CERITA ANAK (4): MEMBALIK PERAN … ANAK BERCERITA


Pada saat tertentu, seorang Ayah begitu merasa lelah, begitu juga seorang Mamah. Anak-anak seperti tidak pernah merasa lelah. Mereka bergerak dan terus bergerak. Bersama anak-anak berarti bersama makhluk bermain yang mempunyai energi sangat melimpah. Mereka selalu berusaha untuk menghapus waktu. Menghapus keharusan. Membuat aturan sendiri.

Ayah selalu berusaha membacakan cerita saat ada kesempatan. Melalui membacakan cerita, Ayah merasa menemukan cara untuk menyalurkan energi anak-anak yang melimpah. Anak-anak begitu antusias ingin mendengarkan cerita, yang membuat mereka mempersiapkan diri untuk memenuhi rasa ingin tahu dengan mengumpulkan energi dalam diam.

Sebelum Ayuv dan Ara bisa membaca, mereka berusaha mencari kesempatan untuk minta dibacakan buku. Sepertinya tidak ada istilah cerita pengantar tidur, karena waktu minta dibacakan tidak bergantung menjelang tidur, tapi kapan saja mereka mau dan kebetulan Ayah atau Mamah mereka ada dalam jangkauan mereka. Amar juga tertarik dengan buku, mungkin karena ia terbiasa melihat kakak-kakaknya bermain dengan buku, yang tentunya buku yang banyak gambarnya.

Kebutuhan mendengarkan cerita telah menjadi kesenangan tersendiri bagi anak-anak, meskipun Ayuv dan Ara sudah bisa membaca, mereka terkadang masih minta diceritakan pada saat-saat tertentu. Ayah terkadang mengarang sendiri, dengan menjadikan mereka sebagai tokoh dalam cerita, yang membuat mereka senyum-senyum sendiri. Pada saat bercerita ini, Ayah punya kesempatan mengajak mereka melihat para tokoh cerita; yang sebenarnya adalah mereka sendiri, untuk menunjukkan hal-hal yang tidak disukai pada para tokoh tersebut yang tidak patut dilakukan oleh mereka.

Dalam bercerita, Ayah tidak terlalu terikat dengan cerita-cerita yang pernah didengar atau dibacanya tentang dongeng-dongeng. Dengan cara ini, Ayah selalu merasa tidak pernah kehabisan cerita. Anak-anak selalu minta diceritakan cerita yang baru, jika Ayah menceritakan yang sama mereka mengatakan bahwa itu sudah pernah mereka dengar. Terkadang, dalam hati Ayah menyatakan tekad, “Aku harus terus membaca”.

Keluarga mereka  tinggal di daerah yang listriknya sering padam mendadak. Jika malam hari giliran listrik mati, tentu Ayah lebih banyak bercerita karangan sendiri. Karangan sendiri itu sangat berbeda dengan dongeng yang ada dibuku. Tentu saja lebih banyak asal cerita saja.

“Ayah cerita dong”, pinta Ara di remang penerangan lilin.
“Ayo, biar tidak terlalu sepi”, tambah Ayuv sambil mengambil posisi duduk lebih mendekat.

Aku tidak begitu yakin dengan Amar, mungkin yang penting adalah ia bisa berdekatan satu dengan yang lain di sekitar penerangan yang terus meleleh.
“Pada suatu hari, tiga bersaudara, tiba-tiba berada di suatu tempat yang tidak dikenal. Mereka hanya dapat melihat di antara mereka bertiga, yang lain adalah gelap”, Ayah mencoba memulai cerita.

Mereka semua terdiam. Ayah juga terdiam beberapa saat. Namun, jika Ayah terlalu lama diam, mereka mulai menunjukkan reaksi, dan mengatakan teruskan Ayah ceritanya. Sebenarnya, Ayah sendiri tidak begitu siap dengan cerita baru tersebut, hanya tercetus saja dari gelap akibat listrik mati.

“Terus bagaimana mereka”, tanya Ayuv memecah keheningan karena Ayah belum menemukan kelanjutan ceritanya.

“Ayah … cepat Ayah. Mereka berada di mana?”, sergap Ara mulai penasaran.
Ayah mencoba meneruskan cerita, “Kegelapan itu tiba-tiba saja. Tiga bersaudara tidak menyadari kalau ternyata kegelapan telah datang dan sedang mengurung mereka. Tiga bersaudara masih dapat melihat masing-masing dari mereka, seperti terang tersendiri, sehingga mereka tidak merasa takut”. Ayah bercerita dengan lambat, karena sambil mencari-cari sambungan ceritanya.

“Kegelapan itu makhluk punya PLN ya, Ayah?”, celetuk Ara yang dipotong Ayuv, “Shhiiisss… dengarin dulu”. Sementara Amar merapat dan diam saja, seakan ia merasakan hawa kegelapan itu.

Tiba-tiba listrik menyala, dan itu menyelamat Ayah dari desakan untuk melanjutkan cerita, malah membuat mereka bersorak dengan gembira. Ayah lega karena terlepas dari bercerita. Anak-anak menjadi gembira bebas dari kegelapan.

“Makhluk itu sudah dilumpuhkan PLN!”, seru Ayuv sambil bergegas menuju toilet. Ternyata dia dari tadi sudah menahan buang air kecil. Amar langsung bergerak menuju lilin dan kemudian meniupnya, takut didahului Ara. Banyak hal, seperti meniup lilin setelah listrik menyala, merupakan suatu kegembiraan tersendiri bagi anak-anak, bahkan bisa menjadi kebanggaan karena merasa dapat lebih dulu meniupnya.

Mengapa anak-anak begitu senang mendengarkan cerita? Kadang pertanyaan ini muncul dalam benak, apalagi jika tubuh terasa letih karena aktivitas seharian, sedangkan anak-anak sudah siap untuk diceritakan. Seakan waktu bercerita sudah menjadi ajang petualangan tersendiri bagi mereka. Rasa ketertarikan yang membahagiakan tentu merupakan jalan pembelajaran yang baik.

“Cerita apa malam ini, Ayah?”, Ara menyapa sambil membawa buku dongeng dari berbagai negara dan langsung duduk di sebelah.

“Ra, bagaimana kalau Ara baca sendiri saja, kan kamu sudah bisa baca”, bujuk Ayah dengan suara yang berat dan tak bersemangat. Nampaknya, Ayah benar-benar lelah.

“Ayah saja ceritakan, tidak seru baca sendiri!”, sahut Ayuv dengan semangat seraya mendekat yang juga diikuti Amar. Amar malah lari menerjang ke tempat duduk. Bruukkk. Amar duduk di pangkuan.

Bagaimana mengatakan kepada bocah-bocah yang seakan tidak punya rasa lelah dan letih ini. Pikiran mereka tidak punya beban. Energi serasa tidak ada habis-habisnya. Belum game over permainannya, seperti yang dikatakan Amar saat Ayah meminta Ayuv untuk berhenti main game.

Karena terus didesak, Ayah mereka menjadi mendapat ide. Ya, ide yang dapat membantu dirinya terbebas untuk tidak bercerita saat badannya terasa mau rontok. Saat lelah telah menyergap dan memeluk raga karena kesibukan sehari penuh.

“Ayuv dan Ara kan sudah bisa baca”, Ayah mereka menanggapi desakan anak-anaknya dengan muka berseri dan terlihat begitu bersamangat, “bagaimana jika Ayuv atau Ara yang bercerita. Kalian bisa bergantian bercerita. Ayuv! Bagaimana kalau kamu yang duluan bacakan cerita. Pilih saja cerita dalam buku. Terserah saja”.

Ayah mereka menunjukkan rasa ingin tahu dan bersemangat untuk menjadi pendengar, seakan tingkah lakunya sudah seperti anak-anaknya saat mau dibacakan cerita. Ayah terus memperlihatkan minat yang begitu menggebu dengan maksud anak-anaknya mau melakukan ide yang telah ditemukannya.
Ayuv mulai melihat-lihat kumpulan buku cerita pengantar tidur. Ara juga tanpa sadar bangkit dari tempat duduknya dan mencari buku-buku cerita yang ada. Amar tak mau ketinggalan bergerak, tak tahu apa dia mengerti maksudnya, atau sebenarnya hanya ikut-ikutan kakak-kakaknya yang sibuk memilih kumpulan buku cerita.

“A .. ayaah! Aku duluan!”, teriak Ara sambil membaca buku kumpulan cerita yang sudah terbuka pada halaman yang akan ia bacakan.

“Silakan. Yang lain mendengarkan dan bersiap dengan giliran berikutnya”, sambut Ayah merasa lega.

“Pada zaman dahulu kala!”, Ara membuka cerita pilihannya dengan semangat. Semua mulai diam mendengarkan. Amar membaringkan tubuhnya dengan memegang buku. Cerita mengalir dengan cepat. Sangat datar malah. Namun, bocah-bocah itu begitu menikmati peran yang sedang mereka lakukakan. Ya, peran menjadi tukang cerita, yang selama ini dilakoni oleh orang tua mereka, atau orang dewasa lainnya yang ada di rumah. Ara menutup ceritanya dengan kebahagiaan tokoh dalam ceritanya.

“Orang baik … banyak yang sayang, dan tentu bahagia, ya Ayah!”, celoteh Ara seakan menyimpulkan cerita yang baru saja dibacakannya.

“Ya, tapi harus sabar dan terus berusaha”, celetuk Ayuv seperti orang dewasa yang memberi nasehat.

Sementara Amar langsung nyerocos seakan sudah gilirannya bercerita, “Nah … aaa da … monster yaaa ng daa tang, lu kaaa lah”, kemudian dia ketawa dan terus bercerita meski tidak begitu jelas. Amar dibiarkan saja berbicara dulu. Tidak disela, toh tidak akan lama. Setelah merasa sudah selesai ceritanya, Amar berhenti sendiri, tidak lebih dari 2 menit.

Setelah Ayuv menyelesaikan gilirannya bercerita, ia melanjutkan membaca buku trilogi Lord of the Ring. Sementara Ara dan Amar sudah mulai merasakan belaian kantuk. Peran bercerita itu sudah mereka lakoni sendiri. Membalik peran. Itulah ide yang didapat Ayah. Hal sederhana yang terpikirkan, dan membantu Ayah mereka terbebas untuk bercerita. Melalui bercerita, ternyata banyak kesempatan untuk menasehati dan mengajak anak-anak berpikir, yang tentunya dapat langsung masuk ke dalam hati dan pikiran mereka. Dibandingkan dengan saat tertentu atau waktu khusus untuk menasehati dan mengajarkan nilai-nilai kebaikan, melalui cerita lebih mudah masuk, apalagi mereka sendiri yang memainkan peran.

Terkadang, karena begitu letihnya Ayah menjalani kesibukannya, malah tertidur saat bocah-bocah itu bercerita. Begitu juga dengan Mamah mereka saat mendampingi tidur dengan mendengarkan cerita bocah-bocah secara bergiliran. Dalam setengah tidur, Ayah mereka terkenang masa kanak-kanak, tentang cerita-cerita yang pernah didengar dan dibacanya. Saat terbangun dari ketiduran mendengarkan cerita, terasa ada energi baru, bagan dan pikiran lebih segar, untuk melanjutkan aktivitas lainnya.

Bocah-bocah itu tak lama kemudian terlelap setelah bergumul dengan kebebasannya. Tidur mereka juga terlihat begitu bebas, layaknya mereka sedang meletakkan kebebasan di dalam kepala. Tidur nyenyak adalah kebebasan tersendiri.

9 Responses

  1. kalau anak saya yang besar sukanya diajak rekreasi, kalau yg kecil sukanya digendong 🙂

    HEB : Terima kasih telah berkunjung. Macam2 gaya anak dalam berkeinginan, semuanya terasa bebas.

  2. sewaktu kecil porsi membalik peran itu masih dalam taraf bermain–dan tentu saja menyenangkan. menginjak dewasa, terus menua, peran-peran yg menempel di diri itu makin menjadi beban tersendiri. tanggung jawab salah satu namanya, tempat berlindung nama lainnya… entahlah!
    cerita di masa kanak2 begitu menyenangkan.

    HEB: Ya, semua hal seakan main-main, sangat berbeda dengan orang dewasa yang meskipun suka main-main selalu ada rasa khawatir. Benar, masa kanak2 suatu masa yang terkenang.

  3. membaca cerita ini sambil membayangkan suasananya, nampak mengasyikkan, dan membuat saya ketawa soal makhluk dan pln itu… whuihihihi.. ada-ada saja, sebuah kesimpulan yg tak terduga, karena memang begitulah kerap kali anak².

    semoga mereka semua menjadi anak-anak yang cerdas…

    btw, membuat saya teringat dulu selalu diceritakan oleh datuk tentang dongeng-dongeng orang dulu yg kini tak pernah terdengar lagi… hiks…

    HEB : Itulah anak2, banyak hal yang terkadang tertutup karena alasan kedewasaan, bagi mereka adalah sesuatu yang biasa saja layaknya permainan yang berganti oleh tidur. Dongeng2 itu …. sungguh mulai menghilang.

  4. Selama musim panas ini, anak-anakku selalu aku ajak jalan setiap hari: ke taman, ke pusat kota, hunting foto, …

    Supaya lelah, mereka aku ajak jalan kaki minim 3km/hari … tapi sampe di rumah mereka masih berlari-lari & muter terus … semua diodal-adil … baca buku ini itu & mengajak bermain … hingga tertidur jam 12 malam!

    HEB : Hahaha … gak ada lelahnya … mengasyikkan membayangkan taman, pusat kota, dan kegiatan foto … dan yang lebih penting adanya dukungan untuk berjalan kaki.

  5. Kehebatan anak-anak, bahwa dari sekian cerita yang didengar setiap hari itu ada yang berkesan dan tak terlupakan sampai hari tua. Jadi sebaiknya orang tua hati-hati memberi topik cerita.

    HEB : Ya, benar, daya ingat anak (apalagi yang berkesan bagi mereka) bisa tertanam hingga tua, memang perlu berhati2 dalam memberi topik cerita. Kalau cerita yang menakut-nakuti, bisa jadi ingatannya terpatuk pada ketakutan.

  6. Banyak cara mendidik memang … anak dijadikan guru juga bisa … salam

    HEB : Benar Pak, banyak hal yang bisa dijadikan guru bagi yang mau belajar.

  7. hahahhahahha…..lantas bagaimana nasib anak yang terakhir membacakan cerita kl dia malah terbangun karena semangat menceritakan kisahnya pada dua anak yang lain?
    Yang terjadi adalah Ayah yang kemudian membacakan cerita untuk anak tersebut sehingga dia kembali mengantuk dan tertidur lelap di tengah2 cerita Ayah.

    Ada bagian yang hilang:

    …Amellia kemudian berinisiatif untuk mengambil peran Mama nya membacakan cerita sebagai pengantar tidur mereka. Setelah memilih beberapa buku koleksinya, Amellia memilih buku yang berjudul “Lizzie for President”. Buku ini adalah buku koleksi perpustakaan kota yang dipinjamkan kakaknya untuk Amellia.
    Sampai di halaman ketiga buku tersebut, Amellia mengeluh, capek juga, kakak kok enak sih cuma dengarin dan sekarang tertidur, sambil melirik kakaknya yang telah tertidur di samping Mama. “Ma, jangan marah ya?….aku kok jadi lapar setelah baca buku cerita itu…..aku boleh makan, Ma?
    ………………….is it a good idea to prepare food for Amellia at the late night?
    hahahhahahha

    bener2 terjadi.sumprit.

    HEB : Hahahaha … Amellia keren!

  8. Assalaamu’alaikum…

    Postigan yang sangat bagus dan menarik. Anak-anak memangnya bersifat ingin tahu. Tidak kira apa yang mereka lihat samada baik atau buruk, pasti ada yang menjadi persoalannya itu dan ini, mengapa begitu, mengapa begini.

    Saya amat suka melayani karenah anak-anak yang ingin tahu sesuatu yang dilihatnya. hal ini menjadikan hubungan semakin intim dan mesra….ya seperti yang saudara kata..kita boleh mereka cipta jawaban yang sebaiknya dan memberi nasihat serta sempada juga teladan hasil dari apa yang ingin diketahui oleh mereka. Oleh itu, ibu bapa semestinya menjadi pencinta ilmu dan membudayakan ilmu dalam diri anak-anak. Salam mesra.

    HEB : Anak2 … terkadang rasa ingin tahunya melebihi rasa takutnya. Membudayakan pengetahuan, pencinta ilmu, akan memudahkan bagi orang tua dalam mengiringi rasa ingin tahu anak.

  9. hehe… seru banget pastinya bertukar peran seperti itu. selain menumbuhkan semangat membaca dan berbagi, juga tanggung jawab untuk mempertahankan minat pendengar semasa gilirannya. semakin lama anak-anak akan semakin termotivasi untuk berkreasi dalam tugasnya.

    aktivitas bermain yang mendidik, mas heb. atau sebaliknya?

    HEB : Masa anak2 yang penuh dengan bermain sekaligus belajar dan pembelajaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: