RUBRIK PRO AKTIVIS RADAR BANJARMASIN: GELANGGANG HARAPAN BARU


Oleh: HE. Benyamine

Peluang yang sangat berharga bagi para (aktivis) mahasiswa (i) untuk menyalurkan ide atau gagasan, yang terbuka dan tersedia secara kontinue dalam rubrik Pro Aktivis Radar Banjarmasin pada halaman 3 koran ini, harus dapat dimanfaatkan dengan baik dan benar. Karena, peluang tersebut merupakan suatu jalan kebajikan yang mendorong tunas-tunas generasi baru untuk mengungkapkan pandangan dan kreativitas mereka sebagai suatu kelompok yang penuh semangat, idealis, dan terpelajar.

Apapun gagasan yang bisa dituliskan dan berkesempatan dimuat dalam rubrik tersebut merupakan suatu yang sangat membanggakan. Gelanggang yang penuh harapan yang disediakan berupa rubrik Pro Aktivis oleh koran Radar Banjarmasin, untuk menunjukkan sikap dan pandangan yang terbuka bagi kritik dan pembelajaran. Sebagai hasil karya sendiri, tentu memberikan motivasi yang lebih besar untuk terus berkarya. Ada kebanggaan yang positif, yang secara tidak langsung menumbuhkan penghargaan terhadap karya orang lain, meskipun tulisan sendiri yang dimuat tersebut sebagai upaya menuliskan kembali opini orang lain; dengan mengubah kalimat atau parafrase dengan memberikan sumber yang jelas.

Menulis berdasarkan informasi yang berupa fakta umum, bisa saja adanya kesamaan pandangan dalam menyikapinya, sehingga memberikan kemungkinan adanya kesamaan dalam sebuah tulisan. Namun, tentu saja sangat muskil bila yang berbeda hanya judul dan nama penulisnya, sedangkan selebihnya sama persis.

Dalam menulis, menggunakan informasi yang berupa fakta umum, sebenarnya dapat memperkaya pembahasan dan pandangan bila semakin banyak orang yang berminat terhadap fakta tersebut. Bisa saja, memperkuat atau membantah opini orang yang lebih dulu menggunakannya.

Fakta umum yang bersinggungan dengan kepentingan umum, sudah selayaknya mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan, agar bisa lebih membangkitkan kepedulian bersama untuk kebajikan umum.

Betapa membanggakan dan memberikan harapan, bila membaca rubrik Pro Aktivis Radar Banjarmasin yang diisi tulisan dari kalangan (aktivis) mahasiswa, dengan segala keterbukaannya dan keberaniannya menyatakan pandangan sebagai (aktivis) mahasiswa. Namun, bila ada tulisan yang sama persis dengan tulisan orang lain atau bahkan tulisan kita sendiri (nama penulisnya saja yang beda),  terasa adanya kesedihan sekaligus kasihan terhadap orang yang bersangkutan; apalagi sebagai seorang mahasiswa (i) yang sedang dan dalam proses pembelajaran.

Keberanian mengirimkan tulisan orang lain hanya dengan mengganti nama penulisnya ke media massa, seperti dalam rubrik Pro Aktivis misalnya, hanya memberikan beban pada yang bersangkutan dan bisa berdampak psikologis yang cukup berat; yang sangat mengkhawatirkan adalah berhentinya dia menulis, padahal bisa saja yang bersangkutan mempunyai pandangan yang sangat persis dengan tulisan orang yang diganti namanya tersebut.   Padahal, tindakan tersebut merupakan tindak pidana, dan dalam dunia pendidikan hukumannya berat; bisa dikeluarkan dari universitas.

Para (aktivis) mahasiswa (i) sebenarnya mempunyai potensi yang luar biasa dalam menyemarakkan pertukaran pemikiran dan gagasan, karena mereka berasal dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang berbeda yang tentunya dapat lebih memperkaya analisis berbagai fakta umum yang ada. Hal ini tentu saja dapat mereka tuangkan dalam berbagai format tulisan, apalagi mereka masih bergelut dengan berbagai tugas dalam bentuk tulisan, dan sekaligus mempersiapkan mereka menggauli dengan serius tugas akhir atau skripsi.

Jadi, jangan membuat kesedihan sendiri dengan mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri, yang dapat menyuburkan ketidakpercayaan diri dan memadamkan semangat menulis itu sendiri. Bila sudah pernah sekali melakukan hal tersebut, harus menjadi yang terakhir dan mulai saja dengan hasil karya sendiri karena dengan menuliskannya sebenarnya kita dituntun untuk terus belajar dan menghargai diri sendiri dan orang lain. Teruslah menulis, dengan demikian kita semakin banyak belajar dan mendewasakan dalam bersikap dan bertindak. Teruslah menulis, karena gelanggang harapan baru ini, selalu penuh harapan berdasarkan kemampuan dan kejujuran.

(Tulisan ini dimuat dalam rubrik Pro Aktivis Koran Radar Banjarmasin, 13 Juli 2009: 3)

5 Responses

  1. wah, mas ben menyitir adanya plagiasi, ya? menyedihkan memang kalau benar, mas. apalagi suara yang dibawa adalah “pro-aktivis”. sejatinya tulisan harus jujur dan sportif. toh ada banyak cara menyampaikan opini atau teori yang sudah ada, misalnya dengan parafrase, summarizing, ataupun kuotasi langsung. namun intinya tetap tidaklah menyadur bulat-bulat tanpa menginformasikan referensinya.

    HEB : Yap, benar. Kaget saja, waktu membaca Radar Banjarmasin pada rubrik Pro Aktivis (khusus mahasiswa dan aktivis) dimuat tulisan seorang mahasiswi dari judulnya mirip dan isinya sama persis (sampai titik komanya) dengan tulisan saya, jadi ganti nama saja. Tulisan saya tersebut sudah pernah dimuat di koran itu juga pada rubrik Opini pada tahun 2008 dan juga ada di blog ini. Kasihan sebenarnya, makanya tidak disebutkan namanya.

    • kalau begitu kondisinya, mestinya mas ben melaporkan saja ke redakturnya kembali. toh di terbitan yang sama. hanya saja, saya jadi penasaran bagaimana sistem pengarsipan di media cetak sehingga hal-hal seperti ini mustinya dapat dihindari.

      HEB : Waktu kirim tulisan di atas ke redaksi, dalam email sudah diberi tahu tentang hal itu, tapi sengaja tidak ingin menyebutkan orangnya untuk dimuat dalam tulisan di atas, jadi tulisan itu saja yang dimuat. Semoga saja, tidak diulangi.

      Nah, tentang sistem pengarsipan di media, memang tidak tahu persis, tapi hal ini juga terjadi pada media besar, mungkin karena banyaknya tulisan masuk dan tulisan tersebut juga sudah lama.

  2. … atau, jangan2 redaktur korannya yang salah cantumkan nama dalam tulisan orang lain. hehe, bisa saja toh…

    HEB : Ya … moga saja karena ketidaksengajaan … hahaha

  3. heh?!?
    Berani mengisi halaman itu artinya berani mengaku diri sebagai aktivis. Tapi kalau kemudian menjiplak dan mengakui karya orang lain sebagai karnyanya sendiri? Pretttt !!!! aktivis apaan itu? Aktivis kliping?

    Kalau sudah menyangkut hal macam ini, cepat sekali saya sampai ubun-ubun Pak Ben …

    Beda halnya, kalau tidak membawa embel-embel yang ‘berat’ dan memiliki konsekuensi moral yang berat bagi dirinya sendiri dan orang lain, maka saya masih bisa santai dan kalem. Soalnya saya pernah menemui, tulisan saya di kopi bulat-bulat, tapi saya masih bisa terima dan tak mempermasalahkan.
    Tapi kalau mengaku aktivis? ckckckck… nekad !!!

    HEB : Ya benar Pakacil … jangan sampai mengkopi bulat-bulat tulisan orang lain.

  4. kalo emang ambil dari sumber lain, saya rasa harus terang2an ditulis sumbernya dan dijelaskan bahwa artikel disadur dari sumber2 itu…

    HEB : Terima kasih telah mampir. Ya, seharusnya memang begitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: