MENULIS (TIDAK) MUDAH


Oleh: HE. Benyamine

Menulis itu mudah! Pernyataan yang mempunyai syarat tertentu, yang tidak berdiri sendiri; membutuhkan beberapa penunjang yang mungkin tidak mudah. Orang yang mengatakan bahwa menulis itu mudah, karena yang bersangkutan sudah berpengalaman dan lama bergumul dalam hal tulis menulis tersebut.  Ibarat pilot yang sudah mempunyai jam terbang yang banyak, jadi pesawat diterbangkan dengan suasana yang santai dan senang saja. Begitu juga dengan menulis, mudah bagi mereka yang memang sudah memiliki jam terbang yang panjang dan terus melakukan kegiatan penulisan tersebut.

Membaca tulisan Menulis Tentang Tulisan Ersis Warmansyah Abbas (Radar Banjarmasin, 8 Juli 2008: 3), secara jelas tergambar bahwa ternyata menulis itu tidak mudah bagi sebagian besar orang. Karena, sebagaimana dipaparkan dalam tulisan tersebut yang menyatakan bahwa jika ingin menulis itu mudah harus banyak membaca. Kegiatan membaca yang dimaksud bukan dalam hitungan waktu yang pendek (handap), tapi merupakan suatu perjalanan yang panjang yang bagi saudara Ersis sudah dilakoni sejak kecil.  Jadi, bagi mereka yang sudah mempunyai kebiasaan membaca sejak kecil setidaknya mempunyai modal untuk dapat menulis dengan mudah. Tapi, bagi mereka yang menempatkan membaca sebagai kegiatan yang menjadi prioritas terakhir dalam kegiatan hariannya atau malah sama sekali tidak ada, jelas menulis menjadi tidak mudah.

Pengalaman yang dikemukan saudara Ersis, yang lebih memilih buku daripada pakaian dan barang-barang lainnya; mungkin jadi tidak modis, merupakan suatu pilihan yang sulit bagi sebagian besar orang, apalagi kalau sudah menyangkut penampilan yang langsung dapat dipandang orang. Hal inilah yang merupakan syarat tertentu yang menjadi tidak mudah, yang menegaskan bahwa menulis itu tidak mudah. Malas membaca, jangan terlalu berharap dapat mudah menulis. Atau, pesan saudara Ersis sebenarnya adalah menulis itu tidak mudah kecuali bagi mereka yang hobi membaca.

Membaca masih merupakan kegiatan yang belum menjadi budaya sebagian besar orang. Berbagai alasan dapat dikemukakan mengapa budaya membaca belum membudaya, belum menjadi kegiatan harian dan menjadi salah satu kebutuhan pokok, salah satunya karena buku mahal. Alasan buku mahal dapat saja diterima, karena memang mahal adanya. Tapi, membeli rokok bisa saja meskipun juga terus naik harganya, karena telah menjadi kebutuhan. Orang tua cenderung menolak membelikan buku yang diminta anaknya, karena duit yang ada dipersiapkan untuk membeli rokok; jelas sangat menghambat budaya membaca.

Kelompok masyarakat yang seharusnya bergumul dengan buku dan berbagai bacaan lainnya; guru dan dosen, masih belum tumbuh dan berkembang budaya membaca. Dalam kelompok profesi ini memang masih ada yang mempunyai kebutuhan membaca sebagai habit, tapi bagian yang terkecil. Lalu, bagaimana dengan masyarakat umum, tentu membaca belum menjadi kebutuhan dan budaya. Cerita anak sekolah kelas 1 SDN di Kalsel yang membawa buku berjudul Toto Chan untuk dibacanya di sekolah, yang oleh gurunya dikatakan sebagai buku orang dewasa karena mungkin terlihat tebal dan ada sketsa seorang gadis di sampulnya, sehingga tidak layak dibaca oleh anak kelas 1 SD. Anak tersebut mengatakan kepada orang tuanya bahwa gurunya mengatakan buku Toto Chan bukan untuk anak-anak. Orang tuanya bingung tentang sikap guru tersebut, dan bertanya kepada sang anak tentang cerita apa dibuku tersebut dan tokohnya sekolah apa yang dijawab tentang sekolah SD di gerbong kereta api bekas sebagai kelas di Jepang. Berdasarkan cerita anak ini, jelas terlihat masih tidak mudahnya budaya membaca  berkembang dalam kehidupan masyarakat. Padahal di sampul belakang buku tersebut ada petunjuk sederhana tentang isi buku tersebut, yang mungkin juga tidak sempat dibaca oleh guru tersebut.

Budaya membaca inilah yang menjadikan kegiatan menulis menjadi mudah atau terhambat dan kehilangan yang mau dituliskan. Meskipun pengalaman hidup sudah banyak makan asam garam, menulis tetap sebagai kegiatan yang teramat sulit bila tidak mempunyai keterampilan membaca. Bagaimanapun berkali-kali mengikuti pelatihan penulisan atau workshop tentang kreativitas, tanpa membaca jangan berharap menulis itu mudah.  Biarpun motivator seorang Ersis sampai berbusa mulutnya dan tulisan terus mengalir begitu cepatnya, tetap saja menulis itu tidak mudah bagi sebagian besar orang bila sulit dan susah membaca.

Kembali pada pengalaman saudara Ersis, peralatan menulis sebenarnya hanya mempermudah saja bukan menjadikan kegiatan menulis itu sendiri yang mudah. Teknologi informasi dan komunikasi dapat memudahkan kegiatan menulis, mampu memberikan akses yang lebih luas dan cepat, tapi harus diingat bahwa hal ini tidak bisa menggantikan syarat budaya membaca. Memang ada ungkapan yang mengatakan bahwa seseorang menulis pasti membaca, tapi membaca belum tentu menulis. Jadi, mudahnya menulis yang digemakan saudara Ersis mempunyai syarat yang tidak mudah; membaca dan membaca.

Menurut para motivator  segala sesuatu itu mudah dan bisa, namanya juga motivator. Tapi, harus tetap diingat bahwa segala sesuatunya tidak semudah yang dikatakan oleh siapapun. Karena, jangan melihat hasilnya saja, yang penting adalah bagaimana proses yang harus dilalui untuk menghasilkan sesuatu itu. Mereka yang menulis dengan mudah bukan datang dengan sendirinya, selain syarat membaca masih diperlukan kesungguhan dan keuletan yang besar serta ketabahan. Mau yang instan, silakan beli mei instan. Mau tahu bagaimana sampai jadi produk mei instan, ya membaca.

(Pernah dimuat, Koran Radar Banjarmasin, 26 Juli 2008:3)

4 Responses

  1. hehe… sebenarnya ini reverse psychology, mengatakan menulis itu sulit bila tidak membaca. padahal maksudnya adalah menulis itu mudah bila membaca.

    membaca memang musti dibudayakan, setuju untuk itu, mas ben. dan saya melihat kecenderungan minat baca masyarakat kita sudah jauh meningkat, itu kalau dibandingkan, say, sepuluh tahun lalu. signifikan. hanya data anekdot berdasarkan pengamatan semata sih, tapi mudah-mudahan tidak terlalu keliru. salah satu indikasi adalah semakin banyaknya buku-buku bagus yang sudah populer di luar, namun sekarang sudah banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia. itu artinya, kebutuhan terhadap buku-buku bagus sudah semakin tinggi di masa sekarang ini.

    hmm… ternyata saya sudah lama sekali tidak blogwalking, termasuk menyambangi blog ini. sekilas saya melihat mas ben banyak menyoroti soal penambangan batu bara dan dampak terhadap lingkungan.

    saya akan baca perlahan-lahan, mas. artikel-artikel di sini selalu sangat menarik dan informatif.

    HEB : Hahaha … menulis itu mudah bila membaca. Benar, kebutuhan terhadap buku-buku bagus sudah semakin meningkat dan perlu terus didorong.

  2. mudah dan susah itu, bagiku, tergantung sejauh mana keinginan seseorang menyediakan perangkat2 baginya untuk “berjalan”.
    di luar itu, semuanya hanya alasan yang dicari2 saja.
    hidup ini sepenuhnya mudah! seberapa keras pun orang2 mempersulit keadaan, ia akan berhadapan dengan keinginan yang tak kunjung padam….
    entahlah…, baginya!

    HEB : Terkadang bermohon kemudahan dan kelapangan

  3. Pengalamn yang dilalui setiap hari dalam kehidupan adalah satu cara yang memudahkan kita untuk menjana satu penulisan yang baik. Mudah jika kita anggap ia mudah. Susah juga demikian. Fikir bahasa yang senang dan mudah. usah mengusutkan otak untuk fikirkan ayat atau bahasa yang susah untuk diri sendiri fahami. Mudahkan diri dalam menulis.

    HEB : Pengalaman sangat berharga … tinggal “membaca” dan kemudian menuliskannya.

  4. salam kenal, saya setuju semua melalui proses. Mudah apabila sudah sampai ketahap bisa, jika tidak tentu akan jadi angan-angan belaka

    HEB : Terima kasih telah berkunjung. Yap, tentunya menulis dan menulis terus menulis, sebagai proses yang memudahkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: