaan hutan. Apabila kawasan hutan dimana mereka bergantung mengalami gangguan, maka gangguan tersebut bisa menjadi bencana dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, pemerintah dan kalangan elit politik sudah sepatutnya berbuat dalam membenahi pengelolaan kawasan hutan, tidak seenaknya saja mengeluarkan perizinan hak pemanfaatan hutan dengan mengabaikan dan tidak memperdulikan keberadaan masyarakat di dalam dan sekitar hutan.

Apalagi, masyarakat adat Meratus sangat mempunyai ikatan yang sangat kuat dengan hutan dan kawasannya. Sehingga, kebijakan yang berkenaan dengan kehutanan sudah seharusnya memperhatikan eksistensi budaya di kawasan hutan tersebut dan menjadikannya acuan dalam pemanfaatannya. Masyarakat adat Meratus memberikan isyarat yang cukup bijaksana dengan mempertunjukkan balai adat mereka yang rusak; yang memerlukan bantuan, sebagai isyarat semakin menyusutnya dan rusaknya kawasan hutan. Mereka membutuhkan kebijakan yang memihak terhadap eksistensi budaya dalam pengelolaan hutan, dibandingkan dana perbaikan balai adat mereka.

Hutan Kalimantan Selatan yang tersisa terus mengalami gangguan, tanpa dibarengi pembenahan pengelolaan saat ini yang sangat beroreintasi kepentingan ekonomi dengan mengabaikan kepentingan ekologi dan sosial/budaya. Sehingga menempatkan sebagian besar masyarakat Indonesia berada dalam keadaan yang rentan terhadap bencana alam, termasuk bencana budaya bagi masyarakat adat itu sendiri.

2 Responses

  1. Benar juga, kalau pertanyaan mendasarnya adalah kenapa mereka sampai minta bantuan. Bukan berarti tak boleh, tapi selama ini masyarakat adat adalah masyarakat yg mandiri, dan saya sepakat kalau mereka bukan pengemis.

    Artinya, memang semakin mempertegas kenyataan, bahwa sumber² penghidupan mereka telah terganggu oleh sebuah sistem yang tidak bersahabat dengan masyarakat adat dan kehidupannya.

    HEB : Ya, pertanyaan itulah yang perlu dijawab oleh semua pemangku kepentingan.

  2. wow! sesungguhnya menyikapi suatu masalah bukan hanya dengan memberi solusi instan, tapi hendaknya kita mampu mengkaji hal yang lebih mendasar, yakni kenapa terjadi masalah. memberi bantuan tentunya bukanlah hal berat, apalagi sekadar dana untuk pembangunan balai adat. namun lebih jauh (dan pastinya lebih sulit) adalah membantu menemukan akar permasalahan dan menyelesaikan dari sana.

    kritik yang baik sekali, mas ben.

    HEB : Ya … menemukan akar permasalahan yang sering terabaikan, padahal penting untuk mencarikan pemecahannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: