REHABILITASI SUNGAI KEMUNING BANJARBARU


Oleh: HE. Benyamine

Banjarbaru bisa saja dikatakan termasuk yang tidak “beruntung” dalam berkah banyaknya jumlah keberadaan sungai. Namun, ada satu sungai yang perlu mendapatkan perhatian dan keseriusan semua pihak untuk melakukan rehabilitasi, sebagai upaya untuk mensyukuri masih adanya sungai tersebut. Kerusakan sungai mudah terjadi oleh tindakan manusia, akibat negatif dari kerusakan tersebut harus ditanggung warga, terutama warga yang tinggal disekitar sungai.

Warga di sepanjang bantaran sungai Kemuning Banjarbaru membuat ungkapan “tuhuk sudah kabanjiran” dan membuat himbauan untuk tidak membuang sampah dan mendirikan bangunan di sungai, tapi kesadaran tersebut sepertinya tidak dilihat oleh Pemko Banjarbaru untuk membuat perencanaan rehabilitasi sungai tersebut. Rehabilitasi sungai tidak semudah merusaknya, seperti dikatakan Rutherfurd (1999), “It takes only one person with a bulldozer to damage a stream, but it can take a landholder, engineer, biologist, geomorphologist, botanist and public-relations officer to fix it again”.

Sungai Kemuning di Banjarbaru yang mengalir hampir sepanjang wilayah Kota Banjarbaru, dari hulu Sungai Besar melelui belakang Pasar Bauntung Banjarbaru hingga sampai kawasan Loktabat sebagai hilirnya. Sungai ini sepanjang tahun airnya mengalir, dan saat musim kemarau terlihat kejernihannya. Meskipun, sekarang sudah banyak berdiri bangunan yang sebagiannya hampir menutupi sungai tersebut, yang secara langsung maupun tidak langsung merupakan suatu tindakan yang melanggar peraturan dan perundangan yang berlaku.

Sebenarnya, keberadaan rumah warga disekitar sungai merupakan bagian dari kerusakan yang terjadi pada sungai tersebut, ditambah dengan kemudahan dan menjadi kebiasaan membuang sampah ke dalamnya. Oleh karena itu, Pemko sudah seharusnya membuat perencanaan rehabilitasi sungai dengan melibatkan semua pihak, tidak menunggu kerusakan sungai semakin parah dan semakin banyaknya warga yang menempati sepanjang aliran sungai tersebut. Para pakar sungai menyarankan untuk berpikir kembali dalam pengelolaan sungai dengan menekankan pada on the lower-cost option of protecting rivers before they deteriorate.

Pada tahun 2003, saat Wakil Walikota (Wawali) Banjarbaru Ir Rahmat Thohir melakukan kunjungan ke Sungai Kemuning, yang menyatakan bahwa Pemko Banjarbaru telah berupaya melakukan program normalisasi sungai tersebut, dengan berharap mendapat dukungan semua pemangku kepentingan. Di antara langkah program tersebut dengan melakukan relokasi warga yang menempati bantaran sungai, karena mereka memang tidak mempunyai hak dan menyalahi peraturan dan perundangan yang berlaku. Memang tidak mudah untuk melakukan relokasi warga yang sudah berdiam ditempat tersebut sudah cukup lama, diperlukan perencanaan dan sosialisasi yang baik dan adanya sentuhan rasa keadilan.

Program normalisasi yang sedianya dimulai tahun 2003 tersebut lama tidak terdengar, mungkin karena kepemimpinan telah berganti, meskipun walikotanya tetap. Berharap hingga adanya kesadaran warga yang tinggal di sepanjang Sungai Kemuning untuk bersedia melakukan relokasi, sementara program normalisasi tersebut seperti tidak dilanjutkan, tentu saja adalah suatu kebijakan yang tidak peduli dengan keadaan warga tersebut. Warga menyadari posisi mereka, sementara Pemko dan elit kekuasaan di Banjarbaru seperti lepas tangan dan tidak begitu berminat memikirkan bagaimana penyelesaian masalah warga yang menempati bantaran sungai tersebut.
Mengapa dalam dua periode kepemimpinan walikota Rudy Resnawan, masalah Sungai Kemuning tidak dapat dicarikan jalan keluarnya? Setidaknya ada program yang berjalan, karena memang sudah pernah tercetus tahun 2003, yang meskipun hingga masa periode pemerintahannya tidak selesai dilaksanakan tetapi sudah dimulai dan berjalan. Hal ini menjadi catatan yang jelas adanya pengabaian hak sosial, ekonomi, dan budaya warga Banjarbaru, khususnya warga di sekitar Sungai Kemuning untuk mendapatkan tempat hunian yang layak dan berkekuatan hukum.

Sungai merupakan jalur hijau, apalagi Banjarbaru tidak banyak memiliki sungai, sehingga perlu mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap keberadaan sungai itu dari semua pihak. Proyek rehabilitasi sungai sudah saatnya digagas dan dimotori oleh Pemko Banjarbaru, dengan melibatkan semua pihak; seperti masyarakat, akademisi dan pakar sungai.
Perencanaan rehabilitasi tidak perlu menunggu bantuan dana dari pusat (15 melyar, pada tahun 2003) untuk relokasi pemukiman di bantaran sungai.

Mendesak untuk menyusun suatu perencanaan rehabilitasi yang dapat menjadi landasan untuk bekerja bagi semua pihak yang berkepentingan (Rutherfurd: 1999), karena: (1) perencanaan menyediakan pertanggung jawaban publik, dan memungkinkan setiap orang mengetahui mengapa dan apa yang dapat dilakukan, (2) tujuan yang jelas memudahkan dalam evaluasi, (3) perencanaan memudahkan semua pihak dalam berpikir sesuai konteks masalah, (4) adanya prioritas, kerja lebih pada sebab dari pada gejala, dan (5) perencanaan menghindari inefficiency di dalam manajemen proyek.

Apa yang dilakukan oleh Tim Kota Sehat Banjarbaru (Ir. Darmawan Jaya) dengan mencoba menghadirkan Ketua Komunitas Kali Code (Yogya) Toto Prabowo untuk melakukan berbagi pengetahuan dalam pengelolaan sungai sangat membantu dalam melihat berbagai pilihan tindakan (Radar Banjarmasin, 16 April 2009). Hal ini dapat lebih memudahkan dalam membuat perencanaan, sehingga apa yang menjadi masalah Kali Code Yogya yang ada kemiripan dengan sungai Kemuning dapat ditiru, sedangkan masalah lainnya yang ada pada sungai Kemuning dapat dicarikan penyelesaiannya secara bersama. Memang tidak perlu sama dengan cara pengelolaan Kali Code, yang penting adanya perencanaan dan segera dilaksanakan.

Rehabilitasi Sungai Kemuning tidak bisa terus ditunda, perlu ada kebijakan Pemko yang tegas dan bermartabat. Karena, akibat dari rusaknya sungai, dapat berakibat buruk pada pelaksanaan pembangunan lainnya. Contoh yang begitu kasat mata adalah perbaikan jalan dengan pengaspalan di samping sungai akan cepat rusak, karena bantaran sungai penuh dengan bangunan dan urukan yang menyebabkan jalan-jalan itu mudah menjadi genangan, akibat jalan air terhambat; aspal terkelupas.

Rutherfurd mengatakan, “It is easy, quick and cheap to damage natural streams. It is hard, slow and expensive to return them to their original state”, sehingga setidaknya Pemko Banjarbaru dan elit kekuasaannya tidak lagi membiarkan masalah ini terus berlarut-larut, dan seakan membiarkan hal itu semakin bertambah rusak. Apalagi budaya yang berkembang sebagaimana yang dapat dilihat dari kebiasaan membuang sampah ke sungai dan berdirinya bangunan yang menutupi sungai. Oleh karena itu, melindungi dan melakukan rehabilitasi sungai sebelum keadaan sungai semakin rusak perlu dilakukan sesegera mungkin. Kerusakan sungai yang semakin parah akan mempersulit dalam upaya rehabilitasi dan masalahnya semakin kompleks serta semakin mahal biaya yang dibutuhkan. Di samping itu, bencana banjir akan semakin luas genangannya. Semakin lama dibiarkan, hanya menghasilkan kekumuhan dan kehidupan warga yang semakin tidak sehat.

Dalam hal relokasi, Pemko Banjarbaru dapat mengusahakan tempat yang ditawarkan adalah di sekitar Mesjid Agung yang dibangun sebagai kawasan masa depan. Hal ini dapat bersinergi dengan keberadaan mesjid tersebut, sehingga dalam relokasi tersebut tidak hanya memindahkan warga tetapi juga sekaligus membuka kawasan sekitar mesjid dapat lebih cepat hidup dan berkembang. Anggaran untuk membangun Tugu Simpang  Empat bisa disediakan, masa untuk kepentingan warga dan seluruh masyarakat Banjarbaru untuk dalam rehabilitasi sungai Kemuning tidak dapat  dianggarkan.

Jadi, rehabilitasi Sungai Kemuning sudah saatnya dicarikan pemecahan masalah, sehingga warga yang terlibat dalam masalah ini dapat hidup lebih tenang dan mendapatkan suatu penyelesaian yang manusiawi dan berkeadilan. Mereka berharap kepada Pemko Banjarbaru dan elit kekuasaan lainnya untuk bersikap tegas dan mempunyai perencanaan dalam penyelesaian masalah tersebut.

Hal ini juga menjadi catatan penting bagi calon walikota yang bertarung pada pemilu 2010, karena merupakan masalah warga Banjarbaru, masalah bersama. Jangan sampai terulang kelalaian pemegang kekuasaan dan elit yang berkuasa sebagaimana periode sebelumnya.

(Tulisan ini dimuat dalam rubrik Opini Radar Banjarbamasin, 21 Agustus 2009: 3)

4 Responses

  1. Assalaamu’alaikum

    Satu penulisan yang mencerahkan. Banyak info menarik tentang kepentingan sungai kepada keperluan hidup manusia kerana sejak dahulu lagi, manusia dan sungai ibarat aur dengan tebing. Saling memerlukan walau kini jalan darat sudah banyak mendominasikan perjalanan manusia. Keperihatinan terhadap sungai dan kehidupan airnya akan mengekalkan keindahan alam semula jadi yang sepatutnya diwarisi oleh generasi akan datang masih dalam keadaan yang baik dan bersih.

    Syabas atas penulisan yang menarik ini, semoga ada maklum balas yang baik dari pihak pemerintah di negara saudara terhadap apa yang saudara utarakan. Mengapa lama tiada khabar beritanya di laman saya. Harap sudi berziarah. Salam mesra dan salam Ramadhan.

  2. air adalah sumber kehidupan. dengan demikian merusak air sama dengan merusak sumber kehidupan. benar sekali kata-kata rutherfurd bahwa merusak hanya butuh waktu dan upaya sedikit dibandingkan memperbaikinya kembali. saya setuju bahwa calon pemimpin harus pula diuji kepedulian mereka dalam memelihara lingkungan. harus masuk komponen fit and proper test kayaknya, mas.

  3. mudahan ada kebijakan yang segera yang berpihak pada tulisan ini, demi kemaslahatan manusia dan lingkungannya di banjarbaru.

    …..

    HEB : Mudahan, setidaknya Walikota yang akan datang bisa lebih berpikiran maju.

  4. ahha… saya suka bagian ini :
    Anggaran untuk membangun Tugu Simpang Empat bisa disediakan, masa untuk kepentingan warga dan seluruh masyarakat Banjarbaru untuk dalam rehabilitasi sungai Kemuning tidak dapat dianggarkan.

    dan beberapa bulan lalu, kami mengetahui ada wilayah yang terakhir di sentuh pemerintah adalah waktu Banjarbaru masih bergabung dengan Kab. Banjar 😦

    soal kemuning ini memang sudah beberapa kali di bahas, pernah pula melibatkan warga, DPRD dan Pemko Banjarbaru, namun entahlah bagaimana kelanjutannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: