MERDEKA ATAU MATI


Oleh: HE. Benyamine

Tekad yang membaja dalam memperjuangkan kemerdekaan adalah wujud betapa sangat pentingnya suatu kemerdekaan. Bagaimana tidak, para pejuang kemerdekaan seperti hanya mempunyai dua pilihan seperti tergambar dalam tekad “Merdeka atau Mati” yang menjadi pendorong sangat kuat dalam perjuangannya. Kematian dapat juga diartikan sebagai suatu bentuk kemerdekaan, yang membuat para pejuang lebih memilih mati sahid dalam meraih kemerdekaan, karena hidup dalam penjajahan sebenarnya lebih buruk dari kematian yang sia-sia sekalipun.

Kemerdekaan disambut dengan suka cita, rakyat secara rutin menyelenggarakan pesta untuk sekedar mengingat bahwa sebenarnya bangsa ini sudah merdeka. Rakyat menghiasi perkampungan masing-masing dengan bergotong royong, membersihkan daerah tempat tinggal dengan sukarela, dan mengadakan acara yang menghibur, karena kemerdekaan merupakan impian segenap umat manusia.

Apakah rakyat telah merdeka? Suatu negara yang merdeka tidak menjamin rakyatnya menjadi merdeka. Setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia pernah merasakan tidak ada kemerdekaan dalam kebebasan berekspresi, berpendapat, dan berpolitik. Rakyat Indonesia juga masih ada yang merasa bukan bagian dari republik ini, dan bahkan merasa terjajah lalu berjuang dengan mengangkat senjata, karena berbagai perasaan dan pengalaman ketidakadilan dalam berbangsa dan bernegara.

Kemerdekaan secara makro suatu negara rakyat Indonesia telah terhimpun dalam yang namanya Negara Kesatuan Republik Indonesia, namun kemerdekaan secara mikro masih jauh dari harapan. Sebagian besar rakyat Indonesia masih belum merdeka secara mikro, karena kehidupan mereka sangat rentan terhadap segala bentuk perbudakan dan penindasan.

Kerentanan terhadap perbudakan dan penindasan inilah yang menjadikan sebagian besar rakyat Indonesia cenderung kehilangan kemerdekaannya. Mereka harus siap-siap untuk digusur demi alasan pembangunan atau kepentingan umum. Krisis yang berkepanjangan, mengharuskan sebagian besar rakyat untuk menanggung beban kehidupan, yang secara kasar mengarahkan pada jalan kematian yang telah tersedia karena berbagai penyakit, krisis pangan, dan rawannya lingkungan hidup.

Merdeka bagi sebagian besar rakyat Indonesia masih belum bisa diraih. Salah satu faktor yang sangat menjajah adalah korupsi yang semakin lama semakin menjauhkan kemerdekaan dari jangkauan rakyat, apalagi korupsi yang terjadi seperti orang kentut, tercium baunya tidak tahu orangnya. Di samping itu, rakyat yang “terjajah” ini dengan mudah dijadikan objek untuk mendapatkan dana besar untuk dikorupsi. Berbagai proyek dilaksanakan dengan alasan untuk kepentingan rakyat, yang ternyata hanya untuk mendapatkan pencairan dana yang tersedia, yang ujungnya hanya dinikmati oleh segelintir orang.

Degradasi SDA

Demikian juga dengan kesalahan dalam pengelolaan sumberdaya alam merupakan potensi besar dalam menghilangkan kemerdekaan yang menjadikan jauhnya dari kesejahteraan, yang secara perlahan akan menyediakan jalan menuju kematian. Kesalahan dan keserakahan pengelolaan sumberdaya alam telah menyebabkan bencana yang harus ditanggung oleh sebagian besar rakyat Indonesia dalam berbagai bentuknya, kebakaran hutan dan lahan, banjir, dan kekeringan adalah contoh konkret bagaimana sumberdaya alam telah sangat rentan terhadap gangguan, karena setiap musim kemarau telah menjadi momok dan bencana yang tidak pernah tahu bagaimana menanggulanginya, hanya berpasrah menunggu musim hujan datang. Musim hujan bukan berarti berkah, tetapi juga sangat potensial terjadi bencana banjir dan longsor, yang menghabiskan sumberdaya secara sia-sia.

Semakin lama, kesalahan dan kerakusan dalam pengelolaan sumberdaya alam akan semakin membuat bagian terbesar dari rakyat Indonesia terjerumus pada bentuk perbudakan dan penindasan baru, yang menghancurkan mata pencaharian dan penghapusan berbagai keahlian tradisional dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat di dalam hutan dan disekitar hutan, akibat kebakaran hutan dan lahan, cenderung semakin tergantung dengan bantuan dan semakin tidak berdaya, sehingga mereka cenderung menjadi “budak” cukong kayu secara tidak langsung. Hal ini dapat dibayangkan bagaimana masyarakat Dayak minta sumbangan seng kepada pemerintah untuk membangun balai-balai adat, yang menunjukkan alam disekitar mereka seperti sudah tidak menyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan, yang secara kasat mata telah terjadi kehilangan sebagian pengetahuan lokal, seperti  dalam membangun balai adat tersebut.

Di samping itu, berbagai bantuan dalam pemberdayaan dan penguatan kelembagaan masyarakat hanya menjadi proyek kalangan “miskin perkotaan” untuk mendapatkan pekerjaan dan kemudahan mendapatkan dana. Masyarakat sasaran, dengan berbagai penjelasan “ilmiah” tetap saja menjadi objek penindasan, yang kehilangan pengetahuan tradisional dan cenderung tidak dihargai bagaimana budaya dalam kehidupan mereka. Berbagai perbandingan dan contoh di wilayah lain diperkenalkan, yang intinya bahwa masyarakat tersebut tidak berdaya dan tidak berpengetahuan sehingga mereka perlu diajari dan diarahkan.

Berapa besar kerugian yang diakibatkan oleh bencana banjir, yang saat ini terjadi setiap tahun dan semakin luas wilayah bencananya, sudah jelas tergambar dari berbagai pemberitaan media massa dan elektronik, tapi kesalahan dan kerakusan dalam pengelolaan sumberdaya alam tetap berlangsung bahkan semakin merajalela. Hal ini menyebabkan sebagian besar rakyat Indonesia tidak termasuk kelompok yang menikmati melimpahnya sumberdaya alam tersebut, bahkan mereka termasuk yang harus menanggung bencana dan tanpa daya menerima berbagai penyakit yang sangat membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan harus mereka tanggung sendiri.

Kerakusan dan kesalahan dalam pengelolaan sumberdaya alam ini secara sistematis telah menjerumuskan sebagian besar rakyat Indonesia kedalam jurang kemiskinan, yang selanjutnya menghantarkan pada bentuk perbudakan dan penindasan zaman modern. Kemiskinan memudahkan dalam perbudakan dan penindasan, serta menyuburkan korupsi yang semakin ganas, yang pada akhirnya tiada kemerdekaan. Masyarakat seperti diarahkan tidak mempunyai kemampuan dalam mengelola kehidupan sendiri, kebudayaan yang mereka hasilkan sudah dianggap tidak berguna, sehingga diperlukan budaya baru yang perlu diperkenalkan, terutam oleh kalangan profesional. Kalangan profesional (termasuk sebagian profesi dari LSM) inilah yang mulai menentukan budaya kehidupan yang layak dan bermartabat bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Seperti bagaimana mengelola sumberdaya alam yang katanya berbasis masyarakat dengan ukuran yang sebenarnya sesuai dengan kehendak pasar. Berbagai proyek berbasis masyarakat diluncurkan, tapi tetap saja hanya sebatas proyek yang sifatnya sementara, yang dibangun dari pengandaian dan bersifat instan.

Kemiskinan

Kemiskinan telah menjadi objek bagi sebagian besar kalangan profesional, yang membuat mereka seolah tidak termasuk dalam lingkaran kemiskinan tersebut. Kemiskinan sudah menjadi trademark yang dipatenkan oleh kalangan profesional untuk mendapatkan keuntungan melalui berbagai proyek melalui kegiatan dengan jargon pemberdayaan masyarakat dan penguatan kelembagaan masyarakat.

Masyarakat dilihat dari kacamata profesi yang sangat pro pasar dengan mengatakan bahwa masyarakat tidak berdaya dan tidak mempunyai kemampuan dalam berhadapan dengan tuntutan persaingan global, sehingga untuk alasan pendampingan dan penguatan kelembagaan masyarakat itulah kalangan profesi mempunyai keabsahan untuk masuk sebagai keharusan untuk alasan membantu, dengan mengatakan bahwa kegiatan yang mereka lakukan adalah pro-poor. Kalangan profesi ini, tidak terkecuali LSM, lebih banyak menikmati bantuan yang mengalir dari pada sasaran yang mereka katakan sebagai masyarakat yang membutuhkan pendampingan untuk pemberdayaan dan penguatan kapasitas kelembagaan tersebut.

Ironisnya, masyarakat paling miskin sekalipun masih dapat survive untuk hidup tanpa bantuan dari luar, tetapi kalangan profesi tanpa kegiatan yang didanai lembaga donor tersebut belum tentu bisa bertahan seperti masyarakat yang diposisikan sebagai sasaran kegiatan.  Sebaliknya,  bahkan bisa saja sebenarnya kalangan profesi (sebagian kalangan LSM) merupakan bagian dari kemiskinan tersebut yang membutuhkan kelompok miskin untuk mereka dapat bertahan hidup.

Sumberdaya alam yang melimpah tidak menjamin rakyat menjadi lebih sejahtera, apalagi kerakusan dan kesalahan dalam pengelolaannya serta ganasnya korupsi terus berlangsung semakin tidak terkendali. Memang sebagian kecil kalangan dapat menjadi sangat kaya yang berpotensi menjadi sangat berkuasa, dan sebagian besar rakyat Indonesia semakin miskin yang berpotensi semakin lemah dan tak berdaya.

Jadi, sebagian besar rakyat Indonesia sesungguhnya harus terus berjuang untuk merdeka. Merdeka atau mati, bukan pilihan lagi, tapi sudah menjadi jalan bagi kalangan miskin yang begitu sulit menjadi merdeka akan dengan sendirinya terbawa oleh arus kematian seperti akibat bencana, kelaparan, penyakit, dan hilangnya kepedulian sosial.

Kemerdekaan memang harus diperjuangkan dan terus diperjuangkan, tidak pernah berhenti karena masih ada orang yang serakah dan tamak, dan masih adanya manusia yang berperilaku seperti Qarun dan Fir’aun.

6 Responses

  1. Assalaamu’alaikum…

    Selamat Menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia buat saudara HEB dan rakyat Indonesia. Berkat perjuangan pejuang merdeka masa lampau, kita dapat merasai pembangunan dan kesejahteraan sehingga kini. Mudahan kita sentiasa menuruti jejak langkah mereka untuk memerdekakan diri dari pengaruh-pengaruh budaya “kuning” atau barat yang semakin merudumkan akhlak anak bangsa yang lahir sesudah merdeka. harus difahami erti merdeka dalam erti kata yang sebenarnya.

    Sempena kehadiran ramadhan al-Mubarak ini, kemaafan ingin dipohonkan jua andai ada kesilapan dari penulisan yang memungkinkan rasa hati tidak enak membacanya. Kebaikan dari pencerahan ilmu yang diutarakan oleh saudara HEB baik di laman sendiri atau di laman saya, amat saya hargai dan senang membacanya. salam hangat dari Melaka.

    HEB : Saya juga memohon maaf sebelum memasuki bulan Ramadhan, semoga kita dapat melaksanakan sesuai dengan petunjuk Nya.

  2. kontemplasi yang menarik, mas heb. sementara secara makro kita merasa sudah merdeka, namun secara mikro penjajahan masih bercokol terhadap pihak yang lemah. ini menunjukkan bahwa si kuat pun ternyata dijajah pula oleh nafsunya untuk menjajah. nah, ribet kan?

    selamat hari merdeka, mas ben. semoga merdeka bangsa ini, merdeka pula diri ini.

    HEB : Hahaha memang ribet … tapi salam merdeka!

  3. adakah kemerdekaan untuk yang kecil, dan terlindungi dari pandangan, ditinggalkan, ditelantarkan sedemikian rupa, hanya karena yang besar perlu mengembangkan dirinya?
    entahlah!
    hanya semangat memerdekakan diri sendiri itulah yang ada. mungkin…

  4. “merdeka atau mati!” kata-kata itu indah benar… bukannya kalo tak dapat merdeka, kita harus mati?

  5. bahkan bisa saja sebenarnya kalangan profesi (sebagian kalangan LSM) merupakan bagian dari kemiskinan tersebut yang membutuhkan kelompok miskin untuk mereka dapat bertahan hidup
    bagi saya, jika ada, hal di atas itu jauh lebih kejam dari pada penjajahan, karena dilakukan secara halus dan penuh dalih👿

  6. bukannya pesimis, bang ben, tapi kalau melihat masih banyaknya warga miskin di negeri ini, sementara tak sedikit juga yang hidup bergelimang kemewahan karena korupsi, doh, tetep saja membuat hati ini miris. sebagai bangsa yang besar, 8 windu merdeka, ternyat belumn juga sanggup memelihara anak2 miskin dan telantar. doh!

    HEB : Memang miris melihat masih banyaknya warga miskin di negeri ini, apalagi bila melihat betapa banyak SDA yang dieksploitasi tapi tetap saja tidak dapat memperkecil kemiskinan tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: