MEMBAKAR DENGAN PENGETAHUAN


Kebakaran Hutan Dan Lahan Stigma Masyarakat Lokal

Oleh: HE. Benyamine

Musim kemarau telah tiba, yang berarti diikuti oleh berbagai bentuk kebakaran. Seolah musim kemarau punya kembarannya yang gemuk dan besar, yang potensial menjadi musuh karena wujudnya api. Ada kebakaran perkampungan di perkotaan, karena tata ruang perkotaan untuk sebagian wilayahnya memang telah berkembang dan tumbuh menjadi wilayah yang rentan terhadap api. Kebakaran perkampungan sangat merisaukan dan memilukan, terlebih lagi biasanya perkampungan tersebut adalah bagian strata masyarakat menengah ke bawah, sehingga kebakaran tersebut merupakan bentuk dehumanisasi. Namun demikian, kebakaran perkampungan tersebut hanyalah berita sedih dan pilu saja, berbeda dengan kebakaran hutan dan lahan yang dengan cepat sampai menjadi berita internasional.

Kebakaran hutan dan lahan menjadi momok tersendiri setiap tahun pada musim kemarau, ada yang menyatakan bahwa sebab kebakaran tersebut adalah hampir semuanya berasal dari aktivitas manusia (Acep Akbar, B.Post, 10 Juli 2004). Bahkan data Asian Development Bank menyatakan bahwa hanya 1 persen yang menyebabkan kebakaran dari sebab-sebab alami, selebihnya yang 99 persen adalah akibat perbuatan manusia. Manusia yang mana? Karena, hanya mengatakan manusia saja seolah terlalu menyederhanakan eksistensi kemajemukan manusia itu sendiri. Terlebih lagi, perlu dibedakan antara kebakaran hutan dengan kebakaran lahan. Kebakaran hutan tentunya di dalam kawasan hutan, sedangkan kebakaran lahan sebaliknya. Tentu ada perbedaan manusia antara di dalam kawasan hutan dengan yang di luarnya.

Kebakaran hutan dapat terjadi seperti di areal HPH dan Hutan Lindung. Adapun kebakaran lahan dapat terjadi seperti di areal Perkebunan Inti Rakyat, ladang, dan kebun. Kedua macam kebakaran ini bisa terjadi secara bersamaan, karena lokasi hutan berdekatan dengan areal yang dinamakan lahan tersebut. Dengan adanya perbedaan tersebut, tentu ada perbedaan pandangan dan pengetahuan yang dimiliki manusia yang dianggap sebagai penyebab kebakaran hutan tersebut. Pada kesempatan ini, manusia yang hidupnya masih menerapkan sistem ladang berpindah perlu mendapat perhatian yang lebih adil dan berempati dengan sistem pengetahuan yang menjadi landasan dari tindakan dalam kehidupan mereka.

Membakar Tidak Sama Dengan Kebakaran

Sistem pengetahuan lokal (local knowledge) atau pengetahuan penduduk asli (indegenous knowledge) tentang berladang menempatkan tahapan pembakaran sebagai bagian yang penting dan tidak bisa ditinggalkan. Salah satu petani ladang di Desa Belimbing Lama Kecamatan Sungai Pinang Kabupaten Banjar mengatakan, “Kada kawa mun kada disalukut. Supaya tanah tu ba sagu. … supaya banih tu subur dapatnya habu. Jadi salukut. Coba kita buang rabanya, kapinggirakan misalnya kawa mambuang lah … jadi tanah mantah kalu kada di salukut tu, tanah mantah, balajur banihnya kada baik, dasar kada baik mun kada dapat habu”. (Tidak bisa jika tidak dibakar. Supaya tanah menjadi subur … benih tumbuh dengan subur karena abu pembakaran. Jadi dibakar. Coba kita buang serasah, kepinggir misalnya, tidak bisa membuang kan … jadi tanah mentah jika tidak dibakar, tanah mentah, yang menjadikan benih tidak baik, benar-benar tidak baik jika tidak dapat abu pembakaran).

Pengetahuan lokal atau indegenous knowledge, seperti ladang berpindah, sebenarnya tidak layak diposisikan sebagai bagian dari kegiatan manusia yang menyebabkan kebakaran hutan. Pengetahuan tradisional yang mempunyai ciri unik, beradaptasi dengan sistem ekologi setempat, diberikan melalui sistem oral, dan melalui uji-coba (trial and error) dalam waktu yang cukup lama. Sehingga, tahapan pembakaran merupakan tindakan yang sadar dari petani, yang mempunyai pertanggungjawaban sendiri. Sebagai tindakan sadar, tentu para petani ladang mempunyai cara dalam membakar tersebut, hal ini dapat dilihat dari perkataan petani lainya, “… itu memperhatikan lalaran api, jangkauan api supaya jangan manular ka hutan lain. Nah, itu di bari ladangan sisi-sisinya bisa sampai 5 meter ladangan itu, … ini harus di jaga bersama, jadi supaya tahun dudi kada manabas nang samak-samak lagi (pembakaran ladang harus dijaga bersama, agar tahun depan tidak menebas rumput atau ilalang — pen.). Sebab pabilanya kabakaran nang timbul tu samak-samak, sabat , jadi dijaga bukan bakar lepas, tidak kalau masyarakat tu”.

Dengan demikian, para petani ladang pun sebenarnya tidak menginginkan terjadi kebakaran hutan, karena mereka tahu akibatnya bagi mereka sendiri, yaitu kebakaran dapat menyebabkan hutan menjadi semak-semak dan menjadi tidak baik untuk ladang tahun berikutnya. Artinya, kebakaran hutan adalah kehilangan lahan ladang potensial untuk tahun depan, dan itu berakibat pada kehidupan selanjutnya, karena masih berada dalam ekonomi subsisten. Oleh sebab itu, pembakaran lahan bagi peladang sangat diperhatikan dan dijaga, bahkan pembakarannya dilaksanakan secara bahandip (bergotong royong), karena merupakan tanggungjawab sosial.

Jadi, membakar lahan bagi peladang tidak jauh berbeda dengan orang membakar ikan di dalam rumah. Keduanya membakar dengan sadar dan mempunyai tujuan yang jelas. Peladang mempunyai keyakinan bahwa abu pembakaran dapat menjadikan padi tumbuh subur, sehingga tidak memerlukan input pertanian berupa pupuk kimia. Membakar adalah suatu kegiatan manusia, sedangkan kebakaran adalah akibat kurangnya pengetahuan dan kesadaran serta kelalaian manusia. Memang kegiatan membakar lahan mempunyai peluang menyebabkan kebakaran hutan, karena lalai dan ceroboh atau tidak disengaja, tetapi hal itu dapat dieleminir oleh adanya pengetahuan tradisional yang sangat mengerti sistem ekologi setempat.

Begitu juga dengan lahan gambut, harus ada pemisahan antara lahan gambut yang digunakan untuk sawah dengan yang bukan sawah. Karena, lahan gambut yang telah menjadi sawah tentunya sudah mempunyai struktur yang berbeda dalam hal ketebalan gambutnya, begitu juga dengan vegetasinya dan tata airnya. Sehingga, para petani dalam membersihkan lahan dari biomass pasca panen padi dengan cara membakar tidak serta merta di posisikan sebagai manusia yang menyebabkan kebakaran hutan. Pembersihan lahan gambut sawah dari vegetasi dan biomass pasca panen merupakan tindakan sadar dari petani dan merupakan bagian dari sistem pengetahuan lokal yang sudah berjalan sejak dahulu. Tentu petani mempunyai alasan mengapa pembersihan lahan dilakukan dengan cara membakar. Cara membakar adalah yang paling murah dan juga ada keyakinan dapat menyuburkan tanaman.

Lahan gambut untuk sawah, sebenarnya tidak dapat dikatakan terjadi kebakaran, karena pembersihan dengan cara membakar tidak sama dengan kebakaran lahan. Di samping itu, masalah utama adalah asap yang disebabkan pembersihan vegetasi dan biomass dengan cara membakar di lahan gambut sawah, yang apabila dilakukan secara bersamaan akan menyebabkan kabut asap yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, cara bergiliran dapat menjadi pilihan dalam pembakaran lahan sawah, dan diupayakan dilakukan oleh masyarakat yang bersangkutan. Karena cara pembersihan tersebut sudah dilakukan secara turun-temurun, sehingga yang dapat dilakukan adalah mengatur waktu pembakaran.

Kebakaran Hutan dan Lahan

Sejak tahun 1996, laju kehilangan hutan di Indonesia diperkirakan mencapai 2 juta hektar per tahun (Global Forest Watch, 2001). Sementara terdapat beberapa tantangan yang dihadapi oleh sektor kehutanan di era otonomi daerah (Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 2002), yakni: (1) hutan yang semakin hari semakin rusak, (2) praktek pengelolaan hutan tidak menjamin kelestarian hutan, (3) pencurian kayu dan perambahan hutan, (4) permintaan kayu yang berlebih, (5) kebakaran hutan, (6) hak pengelolaan dan kepemilikan masyarakat tidak jelas, (7) kontribusi kehutanan terhadap perekonomian menurun, (8) partisipasi masyarakat belum terbangun dengan baik, dan (9) korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam sektor kehutanan. Dengan demikian, laju kehilangan hutan dan beberapa tantangan yang di hadapi oleh sektor kehutanan sudah mengindikasikan bahwa kebakaran hutan dan lahan disebabkan oleh manusia yang serakah, yang memacu greed revolution terhadap hutan.

Oleh karena itu, patut dipertanyakan yang memasukkan atau bahkan menuduh para petani lahan gambut sawah dan peladang kedalam kelompok sebagian manusia yang menyebabkan kebakaran hutan. Apalagi mengatakan bahwa mereka melakukan pembakaran disebabkan karena tingkat pendidikan yang rendah. Seolah-olah kesalahan kebijakan dalam sektor kehutanan disebabkan oleh tingkat pendidikan masyarakat yang rendah, yang tidak tahu bagaimana mengelola hutan secara lestari.

Stigma terhadap masyarakat lokal akan terus berlanjut, apabila hak pengelolaan dan kepemilikan masyarakat tidak jelas, terlebih lagi hak ulayat seperti masyarakat yang menghuni hutan dan kawasan hutan, seperti masyarakat pegunungan Meratus. Dengan hak masyarakat terhadap hutan yang tidak jelas, maka jangan berharap partisipasi masyarakat dapat terbangun dengan baik. Hutan adalah rumah besar, sehingga penghuninya dapat mendirikan tungku pembakaran (baca: membakar) untuk kegiatan “memasak dan merebus”, tidak ada orang yang menginginkan rumahnya kebakaran. Berladang adalah memasak yang memang harus dijaga agar tidak hangit (gosong).

4 Responses

  1. sebuah stigma dan pencitraan yang telanjur parah, mas ben. masyarakat lokal sesungguhnya memiliki nilai2 kearifan yang justru sangat bersahabat dengan alam. saya curiga, stigma semacam itu sengaja dihembuskan kaum pemilik modal utk menggusur masyarakat lokal dalam hal penguasaan dan pengelolaan hutan. repot!

    HEB : Benar, memang terlanjur parah stigma tersebut, yang mengaburkan budaya yang hidup dalam masyarakat tersebut. Bila ini terus dibiarkan, pada akhirnya budaya itu sendiri yang hilang.

  2. Wuih… tulisannya berat nih !

    Pemerintah pernah mencangkan Land Grant College kepada Seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk menjadi kebun pendidikan bagi petani tradisional dan sekaligus untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Sayangnya program ini tidak pernah disentuh samasekali.

    Kerusakan hutan sejatinya didahului dengan kerusakan mentalitas dari berbagai pihak. Kemudahan pemberian izin prinsip bagi perusahaan-perusahaan yang tidak jelas rekam jejak (track record) dalam pengendalian hutan maupun pengelolaan perkebunan besar (PK) seharusnya menjadi perhatian pemerintah untuk melakukan prakwalifikasi dan klasifikasi serta kemampuan financial terhadap mitra usaha, guna mencegah manipulasi yang merugikan negara maupun Pemda setempat.

    Dibeberapa wilayah ditemukan perusahaan-perusahaan “nakal” yang datang ke daerah hanya untuk mengambil tegakan hutan yang memiliki nilai ekonomis sangat tinggi. Setelah hutan gundul merekapun menghilang tanpa diketahui rimbanya. Bahkan di Kalimantan gubernurnya pernah mengeluarkan izin prinsip seluas 300.000 ha. untuk salahsatu perusahaan besar di Indonesia. Namun perusahaan ini setelah memperoleh dana dari Bank (berdasarkan HGU) justru investasinya dipergunakan ke sektor lain di luar Kalimantan.

    Pada proses Land Clearing kitapun mengenal salah satu spec “rumpuk-bakar”. Pembakaran masif seperti ini jelas-jelas suatu kesengajaan yang dilengkapi dengan time schedule. Deforestasi maupun degradasi hutan lebih banyak diakibatkan ulah manusia terutama mereka yang ahli mengeksploitir potensi hutan tanpa kepedulian ekologis maupun ekosistemis.

    FAO mendefinisikan degradasi merupakan perubahan kondisi hutan berdasarkan perenggangan yang secara umum berpengaruh negatif terhadap tegakan di sekitar lokasi dan menurunnya kemampuan produksi. Penyebab-penyebab umum degradasi hutan mencakup logging yang tidak terkendali, utamanya ilegal logging.

    (maaf) Saya secara pribadi berpendapat, hanya moratorium system yang bisa menjamin pemulihan hutan ketimbang segala macam bentuk aturan yang mudah dilanggar selama ada izin operasional.

    Maaf sekali lagi, tanggapannya agak panjang.

    Salam Lestari
    Go Green & Save Green

    HEB : Tidak ada yang perlu dimaafkan untuk sebuah tanggapan, bahkan untuk yang lebih panjang sekalipun. Moratorium perlu dicoba diterapkan, dengan terus berusaha pemulihan lahan kritis.

  3. Assalaamu’alaikum…

    Sebagai orang awam dari bidang perhutanan dan tanah, saya sangat tertarik dengan info yang diutarakan oleh saudara HEB. Pengetahuan dan kesadaran adalah sahabat akrab yang saling membantu dalam satu masa.

    Dengan ilmu, seseorang akan berupaya menangani segala masalah. Namun untuk menanggani sesuatu masalah memerlukan kewarasan dan kesedaran agar apa yang dilakukan tidak tersasar dari kebenaran dan penyelesaian yang sesuai seperti yang dirancang.

    Oleh itu, dalam hal bakar membakar ini, baik yang dibakar itu dirumah (maksudnya bakar ikan..), mahupun membakar diluar, sangat penting mempunyai ilmu dan pengetahuan agar tidak ada kemalangan atau kerosakan akan berlaku dengan sewenang-wenangnya. teruskan usaha saudara HEB memberikan kesedaran kepada manusia tentang urusan “menghijaukan kesegaran di bumi”. Salam di musim kemarau.

    HEB : Wa’alaikum salam
    Yap, pengetahuan dalam hal membakar itu sangat penting, dan itu sudah dilakukan sejak nenek moyang mereka dulu. Sebelum perusahaan besar mengeksploitasi hutan alam, masyarakat sudah membakar lahan ladang dan sawah gambut mereka, tidak terjadi yang namanya kabut asap atau kebakaran hutan sebagaimana terjadi setelah perusahaan besar itu ada.

  4. nah, tulisan ini agaknya membungkus, alias wrapping up tulisan-tulisan mas heb mengenai kebakaran dan pembakaran hutan. ibarat perkuliahan, tulisan ini menempati sesi review. hehe.

    terima kasih, mas heb!

    HEB : Terima kasih udah mengikuti perkuliahan ini sampai selesai … hihihihi, dan kabut asap mulai menjadi masalah tidak terkecuali pada kemarau sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: