PUASA RAMADAN


Oleh: HE. Benyamine


Pertanyaan bisakah Ramadan bebas maksiat? Tentu saja tidak bisa! Karena logika kemaksiatan dan logika Ramadhan sebagai bulan suci memang berbeda. Ramadhan mengarahkan mereka (orang beriman) yang diwajibkan berpuasa untuk menuju taqwa, sedangkan mereka yang terjerembab dalam kemaksiatan bisa saja menjadi sadar karena panggilan ibadah puasa tersebut, tetapi bukan berarti bulan Ramadhan terbebas dari kemaksiatan yang memang menjadi bagian dari kehidupan di dunia ini.

Jadi, sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan adanya pendapat pro dan kontra terhadap penutupan tempat hiburan selama bulan Ramadan, karena masing-masing mempunyai logikanya sendiri, jalan kemaksiatan berbeda dengan jalan kembali ke fitrah. Sehingga, logis atau tidak logis pendapat (pro atau sebaliknya) tersebut, menjadi tidak relevan dengan pertanyaan di atas. Sesungguhnya, masyarakat sudah bisa menerima perbedaan pendapat tersebut hanya sebagai wacana yang tidak perlu ditindaklanjuti dengan peraturan; seperti Perda Ramadan (?)

Ramadan sebagai bulan seribu bulan, bukan berarti menjadikan masyarakat menjadi homogen, menyeragamkan kebutuhan dan keperluan setiap orang, mengatur aktivitas semua anggota masyarakat menjadi umat yang satu atau seragam, mengadili perbuatan setiap warga masyarakat, dan menuntut semua orang turut menanggung kewajiban yang sebenarnya ditujukan secara partikular kepada umat muslim tertentu.

Bulan Ramadan yang di dalamnya ada kewajiban bagi orang-orang beriman untuk berpuasa sebulan penuh agar menjadi orang bertakwa. Kewajiban yang partikular dan mempunyai pengecualian yang cukup luas dan beragam ini, memberikan suatu pilihan yang halal bagi sebagian orang untuk tidak melaksanakan kewajiban berpuasa. Pengecualian yang memang sudah menjadi kehendak yang kuasa; seperti perempuan haid, anak-anak dan orang tua renta, dan karena adanya kewajiban lain; seperti mencari nafkah para pekerja berat dan mereka yang dalam perjalanan jauh atau karena sakit, sehingga memungkinkan mereka melakukannya pada bulan selain ramadan sebagai pengganti, atau melalui ketentuan membayar untuk memberi makan orang lain yang berhak.

Kewajiban puasa bagi orang-orang beriman, tidak hanya sekedar menahan rasa lapar dan dahaga dan lalu melarang orang lain menghentikan aktivitas perniagaan yang dianggap mengundang rasa lapar dan dahaga pada siang hari. Hal ini dibuktikan oleh umat muslim di negara yang mayoritas bukan beragama Islam, yang menjalankan kewajiban puasa pada bulan Ramadhan tanpa terganggu oleh hiruk pikuknya perniagaan di negara tersebut. Orang-orang beriman yang berpuasa bukan karena ingin dihargai dan dihormati, ataupun mendapatkan situasi yang kondusif dalam menjalankan ibadah selama bulan seribu bulan itu, namun karena itulah kewajiban yang harus mereka laksanakan yang sangat personal antara dirinya dengan Tuhannya.

Perniagaan tidak dilarang selama bulan Ramadan, yang penting sebagai seorang muslim dalam perniagaan jangan sampai mengurangi timbangan. Warung makan dengan orang yang makan di dalamnya, bukanlah pelecehan atau mengganggu kesakralan bulan Ramadan, karena masih ada pengecualian bagi umat muslim sendiri dan juga ada umat lainnya. Orang beriman tidaklah mudah tergoda terpajangnya makanan sangat lezat, atau melihat orang makan, karena jika tidak ingin berpuasa di rumah saja bisa makan dan minum tanpa ketahuan orang lain.

Perda Ramadan sebenarnya lebih cenderung mengarahkan orang-orang yang wajib puasa seperti anak-anak yang sedang belajar puasa. Seakan meragukan orang-orang beriman yang diwajibkan berpuasa, sebagaimana anak-anak tersebut, sehingga semua yang mengundang selera makan dan minum disingkirkan untuk sementara. Di sini terlihat, bahwa berpuasa agar menjadi bertakwa dieleminasi agar tidak tergoda makanan dan minuman yang tingkatannya hanya sekedar mendapatkan rasa lapar dan haus belaka.
Masyarakat yang heterogen, yang sebagiannya tidak termasuk yang diwajibkan berpuasa, atau sebagian lainnya memang berbeda kepercayaan dan agama, mempunyai kontrol sendiri dalam menghargai kewajiban dan keyakinan masing-masing, yang ada sebagai bagian kontrak sosial yang dikembangkan dan dikelola secara bersama sebagai hukum tidak tertulis dalam masyarakat. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan adalah membebaskan Ramadan dari keharusan-keharusan yang melebih-lebihkan dan mengada-adakan ketentuan dalam menjalankannya, sedangkan puasa sebagai kewajiban sebenarnya sudah sangat jelas bagi orang-orang beriman dan umat Islam.

Masyarakat heterogen yang selama ini mempunyai kearifan dan kontrak sosial dalam kehidupan bermasyarakat, seakan dituduh telah kehilangan toleransi, hormat menghormati terhadap masing-masing keyakinan telah luntur, terjerembab dalam kemaksiatan yang seragam, sehingga diperlakukan secara seragam dan homogen untuk mengikuti pelaksanaan suatu kewajiban ibadah berpuasa, yang sebenarnya mempunyai pengecualian sebagai suatu keadilan dari yang Maha Adil. Padahal, tindakan masyarakat yang makan dalam warung tertutup merupakan bagian dari adanya penghargaan dalam masyarakat bagi yang berpuasa dan tidak menghilangkan pengecualian bagi sebagian orang untuk tidak berpuasa.

Perintah kewajiban puasa, sebagaimana umat sebelumnya, yang juga dihadapkan dengan segala macam warna duniawi yang juga hadir bentuk kemaksiatan, sebenarnya mengajarkan tentang suatu keadaan yang tidak seragam dan homogen, yang menerima segala warna penciptaan dengan tetap melakukan pengabdian kepada Tuhan sekalian alam, yang dirindukan datangnya bulan seribu bulan bagi orang-orang beriman. Kesadaran bahwa Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang tidak menciptakan manusia sebagai umat yang satu, yang menyebar dengan berbagai kebutuhan dan keinginan, sehingga menghinakan orang-orang yang terdampar dalam kemaksiatan bisa saja sebagai kealpaan terhadap sifat Maha Kehendak bagi Allah.

Kemaksiatan hanya bagian kecil dari warna duniawi, yang bagi orang beriman untuk dijauhi dan berharap selalu dijauhkan dari roda kehidupan di dunia. Kemaksiatan merupakan bagian dari hawa nafsu yang memang ada, yang melalui puasa diharapkan dapat mengendalikan hawa nafsu yang sebenarnya lebih berat dari pada hanya menahan rasa lapar dan dahaga bagi orang-orang beriman, sehingga tidak mudah terjerumus dalam kemaksiatan.

Bulan seribu bulan tersedia bagi orang-orang beriman untuk mencapai takwa. Ramadan sebagai bulan suci tidak untuk menghentikan dunia kemaksiatan, tetapi menyediakan waktu bagi orang-orang beriman sebagaimana orang-orang sebelumnya untuk mendapatkan kebaikan dan pahala yang meskipun sepanjang usianya dilakukan untuk ibadah hampir tidak bisa dicapainya, kecuali Allah berkehendak lain. Kemaksiatan mempunyai jalannya sendiri, yang berbeda dengan jalan orang-orang beriman yang selalu meminta petunjuk jalan lurus.

************

Selamat melaksanakan ibadah puasa, dan mohon maaf lahir dan bathin atas segala kesalahan dan kekhilafan yang pernah terjadi, semoga dilapangkan dan dimudahkan dalam berpengharapan mencapai tujuan berpuasa.

9 Responses

  1. Saya pun turut mengucapkan …
    Selamat menyambut ramadhan 1430H dan selamat berpuasa
    semoga yang terbaik untuk semua..🙂

    HEB : Mohon maaf lahir dan batin, selamat menjalankan ibadah Ramadhan. Terbaik untuk semua menjadi bagian dari ibadah Ramadhan

  2. setuju, mas heb. jangan sampai perda ramadhan tidak kompromi terhadap penganut agama lain yang tidak menjalankan ibadah puasa. sah-sah saja meminimalisasi kemaksiatan, justru disarankan. tapi kenapa hanya pada bulan ramadhan? jika memang ingin membangun mental bangsa, semestinya jalan kemaksiatan dihalangi setiap bulan sepanjang tahun kan?

    akhirnya, selamat menjalankan ibadah puasa untuk mas heb sekeluarga, semoga diberi keberkahan dan kemudahan menjalaninya. mohon maaf lahir dan batin.

    HEB : Mohon maaf lahir dan batin, selamat menjalankan ibadah Ramadhan, semoga kedamaian selalu menyertainya dan selalu bertambah damai.

  3. Assalaamu’alaikum..

    Alhamdulillah…hari pertama berbuka puasa sungguh mengujakan kerana ibadah ini dilaksanakan bersama semua umat islam di seluruh dunia. Subhanallah..yang telah mentautkan hati-hati manusia melalui satu ibadah khusus yang dinanti, dirindui dan ditunggu kehadirannya setahun sekali. walau jauh dari pandangan mata juga tidak pernah bersua, namun di hati tetap dekat kerana kita didekatkan oleh Allah swt dengan satu agama yang benar dan tinggi kedudukannya.

    Selamat berpuasa, selamat berbuka dan selamat bersahur buat saudara HEB juga seluruh ahli keluarga saudara di sana. Indahnya dapat bersatu dan bersama keluarga saat menunggu untuk berbuka. Sedihnya saya hanya bersendirian sahaja. Ah..semuanya diterima dengan redha. Salam mesra dan salam Ramadhan dari UKM, Bangi.

    HEB : Wa’alaikum salam
    Selamat menjalankan ibadah Ramadhan, mohon maaf lahir dan batin.

  4. … Ada juga yang bikin poster atau pernyataan begini: “Stop Maksiat di Bulan Ramadan”.

    Logikanya, begitu Ramadan usai, maksiat lagi…?

    HEB : Hahahahaha … mohon maaf lahir dan batin, selamat menunaikan ibadah Ramadhan.

  5. selamat menunaikan ibadah ramadhan dengan penuh kesadaran dan kedewasaan. yang tak dewasa biarlah selalu berslogan… moga yang takwa bertambah takwanya, bila bulan ini berakhir; dan yang bodoh terpenjara, terus terpenjara…

    HEB : Untuk selanjutnya menjalani bulan-bulan lainnya dengan penuh kesadaran dan kedewasaan … mohon maaf lahir dan batin, selamat menyusuri perjalanan di bulan Ramadhan.

  6. Mohon maaf lahir dan batin, selamat menjalankan ibadah puasa.
    Udah pantas jadi ustadz

    HEB : Maaf lahir dan batin juga, selalu ada kerinduan pada bulan Ramadhan.

  7. selamat menunaikan ibadah puasa, bang benm, mohon maaf lahir dan batin, semoga puasa ramadhan tahun ini menghadirkan banyak berkah dan maghfirah, amiiin.

    HEB : Sama2, mohon maaf lahir dan batin, semoga tujuan puasa dapat diraih.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb. Salam kenal pak. Selamat menunaikan ibadah shaum Ramadhan.

    HEB :
    Wa’alaikum salam
    Selamat menjalankan ibadah Ramadhan, semoga sampai pada tujuannya.

  9. Sesungguhnyalah bahwa segala yang di dunia ini diciptakan berpasangan. Ada baik, ada buruk. Ada hitam, ada putih, ada kemaksiatan, ada keberkahan. Segala perbuatan nantinya akan dipertimbangkan di pengadilan akhirat kelak. Bukankah sudah dikatakan bahwa hanya sebagian kecil umat manusialah yang akan menjadi ahli surga. Semoga kita termasuk yang sebagian kecil tersebut.
    Salam silaturahim dari Pekalongan.

    HEB : Terima kasih telah bersilaturahmi. Benar, segala perbuatan nantinya akan dipertimbangkan dan jalan lurus yang selalu dimohonkan untuk berserah kepada Sang Maha Adil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: