KEBAKARAN LAHAN DI KALIMANTAN TENGAH


Oleh: HE. Benyamine

Sekelompok orang yang disebut pengecut dan tidak bertanggung jawab oleh Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang, karena mereka terus melakukan pembakaran lahan hingga menyebabkan kabut asap yang pekat. Sekelompok orang itu, menurutnya perlu mendapatkan sanksi sosial dari masyarakat; kucilkan saja orang-orang tersebut (www.antaranews.com, diakses 9 September 2009; Gubernur: Pembakar Lahan Itu Pengecut). Kegeraman gubernur sebagai suatu keprihatinan terjadinya kabut asap yang pekat yang hampir merata di 14 kabupaten/kota akibat kebakaran lahan adalah suatu kewajaran dan memang seharusnya.

Di sisi lain, geramnya gubernur Kalteng ini memberikan kesan tidak adanya perencanaan dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Karena dikemukan saat terjadinya kebakaran hutan dan lahan dengan disertai kabut asap. Gubernur Kalteng juga pernah menyatakan akan mundur (tahun 2006) jika semua pihak tidak ada yang peduli terhadap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi. Padahal, sebagai gubernur sudah seharusnya menyadari tentang kondisi Kalimantan Tengah adalah termasuk wilayah yang rentan dan potensial terjadinya kebakaran hutan dan lahan karena akibat kerusakan ekologis hutan, khususnya hutan gambut dimana fungsi hidrologisnya rusak, seperti akibat Proyek Lahan Gambut 1 juta hektar.

Hal itu juga menunjukkan, gubernur Kalteng, tidak berdaya terhadap perusahaan yang melakukan pembakaran lahan untuk pembersihan lahan karena hanya meminta kepada masyarakat untuk mengucilkan mereka sama dengan terhadap orang per orang yang melakukan pembakaran lahan kebun dan pekarangannya. Di sini jelas tergambar seakan tidak adanya peraturan atau perundangan yang harus ditegakkan, dan hanya meminta untuk diberi sanksi sosial. Untuk perusahaan pembakar lahan, sanksi sosial yang dimaksud, tidak mempunyai pengaruh dan malah tidak tepat, karena untuk perusahaan pembakar lahan adalah ditegakkannya hukum, diantaranya dengan cara menghentikan aktivitas perusahaan setelah terjadi kebakaran di lahan yang bersangkutan untuk kepentingan penyelidikan (UU No. 23 Tahun 1997). Dalam pasal 25 jelas disebutkan bahwa Gubernur dan/atau Bupati/Walikota punya kewenangan untuk menghentikan operasional perusahaan yang menyebabkan pencemaran lingkungan.

Apalagi sebenarnya sangat jelas, pembakaran di lahan kebun dan pekarangan (milik masyarakat) yang tentu bukanlah lahan gambut yang ketebalan gambutnya tidak dalam karena terus menerus dilakukan budi daya di atas lahan tersebut, sehingga tidak sama dengan gambut yang dalam yang sebenarnya tidak dapat digarap oleh masyarakat sendiri hanya dengan tenaga manusia namun tetap digarap oleh perusahaan sehingga terjadi kerusakan sistem hidrologi yang sangat luas. Wakil Gubernur Kalteng sudah mulai mengemukakan bahwa kebakaran lahan yang tidak terkontrol malah banyak terjadi di lahan yang bukan ladang atau kebun, tetapi sudah ada plang namanya yang merupakan lahan tidur, yang sebagiannya milik PNS. Wagub merasa ada yang salah dengan tuduhan terhadap para peladang dan kebun warga/pekarangan, yang selama ini juga terkena getahnya dari pembakaran yang tidak bertanggung jawab.

Keprihatinan saat terjadi kebakaran hutan dan lahan oleh pemerintah sebenarnya adalah suatu sikap yang memalukan, karena pemerintah mempunyai berbagai sumberdaya yang bisa digunakan untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran tersebut. Di antaranya dengan membuat informasi tentang sumberdaya lahan yang dapat digunakan dalam pemanfaatan dan pengelolaan secara tepat dan dengan hasil maksimal. Kebakaran hutan dan lahan adalah akibat dari tidak adanya informasi tentang sumberdaya lahan tersebut. Sehingga, lahan gambut yang kedalamannya lebih dari 3 meter juga dibuka untuk lahan pertanian dan perkebunan, yang menyebabkan rusaknya sistem hidrologi lahan tersebut.

Berdasarkan tesis Teras A Sahay (2005), tentang Evaluasi dan Pemetaan Kemampuan Sumberdaya Lahan melalui Pendekatan Zona Agroekologi di Kabupaten Pulang Pisau Propensi Kalimantan Tengah pada program studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Pasca Sarjana Unlam, jelas terlihat bahwa kabupaten Pulang Pisau yang mencakup luas areal 1.108.972 kilometer persegi berdasarkan sistem zona agroekologi, jenis-jenis peruntukkan lahan terdiri dari, (1) kawasan perkebunan (tanaman tahunan) seluas 201.755 Ha, (2) kawasan pertanian tanaman pangan lahan basah (tanaman semusim) seluas 262.251 Ha, dan (3) Kawasan kehutanan seluas 802.591 Ha.

Wilayah Kabupaten Pulang Pisau terdiri atas 5 (lima) zona utama yaitu, (1) Zona III (agroforestry), pemanfaatan lahan adalah wana tani dengan alternatif komoditas tanaman perdu dan pepohonan seperti meranti, damar, leda, sungkai, sengon, kehu, keruing, kapur, geronggong, ramin, dan eboni sebagai tanaman kehutanan dan padi ladang dan palawija sebagai tanaman sela untuk dibudidayakan. (2) Zona IV (Tanaman Semusim/Tanaman Pangan), hanya ditemui subzona IV.1 yang memiliki kondisi drainase buruk, dengan tipe pemanfaatan lahan tanaman pangan lahan basah seperti padi sawah, zona ini banyak terdapat di sepanjang aliran sungai dengan luasan 262.251 ha yang terdapat di seluruh kecamatan., (3) Zona V (kehutanan), umumnya memiliki fisiografi berupa kubah gambut (peat dome). Secara geografis, zona V dengan total luasan 445.701 Ha terdiri dari zona V.1 seluas 157.625 Ha dengan kedalaman gambut < 1,5 m dan zona V.2 seluas 288.076 ha dengan kedalaman gambut > 1,5 m membentuk zona V umumnya terdapa di bagian tengah dan selatan wilayah Kab. Pulang Pisau, (4) Zona VI (Kehutanan) ditemukan pada fisiografi di sepanjang pesisir dan rawa belakang pantai yang merupakan daerah marin yang mencakup luasan 11.761 Ha di Kecamatan Kahayan Kuala, sistem zonasi adalah kehutanan dengan vegetasi alaminya seperti mangrove dan nipah. Kawasan ini perlu dijaga dengan mempertahankan kondisi alaminya sebagai hutan penyangga di sepanjang kawasan pesisir, (5) Zona VII (Kehutanan), sistem zonasi adalah tipe pemanfaatan lahan untuk kehutanan dengan alternatif komoditasnya berupa vegetasi alami seperti Rengas, Nibung, dan Fiscus (Teras A Sahay, 2005).

Dengan mengacu pada zonasi tersebut di atas, Kabupaten Pulang Pisau seharusnya dapat mengupayakan penggunaan lahan yang sesuai dengan tipe pemanfaatan lahan (land utilization type) dan kesesuaian lahannya (land suitability) dalam proses perencanaan penggunaan lahan. Sehingga, lahan gambut seperti pada zona V yang terdapat kubah gambut (peat dome) lebih baik dijadikan zonasi konservasi, yang perlu dilindungi. Namun, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kab. Pulang Pisau saat ini, menunjukkan bahwa telah terjadi kerusakan yang luar biasa di zona V, zona VI, dan zona VIII yang seharusnya diperuntukkan untuk kehutanan.

Berdasarkan luasannya, tentu sangat tidak mungkin jika yang melakukan kerusakan tersebut adalah masyarakat yang masih mengandalkan tenaga manusia untuk penggarapannya. Begitu juga dengan zona IV, yang memang direkomendasikan untuk tanaman semusim, telah terjadi kerusakan yang begitu cepat dengan bantuan teknologi modern yang menyebabkan mudahnya terjadi kebakaran lahan dengan kabut asap yang pekat.

Pendekatan zona agroekologi dapat dilaksanakan pada masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Kalteng sebagaimana yang telah dilakukan oleh Teras A. Sahay (2005) pada kabupaten Pulang Pisau dalam penelitiannya, sehingga tersedia informasi tentang sumberdaya lahan yang dapat dimanfaatkan dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan serta pemanfaatannya di tingkat provinsi.  Sebagai suatu bukti bahwa kegeraman gubernur terhadap sekelompok orang yang terus melakukan pembakaran lahan tidak berkesan hanya sebagai kepanikan pemerintah karena tidak adanya perencanaan dalam mengantisipasi kebakaran lahan. Atau, terkesan pemerintah daerah tidak mengetahui kondisi geografi dan karakteristik lahan yang ada di wilayahnya. Kemudian, dengan gampang menyatakan sekelompok orang (kebun dan pekarangan) untuk berhenti membakar, dengan tidak mencarikan teknologi pengganti yang sesuai dan tepat bagi masyarakat; misalnya, menyediakan mesin penghancur serasah, sehingga tidak untuk dibakar tetapi bisa digunakan untuk keperluan lain.

Jadi, pemerintah daerah tidak selayaknya seperti menimpakan kesalahan dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan dan lahan dalam skala besar hingga mengalami kerusakan dan mudah terbakar kepada masyarakat biasa (kebun dan pekarangan) sebagai penyebab kabut asap dan kerusakan hutan. Apalagi hanya bisa melarang sesuatu yang dari dulu sudah dilaksanakan, tanpa memberikan alternatif yang sepadan dengan cara membakar tersebut.

(Tulisan ini dimuat dalam rubrik Opini Koran Radar Banjarmasin, 16 September 2009: 3)

16 Responses

  1. giman itu yah,,,,sayang bgt lahan disana ,,

  2. harusnya lahan disana dijaga dg baik2,,,itu kan tabungan oksigen kita,,,,,

    HEB : Terima kasih sudah berkunjung. Benar tabungan oksigen …. dan juga kuburan karbon.

  3. Assalaamu’alaikum..

    KEPADA SAHABATKU MAS BEN @ HEB… SAMBUTLAH UCAPAN DARIKU. SERANGKAI KATA PENGGANTI DIRI. UNTUK MENYAMBUT HARI BAHAGIA. JARI SEPULUH KU SUSUN JUGA. AGAR KESALAHAN DIAMPUN SEMUA. TANDA IKHLAS PERSAHABATAN KITA. SELAMAT HARI RAYA AIDIL FITRI 1 SYAWAL 1430 H. MOHON MAAF ZAHIR DAN BATIN. SALAM KEMESRAAN DARI MALAYSIA.

  4. salam & selamat berlebaran bang Ben. mmm…saya dengar desus-desus, katanya maw dipromosikan jadi menteri tuh, gubernur Kalteng Teras Narang.

    HEB : Selamat berlebaran dan idul fitri, mohon dimaafkan. Hmmm … desas desus banyak kemungkinannya.

  5. mestinya lingkungan kita terjaga dari tangan tangan jahil seperti itu ya om…
    akhirnya saya hanya bisa mengucapkan:
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
    Mohon Maaf Lahir dan Bathin Semoga Amal kita diterima Allah SWT dan kembali ke Fitrah di 1 Syawal 143o H.

    Amin

    HEB : Selamat idul fitri, mohon maaf lahir bathin.

  6. poin utama yang saya ambil dari tulisan ini bukanlah tentang kebakaran lahan an sich, namun sebuah gambaran dasar lain, yakni seberapa besar peran data dan kajian ilmiah digunakan oleh pemerintah daerah (propinsi/kabupaten/kota) dalam rangka pembangunan dan penyelesaian masalah. (tentu saja termasuk dalam mengatasi persoalan kebakaran lahan seperti pada tulisan ini).

    sementara soal kebakaran lahan, sudah terjadi bertahun-tahun, kabut asap pun kita rasakan bertahun-tahun, sampai-sampai tahun kemarin pas ada pengeboman air menggunakan pesawat rusia itu, salah satu kru-nya sempat tidur di rumah saia, kemudian berbagi cerita menarik plus menggelitik.

    HEB : Benar, bagaimana pemerintah membuat kebijakan berdasarkan data dan memperhatikan kajian ilmiah yang ada. Cerita tentang kebakaran lahan yang menarik plus menggelitik itu, bisa dibagi nantinya, ya Pakacil.

    • tambahan Pak Ben..
      dan sangat-sangat mohon maaf jika Out of Topic…

      bermakud menyampaikan …
      terkait akan sangat berkurangnya aktivitas online beberapa hari ke depan, karenanya maaf duluan…
      sembari memohon pada-Nya agar diberikan kesempatan untuk menunaikan ramadhan kali ini…
      Saya menyampaikan selamat ‘Idul Fithri 1430 H sekaligus menyampaikan permohonan maaf jika ada salah pada tulisan, pada komentar, ataupun pada komentar yg tak tertuliskan.

      Semoga ketetapan takdir membuat kita dapat menjumpai ramadhan tahun depan🙂

      HEB : Selamat idul fitri, mohon maaf lahir batin atas segala salah dan khilaf dalam bergaul dalam dunia maya ini. Semoga kita dapat berjumpa ramadhan tahun depan.

  7. kedisiplinan dalam melaksanakan pengawasan dan keberanian dalam menindak para pelaku pembakaran.serta hukuman yang setimpal bagi para pelaku. dan pertanyaannya bagaimana cara menangulangi lahan yang tidak produktif tanpa harus membakar lahan. jadi itu semua berproses.hinga semua sadar akan pentingnya memelihara lahan tersebut

    HEB : Terima kasih sudah berkunjung. Benar, semua itu berproses dan perubahan budaya juga perlu waktu.

  8. Saya turut prihatin atas pembakaran lahan yang kerap terjadi dan menyebabkan asap polusi.

    Selamat Iedul Fitri 1430H
    Mohon maaf lahir dan bathin.

    HEB : Memang memprihatinkan kebakaran lahan dan hutan di musim kemarau, karena kerusakan hutan dan lahan yang parah.
    Selamat idul fitri, mohon maaf lahir bathin.

  9. ۞۩۞ تقبل الله منا ومنك ۞۩۞ Selamat hari raya idul fitri 1430 H Minal aidzin wal faidzin Mohon maaf lahir dan batin

    here’s hoping that we all shall be enlightened by the almighty, and forgiven for our wrong doings! Ameen, May Allah bless us all.

    best regards,
    Pakde

    HEB : Selamat idul fitri, mohon maaf lahir dan batin.

  10. numpang OOT, bang ben, mau ngucapin selamat idul fitri, mohon dimaafkanb segala salah dan khilaf saya selama ini.

    HEB : Selamat idul fitri, saya juga mohon dimaafkan segala salah dan khilaf selama ini, semoga kita diberikan kesempatan bertemu dengan ramadhan berikutnya.

  11. Assalaamu’alaikum..
    Hadir sekali lagi sahabat yang baik.. Saudara HEB, tika takbir sudah lama bersemayam, ingin menyampai salam dan pesan di Aidil fitri yang bahagia.

    Sebening air wudhu’ ditatah
    sesuci kitabbullah di hayati
    semerdu alunan zikir disebut
    seindah solat yang didirikan
    setenang hati yang tiada rasa benci dan dendam.
    Andai bicara tidak dapat disambut
    Jika wajah tidak sempat ditatap
    Bukalah pintu maaf buatku.
    Dengan kemaafan dari hati yang dalam..

    Aku ingin mengucapkan Selamat hari Raya. Maaf zahir dan bathin. Salam Aidil Fitri buat saudara HEB dan keluarga di sana. Senyum seindah suria dan salam mesra hendaknya dari Sarikei, Sarawak.

    HEB : Wa’alaikum salam
    Selamat idul fitri, mohon maaf zahir dan bathin.

    Biar suara tak dapat disambut
    Meski wajah tidak sempat ditatap
    Selalu terbuka pintu maaf sahabat
    Dengan tulus penuh harap

  12. Met Lebaran aja dulua ah … mohon maaf

    HEB : Sama-sama, mohon maaf. Selamat idul fitri.

  13. luar biasa!
    selamat idul fitri. mohon maaf lahir batin

    HEB : selamat idul fitri … mohon maaf lahir batin

  14. seyogyanya pemerintah memiliki pengetahuan yang cukup sebelum berbicara atau menetapkan kebijaksanaan. ini bisa diperoleh dengan berkonsultasi kepada para ahli dan tidak merasa menguasai segalanya. kalau salah bicara kan konyol sekali. termasuk dalam hal kebakaran hutan yang tak bosan-bosan dikritik oleh mas ben (dan saya pikir bukan mas ben sendiri, tapi tak tahulah apa yang menyumbat telingat mereka). penegakan hukum penting sekali, demi kemaslahatan bersama. sekadar prihatin tanpa tindakan nyata sama saja dengan mengolok-olok. siapa yang bakal peduli toh?

    tak lupa mengucapkan selamat idul fitri buat mas ben sekeluarga. mohon maaf lahir dan batin. gimana suasana lebaran di sana, mas?

    HEB : Benar, pemerintah (daerah) sudah seyogyanya memiliki pengetahuan tentang daerahnya; budaya, lingkungan alam, dan lainnya.

    Lebaran di Kalimantan … diselimuti kabut asap. Di Banjarbaru masih bisa dikatakan aman dari asap, karena langit masih terlihat biru. Suasananya tetap meriah … sesuatu yang terasa setahun sekali saja.

  15. kami sedang melakukan kajian pada pengaruh pemborosan kertas pada kerusakan hutan,,, kasih komen di http://ahnku.wordpress.com/2009/10/11/cintai-lingkungan-dengan-efisisensi-kertas/ ya?? kita tunggu sebuh solusi baru untuh bangsa…

    HEB : Terima kasih telah berkunjung. Kertas …. bangsa kita rasanya tidak termasuk yang boros kertas, untuk produksi kertas memang banyak pabriknya yang sebagiannya mulai mengalami kesulitan bahan baku. Lahan kritis terus bertambah, sekarang bagaimana menanam, menanam, dan menanam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: