CERITA ANAK (2) : AYUV BISA MEMBACA!


Perkembangan Ayuv di Taman Kanak-Kanak terkadang membuat ayahnya khawatir, apalagi bila dia memperhatikan anak-anak satu kelas dengan Ayuv. Teman-teman Ayuv begitu bersemangat mengikuti aktivitas yang ditentukan para guru. Sementara Ayuv pada saat yang sama asyik melakukan aktivitas sendiri. Teman-temannya di dalam kelas, Ayuv di luar kelas. Saat istirahat saja, sebagai waktu bebas, yang menyatukan Ayuv dengan teman-teman di halaman Taman Kanak-Kanak untuk bermain.

Hingga selesai kelas Nol Kecil, Ayuv tidak menunjukkan minat untuk berada dalam kelas. Guru-gurunya, entah sudah bosan mengarahkan atau karena memahami tentang anak-anak, membiarkan saja Ayuv melakukan aktivitas sendiri, tentunya selama tidak berbahaya.

Setiap menjemput Ayuv, ada kebahagiaan tersendiri bagi Ayahnya, karena Ayuv terlihat selalu gembira. Sesampai di rumah, Ayuv langsung bermain lagi, seakan itulah dunianya. Dunia ini hanya permainan. Dunia keceriaan dan penuh daya tarik. Ayuv selalu bersemangat tentang berbagai hal, mungkin waktu baginya sama saja. Waktu yang tidak perlu dipikirkan dan diatur, yang ada di kepalanya bagaimana digunakan untuk bermain.

Dalam hal mainan, Ayuv tidak terlihat membedakannya, selama bisa dijadikan mainan maka itulah mainan tersebut. Mainan-mainan yang diberikan kepadanya diperlakukan sebagai benda yang terdiri dari beberapa bagian, setidaknya mainan-mainan itu tidak berapa lama akan menjadi bagian-bagian yang terpisah. Mainan-mainan itu tidak ada yang utuh dalam bentuk semula.

Berbagai mainan, dari produksi pabrik atau hanya potongan-potongan kecil kayu, dapat memberikan keasyikan sendiri bagi Ayuv, bahkan kadang membuatnya sangat serius dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Beberapa mainan yang dibelikan memang untuk bongkar pasang, dan dapat dijadikan menjadi beberapa bentuk. Mainan bentuk puzzle bisa saja memberikan stimulus untuk ketekunan, kesabaran, dan ketelitian. Ayuv seperti selalu tertantang dengan mainan puzzle baru, yang membuatnya dapat terduduk dan berkonsentrasi untuk menyelesaikan dalam waktu yang relatif lama. Waktu seperti tidak berjarak, saat Ayuv menghadapi potongan-potongan puzzle yang berserakan, yang seperti keharusan untuk disusun sebagaimana sebelum diberantakannya. Berbagai bentuk puzzle menjadi sesuatu yang relatif, karena dari yang potongan-potongan yang masih besar hingga berhadapan dengan potongan-potongan yang semakin mengecil, begitu saja dapat diselesaikan dengan mudah dan semakin cepat.

Bermain sambil belajar, begitulah ungkapan yang pernah didengar dan menjadi masuk akal bagi Ayahnya Ayuv, bahkan menjadi semakin meyakini bahwa bermain adalah belajar itu sendiri bagi anak-anak. Melihat ketertarikan anak-anak pada mainan, Ayahnya Ayuv terpikir bagaimana buku bisa dijadikan mainan, sehigga membuat Ayuv bisa berminat dengan buku sebagaimana ia berminat pada mainan. Jadi, meskipun belum bisa membaca, Ayuv sudah dibelikan beberapa buku anak-anak, tidak hanya buku yang banyak gambarnya tapi juga buku cerita atau dongeng untuk dibacakan. Untuk menjadikan buku sebagai mainan, saat Ayuv bermain dengan mainannya, buku juga diletakkan disekitar mainan. Pada saat tertentu, buku dijadikan alas mainan bongkar pasang, atau dijadikan dinding pembatas, sehingga selalu dalam jangkauannya. Buku menjadi bagian dari mainan, yang lama kelamaan menjadi bagian lingkungannya.

Di sekolah TK, Ayuv tidak terlihat bahwa ia tertarik dengan huruf ataupun buku-buku tulis yang tersedia di sekolah, meskipun ia sudah tertarik dengan buku-buku yang ada di rumah. Hingga selesai Kelas Nol Kecil, Ayuv tidak pernah memperlihatkan bahwa dia sudah mengenal huruf-huruf. Namun, jika diminta untuk menyebutkan huruf, ia bisa saja mengatakannya dengan urutan yang tidak beraturan dan tidak lengkap. Keadaan ini terkadang begitu mempengaruhi pandangan Ayahnya untuk tetap memberikan kebebasan dalam bermain, apalagi sekarang Ayuv sudah Kelas Nol Besar, yang tidak berapa lama lagi akan masuk Sekolah Dasar.

Sekolah Dasar dalam menerima murid, sebagaimana pembicaraan orang tua murid dan pengalaman orang tua yang anaknya sudah masuk sekolah dasar, melakukan tes membaca sebagai syarat diterima atau tidak. Hal ini cukup mengganggu Ayahnya Ayuv, bila melihat keadaan Ayuv yang tidak begitu peduli dengan pelajaran di Taman Kanak-Kanak. Padahal, Taman Kanak-Kanak menyediakan les tambahan untuk membaca, setelah jam sekolah usai, namun demikian Ayahnya Ayuv tidak mengikutkan Ayuv dalam les tersebut, karena merasa percuma jika diikutkan tapi tidak mau duduk dan tertarik untuk belajarnya. Saat pelajaran sekolah saja Ayuv tidak mengikuti, apalagi dilanjutkan dengan mengikuti les tersebut. Jadi diputuskan tidak mengikutkan Ayuv dengan les tambahan untuk bisa membaca. Sebagian besar teman-teman Ayuv bertahan untuk mengikuti les, Ayuv sudah pulang duluan.

Seiring berjalannya bulan, anak-anak yang lain sudah ada yang mulai lancar mengucapkannya, dan ada sebagian yang sudah hafal, walau ada juga yang terbata-bata. Melihat hal ini, Ayahnya Ayuv saat menjemput atau mengantar Ayuv ke sekolah TK, terpengaruh untuk memacu Ayuv dapat mengenal huruf-huruf tersebut, setidaknya dalam pikiran Ayahnya Ayuv paling tidak sama dengan anak-anak yang terbata-bata menghafalkannya. Mamahnya Ayuv juga berusaha untuk mengarahkan Ayuv untuk bisa berkonsentrasi pada huruf-huruf tersebut, karena tidak terlihat ketertarikan pada huruf-huruf itulah yang menjadikan Ayuv tidak bisa konsentrasi dan berdiam diri dalam waktu yang lama untuk belajar.

Setiap ada kesempatan, Ayahnya Ayuv mencoba untuk mengajak Ayuv belajar dan menghafalkan huruf latin tersebut. Kesulitan yang utama adalah Ayuv tidak betah duduk. Lalu dicoba dengan mengikuti dia bermain, dengan cara bernyanyi, untuk tidak memaksa Ayuv untuk berdiam di satu tempat. Cara ini tidak begitu menarik, Ayuv lebih konsentrasi terhadap yang lain, terutama buku. Buku-buku tersebut terkadang bisa membuatnya tertawa sendiri, hanya dengan melihat gambarnya saja. Ayuv selalu punya cara untuk menghindar, seakan ia tahu sedang diarahkan untuk belajar membaca.
Ada saat-saat tertentu, Ayahnya Ayuv tidak bisa bersabar, apalagi terbayang pandangan dan omongan orang tua anak-anak yang lain tentang Ayuv, yang dianggap aneh sendiri karena lebih banyak berada di luar kelas atau berada di ruang kepala sekolahnya.

“Ayuv tadi belajar apa di sekolah?”, tanya Ayahnya sambil melihat isi tas sekolah Ayuv yang terlihat seperti tidak pernah di sentuh.

“Menggambar dan menulis huruf”, jawab Ayuv sambil berlalu.

“Apa Ayuv sudah tahu huruf-huruf yang diajarkan di sekolah tadi?”, selidik Ayah dengan perasaan ingin tahu.

“Ayuv tadi menggambar pohon, gunung, matahari, awan … selesai gambarnya, Ayah”, seakan tidak tertarik dengan pertanyaan tentang huruf-huruf tersebut.

“Oh menggambar… tadi belajar membaca juga, ya Ayuv?”, desak Ayah penasaran.

“Ya, belajar membaca. Ibu guru membaca dan menulis. Ibu guru juga menghapus. Bertanya ini huruf apa anak-anak”, tanggap Ayuv dengan muka serius.

“Ayuv tadi ditanya ibu guru juga?”, tanya Ayah sambil menatap Ayuv yang sudah mulai melirik mainan.

“Nggak! Ayuv duluan keluar kelas, tadi kan pakaian Ayuv basah, cuci-cuci piring”, terang Ayuv seakan mengingatkan Ayahnya bahwa waktu pulang sekolah tadi ia dalam keadaan basah sebagian pakaian dan sepatunya, karena main air yang katanya mencuci piring dan gelas di halaman belakang sekolah.

Dalam benak, Ayahnya Ayuv tetap mempunyai harapan kalau Ayuv bisa membaca saat ia masuk Sekolah Dasar. Pernah dicoba dengan mengajak Ayuv bermain untuk belajar huruf, tetapi minatnya seakan tidak ada, matanya selalu tertuju pada hal yang lain. Kebiasaannya bergerak, selalu bergerak, yang lebih membuatnya begitu sulit untuk mengajarinya. Dengan cara menyanyikan lagu ABC, ia hanya mengikuti dengan sambil lalu dan bermain. Ia ternyata bisa saja menyanyikan lagu tersebut, tapi belum terampil bila disuruh menunjukkan hurufnya. Kegemarannya bermain dengan buku setidaknya dapat menghibur Ayah dan Mamahnya. Bahkan buku sudah menjadi teman tidurnya.

Untuk tidak menghentikannya bergerak, dibuatkan huruf-huruf dengan sistem kartu, dan diletakkan bersama dengan mainan lainnya. Pada saat main, dicoba disela sebentar dengan memintanya mengatakan huruf yang ada di kartu, yang sekaligus menyambungkannya menjadi sebuah kata. Cara ini dapat membuatnya bisa memperhatikan sebentar, tapi tidak bisa lama dan banyak, jadi kendalanya adalah banyaknya waktu yang dibutuhkan. Namun, cara ini juga tidak terlihat menyebabkan kemajuan pada Ayuv dalam mengenal huruf dan kata, karena saat ditanyakan huruf-huruf tersebut tetap saja ia seperti tidak berminat.

“Ayuv ini huruf apa?”, Mamahnya Ayuv menunjukkan kartu huruf dan kata.

“Mamah tahu gak huruf apa?”, katanya balik bertanya.

“Mamah kan tanya sama Ayuv”, jawab Mamahnya sambil tetap menunjukkan kartunya.

“Apa ya, nanti saja belajarnya, Ayuv lagi main”, jawab Ayuv sembari pergi.

“Ayo dong, kasih tahu Mamah, satu ini saja”, mohon Mamahnya dengan mengejarnya.

“Hahahaha … gak mau! Mamah belajar dong”, canda Ayuv yang merasa diajak main kejar-kejaran oleh Mamahnya.

Benar-benar tidak bisa membayangkan bila Ayuv sebenarnya mempunyai kesulitan dalam belajar, apalagi terlihat tidak mempunyai kemauan dalam belajar, sementara di sekolah Taman Kanak-Kanak ia juga hampir tidak pernah mengikuti kegiatan yang diarahkan guru-gurunya.

Ada saat-saat dimana merasa tidak bisa mengarahkan Ayuv, lalu terlintas bagaimana teman-teman sekolah Ayuv yang sudah mulai lancar bisa membaca, Ayahnya Ayuv semakin terlihat tidak sabaran. Tanpa sadar, Ayah membentak dan memerintah. Sikap dan tindakan Ayah itu ternyata membuat Ayuv mengkerut, yang malah membuatnya semakin tidak berminat terhadap peralatan tulis dihadapannya. Ayuv seakan menunjukkan wajah sedang berhadapan dengan monster, ia menundukkan wajah, dan matanya tertutup.

“Ayo! Coba ingat lagi. Ini huruf apa?”, tanya Ayah dengan suara keras.

“Hmmm … ehhhh … apa ya”, jawab Ayuv sambil menahan tangis, karena ia tidak biasa mendengar suara keras.

“Ini kan B, A, C …. nah yang ini apa? Ayo gak usah takut!”, tunjuk Ayah gak sabar pada huruf A setelah huruf C.

“Baca”, kata Ayuv masih ragu dan menatap mata Ayahnya.

“Ayuuuuv! Ayo dong, huruf apa ini?”, tunjuk Ayah sambil meminta Ayuv melihat ke kertas bukan ke matanya.

“Baca”, suara Ayuv terdengar lebih jelas dan melanjutkan sebelum Ayahnya mengatakan sesuatu, “Tunggu sebentar Ayah! Aku mau ke kamar mandi”.

“Ayo sana, cepat”, kata Ayahnya sambil menghela nafas dalam-dalam karena merasa bersalah telah memperlakukan Ayuv dengan cara seperti itu.

Ayahnya tidak bisa melihat apa yang telah dilakukan Ayuv karena ketidaksabaran mendesaknya, padahal pertanyaan yang diajukan sudah tidak tepat lagi buat Ayuv karena dia mencoba menerapkan caranya sendiri dalam belajar, jadi jawabannya langsung pada kata “BACA”.

Setelah selesai dari kamar mandi, Ayuv balik lagi ke kursi di mana Ayahnya masih duduk, tetapi Ayahnya sudah tidak berminat melanjutkan mengajari Ayuv dengan cara tadi. Lain kali saja belajarnya pinta Ayahnya, yang kemudian memeluk Ayuv, seakan menyesali apa yang sudah terjadi. Ayuv juga memeluk erat Ayahnya, dan terlihat keceriaan telah kembali pada wajahnya.

Sejak kejadian yang membuat Ayuv bukannya belajar malah ia menjadi takut, yang sebenarnya adalah kekalutan orang tua sehingga tidak bisa berpikir baik, Ayahnya Ayuv tidak lagi melanjutkan cara pemaksaan dan kasar. Karena sangat jelas terlihat bagaimana Ayuv berusaha membuat pertahanan diri, yang sebenarnya menguras energinya habis hanya untuk pertahanan itu. Ia juga terlihat begitu melewatkan saja apa yang diajarkan, tidak ada yang diserap, hanya ketakutan dan kecemasan yang didapatnya.

Beberapa cara tetap dilakukan, kecuali pemaksaan dan bentakan, dengan terus memberikan dorongan kepada Ayuv untuk melihat buku yang ada. Pada suatu hari, Ayuv duduk dengan sebuah buku di tangannya, terlihat begitu serius dan matanya tertuju pada buku tersebut. Lalu, Ayahnya mendekat, dan kemudian duduk di samping Ayuv.

“Lagi ngapain, Yuv?”, tanya Ayahnya dengan penasaran karena sudah beberapa kali menemukan Ayuv duduk serius dengan sebuah buku.

“Membaca”, jawab Ayuv dengan tidak memalingkan mukanya dari buku tersebut.

“Coba bacakan dari atas. Suaranya yang keras, ya Yuv”, desak Ayahnya gak sabar sambil menunjukkan paragraf yang teratas.

Ayuv mulai membacakan paragaraf yang ditunjuk. Meskipun masih terbata-bata, ternyata ia sudah bisa membaca. Ayahnya Ayuv langsung teriak dan memeluk Ayuv. Mamahnya Ayuv yang mendengar teriakan, langsung mendekat dan langsung mendengar bahwa Ayuv bisa membaca, dengan spontan juga memeluk Ayuv. Perasaan Ayahnya Ayuv mengalami kebebasan yang berasa begitu ringan dan melayang. Terasa terlepas dari beban dan kekhawatiran yang selama ini seperti tidak ada jalan keluarnya. Ayuv sepertinya telah menemukan caranya sendiri dalam belajar, hal yang seharusnya disadari oleh orang tuannya sejak awal.

Seiring perjalanan waktu, kemampuan membaca Ayuv terus bertambah, kecepatannya juga terus meningkat. Ketertarikan dengan buku semakin meningkat, dan buku semakin menjadi temannya hingga tidur.

Namun demikian, hingga menjelang selesainya Taman Kanak-Kanak, Ayuv tetap sebagai anak yang tidak pernah mengikuti arahan dan kegiatan sekolahnya. Gurunya bertanya kepada Ayahnya Ayuv, apa Ayuv dibiarkan tinggal di Taman Kanak-Kanak saja satu tahun lagi, apalagi umurnya masih memungkinkan untuk tetap di Taman Kanak-Kanak. Pertanyaan guru Ayuv memang mempunyai alasan, karena mereka mengalami dan melihat bagaimana Ayuv yang tidak mengikuti kegiatan sekolah sebagaimana anak-anak yang lain. Mungkin, guru Ayuv di Taman Kanak-Kanak tidak menyadari bahwa Ayuv sudah bisa membaca, karena Ayuv tidak pernah memperlihatkan hal itu, yang terlihat adalah bermain dan/atau nongkrong di ruang kepala sekolah saat kegiatan kelas berjalan selama menjadi anak TK.

Orang tua Ayuv memutuskan untuk mendaftarkan Ayuv ke Sekolah Dasar, sekolah yang terdekat dengan rumah. Saat di tes membaca Ayuv tidak mengalami hambatan, ia diterima di Sekolah Dasar yang terdekat dengan rumah.

6 Responses

  1. hahahha Ayuv sudah berhasil memainkan Ayah dan Mamahnya…..Ayuv sebuah contoh bahwa setiap anak memang unik.Di sini tantangan kita sebagai orangtua untuk mencari stimulasi yang tepat untuk mendorong bakat dan kemampuan anak. Selamat berlatih menjadi orangtua!

    HEB : Ya, selalu berlatih menjadi orang tua.

  2. waaaahh… Ayuv mantap. *tepuk tangan*
    anak-anak memang seringkali tak terduga.

    tapi, Pak Ben, setelah membaca ini, saya justru tertarik pada hal lain, bukan soal kemampuan membacanya, tapi saya curiga kalau Ayuv memiliki kemampuan analisa di atas atau melebihi teman-teman seusianya, dan jika benar, maka ini berarti potensi lebih… saya berharap saya benar siih… berharap yg baik tak salah kan Pak?😉

    HEB : Benar Pakacil, kita memang lebih baik berharap yang baik. Anak2 harus dipandang sebagai anak2, yang kadang memang tak terduga dan unik.

  3. Assalaamu’alaikum

    Ternyata anak-anak punya potensi masing-masing. Mereka bijak menangani dirinya. Mereka tahu apa yang mereka mahu. Mereka boleh berbicara dengan apa yang ada di benak dan fikirannya dengan jujur . Pelik pada pendegaran kita tapi luar biasa bagi dirinya yang sentiasa ingin tahu dan ingin tahu dunia baru yang dikecapinya.

    Melihat perkembangan dan potensi kanaka-kanak, tidak dinafikan ada yang cepat menerima pelajaran dan ada pula yang lambat, namun jangan dibimbang jika ada anak yang lambat membaca mengatasi teman yang lain walau sudah berada di sekolah dasar. Insya Allah kemahiran guru di sekolah dasar mampu untuk mengupaya anak ini untuk boleh membaca dengan baik.

    ibu bapa harus banyak bersabar dengan perkembangan anak-anak, jangan dipaksa kerana melalui paksaan, kejemuan akan datang dengan cepat, akhirnya membantut keinginan untuk lebih maju dan tahu. Tapi… itukan namanya ibu dan bapa… sering bimbang kalau anaknya tidak berjaya..

    Macam ibu bapa kita dulu, bimbang tentang kita sewaktu usia Ayuv… lihat kemenjadian kita sekarang ini, tentu tidak pernah kita impikan… alhamdulillah, semuanya berkat doa orang tua yang sangat perihatin. Salam mesra selalu dan bahagia hendaknya sahabat di sana.😀

    HEB : Wa’alaikum salam

    Ya, anak2 punya potensi yang macam-macam, dan harusnya menjadikan dasar untuk tidak terlalu memaksakan sesuatu untuk seperti anak lainnya.

  4. saya koq sepakat dengan Pakacil ya ???

    HEB : Memang … rasanya sulit untuk tidak bersepakat dengan Pakacil hahahaha

  5. Luar biasa, ternyata Ayuv bisa menemukan jalannya sendiri belajar membaca.

    Kesabaran orang tua memang dibutuhkan dalam mendidik anak.

    Mungkin dahulu kala, orang2 tua kita juga terkendala dalam menanamkan pendidikannya kepada kita.

    Suatu pelajaran yang sangat berarti.

    HEB : Benar, kesabaran dan bagaimana untuk menyadari adanya yang luar biasa pada setiap anak.

  6. wah, membaca tulisan ini membuat saya sadar bahwa anaka-anak memiliki keragaman dalam belajar. sepertinya cara ayuv belajar lebih kepada pendekatan andragogik karena dia belajar bukan karena keharusan, tapi termotivasi dari diri sendiri karena merasa perlu. jarang sekali anak-anak memiliki tingkat pemahaman seperti ini. ayuv sungguh jenius.

    tapi saya agak tergelitik soal persyaratan masuk SD, mas. benarkah sekolah-sekolah dasar mengharuskan anak-anak bisa membaca sebelum masuk SD? padahal setahu saya di sanalah sejatinya anak-anak diperkenalkan dengan huruf dan angka pertama kali, karena TK bukan termasuk sekolah wajib. bagaimana pula bila anak-anak tidak TK sebelum SD, ya? pasti akan kesulitan sekali untuk memenuhi persyaratan masuk SD.

    HEB : Memang, syarat untuk masuk SD tidak ada harus bisa membaca. Namun secara tidak resmi, banyak SD Negeri yang melakukan test membaca, apalagi jumlah yang diterima terbatas setiap SD sehingga mereka melakukan hal itu. Jadi, banyak TK yang memberikan les tambahan untuk anak2 usia bermain tersebut, agar mudah mendapatkan sekolah yang dianggap baik di wilayah tempat tinggal mereka.

    Padahal, jika memperhatikan kurikulum SD kelas 1 hingga 3, terutama kelas 1 SD, dan buku teks yang digunakan adalah pelajaran membaca. Dari pengenalan huruf hingga bagiamana membaca. Cukup aneh bila syarat masuk SD harus bisa membaca, tapi begitu yang terjadi. Pernah terpikir, bahwa guru SD tidak mau repot mengajari anak2 itu membaca, jadi memilih yang sudah bisa membaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: